SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 47


__ADS_3

VERNANDEZ CORP


Meja panjang dengan deretan kursi sedikit demi sedikit sudah terisi. Beberapa orang sudah datang untuk menghadiri rapat penting hari ini.


Vernandez sebagai pemilik perusahaan besar itu juga sudah hadir bersama sekretarisnya David Dominic. Ia tengah berbincang dengan beberapa rekannya sebelum meeting benar-benar dimulai.


“Selamat pagi dad..” sapa seorang laki-laki yang gak lain adalah Diego.


“Selamat pagi tuan Vernandez..” sapa Jevon yang berjalan di belakang Diego.


Vernandez menganggukkan kepalanya sebagai balasan untuk sapaan sang putra bungsu dan kakak iparnya.


“Terima kasih karena sudah datang” ujar Vernandez


“Sama-sama dad, tidak ada alasan untukku tidak datang” jawab Diego


Setelah itu ia dan sang paman bergegas duduk disebuah kursi yang memang disediakan khusus untuk mereka.


Semua kursi hampir terisi penuh, hanya tersisa satu kursi yang akan diisi oleh putra sulung dari Vernandez yaitu Darren.


Beberapa menit kemudian, Darren sampai diruangan itu. Lelaki itu datang tepat sebelum meeting dimulai.


“Selamat pagi dad.. maaf aku sedikit terlambat” sapa Darren


“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Vernandez


Darren melirik sejenak ke arah Diego yang tersenyum ke arahnya. Senyum Manis Diego membuatnya semakin yakin, jika lelaki itulah dalang dari kejadian tadi malam.


“Tidak ada dad, aku hanya terlambat bangun” jawab Darren berbohong.


“Hhmm.. duduklah. Meeting akan segera dimulai” ujar Vernandez


Darren mengangguk setuju, ia melangkah menuju kursi yang berada tepat disamping sang adik.


“Hy kak, apa kabar?” Sapa Diego


Darren menoleh sejenak dan menampilkan senyum manis ke arah sang adik.


“Baik, bahkan terasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Terlebih karena kemarin malam aku mendapat hadiah spesial dari seseorang” ujar Darren dengan senyum mengejek.


“Aku ingin berterima kasih pada orang itu, namun sayang ia menghilang begitu saja. Berkat dia, malamku terasa begitu indah bersama gadis yang aku cintai” imbuh Darren yang berhasil membuat Diego mengepalkan tangannya.


Senyum yang ia tampilkan kini lenyap begitu saja, digantikan dengan mimik wajah kesal dan penuh amarah.


Darren merasa sangat puas melihat ekspresi sang adik, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa kesal dan ingin menghajar Diego.


Meeting akhirnya dimulai, David yang bertugas sebagai moderator berbicara di depan. Semua orang yang hadir mulai terlihat memasang wajah serius dengan berkas-berkas ditangan.


*****


Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, rasa lapar dan haus mulai menganggu tidur nyenyak seorang Aera.


Berkali-kali cacing yang ada dalam perutnya seolah berteriak, mengeluarkan suara nyaring seperti sebuah alarm untuknya.


“Eenngghh.. biasakah kalian bersabar..” gerutunya dengan suara serak.


Aera mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden.


Ia melihat sekeliling kamar, lalu menurunkan selimut tebal yang melilit tubuhnya hingga ke atas perutnya. Namun di detik berikutnya ia mulai menyadari sesuatu kala angin dingin dari AC yang masih menyala menerpa tubuhnya.

__ADS_1


“Ooiii…” pekiknya lalu kembali menarik selimut itu ke atas.


Semburat merah kembali menghiasi wajahnya, tubuhnya masih bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu, beruntung tidak ada satu orang pun di dalam sana.


Dengan malas Aera mengambil posisi duduk, tentu saja dengan selimut tebal yang ia lilitkan di hampir seluruh tubuhnya.


“Aawww… tulangku seperti tergeser” gerutunya kala ia merasakan pegal di hampir semua bagian tubuhnya karena kejadian kemarin malam.


Perlahan ia menggeser tubuh ke tepi ranjang, menurunkan kedua kakinya untuk menyentuh lantai yang cukup dingin. Ia mencoba berdiri untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum keluar untuk mencari makanan.


“Sshh.. aakhhh.. kenapa masih sakit” ujarnya sembari memegangi bagian bawahnya.


“Oowww.. bagaimana caranya mencari makanan jika sakit seperti ini” imbuhnya


Tiba-tiba Aera teringat sesuatu, ia melirik ke arah ranjang, dan benar saja, bercak darah menghiasi seprai berwarna putih itu.


“Sial.. situasi ini benar-benar menyebalkan” umpatnya


Wanita kembali memutar tubuhnya perlahan, dengan sisa tenaga yang ada, ia menarik seprai yang membalut ranjang dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Ia berjalan dengan pelan dan penuh ke hati-hatian, rasa nyeri selalu terasa kala ia menggerakkan kakinya semakin jauh ke dalam kamar mandi.


Aera meletakkan sprei itu ke dalam keranjang cucian, serta melepaskan selimut yang melilit tubuhnya. Kini ia dapat melihat tubuh putihnya yang dihiasi dengan tanda kepemilikan dari Darren begitu banyak disana.


“Oohh sial.. kenapa begitu banyak” gerutunya lagi


Ia menengadahkan kepala, melirik ke arah leher jenjangnya yang terdapat beberapa tanda dengan warna merah tua.


