SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 45


__ADS_3

‼️WARNING‼️


*Khusus untuk 21+++ yaaa..**😉😉*


*meskipun tidak intens tapi sedikit tidaknya bisa membuat panas dingin.**😁😁*


*Maaf jika kurang panas**😅..Author belum begitu berpengalaman masalah peranjangan🤭🤪*


“Ooiii.. kau sangat tidak sabaran” gerutu Darren kala tangan Aera membuka kancing kemejanya dengan lincah, dengan bokong yang terus bergerak kesana kemari.


Gadis itu bergerak dengan liar di atas pangkuan Darren. Sepertinya efek obat yang masuk ke dalam tubuhnya semakin bereaksi ketika bersentuhan dengan kulit Darren.


Ia sudah tidak perlu lagi menahan diri ataupun berusaha mempertahankan kesadarannya. Meskipun berada di bawah pengaruh obat dan membuatnya kehilangan kontrol untuk dirinya sendiri, Aera masih bisa mengenali siapa yang sedang bersamanya saat ini. Sehingga ia tidak perlu merasa takut dan khawatir akan sesuatu hal yang terjadi kedepannya.


Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah cara untuk melepaskan diri dari pengaruh obat sialan yang membuat dirinya begitu tersiksa.


“Eenngghh… sshhh.. ce-pat!!” Suara lenguhan terdengar merdu ditelinga Darren, membuat sesuatu yang bersarang dibawah sana memberontak.


“Oouuu.. diam dulu!” Pinta Darren, masih berusaha menahan tangan Aera yang bergerilya bebas di dalam kemejanya.


“Kau yakin dengan hal ini?” Tanya Darren serius


“Aku tidak ingin kau menyesal nantinya” imbuhnya.


Aera tak menjawab apapun, matanya masih terpejam. Dengan gerakan cepat, ia menempelkan bibirnya agar menyatu dengan bibir Darren sebagai jawaban dari pertanyaan bodoh laki-laki itu.


Darren sedikit terkejut, ia terdiam sejenak ketika sesuatu yang kenyal menyesap bibirnya dengan lembut namun penuh gairah.


Setiap detik yang berlalu, mengubah ciuman mereka menjadi ciuman panas penuh nafsu. Suara kecapan bibir yang saling beradu menjadi irama untuk indah saat ini.


Tangan Darren terangkat, menarik tengkuk Aera dan memperdalam ciumannya. Kini lidah mereka saling bertautan satu sama lain, membuat suasana semakin terasa panas.


Mereka terus menyentuh satu sama lain, tangan Darren yang satu tidak tinggal diam, ia berusaha meraih gunukan yang tersembunyi dibalik dress berwarna biru navy itu, hingga membuat suara lenguhan kecil terdengar.


“Eenngghh..sshh.. D-Dar-ren”


Darren bangkit dengan Aera yang masih berada di dalam pangkuannya, mengangkat tubuh mungil dengan ringannya. Ia ingin mengubah posisi dengan merebahkan tubuh Aera di atas ranjang, dengan bibir yang masih menyatu.


Darren melepaskan tangannya dari tubuh Aera, beralih membuka kemeja yang membuatnya sulit untuk bergerak bebas dan melemparkannya sembarang ke atas lantai.


Setelah itu ia mengembalikan kedua tangan itu ke tempat semula. Satu tangan bertengger di atas gunung kembar milik Aera, dan satunya tengah berusaha membuka kain yang menutupi tubuh Aera dengan bersusah payah.


Tangan Aera tidak kalah lincah, ia sangat menyukai otot lengan serta dada milik Darren. Sehingga ia memutuskan untuk bermain-main di sana dengan menggerakkan jarinya ke atas dan kebawah. Menyentuh setiap lekuk otot yang menonjol.


Bagian punggung Darren juga tidak ia tinggalkan, jari lentiknya mampir sesekali ke belakang sana, memberi sentuhan kecil yang membuat Darren semakin bersemangat.


