SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 76


__ADS_3

3 bulan kemudian..


Masa sulit Darren sudah berlalu, 3 bulan adalah waktu yang cukup lama untuk dirinya, melawan trauma akan kehilangan orang-orang yang ia sayangi.


Sedangkan Aera, gadis itu dengan sabar menemani kekasihnya itu. Pergi mengantarnya ke psikiater secara rutin, serta mengurus Ethan yang tak lain adalah keponakan Darren.


Namun Aera sangat bersyukur, semua itu akhirnya bisa mereka lewati meskipun terasa begitu berat dan penuh rintangan.


“Kau sudah siap?” Aera sedikit tersentak dengan kehadiran seseorang yang begitu tiba-tiba.


“Kak David!!” Pekik Aera


“Hehehe maaf karena membuatmu terkejut. Apa yang sedang kau pikirkan hingga melamun di depan cermin itu?” David melangkah maju, mendekati adiknya yang terlihat begitu cantik mengenakan gaun pengantin model mermaid.


Aera tersenyum “Tidak ada yang begitu serius, aku hanya tidak menyangka akan sampai dititik ini. Badai yang menerjang cukup hebat kak, tapi kau lihat kami bisa melewatinya. Kami sampai dengan selamat kak.. kami.. hiks..” Aera tak mampu lagi membendung air matanya yang sudah menggenang sejak tadi.


David melangkah dengan cepat, memeluk erat tubuh bergetar sang adik “Hey.. jangan menangis lagi. Riasanmu akan luntur nantinya, kau tidak mau calon suamimu lari karena ketakutan bukan” ujar David, sembari mengelus pelan punggung sang adik.


“…….”


“Kalian hebat, pasangan yang mendapat rintangan berat selama menjalin hubungan, akan merasakan kebahagiaan nantinya. Percayalah jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama, dan Tuhan memberi ujian ini, agar kedepannya, hubungan kalian lebih kokoh lagi” imbuh David, membuat Aera mendongakkan kepalanya, di dalam pelukan sang kakak.


David tersenyum bangga “Sekarang ayo! Jangan biarkan calon suami mu, menunggu lebih lama” ajak David, yang di jawab dengan anggukan kepala pelan oleh Aera.




Sebuah gereja yang tidak terlalu besar, dipilih oleh Darren sebagai tempat mereka mengikat satu sama lain.


Tidak ada tamu undangan, yang ada hanya keluarga Darren serta para sahabatnya, lengkap dengan keluarga kecil mereka.


“Dad.. kenapa mommy lama?” Pertanyaan ini sudah terdengar hampir 10 kali, dan Darren selalu menjawabnya seperti ini..


“Sebentar lagi, mommy mu akan datang”


“Ttsskk.. dad, apakah tidak ada jawaban lain?” Cebik bocah itu kesal.


Darren tersenyum ke arah anak laki-laki yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


“Hey.. siapa yang mengajari mencebik seperti itu hmm??” tanya Darren dengan nada lembut.


“Aku sering mendengar Leon mengeluarkan suara ‘Ttsskk’ ketika apa yang ia buat selalu gagal dan setelahnya ia akan menghembuskan nafas panjang” celoteh bocah itu dengan antusias.


“Benarkah? Apa kau senang tinggal bersamanya?” tanya Darren lagi, berusaha mengalihkan rasa bosan Ethan.


“Hhmm.. tapi aku lebih senang jika tinggal bersama Daddy dan Mommy” jawabnya jujur.


“Kau akan merasakannya nanti, sekarang bersiaplah, mommy akan datang sebentar lagi..” belum selesai Darren mengucapkan kalimatnya, suara pintu terbuka membuat atensi mereka teralihkan.


Ceklek!!


Semua pasang mata kini beralih menatap pintu besar yang berada di ujung ruangan, menatap seorang perempuan cantik bak bidadari, melangkah anggun ke arah panggung bersama seorang laki-laki yang tetap setia berada di sampingnya.


Tess!!


Darren tak kuasa menahan air matanya, begitu juga dengan Ethan yang melompat kegirangan di samping sang ayah.


Mata elang Darren bahkan tak berkedip barang sedetik pun, seakan tak ingin melewatkan setiap langkah yang diambil oleh Aera untuk menuju ke tempat dimana ia berdiri saat ini.


“Dad.. lihat..lihat.. mommyku sangat cantik” seru Ethan dengan raut wajah senang.


“Hhmm dia sangat cantik..” sahut Darren dengan mata yang masih tetap fokus.


Jantung Darren berdetak semakin kencang, seiring dengan langkah Aera yang terasa semakin dekat.


