
Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat.Satu minggu sudah Darren hidup dibawah atap yang sama dengan seorang wanita dimasa lalunya.
Luka yang ia dapat malam itu sudah sembuh total.Keadaannya sudah jauh lebih baik begitupun dengan hubungannya dengan Aera.
Bbbrraakkk!!!
Tiba-tiba pintu kamar ditutup dengan keras,menimbulkan suara yang membuat Darren terlonjak kaget.
“Yyaaa!!!Bisakah kau menutupnya dengan pelan”teriak Darren sembari memegang dadanya.
Wanita itu tak menggubris apapun yang dikatakan oleh Darren,dengan mata yang berkaca-kaca dan tubuh lemas,ia menjatuhkan diri ke atas kursi.
“Hiks..hiks..hiks..”suara isakan tiba-tiba terdengar.
Aera menutup kedua matanya dengan telapak tangan,tubuhnya bergetar hebat dan Darren tak tahu apa yang tengah terjadi.
“Hey!!hey!!ada apa?..aku tidak bermaksud berteriak padamu”Darren berdiri dan bergegas menghampiri Aera.
“A-ada apa?..apakah terjadi sesuatu?”darren mencoba menepuk pelan punggung Aera
“Hiks..hiks..kenapa orang kaya begitu jahat,kenapa mereka selalu melakukan apapun dengan sesuka hati”terdengar suara serak dengan nada penuh kesedihan.
Darren mengernyitkan dahinya”A-apa maksudmu?..bisakah kau menceritakannya padaku?”pinta Darren dengan suara lembut.
Aera mengangkat kepalanya,menatap Darren dengan air mata yang sudah membasahi pipi.Bibirnya terasa kaku tak bisa mengucapkan satu kata pun.
Melihat hal itu,Darren meraih tubuh Aera dan membawanya kedalam pelukannya.
“Sstttt!!tenangkan dirimu dan ceritakan apa yang terjadi”tangan Darren bergerak aktif mengelus dengan lembut punggung Aera.
“Hiks..panti yang menjadi tempatku berlindung dihancurkan begitu saja oleh mereka tanpa memberi waktu untuk pindah.Mereka bahkan melukai ibu dan adik pantiku,dan aku bingung harus berbuat apa”suara Aera terdengar bergetar dengan isakan kecil.
“Siapa mereka?..apa kau tahu pelakunya dan atas dasar apa mereka melakukan itu?”
“Aku belum tahu,ibu Zera hanya memberitahu jika mereka tengah dirumah sakit dan memintaku segera kesana untuk menenangkan adik-adikku..hiks..hiks..”Aera masih menangis saat ini.
“Lalu kenapa kau masih menangis disini dan tidak bergegas?”darren melerai pelukannya dan menatap bingung ke arah Aera
__ADS_1
“I-ibu Zera bilang,jika ibu Ana tidak terselamatkan ketika beliau bertahan didalam sana untuk menyelamatkan panti dan mereka merubuhkan bangunan begitu saja…hiks..hiks”tangis Aera semakin pecah.
Saat ini hatinya begitu sakit dan dadanya terasa sesak.Aera menganggap ibu Ana sebagai ibu kandungnya,terlebih ia tak mengingat apapun tentang dirinya dan hanya ibu ana yang bisa membantunya.
Namun takdir seakan membuat situasi semakin terasa keruh.Harapannya untuk mengingat masa lalu kini sudah hancur sudah.Ditambah seseorang yang selalu mendukungnya di segala kondisi pergi begitu saja.
“Ssttt berhenti menangis,sekarang bersiaplah kita akan pergi kerumah sakit”ajak Darren
Aera masih terisak namun tetap beranjak dan mengambil jacket serta tas kecil.Ia tak tahu harus berbuat apa saat ini,ia sangat bersedih namun ketika sampai dirumah sakit nanti ia harus menjadi seorang yang kuat untuk adik-adik pantinya.
Sebuah taksi dipesan khusus oleh Darren melalui aplikasi.Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Aera yang terasa dingin dan sedikit gemetar.
Pandangannya pun tak pernah lepas dari wajah yang menunjukkan betapa sedih dirinya saat ini.