“Kau membuatku gila baby..” bisik Darren ditelinga Aera


“Aku semakin mencintaimu” imbuhnya.

__ADS_1


Setelah membisikkan kata-kata cinta ke telinga Aera, bibir Darren belum beranjak dari tempat itu. Dengan jahil iya menjilat daun telinga Aera hingga membuat sekujur tubuh Aera menegang sempurna.


Puas bermain diatas sana, kini permainan lidah Darren mulai berpindah ke wajah lalu turun ke bagian leher jenjang dan putih mulus milik Aera. Ia bertahan cukup lama di sana, sesekali menyesap ringan, serta meninggalkan jejak kepemilikannya.


Bibirnya terangkat sempurna membentuk senyuman bangga, melihat hasil karyanya terukir sempurna di leher putih Aera.


Setelah merasa cukup, kini bibirnya kembali menjelajah ke setiap inci tubuh Aera. Tangannya masih bergerak aktif, bahkan kini jari telunjuknya tengah memainkan sesuatu di atas gunukan kecil milik Aera. Membuat suara merdu dari bibir Aera kembali terdengar.


Semangat Darren semakin berkobar, kini tangannya tengah merobek gaun yang digunakan oleh Aera dengan sekali gerakan. Hal itu ia lakukan karena kain itu benar-benar sulit untuk diajak berkompromi, sehingga dengan terpaksa ia harus melakukan itu.


Matanya membulat sempurna menyaksikan pemandangan indah nan menyegarkan mata di depan matanya. Tubuh putih mulus, dengan bentuk tubuh yang sempurna membuat Darren harus menelan ludahnya kasar.


Pandangannya kini tertuju pada dua benda bulat yang masih tertutupi sisa kain. Dengan segera ia menyingkirkan kain itu, membuat tubuh Aera benar-benar tak tertutupi apapun.


Darren mendekatkan wajahnya ke arah gunukan, memberi ciuman singkat di atas sana lalu mengisapnya dengan kuat, dan lagi-lagi membuat Aera mengeluarkan suara merdunya.


Tidak hanya itu, Aera merasa melayang saat ini. Tangannya mencengkram kuat rambut Darren kala rasa nikmat itu bermain-main di atas kepalanya.


Darren melirik ke arah atas, ia sangat ingin melihat ekspresi wajah Aera saat ini. Dengan jahil ia menurunkan salah satu tangannya dan mengelus paha mulus Aera dengan lembut, membuat wanita semakin menggila di atas sana.


“D-Down..” sebuah kata lolos begitu saja dari mulut Aera membuat Darren kembali tersenyum penuh kemenangan.


Tanpa menunggu lama, ia bergerak turun seperti permintaan sang kekasih. Bahkan tangan Aera mendorong kepala Darren untuk bermain di bawah sana.


Tanpa ragu, Darren mulai memainkan lidahnya dibawah sana. Membuat Aera semakin hilang kendali, tubuhnya bergerak kesana kemari menahan sesuatu yang ingin menyembur keluar.


“Now..do it now..” pinta Aera dengan suara terengah-engah.


“Tapi tunggu sebentar, aku membutuhkan sesuatu” Darren menarik tubuhnya dari Aera, berlari menuju pintu dan membukanya dengan cepat.


“Hey.. kalian masih disini?” Pekik Darren melihat empat orang masih berdiri diluar sana.


“Ooww.. kami hanya mengawasi keadaan sekitar saja. Berjaga-jaga jikalau ada penjahat yang mendekat.” Jelas Damian dengan senyum jahil.


“Aaiisss.. kalian membuatku canggung jika seperti ini” ujar Darren dengan menampilkan bagian kepala saja.


“Baiklah kami akan pergi. Selamat menikmati malam panjang mu sobat” imbuh Damian.


“Aaiii.. tunggu. Aku membutuhkan sesuatu” cegat Darren.


