
Hampir seluruh ruangan sudah dikunjungi oleh Aera,hingga ia merasa keduanya kakinya begitu pegal.
Sepatu heels yang ia gunakan membuat keadaan semakin memburuk,firasatnya mengatakan jika beberapa jari kakinya terluka di dalam sana.
“Sial,kenapa laki-laki ini tidak terlihat lelah sama sekali”gerutu Aera dalam hati
Aera mencoba memberi isyarat kepada David dengan melangkah sedikit pelan sehingga posisi mereka tidak sejajar lagi.
Ternyata David menyadari hal itu,ia menghentikan langkahnya dan menghampiri Aera.
“Ada apa nona Aera?”tanya David dengan raut wajah khawatir.
“Hah..ini,sepertinya jari-jariku sedikit lecet di dalam sana. Bolehkah aku membuka sepatuku sebentar saja”ujar Aera jujur,karena semakin kesini rasa perih itu semakin terasa.
“Hhmm..bagaimana jika kita pergi ke pantry didekat sini. Disana anda bisa memeriksanya sembari duduk,saya rasa itu akan lebih nyaman”ujar David memberi saran.
Entah mengapa David merasa begitu khawatir dengan wanita yang memiliki wajah begitu mirip dengan sang ibu.
Aera berpikir sejenak,itu ide yang bagus namun dirinya merasa sedikit tidak enak hati.
“Tidak apa nona,tuan Darren tidak akan melarang anda untuk hal itu”imbuh David yang mengerti dengan tatapan Aera.
Gadis itu akhirnya mengangguk setuju,kini mereka melangkah menuju pantry yang berada tak jauh dari sana.
David dengan sigap menarik kursi,membiarkan gadis itu mendaratkan bokongnya sebelum benar-benar melepas sepatu heelsnya.
“Hhhuffttt..”tanpa sadar Aera menghela nafasnya.
Helaan nafas yang terdengar sangat lega itu membuat David menoleh kepalanya.
“Jika anda merasa lelah,anda bisa mengatakannya kepada saya nona.Jika seperti ini saya terlihat seperti seorang yang kejam”keluh David.
Tanpa ia sadari,David berubah menjadi sosok yang banyak bicara saat ini.Ia yang terkenal dingin dan irit bicara,seketika berubah cerewet kala berhadapan dengan Aera.
Aera tersenyum namun merasa tidak enak hati”maaf tuan,saya tidak bermaksud menbuat anda merasa seperti seorang yang kejam.Hanya saja saya belum terbiasa”ujar Aera
David berpindah menuju lemari yang tak jauh dari meja.Membuka laci dan mengambil sebuah kotak yang berisikan P3K.
__ADS_1
Dengan telaten ia membuka kotak itu,mengambil kapas serta menuangkan cairan alkohol ke atasnya.
“Bersihkan terlebih dahulu lukanya,setelah itu pakai ini”ujar David sembari menyerahkan kapas dan plaster luka.
Aera mengangguk pelan,meraih kapas dari tangan David dan mulai membersihkan luka pada jari kelingking kakinya serta bagian tumit.
Sembari menunggu Aera,David merogoh saku jasnya,mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
“Carikan aku sepatu yang nyaman digunakan saat kaki terluka”perintahnya kepada seseorang.
David kembali menoleh ke arah Aera yang masih sibuk membersihkan luka.
“Berapa ukuran sepatu anda nona?”tanya David sembari menjauhkan ponsel dari telinga.
“Ah..”Aera tak mendengar pertanyaan dari David.
“Berapa ukuran sepatu anda?”tanya nya lagi.
“Sepatu? 39,ya 39.Ukuran sepatuku 39”jawab Aera
“39,ingat pilih warna yang tidak terlalu terang”imbuhnya.
Ia memasukkan kembali benda kotak itu ke dalam saku jasnya.
“Pakai ini untuk di area tumit anda”David memberikan plaster luka dengan ukuran lebih besar.
“Terima kasih tuan David,maaf jika merepotkan anda”ujar Aera
David mengangguk pelan,matanya kembali fokus ke arah wajah yang begitu ia rindukan selama ini.
Hampir 25 tahun lamanya ia tak pernah lagi melihat sosok malaikat dalam hidupnya,dan kini ia malaikat itu benar-benar berada di depan matanya.
“Nona bolehkah saya bertanya sesuatu?”ujar David memberanikan diri.
Aera mendongak,menatap David yang terlihat bingung.
“Tentu saja tuan”ujar Aera.
__ADS_1
“Apakah kedua orang tua anda masih bersama anda sampai saat ini?”tanya David
Mendengarkan pertanyaan aneh itu,sontak membuat kening Aera berkerut.
Inilah David,ia adalah tipe orang yang to the point.Terlebih jika itu menyangkut dirinya.
Ia tak akan bisa menunggu lebih lama lagi untuk sebuah fakta yang menurutnya tidak akan salah.
“Maaf jika pertanyaan saya tidak sopan,anda mempunyai hak untuk tidak menjawabnya nona”imbuh David melihat tatapan aneh Aera.
Aera menegakkan posisi duduknya,ia meletakkan kembali peralatan medis ke dalam kotak.
“Tidak apa tuan David,meskipun saya tidak tahu maksud dari pertanyaan anda,saya tetap akan menjawabnya.Anda adalah orang kepercayaan Darren dan saya rasa anda bukanlah orang sembarangan.Saya percaya dengan Darren begitupun dengan anda”ujar Aera.
“Saya tinggal sendiri sejak lulus kuliah.Sebelumnya saya tinggal dipanti asuhan dan diasuh oleh ibu panti.Saya tidak tahu siapa dan dimana orang tua kandung saya,bahkan saya tidak ingat apapun tentang masa kecilnya.Bahasa medisnya mungkin amnesia”jelas Aera
David menelan ludahnya kasar,ia merasa jika tak salah dalam menafsirkan sesuatu kali ini.
“Berapa umur anda saat ini?”tanya David lagi
“26 tahun”jawab Aera singkat,karena itu hanya perkiraan saja.
Deg…
David kembali tertegun,jika hitungannya tidak meleset,umur adiknya sekarang adalah 26 tahun.
“Apa golongan darah anda nona?”wajah David semakin terlihat tegang.
“Jika tidak salah,golongan darahku B”jawab Aera,namun kini ia semakin terlihat bingung jika melihat kembali ekspresi David yang tegang.
“A-apakah ini suatu kebetulan”
“Maaf tuan,apakah ada sesuatu yang ingin anda ketahui dari saya dan mungkin berhubungan dengan anda?”tanya Aera balik,karena ia begitu peka dengan perkataan orang lain.
David menatap Aera sejenak,kepalanya mengangguk pelan.
Bersambung
__ADS_1