
BAAMMM!!
Darren membuka pintu kamar milik Aera dengan kasar.
“Aera!” Panggil Darren
Sunyi, tak ada seorang pun diruangan itu.
David yang berada di belakang Darren kini beranjak menuju pintu kamar mandi.
Tok!!tok!!
“Aera, kau ada didalam?” Panggil David
BAMM!!
Pintu kamar mandi juga dibuka dengan sedikit kasar, dan hasilnya nihil.
“Sial, kita kecolongan!” Umpat Darren
David melangkah keluar untuk mencari keberadaan anak buahnya.
“Dimana Aera?!” Tanya David kepada salah satu anak buahnya yang baru saja tiba.
“Nona Aera sedang menjalani terapi tuan”
David mengernyitkan dahinya.
Terapi? Terapi apa? Dan kenapa ia tidak diberitahu?
“Terapi apa yang kau maksud?”
“Maaf tuan, beberapa menit yang lalu ada dua perawat yang masuk dan membawa nona Aera. Mereka mengatakan jika nona akan dibawa untuk menjalani terapi.”
Bbuugghhh!!!
Pukulan keras David layangkan ke arah wajah anak buahnya.
“Bodoh!! Bukankah sudah aku katakan. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali dokter Dion!” Bentak David
“Maaf tuan, kami mengira jika mereka adalah perawat yang diutus oleh dokter Dion, karena mereka datang tepat setelah dokter Dion menyelesaikan pemeriksaannya” jelas anak buah David sembari menyeka darah di sudut bibirnya.
“Ada apa?” Tanya Darren yang baru saja tiba.
“Kita harus temui dokter Dion!” Jawab David
Darren mengangguk, mereka mulai melangkah menuju ruangan Dion. Hingga di pertengahan jalan, mereka bertemu dengan seseorang.
“Darren, David, kalian mau kemana?”
“Dad..”
__ADS_1
“Tuan Alex..”
“Hey… ada dengan wajah kalian? Dan kau Darren, kenapa kau keluar dari kamarmu? Kau sudah sembuh?”
“Maaf dad, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang”
Alexander kembali menghentikan langkah putranya.
“Katakan, siapa tahu bisa membantu”
“Aku belum bisa memastikan apapun dad, tapi aku rasa kekasihku telah di culik”
“Diculik?”
“Hhmm..”
“Apa semua ini ada hubungannya dengan video itu?” Tanya Alexander
“Video? Apakah Dannis mengirimkannya kepada Daddy?”
Alexander mengangguk, karena tujuannya ke rumah sakit adalah untuk memastikan keadaan putranya.
Ia tak menyangka jika selama ini, sang istri muda dan kakak iparnya adalah dalang dari semuanya.
“Tuan Darren..” panggil David
“Maaf Dad, aku harus pergi.”
“Pasti Dad”
•
•
“Dimana Dion?” Tanya Darren kepada salah satu suster.
Ya, mereka berdua tak menemukan keberadaan Dion di dalam ruangannya.
“Dokter Dion sedang pergi tuan” jawab sang suster
“Kemana?”
“Maaf tuan, saya tidak tahu. Karena tuan pergi terburu-buru”
“Baiklah. Terima kasih”
Darren mengacak rambutnya frustasi.
“David, cepat hubungi Dannis”
David mengangguk, dengan cepat ia merogoh sakunya dan meraih ponsel miliknya.
__ADS_1
[ Ada apa David? ]
“Maaf tuan Dannis, tuan Darren ingin berbicara dengan anda”
David menyerahkan ponselnya
“Dannis, aku butuh bantuanmu”
[ aku tidak bisa ]
“Hey,.. sejak kapan kau berani menolakku”
[ aku sedang sibuk membantu Dion ]
“Dion? Dion ada bersamamu?”
[ tidak, dia tidak bersamaku. Tapi bersama Damian dan Albert ]
“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas”
[ Cckk.. aku tidak tahu. Sebaiknya kau tanyakan pada Dion ]
Tut!! Tut!!
“Dannis!! Dannis!! Sial!!”
Dannis memutus sambungan telepunnya begitu saja, membuat Darren semakin frustasi.
“David, apakah Aera membawa ponsel?”
David mengangguk
“Lacak keberadaannya!”
Sial, kenapa tak terpikirkan oleh David sejak tadi.
Tangannya mulai bergerak cepat, melacak keberadaan sang adik melalui ponselnya. Ini adalah hal yang mudah baginya, karena nyatanya ia adalah seorang hacker sama seperti Dannis. Hanya saja, kemampuannya jauh dibawah Dannis.
“Aku menemukannya” seru David
“Biar aku lihat!”
Darren menatap layar ponsel milik David dengan seksama.
“Ayo cepat, mereka belum terlalu jauh!”
Mereka berlari menuju mobil yang terparkir di basement rumah sakit dengan keadaan Darren yang masih dibalut perban.
Bersambung….
Tandain ya kalau ada typo
__ADS_1
lagi semangat nih nulis