SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 69


__ADS_3

“Aakkkhhh..” teriak seseorang.


Apakah sudah? Kenapa tidak sakit?. Batin Aera


Gadis itu membuka matanya perlahan, mengintip situasi yang tengah terjadi melalui ekor matanya.


Ada apa dengan kakek tua itu?. Gumam Aera ketika melihat Jevon tengah berjongkok sembari memegangi tangannya.


“Siapa yang berani melakukan ini? Hah?!” Teriak Bianca


Aera membuka matanya lebar, Hufftt.. ternyata ia belum tertembak.


“Hheeyyy!!! Keluar kau!!” Teriak Bianca lagi


Apa yang terjadi? Apakah kakek tua itu tertembak? Dan siapa yang melakukan itu?


Apakah Dion dan yang lainnya sudah tiba?


Aera memilih untuk diam dengan berbagai macam pertanyaan di dalam kepalanya.


“Jangan berteriak mom” seru seseorang yang keluar dari pilar besar gedung itu.


Semua mata menoleh ke arah sumber suara.


Diego?


Ekspresi yang ditampilkan oleh Aera tidak jauh berbeda dengan ekspresi wajah Bianca.


“Diego?!”


Lelaki dengan senjata api ditangannya kini melangkah ke arah ketinganya

__ADS_1


“Bisakah kalian berhenti sampai disini?” Tanya Diego, dengan tatapan memohon.


Bianca bangkit dan berdiri tepat di hadapan sang putra kesayangan.


“Jangan membual Diego! Bukankah mommy sudah mengatakan padamu sebelumnya. Jika kau tidak ingin membantu, sebaiknya jangan ikut campur!”


Bbuugghhh!!


Diego menjatuhkan tubuhnya dengan kedua lutut menjadi tumpuan.


“Aku mohon mom.. hentikan ini semua” Diego memegang erat kedua tangan sang ibu dan menatapnya dengan penuh harap.


Aera sedikit terkesiap melihat drama yang terjadi di depan matanya.


Bianca mengalihkan pandangannya, ia tak ingin terpengaruh dengan bujukan putranya.


“Tidak Diego! Mommy tetap pada pendirian mommy dan tidak akan mengubahnya!!”


“Aku mohon mom, demi aku. Percayalah, aku tidak menginginkan semua itu. Aku hanya ingin hidup damai dengan keluargaku, yaitu mommy, daddy, uncle, kak Darren dan calon istri kita masing-masing” Diego masih berusaha membujuk sang ibu.


Ia tak ingin melewatkan kesempatan yang ada, berhubung Diego tengah mengalihkan perhatian Bianca, Aera menggunakan waktu yang ada untuk mencoba melepaskan ikatan tangannya.


Sial, kenapa sulit. Gumamnya dalam hati.


Wajahnya dibuat setenang mungkin, agar tidak mencuri perhatian dari keduanya.


Ayo Aera, sedikit lagi! Bertahanlah wahai kedua tangan mulusku.



__ADS_1


“Wow.. mereka membangun gedung ini ditengah hutan?!” Seru Dannis


Ya, mereka berenam sudah tiba dihutan yang menjadi tempat Aera di sekap.


“Ckckck sangat disayangkan, uang uncle Alex terbuang percuma” timpal Damian


“Aku rasa uang yang diambil tidak berarti apapun untuk uncle Alex, buktinya ia tetap kaya hingga saat ini.” Sambung Albert


Sedangkan Dion yang duduk di kursi belakang hanya bisa menggelengkan kepala pelan.


“Sampai kapan kalian akan diam disini dan membahas kekayaan uncle Alex, lihat wajah seseorang yang sedang berjalan menuju kemari” ujar Dion


Bbrraakk!! Bbrraakk!!


Darren yang kesal karena sahabat-sahabatnya itu tak kunjung keluar, akhirnya memilih untuk turun dan menggedor pintu mobil Albert dengan keras.


“Ooiihh kau sangat tidak sabar” gerutu Dannis setelah membuka kaca mobilnya.


“Kenapa kalian berhenti?” Tanya Darren


“Tentu saja karena sudah sampai” sahut Dannis lagi


“Lalu kenapa tidak turun?”


“Karena kau berdiri disana dan menghalangi pintunya!”


Darren melangkah mundur dan memberi akses untuk Dannis.


“Jadi bagaimana rencana kita?” Tanya Damian memulai pembicaraan.


“Seperti biasa, anak buah Dannis masuk lebih dulu dan kita ikuti arahan Dannis” jawab Albert

__ADS_1


Mereka mengangguk setuju, Dannis mulai mengeluarkan anak buahnya berupa robot kecil dengan bentuk lalat.


Bersambung…


__ADS_2