
Selesai rapat Naren keluar ruangan di ikuti Inka, saat mereka berjalan bersama, Inka langsung mengatakan persiapannya berangkat ke Dubai bersama Naren.
"Tuan, besok pesawat akan lepas landas pukul 06.00, jadi kita harus datang lebih awal," ucap Inka.
"Lalu kau bermalam di rumah ku, kita berangkat sangat pagi. Apa kau bisa bangun lebih pagi dari biasanya?" tanya Naren.
"Nanti saya putuskan tuan, saya harus membereskan meja dan jadwal besok yang beberapa harus di undur," sahut Inka.
Inka pun langsung kembali ke mejanya dan duduk sambil memeriksa berkas yang akan di berikan kepada Robi sebagai pengganti selama Naren berada di Dubai.
Naren yang melihat Inka sangat fokus dalam kerjanya, membuatnya kembali mengingat ciuman yang di berikan Inak saat Naren mengalami demam.
"Astaga, kenapa pikiran itu kembali lagi?" gerutu Naren.
"Pikiran apa tuan," ucap Robi.
Naren pun terkejut mendengar suara Robi yang tidak permisi ketika masuk ke dalam ruangannya.
"Kau ini, membuat jantung ku hampir copot. Ada apa?" tanya Naren.
"Maaf tuan, saya melihat anda seperti menahan sakit. Jadi saya laangsung masuk tanpa permisi," ucap Robi.
Robi memberikan berkas kepada Naren untuk di tanda tangani, waktu pun terus berjalan sangat cepat. Membuat Inka baru menyadari jika hari sudah gelap dan Ia masih berada di kantor.
Inka melihat ruangan Naren yang masih menyala membuatnya cepat untuk membereskan pekerjaannya. Dan mengetuk pintu ruangan Naren.
"Tuan, mari pulang," panggil Inka dari luar ruangannya.
Merasa tidak ada jawaban dari Naren membuat Inka pun akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata Naren tertidur di kursinya, membuat Inka berusaha membangunkannya.
"Tuan ... sudah waktunya pulang, ayo kita pulang," ucap Inka dengan suara lirih.
Tetap tidak mendapatkan respon apapun, akhirnya Inka mendekatkan lagi tubuhnya. Untuk membangunkan Naren, seketika tangan Inka pun di pegang erat membuat Inka kehilangan keseimbangan dan terjatuh di pelukan Naren.
Inka sangat terkejut menyentuh dada bidan Naren yang saat itu kancing baju nya terlepas begaian membuatnya terlihat sedikit dadanya yang sangat kekar.
Inka berusah untuk bangun kembali, tetapi dekapan erat Naren membuatnya sulit untuk bergerak.
__ADS_1
'Apa-apaan ini? Apa dia sengaja melakukan semua ini, untuk mencari kesempatan dalam kesempitan! Ini harus di tidak lanjuti,' batin Inka.
Inka yang merasa kesulitan bergerak, berusaha untuk mikirikan cara untuk lepas dari pelukan Naren. Tetapi terdengar suara Naren yang terus mengatakan, "jangan pergi ku mohon, tetaplah di sini bersama ku."
Ucapan itu terdengar nyaring di telinga Inka, membuatnya terus terdiam menatap wajah tampan yang di penuhi dengan keringat di keningnya.
Cukup lama Inka dalam dekapan Naren, karena terasa gerah. Ia pun terbangun dan terkejut melihat Inka ada di hadapannya.
Dengan spontan Naren menghempaskan Inka hingga terjatuh di lantai, Naren benar-benar terkejut dengan kehadiran Inka yang tiba-tiba ada di pelukannya.
"Au ... sakit sekali," ucap Inka.
"Mau apa kau kemari, beraninya kau tidur di dalam pelukan ku! Lancang kamu nya," seru Naren.
Inka yang bingung hanya terdiam dan langsung menatap kesal bosnya.
"Tuan ...! Mana mungkin aku melakukan hal yang tidak pantas di lakukan, apa tuan menyadari jika tadi tuan sendiri yang menarik tangan ku, ketika aku akan membangunkan tuan untuk pulang, bisa-bisanya tuan mengatakan aku lancang!" jelas Inka dengan penuh amarah.
