
Hari demi hari berjalan dengan begitu cepat. Hubungan yang terjalin antara Darren dan Aera semakin mengalami perkembangan, bahkan mereka berdua semakin mesra.
Seperti yang terjadi saat ini, tangan Darren tengah menggenggam erat tangan Aera dengan posisi satu tangan memegang kemudi.
Bahkan ia menyempatkan diri untuk melirik wanita yang setiap harinya membuat hatinya selalu berdebar.
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan terkait dengan proyek barunya, Darren menyempatkan diri untuk mengantar Aera ke panti asuhan. Awalnya Aera bersikukuh ingin pergi sendiri, dengan alasan tidak mau menganggu Darren yang tengah fokus. Namun lelaki itu bersikeras untuk meluangkan waktunya, menemai kekasihnya pergi.
“Kita sudah sampai” seru Darren sembari membantu Aera melepas seatbeltnya.
Gadis itu tersenyum manis, Darren memang sangat jarang mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata manis. Namun semua tindakan yang dilakukan Darren padanya cukup mewakili apa yang tengah dirasakan oleh lelaki itu.
Darren keluar lebih dulu, ia berjalan cepat menuju samping,membukakan pintu untuk wanitanya.
“Silakan tuan putri..” ujar Darren yang dibalas senyum manis oleh Aera.
“Oouu terima kasih, apakah aku benar-benar merasa seperti seorang tuan putri.” Balas Aera
Darren mengedipkan sebelah matanya “Dan apakah aku sudah seperti seorang pangeran saat ini?” Tanya Darren
“Hhmm.. sudah.”jawab Aera singkat.
Mereka yang tengah asik mengobrol, tiba-tiba dikejutkan dengan suara seseorang yang baru saja tiba.
“Apakah kalian berdua akan tetap berdiri disana sampai malam nanti” seru Zera yang tak lain adalah ibu panti.
Mereka berdua sontak menoleh, dan tersenyum ke arah wanita tua yang berdiri di depan pintu masuk.
“Ibu Zera, aku sangat merindukanmu” ujar Aera sembari memeluk erat wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Zera memabalas pelukan Aera dengan hangat, sembari mencium pucuk kepala gadis itu singkat.
“Bagaimana kabarmu nak? Aku kira kau melupakan tempat ini” tanya Ibu Zera
Aera melerai pelukannya dan menatap wanita tua itu dengan tatapan sedih.
“Baik bu.. kenapa ibu berkata seperti itu?.. aku tidak mungkin melupakan tempat ini” jawab Aera
“Hahah.. Ayolah, ibu hanya bercanda sayang. Jangan memasang wajah sedihmu itu, ayo masuk. Mereka pasti akan senang melihatmu” ujar Zera
“Ayo nak kita masuk” tak lupa ibu Zera mengajak lelaki yang berdiri tepat di belakang Aera.
__ADS_1
Darren menganganggukkan kepalanya “kalian masuklah lebih dulu, aku akan mengambil sesuatu di belakang” ujar Darren
“Ah iya, aku hampir lupa. Kami membawa makanan untuk anak-anak. Aku akan membantunya lebih dulu” Aera hendak menghampiri Darren dan ingin membantu lelaki itu.
“Masuklah, aku akan membawanya masuk” cegah Darren
“Kau yakin bisa membawanya sendiri?” Tanya Aera
Darren menganggukkan kepalanya, lalu gadis itu masuk bersama ibu panti untuk melepas rindunya kepada anak-anak disana.
“Hy guys..” teriak Aera menyapa anak-anak yang tengah asik bermain di teras depan.
Anak-anak itu kompak menoleh dengan wajah terkejut sekaligus senang.
“Kak Aera…” seru Anak-anak secara bersamaan.
Aera berjongkok dengan kedua tangan telentang, bersiap menyambut gerombolan anak-anak yang tengah berlari ke arahnya.
“Aawww… adik-adikku tersayang. Apa kabar, Hhmm..” Aera mencium anak-anak secara bergantian.
