
Sepucuk senjata api tengah bertengger di dahi seorang lelaki. Ia mengangkat kedua tangannya, sebagai pertanda jika dirinya tak berkeinginan untuk melawan.
“David, turunkan senjatamu!” Titah Darren
David melirik sejenak tuan mudanya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lalu beralih menatap Diego dengan tajam.
“Percayalah padaku” imbuh Darren, meyakinkan kembali lelaki itu.
Perlahan David menurunkan senjatanya namun matanya masih tetap siaga. Kedatangan Diego yang secara tiba-tiba, membuatnya terkejut sekaligus waspada. Pasalnya, lelaki itulah yang menjadi penyebab Darren berbaring di ranjang itu.
“Tinggalkan kami berdua!”
“Tidak tuan!” Bantah David tanpa menoleh ke arah Darren.
“Ini perintah David!”
“Kau tenang saja, aku tidak akan melukai kak Darren” akhirnya Diego angkat bicara kala David tak melepas tatapannya barang satu detik pun.
“Bagaimana aku bisa percaya kepada orang yang hampir membunuh kakaknya sendiri”
“David, ku mohon. Tinggalkan kami berdua! Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan bantuan” pinta Darren dengan nada memohon.
“Baiklah tuan muda” David akhirnya mengalah, ia bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan kakak beradik di dalam sana.
Diego tersenyum getir “Haha.. padahal aku juga tuan muda di keluarga Alexander, tapi kenapa dia tidak menganggapku” gumamnya sembari tertawa pelan.
Darren masih terdiam, ia menatap lekat sang adik yang sepertinya sudah melihat rekaman video itu.
“Kak Darren..” panggil Diego
“Hhmm..”
Diego menarik kedua tangannya kebelakang, meraih sesuatu dari balik bajunya.
Ceklek!!
Darren sedikit terkejut, pasalnya sang adik mengeluarkan sebuah senjata api dan meletakkan benda itu di atas tangannya.
“Bunuh aku kak!!” Pinta Diego dengan kedua tangan menggenggam tangan Darren yang berisikan senjata api dan mengarahkannya ke tepat di dahi.
“Diego!!” Pekik Darren.
“Cepat kak, tarik pelatuknya”
“Lepaskan Diego!!”
“Tidak kak, kau harus membunuhku! Bukankah itu setimpal dengan apa yang telah aku perbuat”
__ADS_1
“Lepaskan atau aku akan memanggil David!!”
Perlahan tangan Diego melemah, tubuhnya terduduk lemas di sisi ranjang dengan tubuh bergetar.
“Kau harusnya membunuhku kak..hiks” Suaranya terdengar serak dengan isakan kecil.
“Tidak ada alasan untukku, membunuh seorang adik yang begitu aku sayangi” ujar Darren.
Diego mendongakkan kepalanya, menampilkan wajah penuh kesedihan dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kau masih bisa menganggapku adik setelah apa yang aku lakukan selama ini kak?” Tanyanya dengan nada bergetar.
Darren tersenyum manis, manatap sang adik lalu merentangkan kedua tangannya.
“Aku tahu kau orang baik, semua ini terjadi karena kesalahpahaman saja”
Diego kembali menundukkan kepalanya, ia tak bisa menahan kesedihannya. Ia merasa sangat beruntung memiliki seorang kakak seperti Darren.
“Kemarilah, biarkan aku memelukmu” pinta Darren
Diego bangkit dengan bersusah payah, dengan cepat ia menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Darren.
“Sshhh.. pelan-pelan bodoh” pekik Darren kala sang adik membentur bagian bahunya yang terluka.
Diego semakin tak bisa mengontrol tangisannya, mulutnya terasa kelu tak bisa berucap sepatah kata pun.
“Sstt.. menangislah. Kau masih adikku yang manja seperti dulu” Tanpa Darren sadari, dirinya juga ikut meneteskan air mata.
Adiknya yang begitu manja telah kembali, tatapan penuh kebencian yang ia lihat selama bertahun-tahun lamanya akhirnya sirna.
Tangan Darren terangkat, mengelus pelan punggung sang adik.
.
.
.
“Ayolah Aera, kau harus mengingat semuanya!” Gumam Aera pada dirinya sendiri.
Gadis itu tengah duduk di depan meja rias sembari menatap pantulan dirinya di cermin besar.
“Siapa wanita itu? Kenapa suaranya berputar di kepalaku?”
Inilah yang dilakukan Aera sejak sang kakak mengurungnya di dalam kamar berukuran besar itu. Berusaha untuk mengumpulkan serpihan demi serpihan kejadian yang berputar secara acak di dalam kepalanya.
“Apa salahku?”
__ADS_1
“Tidak ada, aku hanya ingin mencapai tujuanku!”
“Lalu apa hubungannya denganku?”
“Karena kau penghalang terbesarku nyonya Ayumi”
Aera memejamkan matanya, kala sebuah percakapan mendengung di dalam telinganya, diiringi rasa nyeri yang kembali menghampiri kepalanya.
.
.
“Kau benar-benar biadab Bianca!!”
“DIAMM kau Sania!! Jangan ikut campur!!”
“Lepaskan nyonya Ayumi Bianca!!”
“Tidak!! Aku harus membunuhnya!!”
Ddoorr!!!!
.
.
“Aakkhhhh kepalaku..”
Aera memegangi kepalanya, bukan rasa nyeri, kali ini rasa sakit itu terasa begitu menyakitkan dari sebelumnya.
“To-tolong..” lirih Aera
Bbrraakkk!!!
Tubuhnya luruh ke atas lantai, dengan kedua tangan yang masih setia memegang kepalanya.
“Sshhh.. to..long aku..”
Rasa sakit itu semakin menyiksa, bahkan ia merasa kepalanya hampir meledak.
“Nona..” pekik anak buah David uang berjaga di depan pintu.
“To-tolong aku..” pinta Aera
“Ini sakit..”
Lelaki itu segera bergegas mengangkat tubuh Aera dan membawanya ke rumah sakit tempat David bertugas saat ini.
__ADS_1
Bersambung