SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 72


__ADS_3

“Menyerah atau aku akan menembak wanita ini!” Teriak Bianca dari lantai atas, membuat semua orang melihat ke arahnya.


Semua anak buahnya sudah dibantai habis oleh Darren, sehingga ia memutuskan untuk menjadikan Aera sebagai senjata terakhirnya.


Darren menatap tajam ke arah ibu tirinya, sedangkan tatapan penuh kekecewaan terlukis jelas di wajah Diego.


“Jika kau berani menyentuhnya, maka aku tidak akan segan membunuhmu!” Darren mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Cobalah jika kau bisa!” Tantang Bianca.


“Aaaa..” pekik Aera kala tubuhnya didorong kedepan, dengan pistol yang menempel tepat di bagian kepalanya.


“BIANCA!!!” Teriak Darren marah.


“Letakkan senjatamu, atau kau akan melihat kekasihmu ini jatuh ke bawah sana.


Dada Darren terlihat naik turun menahan amarah. Ingin rasanya ia menembak Bianca dari bawah sana.


Dengan terpaksa, Darren meletakkan senjatanya, begitu pun dengan Diego dan juga Dion.


“Hahaha.. ternyata begitu mudah untuk mengalahkanmu. Jika aku tahu wanita ini adalah kelemahanmu, aku tidak akan perlu berjuang seperti sekarang ini” Bianca tertawa keras, kala merasa sudah memenangkan pertarungan itu.


Ketika lelaki itu terfokus dengan gadis yang berada di tangan Bianca, Jevon mulai beraksi. Ia mengambil kesempatan itu untuk membidik tepat ke arah Darren.


Namun pergerakannya itu diketahui oleh seseorang. Lelaki itu menatap Darren dan Jevon secara bergantian, hingga di detik telunjuk Jevon bergerak untuk menarik pelatuk, lelaki itu berlari dan berteriak ke arah Darren.


“Kak Darren, awas..”


Ddoorr..Ddoorr..Ddoorr…


Tiga peluru melesat dengan cepat mengenai targetnya. Membuat semua orang terkejut, terlebih Bianca dan Darren.


“DIEGO!!” Teriak Bianca histeris kala melihat secara langsung peluru itu menembus tubuh putra kesayangannya.


Darren diam mematung, berusaha mencerna kejadian yang begitu cepat, hingga ia tak bisa merasakan apapun.


Bbuugghhh!!!


Tubuh Diego ambruk tepat di pelukannya, membuat Darren tersadar dari lamunan.


“Sial.. anak itu benar-benar bodoh” gerutu Jevon yang sama sekali tidak merasa bersalah.


Bianca yang baru saja sadar dari keterkejutannya, mendorong tubuh Aera begitu saja dan hendak berlari ke bawah untuk menghampiri putranya.


Kkrrekkk!!


“Diam atau aku akan menembakmu juga” cegah Jevon yang tengah menodongkan senjata ke arah sang adik.


“Hiks.. kak kenapa kau melakukan ini?” Air mata Bianca lolos begitu saja, ia berbalik dan menatap sang kakak dengan raut wajah kecewa.


“Aaaaaa…” teriak Aera kala tubuhnya melayang di udara.

__ADS_1


“AERA!!!” Pekik Darren, yang tak bisa berbuat apa kala melihat tubuh sang kekasih bersiap untuk terjun bebas ke atas lantai.


Darren menutup matanya rapat, siapa pun, tolong katakan pada Darren jika ini tidak nyata.


1 menit berlalu, suara Teriakan Aera menghilang dan ruangan itu sunyi. Dengan sisa keberanian yang ada, Darren membuka matanya.


“Aera kau baik-baik saja?” tanya seseorang


“Di-Dion..” seru Darren


“Kekasihmu baik-baik saja” jawab Dion sembari menurunkan Aera dari gendongannya.


Darren mengangguk mengerti, syukurlah ada Dion yang masih bisa menyelamatkan Aera.


“K-ka-kk..” suara lemah bahkan hampir tak terdengar.


Darren mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang sejak tadi berada di pangkuannya.


Sial, bagaimana bisa ia melupakan sang adik yang sedang terluka parah.


“Di-Diego.. bertahanlah” pinta Darren dengan suara bergetar.


Lelaki penuh luka, dengan darah segar yang mulai keluar dari dalam mulutnya, tengah tersenyum lemah.


“Ma-maaf..” ucapnya lemah


Tess!!


Air mata Darren lolos begitu saja dari pupil matanya yang mulai membengkak. Apa ini? Kesedihan apa lagi ini?


