
DDOORR!!
Bianca menutup matanya rapat, kala putra kesayangannya benar-benar melepaskan tembakannya.
Kenapa aku tidak merasakan apapun?
Bianca mencoba membuka matanya, ketika ia tak merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan tubuhnya.
“Hah!!” Wanita itu menghela nafas lega, Diego tidak menembaknya, melainkan mengarahkan peluru itu ke bagian pintu yang berada di belakangnya.
“Di-Diego kenapa kau begitu tega dengan mommy?” Tanya Bianca yang memasang wajah sedih
“Tega? Mommy bilang aku tega?.. Hahahahaha” tawa Diego menggelegar diruangan itu.
Namun di beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali berubah. Sorot mata tajam kembali diperlihatkan ke arah sang ibu.
“Bukankah, kata itu lebih pantas ditunjukkan kepada seorang ibu yang telah membunuh kekasih putranya”
“Diego, berhenti berputar-putar. Mommy benar-benar tidak mengerti”
Diego tersenyum getir, apakah dirinya harus benar-benar melepaskan peluru itu ke arah wanita yang telah melahirkan serta merawatnya selama ini?
“Mom!! Aku mungkin bisa menahannya tadi, tapi untuk saat ini, aku tidak yakin!!” Ujar Diego dengan penuh penekanan.
“Kau tidak mungkin melakukan itu, kau adalah putra kesayangan mommy, Diego!”
“Ppffttt…” diego kembali tertawa
“Putra kesayangan? Mommy yakin aku putra kesayanganmu?…”
“Lalu kenapa kau merenggut kebahagiaanku?”
Diego kembali mengarahkan pistolnya ke arah sang ibu, tatapan penuh kemarahan bercampur kecewa tak pernah lepas sedikit pun.
Bianca terdiam, sepertinya ia tak bisa menyembunyikannya semua itu lebih lama lagi.
“JAWAB MOM!!!” Bentak Diego yang hampir kehilangan kesabarannya.
Bianca memejamkan matanya sejenak “Itu semua mommy lakukan demi kebahagiaanmu Diego!” Jawabnya dengan suara lantang.
“Kebahagiaan? Kebahagiaan seperti apa yang mommy bicarakan Hah? Jelas-jelas kau mengambilnya dariku,mom!!!”
“Tidak, dia bukanlah kebahagiaanmu Diego! Dia hanya penghalang bagimu untuk meraih apa yang seharusnya kau miliki!!” Ujar Bianca dengan setengah berteriak
__ADS_1
“Apa maksud mommy?”
“Jika saja dia mau mengikuti rencanaku, mungkin saja dia masih hidup” jawab Bianca dengan tersenyum simpul.
“Rencana? Rencana apa yang mommy maksud?”
Bianca melangkah dengan tenang menuju sisi ranjangnya dan duduk disana.
“Mommy memintanya untuk mengadu domba dirimu dengan Darren. Aku ingin kau membencinya dan mau bersaing untuk memperebutkan posisi sebagai pewaris tunggal Alexander Corp. Tapi dia menolak dan malah membuat kalian semakin dekat. Dengan terpaksa aku harus menyingkirkannya, dan ternyata kematiannya membuahkan hasil” jelas Bianca dengan santai
“Kenapa mom? Kenapa kau ingin kami saling membenci? Darren adalah kakakku dan sudah seharusnya dia yang mendapat semua itu. Aku tidak tertarik sedikit pun mom dengan kedudukan itu”
“Inilah alasan mommy! Kau tidak akan mau mengambil posisi itu jika mommy tidak membuat rencana itu! Kau adalah putraku dan hanya kau yang berhak atas semua itu!!”
Diego memijat keningnya, kepalanya rasanya berdenyut kala mengetahui fakta menyakitkan itu.
“Apa mommy sudah gila? Kalau pun kak Darren yang mendapat posisi itu, aku tidak akan rugi. Kita tetap keluarga mom”
“Apa jaminannya dia tak mengusir kita setelah mendapat semua itu? Jangan lupa diego, kalian terlahir dari rahim yang berbeda!” Kini Bianca menatap sang putra denga raut wajah yang sulit diartikan.
“Itu hanya pikiran buruk mommy saja! Kak Darren bukan orang seperti itu!!”
“DIAM DIEGO!! Kau tidak tahu apapun!!” Bentak Bianca
“Aku tidak butuh semua itu mom, jadi berhentilah sampai disini!!” Balas Diego dengan nada yang mulai merendah.
“Kau memang tidak membutuhkannya, tapi aku membutuhkannya untuk anak dan cucuku kelak. Dan mommy tidak akan berhenti sampai tujuan mommy tercapai. Mommy sudah melangkah cukup jauh, mommy tidak ingin semuanya hancur”
Diego terdiam sejenak, entah mengapa kejadian beberapa tahun yang lalu.
“Tunggu mom, bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan jujur!”
Bianca menoleh ke arah putra semata wayangnya.
“Katakan!”
“Apakah kecelakaan kak Olivia adalah bagian dari rencana mommy?” Tanya Diego
Wanita itu berdiri, lalu tersenyum ke arahnya.
“Tanpa perlu aku menjawabnya, kau pasti sudah tahu!”
Diego menggelengkan kepala cepat, ini tidak seperti yang dia pikirkan bukan?
__ADS_1
“Jawab mom!! Aku ingin mendengar jawaban mommy!! Kau tidak mungkin melakukan itu” Diego berharap semuanya itu tidaklah benar.
“Apapun akan mommy lakukan untuk tujuan mommy!” Jawab Bianca
Tubuh Diego membeku, jantungnya berdetak kencang, dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
Kenapa ibunya harus melakukan hal keji itu kepada sosok kakak yang begitu menyayanginya.
Olivia, gadis ceria dengan segala kasih sayangnya yang tulus kepada sang adik tiri, harus kehilangan nyawanya dengan cara yang keji.
Bbuugghhh!!!
Tubuh Diego luruh begitu saja, dengan kedua bahu yang bergetar hebat. Tidak lupa, cairan bening mengalir deras membasahi pipinya.
“Semua ini terjadi karena ku” gumam Diego dalam isakannya.
Melihat hal itu, Bianca mencoba untuk mendekat dan ingin memeluk putranya yang terlihat begitu hancur.
“Stop mom!!” Tolak Diego kala melihat langkah sang mommy yang ingin mendekat ke arahnya.
Kepalanya menengadah, menatap sang ibu dengan penuh kekecewaan.
“Biarkan mommy memelukmu Diego!” Pinta Bianca yang merasa bersalah.
“Tentu mom! Tapi bisakah kau hentikan semuanya?”
Bianca menatap sang putra, ia tak mungkin menghentikan langkahnya, mengingat ia sudah berjalan cukup jauh dan penuh perjuangan.
“Tidak Diego” tolak Bianca.
“Aku mohon mom..” pinta Diego dengan penuh harap.
“Maafkan mommy..”
Diego kembali menjatuhkan kepalanya, lalu mencoba berdiri dengan bersusah payah dan hendak melangkah pergi dari ruangan itu.
“Diego..” panggil Bianca
Lelaki itu menghentikan langkahnya namun tak membalikkan tubuhnya.
“Jika kau tidak ingin mengikuti langkah mommy, bisakah kau untuk tetap diam dan tidak ikut campur. Ingat, mommy melakukan ini semua untukmu” ujar Bianca
Bersambung…
__ADS_1