“Tuan Darren..” panggilan berat, berhasil membuyarkan laki-laki dari rasa kagumnya kepada sosok bidadari yang tengah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


David menggenggam erat tangan sang adik, lalu beralih menatap lelaki yang akan menjadi suami sekaligus iparnya nanti.


“Tuan Darren, aku serahkan sepenuhnya adikku kepada dirimu. Jaga dia dan cintai dia sepenuh hatimu, Tuhan mengirimkan dia untukmu begitu juga sebaliknya. Jangan biarkan dia terluka atau pun menangis karena penderitaan, Karena jika itu terjadi, Tuhanlah yang akan mengambilnya dari mu, sebab kalian dipersatukan oleh Tuhan.” Ujar David dengan air mata yang mengalir dari pupil matanya, bahkan genggaman tangannya terasa semakin erat.


Darren menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan “Terima kasih karena telah merelakan dirinya untukku. Tanpa kau minta sekalipun, aku akan menjaganya, bahkan dengan nyawaku sendiri. Kau tidak perlu khawatir, karena rasa cintaku padanya tidak akan pernah ada habisnya.” Jawab Darren dengan tatapan yang membuat David mengangguk yakin.


David menyerahkan tangan sang adik dan diterima oleh Darren. Setelahnya, David memutuskan untuk turun dan bergabung dengan keluarga Darren di tempat duduk yang sudah disediakan.


“Sudah siap menjadi nyonya Alexander?” tanya Darren, dengan tatapan yang saling bertemu satu sama lain.


“Sangat siap” jawab Aera dengan tegas.


“Kau yakin dengan keputusanmu? Jangan sampai menyesal nantinya, karena dicintai oleh seseorang dengan kehidupan penuh bahaya seperti diriku” Darren


“Aku tidak pernah menyesali keputusan yang aku ambil selama ini. Asalkan bersamamu, tidak akan ada rasa khawatir dalam hatiku” Aera


“Daddy..mommy.. aku ada disini!” Seru Ethan yang merasa terlupakan.


Sepasang sejoli itu langsung menoleh ke arah bawah sana, menatap sosok kecil dengan wajah cemberutnya.


“Oh God.. maaf Ethan, daddy benar-benar lupa” ejek Darren


Bibir tipis dan mungil itu kini mengerucut, dengan air mata yang membendung di pelupuk matanya.


Aera tersenyum “No.. tidak boleh menangis! Jangan dengarkan kata Daddy karena kita tidak mungkin melupakanmu.” Aera mengelus pelan pucuk kepala Ethan, membuat anak laki-lali itu kembali tersenyum.


“Thanks mommy.. and you dad.. aku akan mengambil mommy nanti darimu dan mengurungnya di kamarku agar daddy menangis” balas bocah itu sembari menjulurkan lidahnya.


Darren mendelikkan matanya “Aku akan mengambilnya darimu!”


“Tidak akan bisa! Karena aku akan menyembunyikan mommy” sahut Ethan tak mau kalah.


“Ssttt.. berhenti berdebat, kita mulai saja acaranya” Aera mencoba menjadi penengah diantara dua lelaki yang tengah memperebutkannya.


Darren dan Ethan mengangguk setuju, mereka bertiga melangkah bersama menuju altar, berdiri tepat dihadapan sang pendeta, mengucapkan janji suci pernikahan dengan lancar dan tanpa hambatan.




“Kenapa ada begitu banyak sayur?” tanya Aera


“Seseorang memberitahuku, jika aku ingin memiliki adik perempuan, mommy harus memakan lebih banyak sayur sebelum membuatkan adik untukku” jawab bocah itu polos.


Darren yang sejak tadi sibuk menyapa para sahabatnya yang datang, kini beralih menatap putranya.


“Siapa yang memberitahumu Ethan?” Darren menatap putranya dengan serius, membuat nyali bocah itu menciut seketika.


Ethan menundukkan kepalanya, namun tangannya terangkat, menunjuk seseorang yang berdiri di depan Darren.


Mata Darren mengikuti arah telunjuk Ethan “Dannis?”


Bocah itu mengangguk dengan cepat, membuat seseorang yang dituduh menggeleng cepat karena kini dirinya tengah di tatap dengan tajam oleh 6 orang sekaligus.


“Apa yang kau katakan pada anakku bajingan!”


“Dia mengatakan padaku, jika ingin memiliki adik perempuan. Dan aku memberikan tips itu untuknya, tidak salah bukan?!” Jawab Dannis dengan wajah mengejek.


“Tapi,,”


“Sudahlah Darren, lebih baik kau pergi ke kamarmu dan buatkan adik untuk Ethan. Karena kami pun akan pulang, mengingat hari sudah malam” potong Damian, ketika mencium aroma perdebatan panjang dari kedua sahabatnya itu.