"Kenapa kau yang jadi marah-marah dengan ku, aku hanya terkejut kau bisa di dalam pelukan ku," sahut Naren.
"Sudah lah tuan, saya ingin pulang. Badan saya sakit semua gara-gara di hempas oleh tuan," ucap Inka.
Inka pun berusaha untuk berdiri tetapi kakinya sempat membentur lantai cukup keras sehingga membekas memar, Naren yang mengetahui hal itu langsung sigap menjaga keseimbangan Inka yang hampir jatuh.
Mereka pun saling bertatapan, dan kejadian terulang lagi, saat mata mereka menyadari jika saling menatap dengan rasa yang berbeda, membuat Naren langsung tersadarkan dan melepaskan tangan Inka sehingga Inka kembali terjatuh.
"Ini kedua kalinya aku terjatuh, bisa lepas semua tulang ku. Astaga bos yang jahat," gerutu Inka.
Inka berusaha bangkit dan menyeimbangkan tubuhnya, melihat Naren yang jalan mendahuluinya, membuat Inka cepat-cepat menyusul bosnya.
"Bukannya nolongin malah ninggalin gitu aja, dasar bos tidak punya perasaan," gumam Inka.
Sampai di mobil, Inka melihat Naren yang sudah masuk ke mobil duluan tanpa mengajak nya, membuat Inka berjalan kaki keluar dari kantor.
Naren yang menunggu di dalam mobil, melihat dari kaca spion, Inka berjalan sambil memegang punggungnya yang sakit. Naren berulang kali mamanggilnya tetapi tidak terdengar oleh Inka.
"Dasar budek, hampir habis suara ku memanggilnya," gerutu Naren melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bos yang jahat, dia tega meninggalkan ku sendirian, jalan kaki, di tengah malam begini, bagai mana jika aku di culik om, om kan jadi kayak raya," celoteh Inka berjalan menuju halte.
Mobil Naren mendekati langkah Inka dan terus mengklakson, membuat Inka tidak mau menoleh sedikit pun.
"Tu kan belom juga aku diam, sudah di klaksonin sama om, om. Plis ... om aku ini hanya anak kecil yang keluhannya sakit pinggang," gumam Inka.
Klakson pun masih terus berbunyi, membuat Inka terus bergumam.
"Sudah ku katakan om, aku mau jalan kaki saja. Ku biarkan rasa sakit ini ku nikmati sampai ujung gang rumah ku," gumam Inka.
Karena sangat kesal dengan Inka yang tak sedikit pun menoleh ke arahnya, membuat Naren langsung menghentikan mobilnya dan keluar menyeret Inka untuk masuk ke dalam mobil.
Inka sangat terkejut saat dirinya di tarik paksa dan masuk ke dalam mobil, membuatnya sangat takut.
"Astaga apa ini, tuhan tolong aku, aku di culik oleh om, om," gumam Inka.
Inka tidak berani menatap Naren, Ia mengira telah di culik oleh om, om.
"Ampun om, lepaskan saya, jangan ganggu saya. Saya masih bocah," ucap Inka menoleh ke arah Naren.
Betapa terkejutnya Ia, ketika pria yang menariknya adalah bosnya sendiri. Seketika Inka merasa sangat malu, Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Siapa om yang kau maksudkan?" tanya Naren.
"Anu tuan, itu aku teringat drakor. Saat menyebut kata om," sahut Inka menjawab asal-aslan.
'Ini sangat memalukan, kau memang sangat ceroboh Inka. Bisa tidak kau ini menoleh dan memperhatikan saat jalan, benar-benar payah,' batin Inka.
Mobil melaju menuju rumah Inka untuk mengambil pakaian dan sebgaian kebutuhan Inka untuk di bawa ke Dubai, malam ini Ia bermalam di rumah Naren. Sekaligus meminta izin kepada orang tua Inka.
Mobil pun sampai di depan rumah Inka, untuk mempersingkat waktu, mereka pun masuk ke dalam.
Rosida sangat terkejut melihat pangeran pujaam hatinya datang berkunjung dan duduk di ruang tamu.
"Astaga, rupa ku kayak beru ...."
BERSAMBUNG.
__ADS_1