
“Diego!!” Teriak Darren yang berhasil masuk ke dalam ruangan gelap gulita itu.
“Jika kau ingin membalas dendam, lakukan itu padaku!! Jangan libatkan orang lain” imbuhnya
Darren memutar tubuhnya beberap kali, menyusuri setiap inci dari bangunkan itu, meskipun dengan keadaan yang begitu gelap.
“Diego keluar!! Jika kau memang ingin membalas dendam padaku, keluarlah dan hadapi aku sekarang!!” Teriaknya lagi.
Ceklek!!
Pintu ruangan itu tiba-tiba tertutup, membuat lelaki itu bersiaga.
“Hahahaha!! Sepertinya kau begitu merindukanku kak!!”
Lampu yang terdapat diruangan itu satu demi satu menyala dengan terang. Terlihat sosok lelaki dengan postur tubuh yang sama dengan Darren tengah melangkah maju.
“Hy kak!! Hah.. ternyata kau menemukanku dengan mudah. Padahal aku susah bersembunyi sejauh mungkin”
“Dimana Aera?” Tanya Darren sembari mengangkat senjatanya ke arah Diego.
“Aera?? Hhmm dimana ya? Bagaimana kalau kakak tebak, dimana keberadaan kekasihmu saat ini,!!” Ije Diego dengan senyum mengejek di wajahnya.
“Diego berhenti bermain-main. Katakan padaku, dimana Aera!!” Pinta Darren lagi.
“Hahaha.. aku tidak pernah bermain-main kak. Aku hanya ingin membuatmu sedikit penasaran”
“Diego, Aku peringatkan sekali lagi. Berhenti dan serahkan Aera padaku. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan dendammu yang tak berujung itu”
Diego mengangkat salah satu sudut bibirnya, menampilkan senyum yang sulit diartikan.
“Dendam tak berujung kau bilang? Kau membunuh wanita yang aku cintai kak jika kau lupa!!” Tatapan tenang Diego kini dihiasi dengan kilatan kemarahan.
“Berkali-kali aku katakan, aku tidak membunuh siapapun Diego!!” Jawab Darren tak kalah jengah karena sang adik tak kunjung menyerahkan wanitanya.
“DIAMM KAK!! Berhenti mengelak!!” Teriak Diego
“Mmmpphhh..”
Darren mengalihkan pandangannya ketika telinga menangkap sebuah suara yang tak begitu asing.
“AERA!!!” Teriak Darren.
“Diego, cepat katakan!! Dimana Aera!! Lepaskan dia sekarang juga!!”
“TIDAK!! Aku tidak akan melepaskannya!! Kau harus merasakan, apa yang aku rasakan saat itu kak!! Mata dibayar mata!!”
“Mmpphhh..” suara itu terdengar lagi
Darren menatap lurus ke arah belakang tubuh Diego. Matanya melotot tajam kala melihat wanitanya tengah menggantung di atas sana.
“Siall!! Diego lepaskan Aera sekarang juga!!” Teriaknya lagi dengan tatapan penuh ke khawatirkan.
“Hahah!! Jangan bermimpi kak!!”
“Diego!! Kau bebas melakukan apapun padaku, bahkan aku tidak akan melawan jika kau ingin membunuhku. Tapi ku mohon, lepaskan Aera!! Dia tidak bersalah”
Bbrraakk!!
Darren melempar senjatanya ke lantai, bahkan dia melemparnya dengan keras hingga pistol itu terpental jauh.
“Jangan mencoba untuk bersandiwara kak!! Aku tidak akan percaya denganmu”
__ADS_1
Darren melangkah maju dengan tatapan pasrah, jika dengan kematiannya bisa membuat sang adik percaya, maka ia akan melakukannya dengan senang hati.
“Berhenti disana kak, atau aku akan menjatuhkan gadismu!!” Ancam Diego.
Darren menghentikan langkahnya, ia tahu jika sang adik tak pernah bermain-main dengan ucapannya.
“Jangan coba-coba Diego!! Jika kau ingin membalas kematian Jasmine, maka kau harusnya membunuhku bukan dia”
“Hahaha.. itu terdengar begitu mudah kak. Aku ingin kau menderita sama seperti ku ketika Jasmine pergi meninggalkanku. Dan itu semua karena kau!!”
Darren tak menjawab lagi, ia kembali melangkah maju dengan tatapan yang fokus ke wanita yang tengah ketakutan di atas sana.
“Berhenti kak!! Aku tidak main-main dengan ucapanku!!” Ancam Diego lagi.
Seolah tuli, Darren terus melangkah maju tanpa menghiraukan ucapan sang adik.
“Baiklah.. kau menantangku kak!!”
Diego mengangkat sebuah remote kontrol yang terhubung dengan alat yang digunakan untuk menggantung Aera.
Jarinya perlahan bergerak, bersiap untuk menekan tombol merah.
Clik!!
Tombol merah itu ditekan oleh Diego, tali yang menahan tubuh Aera sejak tadi akhirnya terputus dan membuat gadis itu terjun bebas begitu saja.
“Mmhhpphh..” teriak Aera tertahan kala tubuhnya terjun bebas ke bawah sana.