“Hhmm.. benar kata Damian. Kami harus segera pulang, lihat.. satu dari empat anak buahku sudah tidak sadarkan diri” sahut Albert sembari menunjuk ke arah istrinya yang tengah menggendong Kylie.


Darren mengangguk pelan “baiklah.. terima kasih karena kalian sudah datang dan mendukungku hingga sampai di titik ini..”


“Hey..Hey.. jangan lagi. Ini hari bahagiamu sobat, jangan memulai drama kesedihan itu lagi” potong Dion, melihat bagaimana pupil mata Darren kembali membengkak.

__ADS_1


“Benar.. ini adalah awal dari kehidupan bahagiamu, kubur lah dalam-dalam semua kesedihanmu dimasa lalu dan mulai rangkai kenanganmu yang baru” imbuh Dannis, sembari menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


Darren tersenyum, lalu melabuhkan pelukannya di masing-masing tubuh sahabatnya secara bergantian. Sebelum akhirnya mereka berpisah dan kembali pada keluarganya.




“Tapi aku ingin bersama Mommy grandfa..” bocah laki-laki itu tengah merengek di gendongan sang kakek.


“Hey.. bukankah kau bilang ingin adik perempuan?” tanya Alex kepada cucu pertamanya.


“Hhmm..”


“Nah.. jika kau ingin adik perempuan. Biarkan daddy dan mommy untuk bersama malam ini..”


“Lalu kenapa jika aku ikut bersama mereka Grandfa..”


Alex tengah berpikir keras, mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan cucunya.


“Begini, jika kau ada disana.. akan sulit untuk membuatnya…”


“Sulit? Memangnya bagaimana cara daddy dan mommy membuat adik untukku?” Ethan semakin merasa penasaran.


Alex kehabisan akal “Bagaimana kalau kau tanyakan pada daddy besok, lebih baik sekarang kita pergi tidur” ajak Alex sebelum cucunya itu bertanya lebih banyak lagi.




“Kau cantik” puji Darren yang kini tengah memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.


“Cckk.. berhenti membual, cepat bantu aku membukanya” Cebik Aera kesal, bukannya membantu, lelaki yang sudah sah menyandang status sebagai suaminya itu, malah terus menggodanya.


“Jangan menyesal karena meminta bantuanku nona!!” Jawab Darren dengan senyum mesumnya.


“Hey.. aku hanya memintamu untuk membuka resletingnya saja. Biarkan aku mandi terlebih dahulu” ujar Aera dengan tatapan mata waspada.


“…..”


Hening, Darren tak menjawab apapun. Namun berhasil membuat bibir Aera mengatup sempurna.


“Darren.. sshhh.. bi-biarkan aku mandi..” Aera memejamkan matanya, merasakan sensasi aneh ketika tangan kekar itu menyentuh tubuhnya. Serta benda kenyal milik darren tengah berlabuh di leher jenjangnya.


“Kau bisa mandi nanti bersamaku baby..” jawab Darren ditengah-tengah kegiatannya.


Aera tak lagi menjawab, ia tak bisa menahan tubuhnya agar tidak terbuai dengan sentuhan Darren.


Ceklek!!


Ppllaakkk!!


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dengan suara benda ditempelkan dengan begitu keras. Membuat mereka berdua terkejut dan menoleh secara bersamaan. Beruntung tubuh Darren berada dibelakang sang istri, sehingga tak menampilkan tubuh Aera yang sudah tidak mengenakan apapun.


“Kau begitu ceroboh uncle, sama seperti daddyku!! Ingat kunci pintunya dan letakkan alat penyadap, agar telinga anak kecil seperti kami ini tidak ternoda nantinya dengan suara pertempuran kalian” ujar bocah yang masuk dan menempelkan alat penyadap di tembok kamar Darren.


“K-Kau.. Heeyyy!!! Keluar cepat!!” Teriak Darren


“Hahahaha.. tidak perlu malu uncle!! Kau seharusnya berterima kasih!!” Tawa Joshua menggelegar dan hilang dari balik pintu karena bocah itu sudah menutupnya.


“Akan aku adukan kau pada Dannis bocah nakal!!!” Teriak Darren yang merasa kesal karena kegiatannya diganggu.


“Sstt jangan berteriak Baby, lebih baik kita lanjutkan dan berterima kasih padanya karena sudah mengingatkan kita. Bagaimana jika yang masuk adalah Ethan” potong Aera


Darren mengangguk setuju, dengan senyum merekah, ia melanjutkan kegiatannya yang tertunda, bahkan kegiatan panas itu berlangsung hingga pagi hari.


✨END✨

__ADS_1


Yyeeyyyy🥳🥳🥳🥳


__ADS_2