
Ruangan pemotretan dengan 2 Ac yang menyala full tak dapat menghilangkan udara panas yang dirasakan oleh Aera.
Tangannya masih sibuk mengibas ke kanan dan ke kiri, sesekali meremas kuat kertas yang ia genggam.
“Nona Aera, sepertinya udara ruangan ini terlalu dingin” ujar salah satu staff.
Mata Aera melirik tajam ke arah staff yang berani menegurnya disaat seperti ini.
“Dingin? Kau bilang dingin? Udara panas seperti kau bilang dingin? Bahkan saat ini aku ingin menambah 2 unit AC lagi!!” ujar Aera dengan nada kesal.
Bukan tanpa alasan ia merasa gerah sekaligus kesal, di depan matanya ia tengah menyaksikan pemotretan brand baru dari perusahaan kekasihnya.
Hal yang membuatnya semakin tak terkendali adalah pasangan yang melakukan pemotretan di depan sana merupakan kekasihnya sendiri bersama seorang gadis.
Ia tak tahu jika di dalam kontrak itu tertulis jelas model dari brand baru tersebut.
Sedangkan didepan sana, Rebbeca benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan baik. Model profesional sekelas dirinya harus melakukan kesalahan beberapa kali demi mengulur waktu.
“Rebbeca, jika kau terus seperti ini, maka aku..”
“Oke, oke, aku akan lebih serius kali ini” potong Rebbeca.
Darren melirik ke arah kekasihnya yang tengah duduk dengan wajah kesal di ujung ruangan. Ia merasa bersalah karena tidak memberitahunya tentang isi kontrak tersebut.
Beberapa detik kemudian, lirikan Darren berubah menjadi tatapan aneh saat seseorang masuk kedalam ruangan pemotretan.
“Diego..kenapa dia berada disini?”gumam Darren dalam hati.
Tatapan penuh kecurigaan ia tujukan ke arah Darren, bahkan laki-laki itu menyadari tatapan sang kakak yang tertuju padanya.
Diego tersenyum manis, menyapa sang kakak dengan lambaikan tangan, seakan jika datang untuk memberi semangat.
“Hy nona sekretaris” sapa Diego
Aera melirik ke arah sosok yang baru saja datang dan menyapa dirinya. Suasana hatinya benar-benar sedang buruk kali ini, sehingga ia hanya menjawab dengan anggukan kepala pelan.
“Ada urusan apa anda datang kemari tuan Diego?” tanya Aera dengan nada kesalnya.
Diego mendaratkan tubuhnya di samping Aera dengan santai, tentu saja hal itu membuat seseorang di depan sana bereaksi.
“Tidak ada urusan yang sangat penting, aku hanya ingin mengunjungi kakakku saja.” Jawab Diego, beralih menatap Aera.
“Anda lihat sendiri, tuan Darren sedang sibuk saat ini. Anda bisa datang dilain waktu” ujar Aera
__ADS_1
“Hey.. kenapa aku merasa seperti kau sedang berusaha mengusirku”
Aera terdiam, ia benar-benar malas berbicara saat ini. Hatinya masih terasa panas dengan kepala yang ingin meletus menahan rasa cemburu.
“Permisi tuan Darren dan nona Rebbeca, ini minuman untuk kalian berdua. Ini akan membantu kalian lebih fokus” ujar salah satu staff.
Rebbeca mengambil minuman itu dengan cepat, sedangkan Darren tak bergeming sedikitpun. Tatapannya masih fokus ke arah sejoli yang duduk bersebelahan di sofa kecil itu.
Diego tersenyum licik, sebuah rencana terlintas begitu saja di kepalanya ketika menyadari tatapan sang kakak tak teralihkan sedikit pun darinya.
Tangannya terangkat, mengarah ke pucuk kepala Aera. Dengan lembut ia menyentuh kepala Aera, sontak membuat wanita itu terlonjak kaget.
“Maaf aku tidak sengaja” ujar Diego
Aera mengangguk dengan cepat dan menjauhkan dirinya dengan menggeser bokongnya lebih ke pinggir.
Darren yang terpancing langsung bereaksi, ia bangkit dari posisi duduknya hendak menghampiri Aera. Namun naas, gerakannya yang tiba-tiba membuat segelas air yang dipegang oleh Rebbeca tumpah begitu saja mengenai baju yang ia kenakan.
