
“Aman”
Gadis dengan piyama berwarna biru muda tengah mengendap keluar dari kamarnya. Ia tak akan membuang kesempatan untuk bertemu sang kekasih, meskipun rasa nyeri pada bagian kepalanya masih terasa.
“Lalu dimana kamarnya?” Dialog Aera pada dirinya sendiri.
Mata Aera bergerak lincah, ia harus waspada jika saja anak buah sang kakak berkeliaran di sekitar sana.
“Uuiihhh..” pekik Aera kala dari kejauhan ia melihat dua anak buah sang kakak berada di sekitarnya.
Gadis itu mencoba berlari untuk bersembunyi, hingga kejadian tak terduga menimpanya.
Bbuugghhh
“Aakkhhh..”
Tubuh Aera terjerembab, begitupun dengan seorang wanita yang ia tabrak.
“Aawwww..”
“Apa kau tidak memiliki mata Hah?” Bentak wanita itu.
Tunggu…
Kenapa suara itu terdengar tidak asing ditelinganya?
Deg!!deg!!deg!!
Jantung Aera berdegup kencang, nafasnya terdengar tak beraturan.
“Hey.. apa kau tuli Hah?” Tanya sang wanita lagi
“Sudahlah Bianca, dia tidak sengaja”
Suara itu!. Batin Aera
Dengan cepat Aera menengadah, menatap dua orang yang berdiri Dihadapannya.
“Ka-kalian..” pekik Aera
Jevon dan Bianca mengernyitkan dahinya, ada apa dengan gadis itu?
Hey, bukankah gadis itu kekasih Darren. Batin Bianca
“Kalian.. akkhhhh” Kepala Aera kembali bereaksi, kepingan-kepingan itu memaksa untuk menyatu.
“Kau mengenal gadis itu?” Bisik Jevon
“Dia kekasih Darren” jawab Bianca
“Aakhhh.. nyonya Sania..kalian.. ssshhhh”
Duuarr!!
Bagai disambar petir, Jevon dan Bianca terkesiap bukan main kala mendengar nama seseorang keluar dari mulut gadis yang tidak mereka kenal.
“Ya.. itu memang kalian..ssshhhh..” Aera memegangi kepala erat.
Bertahanlah, kepingan itu akan menyatu sempurna.
“A-apa yang kau katakan Hah? Ada apa denganmu?” Tanya Bianca dengan wajah panik.
Aera masih tertunduk, menahan sakit yang teramat pada bagian kepalanya. Ia tak ingin menyerah, kepingan itu akan menyatu sempurna jika ia bertahan sebentar saja.
__ADS_1
“AERAA!!” Teriak seseorang dari kejauhan
Jevon dan Bianca sontak menoleh.
“David” pekik mereka berdua secara bersamaan.
Lelaki itu berlari ke arah mereka, ia sedikit bingung melihat dua orang yang ia kenal berdiri tepat di hadapan sang adik.
“Tuan Jevon, nyonya Bianca?” David mengernyitkan dahinya.
“Da-David”
David tak menggubris kehadiran mereka berdua, dirinya hanya terfokus kepada wanita yang tengah meringkuk kesakitan.
“Aera, apa yang terjadi? Kenapa kau disini?” Cerca David
“Aakkhh.. sakit kak..” rintih Aera
Kak?. Batin Jevon dan Bianca
“Ayo kembali ke kamarmu” ajak David yang hendak mengangkat tubuh sang adik.
“Kak, mereka…” kalimat Aera menggantung
“Siapa?”
Tangan yang tengah bergetar dan lemas itu berusaha keras untuk terangkat, menunjuk dua orang yang mulai panik.
“Mereka.. mereka yang..membunuh mommy dan nyonya..aakkhhh”
Aera akhirnya menyerah, rasa sakit itu kembali membuatnya tak sadarkan diri.
“Aera!! Aera!!” David segera mengangkat tubuh sang adik dan membawanya ke dalam kamar, meninggalkan dua orang yang terlihat semakin kebingungan.
Bianca mengangguk setuju, ada yang tidak beres dengan gadis itu.
•
•
“Kau sudah selesai menangis?” Ejek Darren kala merasakan sang adik tak lagi terisak.
Bbuugghhh
Diego memukul pelan dada sang kakak, membuat lelaki itu melengkungkan tubuhnya menahan sakit.
“Bagaimana keadaanmu kak?”
“Semakin memburuk karena kau kembali memukulku”
Diego hanya bisa terkekeh, bahkan pelurunya tak berarti apa-apa bagi sang kakak.
“Kau tidak selemah itu kak, bahkan peluru ku saja tak mampu membunuhmu”
Darren tertawa pelan, ia kembali menatap wajah sang adik.
“Iklaskan dia dan maafkan mommy”
Deegg!!
Diego tertegun, bukankah dirinya yang harus berkata seperti itu.
“Aku sudah mengiklaskannya kak, hanya saja.. aku,,”
__ADS_1
“Dia ibumu Diego. Aku yakin dia memiliki alasan melakukan semua itu” potong Darren
Tidak kak! Bagaimana jika kau tahu fakta yang sesungguhnya, apakah kau masih bisa berkata seperti ini. Batin Diego
Diego hanya tersenyum simpul menanggapi kalimat sang kakak, posisinya terasa begitu sulit saat ini.
“Dimana Aera kak?” Diego mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.
“Aku masih mencarinya”
“Apa maksudmu?”
“David menyembunyikannya dariku”
“David?” Diego mengernyitkan dahinya.
“Hhmm dia adalah kakak Aera”
“Kakak? Aera?”
Diego sedikit terkejut dengan fakta yang diberikan oleh Darren.
“Maks..”
Ddrrtttt…
Suara ponsel milik Darren berhasil menghentikan kalimat Diego.
“Tunggu sebentar”
Darren mengambil ponselnya, Dennis?
“Ada apa?” Tanya Darren
[ kau harus melihat video yang baru saja aku kirimkan ke emailmu! Wajah mereka terlihat jelas disana, kamera yang terpasang di kalung itu sempat merekam wajah pembunuhnya, sebelum ia berlari]
“Baiklah, aku akan memeriksanya”
[Tunggu]
“Apa lagi?”
[ kau tahu dimana Aera sekarang? ]
“Tidak”
[ Sepertinya, dia sedang dalam bahaya. Peringatkan David untuk menjaganya]
“Hhmm..”
Darren menutup sambungan telepunnya, dengan cepat ia membuka email dan menonton potongan video beberapa hari yang lalu.
“Tidak mungkin!” Pekik Darren
Diego mendekat, ia sangat penasaran dengan sesuatu yang membuat sang kakak begitu terkejut.
“A-apa ini..” Sama halnya seperti Darren, eskpresi Diego pun tak kalah terkejut.
Kenapa seperti ini. Batin Diego
Bersambung….
Udah mau puncaknya nih😁
__ADS_1