SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 59


__ADS_3

#Flashback ON


“Kenapa kak? Kenapa aku harus menjauhi Darren?” tanya gadis dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.


“Aku tidak ingin merasa kehilangan lagi Aera!! Cukup daddy dan mommy, aku tidak ingin hal serupa terjadi padamu.”


Perdebatan antara kakak dan adik itu terus terjadi, bahkan saat mereka mendorong ranjang rumah sakit untuk mengantar Darren ke ruang oprasi, mereka masih terus berdebat.


“Tidak kak!! Aku tidak mau!! Aku tidak akan meninggalkannya seorang diri. Semua yang terjadi bukan karena Darren, dia hanya korban dan aku tidak pernah takut untuk berada di sampingnya!! Tolak Aera untuk kesekian kalinya.


“Baiklah jika itu pilihanmu, tapi maafkan aku jika harus memaksamu!!”


David menghentikan langkahnya, menatap beberapa anak buahnya yang selalu mengikutinya dari arah belakang.


“Kalian, bawa adikku ke tempat yang sudah aku siapkan!! Jangan biarkan dia lari dan jangan biarkan siapa pun mendekati area itu” titahnya


Mereka mengangguk setuju, dengan sigap mereka meraih tubuh Aera dan membawanya pergi dari tempat itu.


“KAKKK DAVIDD KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!!! Lepaskan aku, heeyyyyy!!!” Teriak Aera ketika tubuhnya dibawa menjauh dari ruangan itu.


“Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini, semua demi kebaikanmu” gumam David yang kembali melangkah untuk melihat kondisi Darren.


#Flashback Off


“Kemana kau membawa kekasihku David?! JAWAB!!” Bentak Darren diakhir kalimatnya.


David yang sejak tadi hanya diam mematung, kini memberanikan diri untuk menatap tuan mudanya yang terlihat menyeramkan ketika marah.


“Maafkan saya tuan, saya tidak bisa memberitahu anda” jawab David


“Kau pikir karena kau adalah kakaknya, kau bisa bertindak sesuka hatimu?!”


David mengangkat kembali kepalanya, menatap sang tuan muda dengan raut wajah penuh keterkejutan.


“Tu-tuan.. darimana anda tahu jika kami bersau…”


“Heh.. aku bahkan tahu akan hal itu jauh darimu! Aku bisa mengenali gadis kecil yang aku cintai sejak pertama kali bertemu dengannya, tanpa harus melakukan test DNA untuk membuktikan kenyataan jika dia adalah orang yang aku cari. Sedangkan kau yang memiliki ikatan batin dengannya, masih merasa ragu dan berusaha membuktikan semua itu dengan sebuah pembuktian ilmiah, yang mana lau sangat tahu, jika jelas-jelas dia sangat mirip dengan ibumu!”


Tubuh David kembali membeku, selama ini ia berpikir jika Darren tak mengetahui apapun, namun nyatanya Darren jauh di atas dirinya.

__ADS_1


Ceklek!!


Pintu ruangan terbuka begitu saja, membuat suasana tegang di antara mereka berdua cair begitu saja.


“Kau lihat, dia sudah sadar” ujar Dion yang masuk bersama 3 sahabatnya.


“Hhmm.. apakah diantara kita ada yang bisa mati dengan mudah?” Sahut Damian


“Iblis tidak akan bisa mati” timpal Dannis


“Bagaimana keadaanmu Darren?” Tanya Albert yang tidak berniat masuk ke dalam obrolan ketiga sahabatnya itu.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan” jawab Darren dengan wajah datar.


Dion mendekati sahabatnya itu, ia menggelengkan kepala pelan ketika melihat perban berwarna putih yang menutupi luka dibagian perut Darren, dihiasi bercak berwarna merah.


“Hahh.. kenapa kau tidak memberitahuku David, jika dia sudah sadar?” Tanya Dion yang melirik ke arah laki-laki yang masih diam seribu bahasa.


“Maaf dokter Dion” hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh David saat ini.


“Haihhh.. tidak bisakah kau menungguku dengan sabar dan merawat lukamu dengan benar?!” Gerutu Dion


“Aku tidak ingin merepotkan kalian” jawab Darren dengan wajah yang meringis menahan luka yang sedang dibersihkan oleh Dion


“Merepotkan? Kau bilang merepotkan? Kau anggap apa kami Hah?” Sela Damian


“Tentu saja saudaraku”


“Lalu jika kau memang menganggap kami adalah saudaramu, kenapa kau tidak pernah meminta bantuan kami?” timpal Albert lagi.