“Aaww maaf, maaf” ujar Rebbeca
“Cckk.. “ pekik Darren.
“Kenapa kau berdiri tiba-tiba”
Rebbeca kembali tersenyum, ini adalah kesempatan untuknya mencari perhatian Darren. Dengan cepat ia membantu Darren membersihkan baju yang basah karena tumpahan air dengan sehelai tissue.
Ia dapat melihat jelas bagaimana reaksi Aera ketika melihat pemandangan di depan matanya. Diego sangat yakin jika diantara sang kakak dan sekretarisnya ini, mempunyai hubungan spesial.
Tanpa disadari, Aera meremas kuat kertas yang ia genggam kala tangan Rebbeca semakin berani menyentuh kekasihnya.
“Wanita sialan..” umpat Aera
Ia tidak bisa menahan diri lagi kali ini, Aera tidak akan berdiam diri lagi karena tindakan Rebbeca tidak akan pernah berhenti.
Diego tersenyum puas, akhirnya ia tahu jika apa yang ada di dalam pikirannya memang benar adanya.
Aera sudah berdiri dan melangkah ke depan dengan tatapan tajam dan kemarahan di wajahnya.
Darren mulai terlihat panik kala kekasihnya tengah melangkah menuju ke arahnya, ia ingin menghampiri Aera namun tiba-tiba tangan Rebbeca membuka kancing kemeja bagian atasnya.
“Jangan sentuh kekasihku nona Rebbeca!!” Ujar Aera, tangannya mehempaskan tangan Rebbeca dengan kasar.
“Aakkhh.. hhheeyy!!” Pekik Rebbeca
__ADS_1
“Beraninya kau menyentuhku sekretaris sialan” teriak Rebbeca marah.
“Kenapa tidak, kau sudah bertindak diluar batas. Aku mempunyai hak untuk melindungi apa yang seharusnya menjadi milikku” jawab Aera dengan lantang.
“Aera!!” Panggil Darren dengan nada peringatan.
“A-ap maksudmu?” Tanya Rebbeca yang menyadari kalimat yang diucapkan oleh Aera.
“Hhmm.. kami sepasang kekasih” jawab Aera dengan bangga.
“Aera!! Keluar dari sini” bentak Darren.
Gadis itu tersentak kaget, ia menatap Darren dalam.
“Ke-kenapa? Aku..”
“Keluar Aera!!” Perintah Darren sekali lagi.
Aera mengerjapkan matanya beberapa kali, menganggukkan kepalanya pelan.
“Oohh aku melupakan sesuatu. Apakah ini tujuanmu memintaku untuk merahasiakan hubungan kita? Agar kau bisa bebas bersama dengan siapapun yang kau mau. Aku mengerti..” ujar Aera yang sudah dikuasai emosi di dalam hatinya.
“AERA!!!” Bentak Darren sekali lagi.
Silih berganti ia menatap Aera dan juga lelaki yang duduk dengan senyum kemenangan di pojok ruangan itu.
“Cukup!! Aku akan keluar . Kau tak perlu membentakku lagi” jawab Aera dengan air mata menggenang di peluru matanya.
Bahkan dengan berani ia mendorong tubuh Darren hingga laki-laki itu terhyung kebelakang.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya bisa diam mematung, menjadi saksi bisu atas pertengkaran sepasang kekasih yang cukup membuat mereka terkejut.
Darren memijat pelipisnya, posisinya begitu sulit saat ini. Andai Aera tahu alasan dibalik larangan yang ia berikan, dan bodohnya ia tak mengatakannya dengan jujur kepada kekasihnya.
“Batalkan pemotretan hari ini, carikan model pria untuk penggantiku” perintah Darren lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
“Tapi aku..” Rebbeca hendak melakukan protes
“Jika kau tidak mau, maka kontrak kita sampai disini” ancam Darren.
Ia kembali melangkah keluar untuk menyusul Aera, namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika Diego menghalanginya di depan pintu.
“Bersiaplah kak” ujar Diego dengan senyum licik diwajahnya.
__ADS_1
“Jangan coba-coba untuk menyentuhnya Diego, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu” jawab Darren, lalu melanjutkan langkahnya keluar.
Bersambung…