
“Dia pasti anak perempuan Dominic dan Sania”
“Bukankah waktu itu anak buah kita sudah membunuhnya beserta Sania?”
“Tidak, anak buah kita melewatkan bocah itu dulu. Dan bodohnya aku tidak terlalu perduli . Aku mengira ia akan mati dihutan karena dimakan binatang buas. Tapi siapa sangka ia kembali muncul”
“Kenapa kakak bisa seyakin itu? Bisa saja anak perempuan itu memang sudah mati dihutan itu.”
“Kau tidak ingat dia memanggil David dengan sebutan kakak! Dan lagi, malam itu Sania sempat berlari. Kau pikir orang setia seperti dia akan meninggalkan tuannya, jika tidak ada sesuatu hal yang harus ia lindungi”
Bianca menggigit bibir bagian bawahnya, kenapa ia dan sang kakak tak menyadari hal itu. Perasaan takut dan khawatir mulai menghampirinya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan kak?”
“Tentu saja menyingkirkannya secepat mungkin, sebelum ia mengacaukan semua rencana yang telah kita susun selama bertahun-tahun lamanya”
Bianca mengangguk setuju, ia tak ingin perjuangannya selama ini akan terbuang sia-sia.
•
•
“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Dion
“Hhmm.. dimana kak David?”
“Dia sedang keluar”
Aera mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian ruangan, seakan mencari keberadaan orang lain, selain dirinya dan sahabat sang kekasih.
“Tidak ada siapapun disini” ujar Dion, dengan kedua tangan yang sibuk merapikan peralatan medisnya.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Hhmm.. kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Dion.
Dion bisa menebak jika saat ini Aera telah berhasil mendapatkan kembali ingatannya yang hilang.
“Aku mengingatnya..”
“Semua?”
“Hhmm..” Aera mengangguk dengan penuh keyakinan.
“Lalu?”
“Maukah kau membantuku?”
Dion menghentikan kegiatannya, lelaki itu kini mendekat ke arah ranjang dengan raut wajah serius.
“Katakan!”
Dion menganggukkan kepalanya pelan.
“Jangan beritahu Darren tentang hal ini. Aku tidak ingin dia berada dalam bahaya, aku yakin jika kondisinya masih lemah saat ini. Sebagai gantinya, aku akan meminta bantuanmu dan juga sahabat-sahabatmu”
Dion terlihat berpikir sejenak, apakah dia bisa menyembunyikan hal sepenting ini dari Darren.
“Apakah ingatanmu yang hilang berhubungan dengan sesuatu dari masa lalu Darren?”
Aera kembali menganggukan kepalanya.
“Aku tidak berniat untuk menyembunyikan semua ini darinya. Aku hanya mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Jika dia tahu tentang hal ini, apa kau yakin jika Darren akan berdiam diri?” Jelas Aera
__ADS_1
“Baiklah. Katakan apa rencanamu”
“Begini..”
•
•
Ponsel yang bertengger di tangan Darren akhirnya luruh begitu saja ke atas ranjang. Tangan Darren gemetar dengan mata yang terasa panas.
“I-itu pasti salah kak! Rekaman itu palsu!” Pekik Diego dengan wajah yang tak kalah terkejut.
“Tidak Diego.. rekaman itu asli” jawab Darren dengan mata menatap lurus kedepan.
Apa ini? Kondisi apa yang tengah ia rasakan?
Darren bahkan merasa jika tubuhnya tengah mati rasa. Luka di dalam hatinya kembali terbuka, menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam.
Diego melangkah mundur, menjauh dari jangkauan sang kakak sembari menggelengkan kepalanya.
“Tidak kak! Ini tidak mungkin!” Racau Diego
“Apakah mommy melakukan semua ini karena diriku?” Batin Diego
“Hiks..hiks..” akhirnya tangis Darren pecah
Lelaki itu tak dapat membendung kesedihan yang sama seperti yang ia rasakan 19 tahun yang lalu, saat berita tentang kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu berdengung di telinganya.
Ia bahkan tak menyadari jika sang adik telah pergi dari ruangan itu, dengan rasa bersalah yang semakin menggerogoti hati seorang Diego.
Ya, Diego menyalahkan dirinya sendiri atas kejahatan yang dilakukan sang ibu selama ini.
__ADS_1
Bersambung..
Siap-siap ya…..