“Hapus air matamu,kau tidak bisa menunjukkan wajah sedih ini untuk mereka”ujar Darren sembari menunjuk ke arah luar.
Mereka sudah sampai disebuah rumah sakit di pinggiran kota.Pemandangan yang begitu menyedihkan terlihat diloby rumah sakit.
Anak-anak kecil dengan luka dan perban di beberapa tubuh mereka,serta tangisan yang terdengar membuat Aera semakin rapuh.
Darren semakin memperkuat pegangannya,menyalurkan tenaga untuk Aera yang semakin terlihat lemah.
“Zio…”sapa Aera dengan hati yang terasa berdenyut melihat tempelan perban dengan sisa darah dibagian wajahnya yang polos.
“Kau baik-baik saja?..apakah masih sakit?”tanya Aera menghampiri bocah laki-laki yang terlihat menahan tangis.
“Tidak..zio tidak sakit..ibu ana yang sakit”adu anak itu
Aera menengadah sejenak,layaknya memasukkan kembali air matanya yang berada diujung mata.
“Hiks..hiks..zio takut kak”imbuh bocah itu dengan air mata yang akhirnya lolos dari mata mungilnya.
Dengan sigap Aera meraih bocah itu dan memeluknya erat.
“Ssttt..zio tak perlu takut,ada kak Aera disini”air mata Aera juga lolos tak dapat terbendung lagi.
Darren yang masih berdiri dibelakang Aera tiba-tiba melihat sesuatu yang begitu familiar.
__ADS_1
“Tunggu,bukankah itu anak buah Diego?,apa yang mereka lakukan disini?”
“Aera,bisakah kita masuk kedalam dan bertemu dengan ibu pantimu?”pinta Darren sembari menepuk pelan pundak Aera
Wanita itu melerai pelukannya dengan zio,ia beralih menatap Darren lalu setelahnya mengangguk setuju.
Darren menundukkan kepalanya,berusaha menghindar dari anak buah Diego.
“Bu Zera..”panggil Aera dengan suara seraknya.
Wanita berumur 45 tahun itu menoleh ke arah sumber suara.
“Aera..”air mata ibu Zera kembali lolos kala seseorang yang ia tunggu tiba.
“Ibu..apa yang terjadi?”Aera melangkah kedepan dan
menghampiri ibu Zera.
“Mereka begitu kejam nak,mereka tidak berperasaan..”adu ibu Zera dengan air mata yang semakin berderai.
“Katakan padaku bu,siapa yang tega melakukan semua ini?”tanya Aera dengan tatapan marah
“Ibu tidak tahu siapa mereka..namun mereka beberapa kali datang dan memaksa bu Ana untuk pindah karena mereka mengklaim jika tanah itu sudah mereka beli..Tentu saja ibu Ana tidak mau karena mereka tidak memberi tempat pengganti..namun tiba-tiba malam ini mereka datang membawa alat berat dan menghancurkan bangunan panti..bahkan mereka tidak perduli ketika bu Ana bertahan di dalam sana untuk mempertahankan panti..hingga bangunan roboh dan….hiks..hiks..”Ibu Zera tak melanjutkan kalimatnya karena wanita tua itu benar-benar tak sanggup.
Dengan segera Aera meraih tubuh rapuh itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Tenanglah bu..aku akan menuntut mereka nantinya”tanpa ia sadari,air matanya juga ikut mengalir deras mendengar cerita ibu Zera.
“Maaf bu,apakah kau ingat sesuatu tentang mereka?..seperti wajah atau nama salah satu dari mereka?”tanya Darren yang sedikit penasaran.
Ibu Zera menoleh ke arah Darren dengan tatapan bingung.
“Namanya Darren bu,dia temanku”ujar Aera yang tahu akan tatapan ibu Zera.
“Aku tidak tahu nama mereka,tapi aku pernah mendengar nama perusahaan mereka..Diamond,mereka pernah menyebut nama Diamond dan aku rasa itu adalah nama perusahaan mereka”jelas ibu Zera.
“Diego..aku tidak menyangka kau bertindak sejauh ini”
__ADS_1
Darren hanya mengangguk pelan,namun di dalam otaknya sedang memikirkan cara untuk bisa membalas perbuatan Diego.
Bersambung….