
“Sudah habis?” Tanya Lukas sembari mengelap wajahnya yang sudah dibasahi keringat bercampur darah segar.
“Sisakan untuk kami Lukas” teriak Albert
Lelaki dengan smrik menyeramkan itu tengah melirik sahabatnya.
“Ternyata penyamaranku masih belum sempurna” gumamnya.
“Kalian terlalu lambat, ayo cepat masuk” ajak Lukas
Albert dan Dion hanya bisa menggeleng pelan, jika sudah berhubungan dengan darah, sisi gelap sahabatnya itu pasti akan muncul dan menghabiskan semuanya tanpa sisa.
“Darren kau baik-baik saja?” Tanya Dion untuk kesekian kalinya.
Lelaki dengan wajah yang mulai pucat serta pandangan sayu itu, mengangguk pelan.
“Hhmm.. aku baik-baik saja” jawabnya pelan.
Namun keadaan sebenarnya, ia merasa sedikit lemas, mengingat luka dibagian perutnya kembali mengeluarkan darah.
Dion mengangguk, ia sangat tahu jika sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Namun apalah daya Dion, ia tak bisa melawan sifat keras kepala sahabatnya itu.
Kini mereka sudah masuk ke dalam ruangan kedua. Dan Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka menghabisi anak buah Jevon yang berjumlah 20 orang itu.
[Tes..tes..]
Suara Dannis mulai terdengar dari earbuds yang mereka pakai.
[Pintu masuk ke ruangan terakhir berada tepat di samping anak tangga. Masuklah dengan perlahan karena mereka sudah bersiap untuk menyerang kalian]
“Hhmm kami mengerti” jawab Albert
“Ingat, kalian harus tetap berhati-hati.. Lukas ayo masuk” ajak Albert
“Tunggu..” cegah Lukas
Ia Merogoh tas kecil yang sedari tadi ia bawa, mengambil 5 kacamata, untuk melindungi diri dari gas yang akan ia gunakan nanti.
“Pakai ini..” Lukas melempar satu persatu kacamata itu ke arah kelimanya.
“Ayo..” ajak Albert, ketika mereka semua sudah siap dengan perlindungan masing-masing.
Lukas maju ke depan, mendekat ke arah pintu dan mulai membukanya perlahan.
Ceklek…
Door!!ddoorr!!
Benar kata Dannis, anak buah Jevon langsung menyerang begitu pintu terbuka. Beruntung mereka berdua tak segera masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Lukas tersenyum remeh, ia meraih benda kecil dari dalam sakunya dan melemparkannya ke dalam sana.
Kepulan asap tebal mulai memenuhi ruangan itu, Lukas dan Albert bergegas menyelinap masuk, mulai menembak satu persatu musuh yang ada didalam sana.
Selang beberapa menit kemudian, David masuk ke dalam dan berlari menuju anak tangga yang berada di ujung ruangan.
Cukup mudah, itu semua karena bantuan dari asap yang masih memenuhi ruangan.
Ddoorr!!ddoorr!!!
David menembak para snipper itu dengan membabi buta, seakan tak membiarkan mereka untuk sekedar menyadari kedatangannya.
Selanjutnya, Darren dan Dion mulai masuk ke dalam. Dion meminta sahabatnya itu untuk berjalan tepat di depannya, dengan tujuan menjaga lelaki itu dari belakang.
•
•
PPLLAAKKK!!
Tamparan keras mendarat di wajah tampan Diego, dan yang melakukan itu adalah ibunya sendiri.
“Diego!!” Pekik Aera
Bianca menyorot tajam putra kesayangannya, yang telah berani mengkhianatinya.
“Lakukan lagi mommy, jika itu bisa membuatmu merasa puas” ujar Diego menantang sang ibu.
“Bukankah sudah mommy katakan, jika kau tidak ingin berada dipihak mommy, setidaknya kau jangan ikut campur Diego” teriak Bianca kesal.
“Tidak bisa mom, aku tidak bisa membiarkan mommy berjalan di jalan yang salah.” Jawabnya
Pppllaakk!!
“Hheeyy nenek tua, dia putramu” sela Aera
Bianca kembali melayangkan tamparan keras ke pipi Diego hingga menyisakan warna merah disana.
“Diam!! Mommy melakukan semua ini untuk masa depanmu!! Dan kau gadis malang, bersiaplah untuk bertemu dengan kedua orang tuamu” Bentaknya.
“Dan aku tidak butuh semua itu mom!!”
DDUUARRR!!!
Pintu ruangan itu tiba-tiba hancur ditengah perdebatan mereka. Membuat semua orang yang ada di dalam sana terkejut bukan main.
“Menyerahlah Kalian berdua!!” Teriak seseorang dari ambang pintu.
Semua anak buah yang berada di ruangan itu mulai bersiaga. Kepulan asap akibat ledakan itu menbuat mereka sulit menemukan keberadaan Darren dan Dion.
__ADS_1
Ddoorr!! Ddoorr!!
Darren dan Dion mulai melepaskan peluru mereka menuju anak buah yang berjaga di dalam sana.
Sedangkan Aera sedikit terkejut kala mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
“Da-Darren? Kenapa dia ada disini” gumamnya
“Bianca, berlindung!” Pekik Jevon yang sedari tadi diam dibelakang sang adik sembari memegangi tangannya yang terluka.
“Bawa serta mereka” perintah Bianca
Anak buah Bianca mengangguk setuju, namun tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak kesakitan.
“Aakhhh..” pekiknya dengan keras.
Diego dan Aera ternyata melakukan penyerangan, tepat ketika Bianca serta Jevon menghadap kebelakang, melumpuhkan satu persatu dari mereka dengan tangan kosong.
Suasana semakin tegang, diiringi suara riuh peluru yang saling bersahutan.
“Bagaimana ini kak?” Tanya Bianca khawatir.
“Tangkap wanita itu dan jadikan sandera” titah Jevon, lalu melangkah pergi untuk naik ke lantai atas gedung itu.
Bianca mengangguk mengerti, ia melangkah dengan cepat untuk mendekati Aera, dan Buugghhh..
Bianca menendang punggung Aera dengan keras hingga gadis itu tersungkur.
“Aakhhh!!” Pekik Aera
“Aawww!!” Pekiknya lagi, kala Bianca melipat kedua tangannya ke belakang.
“Hey.. lepaskan aku nenek tua” teriaknya.
Diego yang masih sibuk bertarung, mulai kehilangan konsentrasinya kala mendengar teriakan Aera.
“Mommy lepaskan Aera!” Teriak Diego, ketika sang ibu dengan kasar menyeret tubuh Aera naik ke lantai atas.
Seakan tuli, Bianca terus menyeret tubuh Aera tanpa memperdulikan teriakan gadis itu dan peringatan dari putranya.
“Sakit j*lang tua!!” Pekik Aera menatap tajam wanita yang telah berani membunuh ibunya.
Bianca tak berucap satu kata pun, ia masih fokus membawa tubuh Aera ke lantai atas, tempat sang kakak berdiri dan mengamati suasana dibawah.
“Kak aku mendapatkan gadis ini” seru Bianca dengan nafas terengah-engah.
“Bagus, sekarang Kita bisa menguasai permainan” ujar Jevon dengan bangga.
Bersambung….
__ADS_1