“Cckk.. kenapa harus di tempat ini. Bagaimana cara menutupinya nanti. Awas saja, aku akan membalasnya nanti” ujar Aera yang masih berdiri di depan cermin.


Ia mulai beranjak menyalakan keran untuk memenuhi bathup dengan air hangat. Sepertinya merendam diri sejenak bisa memulihkan tenaganya.


Aera sangat tahu, jika ia tak harus melakukan itu sendiri. Namun ia merasa malu jika orang lain harus melihat bekas permainan mereka kemarin malam.


Setelah hampir 40 menit lamanya ia berada di dalam sana, Aera akhirnya keluar dan mulai mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Ia sedikit bingung saat ini karena tak memiliki baju pengganti, hanya handuk kimono berwarna putih yang ia punya untuk menutupi tubuh polosnya.


Ceklek!!


Pintu tiba-tiba terbuka dan sontak membuat Aera terkejut. Bahkan wanita itu terlihat waspada saat ini.


“Kau sudah bangun” sapa seseorang yang tak lain adalah Darren.


“Aaiisss.. kau membuatku terkejut” pekik Aera


“Hahah.. maaf, aku tidak bermaksud seperti itu” ujar Darren tertawa pelan.


Laki-laki kini melangkah menuju meja yang terletak di sebelah pintu balkon, meletakkan beberapa paper bag di atas sana lalu beralih menghampiri Aera.


Mata Aera mengikuti setiap langkah kaki Darren, bahkan kini jantungnya berdetak kencang kala tubuh tegap itu hendak mendekat kearahnya.


Tangan Darren terangkat, mengambil alih hairdryer dan membantu Aera mengeringkan rambutnya. Sedangkan wanita itu masih terdiam mematung, membiarkan Darren melakukan apapun yang ia mau.


“Apa masih sakit?” Tanya Darren di sela-sela kegiatannya.


“S-sedikit..” jawab Aera malu-malu.


“Maaf, karena aku tak bisa membantumu tadi” ujar Darren lagi.

__ADS_1


“Setelah makan siang, kita akan keluar dari hotel ini. Kau bisa beristirahat di apartemenku nanti” imbuh Darren.


Aera tidak bisa berkata apapun, hanya anggukan kepala pelan yang bisa ia berikan sebagai jawaban untuk permintaan Darren.


Jantungnya masih belum terbiasa dengan suasana seperti ini, sehingga begitu sulit untuk mengaturnya.


“Selesai, rambutmu sudah kering dan.. Hhmm wangi” ujar Darren sembari mendekatkan hidungnya ke rambut Aera


“Oohh hentikan, kau membuatku sulit bernafas” gumam Aera dalam hati.


“Kau mau makan atau mengganti baju terlebih dahulu?” Tanya Darren menatap Aera dengan senyum di wajahnya.


“Hhmm sepertinya aku akan mengganti baju dulu, aku tidak nyaman dengan baju ini” jawab Aera


“Hhmm ide yang bagus” ujar Darren


Tanpa aba-aba, Darren mengangkat tubuh Aera membuat wanita itu terlonjak kaget.


“Aahh Hheeyy..kenapa mengangkatku” pekik Aera


“Sstt.. diam baby. Aku tidak ingin melihatmu merintih kesakitan lagi” bisik Darren di telinga Aera


Wanita itu kembali dibuat berdebar dengan tindakan Darren, tanpa sadar ia mengalungkan tangannya di leher Darren karena takut terjatuh.


“Aku membelikanmu satu set pakaian, dan semoga cukup” ujar Darren


“Terutama untuk kedua pakaian dalam mu” imbuh Darren dengan kalimat ambigu.


Aera membelalakkan matanya, jangan bilang jika pria itu membelikannya Bra dan juga kain untuk menutupi bagian bawahnya.


“K-kau.. membeli dua benda itu?” Tanya Aera gak percaya


“Hhmm.. seorang pelayan wanita membantuku tadi untuk memilih” jawab Darren santai.


“Ba-bagaimana dengan u-ukurannya”


“Hhmm.. aku hanya mengira saja, sepertinya ukurannya pas. Aku masih ingat dengan ukurannya setelah melihatnya tadi malam” goda Darren.


Bbuugghhh


Aera memukul pelan dada bidang Darren “Sstt diam, jangan berbicara lagi” ujar Aera kesal.


Darren tertawa pelan, ia menurunkan Aera perlahan dan membiarkan wanita itu masuk untuk mengganti bajunya.


“Kau tahu bagaimana caraku memberitahu mereka untuk memilihkan ukurannya..” tanya Darren sebelum Aera benar-benar masuk ke dalam sana.


“Bagaimana?” Aera sedikit merasa penasaran.


“Aku mengangkat tangan dan membentuknya seperti ini..”


Darren mengangkat tangannya, membentuknya seperti posisi ingin menangkap bola namun cenderung lebih cekung.


“Dan aku mengatakan, kira-kira ukurannya sebesar ini..” imbuh Darren


Aera kembali terkejut, dengan kasar ia membanting pintu kala Darren menertawakan wajahnya yang bersemu merah.


“Hahahaha.. aku hanya bercanda baby..” ujar Darren dengan gelak tawa yang masih terdengar.


“Awas kauuu.. aku akan membalasmuuu” teriak Aera dari dalam.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2