“Katakan” sahut Albert


“Aku membutuhkan pengaman.. aku tidak mau melakukan sesuatu tanpa mendiskusikannya terlebih dulu” ujar Darren.


“Ini tuan..” seru David sembari menyerahkan jacket anti peluru yang selalu ia gunakan.


Semua mata memandang heran ke arah David, hingga di detik berikutnya terdengar gelak tawa dari bibir Damian.


“Hahaha.. bos dan anak buah yang polos” ujar Damian

__ADS_1


Albert dan Dion menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa lelaki dewasa seperti David tidak mengerti dengan istilah seperti itu.


“Aku tidak mempunyai benda itu, dan aku yakin Damian pun tidak memilikinya karena kami sudah mempunyai istri” jawab Albert, yang dibalas dengan anggukan kepala dari Damian.


Dion merogoh saku celananya, mengambil benda yang disebut pengaman oleh Darren.


“Nahhh.. ambil punyaku. “ ujar Dion, membuat dua sahabatnya menatap heran.


“Ooiii.. kau membawa benda seperti ini di sakumu. Sepertinya aku harus menelpun ayah mertuaku, agar ia mengurung anak gadisnya saat ini” ejek Damian.


Dion menatap malas ke arah Damian, lalu memberikan benda itu kepada Darren.


“Baiklah, terima kasih dan cepatlah pergi” usir Darren lalu segera masuk ke dalam sana.


Darren merobek plastik pembukuan benda itu, dan mengeluarkan isinya dengan cepat. Kini ia sudah berdiri di sisi ranjang, menanggalkan kain yang menutupi bagian bawahnya dan bersiap memasang pengaman untuk bertempur malam ini.


Namun tiba-tiba Aera bangkit dan menarik tangan Darren. Ia sangat kesal karena laki-laki membuatnya menunggu lama.


“Bersabarlah baby.. biarkan aku memasang ini terlebih dahulu” pinta Darren


Aera tak mendengar apapun, ia masih berusaha meraih tubuh Darren, bahkan ia tak ragu menyentuh pusaka milik Darren,hingga membuat pengaman yang dipasang oleh Darren robek begitu saja.


“Aaiihhh.. kau membuatnya robek. Aku hanya mempunyai satu saja” gerutu Darren.


“Ce-patlah.. i want you..” pinta Aera.


Darren tersenyum, lalu membaringkan tubuh Aera kembali dengan dirinya berada di atas sana.


“Bersiaplah untuk tidak tidur malam ini baby… aku pastikan kau tidak akan bisa meninggalkan ranjang hingga besok pagi” bisik Darren


Darren mengambil ancang-ancang, bersiap untuk menancapkan benda pusakanya di dalam gua kenikmatan milik Aera di bawah sana.


“Eemmppphhh..sshhh..” pekik Aera ketika rasa sakit menghampirinya.


“Tahan sebentar, rasa sakitnya tidak akan lama” ujar Darren.


Perlahan namun pasti, pusaka milik darren berhasil masuk ke dalam gua milik Aera. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, memberi waktu untuk Aera agar menyesuaikan diri.


Detik demi detik berlalu, Darren merasa jika Aera sudah mulai terbiasa. Hal itu terlihat dari dahi Aera yang sudah tidak tertekuk lagi, sehingga ia memutuskan untuk menambah ritme gerakannya.


Deritan ranjang terdengar begitu juga dengan suara benturan tubuh mereka. Erangan mereka juga memenuhi ruangan dan nafas mereka semakin memburu.


Adegan panas itu berlangsung lama bahkan tak cukup sekali. Darren hanya memberi waktu sedikit untuk Aera beristirahat. Seperti katanya, ia tidak akan membiarkan Aera meninggalkan ranjang sampai pagi menjelang.


Bersambung…


Hahaha…🤣


ini adalah part terpanjang yang aku tulis…

__ADS_1


Aku harus mengatur nafas selama menulis bab ini🤭..semoga kalian syuka🤪


Semoga tidak kena sanksi 🙏


__ADS_2