Darren menatap keempat sahabatnya secara bergantian, lalu beralih menundukkan kepala, menatap lukanya yang masih basah.


“Aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang ke dalam masalahku. Aku tidak ingin orang-orang diluar sana merasakan kehilangan dan kesedihan karena diriku.”


“Apakah ini salah satu alasanmu menolak beberapa orang yang aku kirimkan untuk menjadi bodyguard mu?” Sela Damian lagi.


“Mereka memiliki keluarga Damian, dan aku tidak ingin menjadi penyebab dari rasa sedih dan kehilangan yang mereka rasakan”


“Heyy pemikiran macam apa itu? Mereka bekerja untuk kita dan kita memberikan upah yang setimpal. Itu memang tugas mereka untuk menjaga kita dan seharusnya mereka sudah tahu akan konsekuensi yang harus mereka terima” Dannis yang kesal akhirnya ikut masuk ke dalam perdebatan mereka.

__ADS_1


“Kalian tidak akan mengerti dengan ketakutan dan rasa bersalah yang terus menghantui sepanjang hidupku” jawab Darren


“Ketika aku harus kehilangan Mommy, uncle Max, Aunty Sania, aku masih mengira jika itu adalah sebuah takdir. Namun ketika mereka mengambil kak Olivia dan sebuah insiden kematian Jasmine, aku menyadari jika semua itu bukanlah takdir melainkan sebuah rencana jahat dari seseorang. Satu persatu dari mereka yang begitu dekat denganku pergi dengan cara mengenaskan dan aku yakin itu semua karena aku” lirih Darren


“Sejak itu, aku selalu takut untuk terlalu dekat orang lain. Aku tidak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya” imbuhnya


“Tapi kenapa kau mendekati seorang gadis?” Tanya Dion di sela-sela kegiatannya.


“Hhmm benar, kau bilang takut untuk mendekati orang lain” timpal Dannis


“Kalian ingat dengan sosok gadis kecil yang aku ceritakan dahulu?”


Mereka berempat mengangguk bersamaan.


“Gadis kecil yang aku cari selama ini adalah Aera. Dulu aku berpisah dengannya namun kali ini takdir memberiku kesempatan untuk bertemu kembali. Maka dari itu aku tidak akan membiarkannya pergi lagi, meskipun aku harus mempertaruhkan nyawaku” ujar Darren dengan penuh semangat.


“Heyy kemana ekspresi sedihmu yang tadi? Kau langsung bersemangat sekarang.” Ledek Dion yang ditanggapi tawa oleh ketiga sahabatnya.


“Ah iya.. aku hampir melupakan sesuatu..” celetuk Dannis.


Dannis membuka benda persegi panjang yang ia genggam sejak tadi, mengusap layarnya dengan lincah dan mencari sesuatu didalam sana.


“Beberapa hari yang lalu, salah satu temanku memintaku untuk memeriksa sebuah kamera kecil yang terpasang di kalung..” Dannis melirik ke arah salah satu dari mereka yang berada di ruangan itu.


“Ia mengatakan padaku jika sahabatnya meminta dirinya untuk memeriksa kamera itu, namun temanku tak bisa melakukannya karena sandi yang ada di dalam kamera itu cukup rumit. Awalnya aku tak tertarik, tapi ketika aku berhasil membuka file di dalamnya dan melihat isi dari rekaman kamera itu. Aku langsung terkejut dan berusaha menyempurnakan hasil gambarnya. Aku rasa rekaman ini akan berguna untukmu..”


David mengernyitkan dahinya, apakah kalung yang dimaksud adalah kalung yang ia berikan kepada sahabatnya?


“David.. apakah kau tidak merasa penasaran juga?” Sindir Dannis


“Aku rasa kau tidak perlu menanyakan kembali pada sahabatmu, kau bisa melihatnya langsung bersama Darren” imbuh Dannis yang berhasil membuat David salah tingkah.


“Kau berusaha menyembunyikan sesuatu dariku David?” Tanya Darren dengan wajah penuh curiga


“Saya tidak bermaksud seperti itu tuan muda”


“Sstt.. sudahlah, lebih baik kalian lihat hasil rekaman ini” pinta Dannis yang langsung menyerahkan Tab miliknya kepada Daren.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2