“Aera!!” Pekik Darren
Dengan sigap ia berlari untuk meraih tubuh kekasihnya yang hampir menyentuh lantai.
Bbrraakk
Ddoorrr!!
Dua peluru melesat dengan cepat mengenai dua target yang berbeda diiringi dengan suara dobrakan pintu.
“Aakhhh..” pekik Darren kala peluru yang dilepaskan Diego menancap sempurna di bahu kanannya.
Bbuugghhh!!
Secara bersamaan, tubuhnya ambruk dengan kedua lutut sebagai tumpuan dan wanitanya yang berada di dalam dekapannya.
Sedangkan suara peluru yang lain, terdengar dari arah pintu dan berhasil membuat senjata Diego terpental.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Darren dengan darah segar yang mulai mengalir dari luka tembaknya.
Aera menggeleng pelan, Darren kembali menatap ke arah sang adik dan seseorang yang tengah berdiri didepan pintu dengan senjata yang siap menembak musuhnya.
“David, turunkan senjatamu!!” Perintahnya.
“Tapi tuan..”
“KU bilang turunkan senjatamu dan bawa bantu aku melepaskan ikatan Aera” perintahnya
David gak bisa berbuat apa, ia menurunkan senjatanya dan berlari menuju Darren.
“Jaga dia untukku!!” Perintahnya lagi yang dibalas anggukan kepala oleh David.
Darren bangkit dengan sisa tenaga yang ada, luka nya terasa berdenyut dan sepertinya ia mulai merasa pusing.
__ADS_1
Dengan bersusah payah ia melangkah ke arah sang adik yang berdiri dengan posisi siaga.
“Aku akan memberikan sebuah bukti padamu, dan kau bebas untuk percaya atau tidak dengan bukti yang aku berikan”
“Aku tidak memerlukan bukti apapun darimu!! Sudah sangat jelas jika kau telah membunuh Jasmine!! Kau membunuhnya!!!!” Teriak Diego dengan penuh amarah.
Darren terdiam namun ia tetap melangkah ke arah Diego. Salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, berusaha meraih sesuatu dari dalam sana.
Ia semakin dekat membuat Diego bersiaga dan ikut meraih suatu benda dari saku belakangnya.
Secara bersamaan, tangan mereka berhasil meraih benda yang cari, begitupun dengan jarak mereka yang sudah sangat dekat.Darren meraih lengan sang adik dan mengulurkan salah satu tangannya untuk memberikan sesuatu . Namun tiba-tiba, Diego menyerang sang kakak..
Jlebb!!
Sebuah pisau tajam tertancap sempurna di perut Darren, membuat tubuh lelaki itu terdiam, begitupun Diego yang mulai menyadari jika ia tak merasakan apapun.
“Darreennn!!!!” Pekik Aera kala ia melihat dengan jelas, sebuah pisau menancap di perut sang kekasih.
“Tuan Darren!!” Pekik David yang langsung berlari menuju tuannya.
Diego menatap ke arah bawah, tidak terjadi apapun padanya. Tangan Darren tetap setia menyodorkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam padanya.
“A-aku harap, setelah melihatnya, kau akan percaya pa-daku..” ujar Darren dengan suara lirih
Diego tak berkedip untuk beberapa waktu, ia meraih flashdisk itu dengan tangan gemetar. Darren tersenyum getir, tangannya yang sudah tak bertenaga itu terangkat dan menepuk pelan bahu sang adik hingga didetik berikutnya tubuhnya ambruk ke belakang.
Beruntung David tiba dengan cepat dan berhasil menangkap tubuh Darren.
Diego menatap sejenak tubuh sang kakak yang tergeletak di lantai, lalu ia berlari meninggalkan ruangan itu dengan flashdisk ditangannya.
“Darren!! Darren!! Bangun!!” Panggil Aera beberapa kali dengan air mata yang berderai.
“Kak lakukan sesuatu!!” Pintanya dengan suara bergetar.
“Tenang Aera. Kakak akan mencari bantuan diluar!! Pastikan pisau itu tetap tertancap, agar darahnya tidak keluar lebih banyak lagi” perintah David yang di jawab anggukan kepala oleh Aera.
Aera berpindah posisi, ia menjadikan pahanya sebagai sandaran tubuh Darren, sedangkan David segera berlari keluar.
“Hikss..hikss.. bertahanlah!!”
“Uhuukk..Uuhhuukk!!” Darren tersadar membuat Aera sedikit panik.
“Hy..” sapa Darren dengan suara lemah.
“Ssttt.. diamlah jangan banyak bicara, kau terluka parah!!” Pekik Aera
Lelaki itu tersenyum lemah “aku ba-ik-baik saja.. “
“Ku bilang jangan banyak bicara!!” Bentaknya lagi.
“Pe-luk aku A-er-aa.. di-ngi-n” racau Darren
Aera mengangguk dengan cepat, didekapnya tubuh Darren erat dengan air mata yang masih mengalir dengan deras.
“Te-rima kasih..”
“Ssttt.. aku akan terus memelukmu seperti ini, tapi berjanji lah untuk bertahan”
Selang beberapa menit kemudian, David datang bersama beberapa anak buahnya dan segera membawa Darren ke rumah sakit.
Bersambung….
__ADS_1