“DION… tolong aku” teriak Darren, setelah beberapa detik lidahnya terasa kaku.


Tak lama setelah itu, Dion dan Aera datang menghampiri dengan wajah yang sama paniknya.


“Bertahanlah sebentar, aku akan memanggil bantuan” ujar Dion yang langsung berlari keluar.


Aera menatap sang kekasih dengan tatapan tak kalah sedih. Tubuh yang biasa terlihat kuat dan tegar itu, kini benar-benar rapuh dan tak berdaya.


Gadis itu mengangkat tangannya dan mengelus lembut punggung Darren.


“Dia akan baik-baik saja” ujar Aera


“K-ka-kk,.” Suara serak itu kembali memanggil namanya.


“Ku mohon Diego, bertahap lah sebentar saja”


“Ja-jangan bi-biarkan, mo-mmy me-raa..sakan sakit” pintanya dengan suara terbata-bata.


Darren tak menjawab permintaan sang adik, tubuhnya semakin bergetar menahan kesedihan hingga lidahnya kembali kelu.


Wajah Diego terlihat semakin pucat dengan darah yang terus mengalir melalui mulut dan tiga luka tembak ditubuhnya.

__ADS_1


“Ber-jan-jilah p-ad-aku.. Uuhhuukk..Uuhhuukk” lagi dan lagi darah segar keluar dengan deras.


“Hiks.. aku berjanji” jawab Darren singkat


Diego tersenyum, tangan lemahnya terangkat hendak menyentuh wajah sang kakak yang sudah dibasahi air mata.


Namun takdir berkata lain, tangan itu tak sampai pada tujuannya dan jatuh begitu saja ke dasar lantai. Tapi kedua matanya masih tetap terbuka meskipun terlihat lemah dan sayu.


“Kak.. pe-luk..” rengek Diego


Tubuh tegap yang dibasahi keringat bercampur darah itu, kini tengah menggigil.


“A-aku..me-ngantuk..” ujarnya lagi


“Jangan!! Jangan tutup matamu!! DIEGO!!” Teriak Darren, berusaha untuk tetap menjaga kesadaran sang adik.


Diego hanya tersenyum, sepertinya ia tak akan bisa. Nafasnya mulai terasa sesak dengan mata yang terasa berat.


“DIEGO!! Ku bilang jangan tutup matamu bodoh!!..” bentak Darren


“Hhikss.. Diego ku mohon!! Aku tidak sanggup, kU mohon!!” Darren tak kuasa menepis rasa takut akan kehilangan orang yang ia cintai untuk kesekian kalinya.


“Aku tahu kau orang yang hebat. Kau tahu aku sangat merindukanmu, jadi tolong jangan tinggalkan aku. Kau tak ingin melihatku sedih bukan?…” kalimat Darren terjeda, bibirnya tak bisa berkata lebih banyak lagi.


Tubuhnya bergetar hebat, air matanya tak henti menetes dengan deras membanjiri wajahnya. Darren menundukkan kepalanya, berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat agar sang adik tak terpengaruh dengan kesedihannya.


“Dia sudah pergi” suara lembut menahan air mata itu menyadarkan Darren.


Darren mengangkat kepalanya, lalu menatap sang kekasih yang tengah menahan air matanya.


“Tidak!! Tidak!! Aera ini tidak benar!!” Darren memberanikan diri menatap wajah sang adik dengan kedua mata yang sudah tertutup rapat.


“Dia pergi Darren..” ujar Aera lagi.


“DIEGO!! Bangun, ku bilang bangun bodoh!! Heyyyy..”


“Hahahaha.. tidak mungkinnnn” tawa penuh kepedihan itu terdengar pilu di telinga Aera, hingga air matanya tak bisa terbendung lagi.


“Aarrrggghhhhh…DIEGO!!” Teriak Darren menggema di ruangan itu.


Sedangkan di atas sana, Bianca jatuh terduduk lemas. Tidak mungkin, tidak mungkin anak kesayangannya pergi dan meninggalkannya begitu saja. Ia sangat ingin berlari turun dan menghampiri putranya, namun apa daya, pistol sang kakak masih setia mengarah padanya.


“Jangan mencoba untuk kabur Bianca! Aku akan menyelesaikan semua ini” titah Jevon, yang tak dijawab oleh sang adik.


Jevon kembali mengangkat senjatanya dan mengarahkan tepat ke arah Darren.


“Mari akhiri ini dengan cepat”


Dooorr!! Ddoorr!!


Bersambung….

__ADS_1


Info ngantemi Jevon😡


Aku nangis tolongggg😭😭


__ADS_2