“Kak Ela.. kenapa kakak balu datang.. zio kangen” rengek Zio
“Uuuu.. kak Aera juga kangen” balas Aera mencium pipi Zio dengan gemas.
“Eekkhhmm.. Hallo anak-anak” sapa seorang lelaki yang baru saja masuk membawa beberapa paper bag di tangannya.
Mereka semua sontak terdiam, menatap laki-laki yang tengah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Ah iya.. kak Aera melupakan sesuatu. Perkenalkan, seseorang yang berdiri dihadapan kalian ini bernama Darren. Kalian bisa memanggilnya Kak Darren” jelas Aera
“Hy..” ujar Darren canggung kala anak-anak itu masih menatapnya dengan penuh selidik.
“Kenapa kalian menatapnya dengan tatapan seperti itu. Ayo sapa kak Darren..” pinta Aera
“Kalian lihat, ia membawa banyak paper bag ditangannya. Apa kalian tidak mau memiliki salah satu dari paper bag itu” bisik Aera lagi yang membuat ekspresi mereka berubah seketika.
“Hy kak Dallen” sapa mereka kompak.
Darren tersenyum lebar kala mendapat sambutan yang hangat dari mereka, meskipun awalnya ia harus mendapat tatapan penuh intimidasi.
“Ayo kemari, aku mempunyai sesuatu untuk kalian” panggil Darren
__ADS_1
Mereka berlari ke arah Darren meninggalkan Aera seorang diri, mendekat ke arah Darren dan duduk bersama.
Hati Aera merasa hangat melihat pemandangan di depan matanya. Senyum Darren tak pernah ludah sedikit pun, tatapan penuh kasih sayang tersorot jelas dari kedua bola matanya.
“Sepertinya dia menyukai anak kecil” ujar seseorang yang baru saja tiba.
“Hhmm.. dia memang menyukai anak kecil” jawab Aera
“Dan sepertinya kau menyukainya juga?” Tebak ibu Zera
Aera tersenyum ke arah ibu Zera, dan itu sudah menjadi jawaban untuk pertanyaannya.
“Ibu senang mendengarnya nak. Ibu bisa tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang dirimu mulai sekarang karena sudah ada seseorang yang akan menjagamu nanti. Dia laki-laki yang tulus, ibu bisa melihatnya dari sorot matanya.” Ujar ibu Zera.
“Kau beruntung bertemu dengannya, begitu pun sebaliknya.” Imbuh ibu Zera.
Aera mengangguk pelan, kata-kata terakhir ibu Zera memang benar adanya. Ia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Darren yang begitu mencintainya.
Ibu Zera tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan meletakkannya tepat di atas tangan Aera.
“Apa ini bu?”
“Bukalah” pinta ibu Zera
Perlahan tangan Aera bergerak membuka kotak kecil itu, sesekali matanya menatap ibu Zera lalu kembali menatap kotak kecil itu.
“Kalung?” Tanya Aera.
“Hhmm.. Ibu Ana menitipkan ini padaku sebelum beliau masuk kembali ke dalam panti ketika kejadian waktu itu. Beliau meminta ibu untuk memberikannya untukmu, dan beliau bilang ini adalah kalung yang kau pakai saat datang ke panti dulu” jelas Ibu Zera.
Aera mengangkat kalung dengan permata berwarna biru berukuran cukup besar itu. Matanya menatap dengan jeli kalung yang terlihat sedikit aneh itu.
“Permatanya cukup besar, apakah ini peninggalan dari kedua orang tuaku?” Gumamnya
“Ibu harap kau menyimpannya baik-baik. Siapa tahu kalung itu bisa membawamu kepada kedua orang tuamu dan bisa mengembalikan ingatanmu yang hilang” imbuh Ibu Zera.
Aera mengangguk setuju, apa yang dikatakan oleh ibu Zera memang benar adanya.
“Kemarilah, ibu akan memasangkannya untukmu”
Ibu Zera meraih kalung itu, dan memasangnya di leher Aera dengan hati-hati.
__ADS_1
Bersambung….