SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 51


__ADS_3

Rasa khawatir bercampur gelisah tengah menguasai hati seorang Darren saat ini. Rahasia yang sudah ia simpan selama 7 tahun lamanya kini terbongkar sudah.


Albert memberitahunya beberapa jam yang lalu jika sang ayah sudah mengetahui tentang keberadaan Ethan. Albert juga meminta maaf kepadanya karena terpaksa mengatakan semua kebenaran yang ada.


Darren tak bisa berbuat apa dan tak mau menyalahkan Albert atas apa yang terjadi, karena ia tahu cepat atau lambat semua itu akan terbongkar.


“Tenanglah, jelaskan semuanya pelan-pelan. Aku rasa daddy mu akan mengerti” ujar Aera berusaha menenangkan Darren yang terlihat tegang.


“Hhmm.. terima kasih. Aku harap daddy menepati janjinya untuk tidak menceritakan semua ini kepada siapa pun termasuk mommy Bianca” Ujar Darren penuh ke khawatiran.


Aera mengangguk setuju, ia menggenggam erat tangan Darren yang terasa dingin itu sebelum benar-benar masuk ke dalam mansion megah milik Alexander Family. Mereka berdua masuk secara bersamaan ke dalam mansion, Aera semakin mempererat genggamannya kala kakinya sudah berpinjam di dalam sana.


“Selamat datang tuan Darren” sapa David yang sudah menunggu di depan pintu masuk.


“Hhmm.. dimana daddy?” Tanya Darren yang terlihat tidak sabar.


“Tuan besar sudah menunggu anda di atas tuan, anda bisa langsung menemui beliau” jawab David


“Baiklah, aku akan pergi ke atas. Apakah Diego ada disini?” Tanya Darren dengan mata yang menjelajah ke setiap sudut ruangan.


“Tuan Diego berada di dalam kamarnya tuan”


“Hhmm.. kalau begitu kau jaga Aera untukku. Jangan biarkan dia mendekati Aera, mengerti” perintahnya kepada David.


David mengangguk setuju, ketakutan yang dirasakan oleh Darren bisa dirasakan oleh David. Dendam yang dimiliki oleh Diego, membuat keamanan Aera sedikit terusik.


“Aera dengar, jangan pernah pergi jauh dari David. Berhati-hati lah pada minuman dan makanan disini, meskipun ini adalah rumahku. Aku tidak ingin kejadian beberapa minggu yang lalu terulang kembali” jelas Darren sembari memegang kedua bahu Aera.


Gadis itu mengangguk setuju, ia juga sedikit trauma karena kejadian beberapa minggu yang lalu. Tak heran jika saat ini ia begitu takut jika menerima sesuatu dari orang-orang sekitarnya.


Darren mulai memijakkan kakinya di tangga pertama yang akan membawanya bertemu sang ayah. Bayangan kejadian beberapa tahun lalu kembali berputar di dalam kepalanya.


Sedangkan di bawah sana, David menarik tangan sang adik untuk mengajaknya duduk di ruang tamu bersama dirinya.

__ADS_1


“Aera, apakah kau tahu tentang masalah ini?” Bisik David.


“Eee.. tahu kak” jawab Aera


“Kenapa kau tidak memberitahu kakak sebelumnya”


“Hhmm maaf kak, tapi aku tidak ingin mendahului Darren. Dia percaya padaku dan aku tak ingin mengingkari kepercayaannya.” Jelas Aera yang membuat David tertegun.


“Ah iya, aku lihat akhir-akhir ini kau sudah jauh lebih baik. Aku sering mendengar Darren mengatakan jika kau sudah tidak pelupa seperti dulu” tanya David


“Benar kak, tanpa aku sadari, penyakit pelupaku itu menghilang sedikit demi sedikit. Meskipun tidak keseluruhan, aku sudah bisa mengingat sesuatu tanpa mencatatnya lagi.” Jawabnya dengan begitu antusias.


“Bagus, aku ikut senang mendengarnya. Itu artinya kau bisa mengingat masa kecilmu bukan?” Tanya David lagi.


Raut wajah penuh keceriaan yang ditampilkan oleh Aera sejak tadi kini sirna seketika kala mendengar pertanyaan dari sang kakak.


Gadis itu menggeleng pelan dengan wajah sedih, akhir-akhir ini ia berusaha mengingat semua itu namun tak ada hasil apapun yang ia dapat.


“Aera.. dimana kau mendapatkan kalung itu?” Tanya David dengan raut wajah penasaran.


“Kalung ini?” Aera menunjuk pada kalung yang ia dapat beberapa hari lalu dari ibu panti.


“Aku mendapat kalung ini dari…” kalimatnya harus terpotong karena seseorang datang dan menyapa mereka.


“Siapa kau?” Tanya seorang wanita yang baru saja tiba.


David yang begitu hafal dengan suara dari orang itu langsung berdiri dan memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.


“Selamat malam nyonya Bianca” sapa David


“Hhmm.. siapa wanita ini David?” Tanya nya sekali lagi.


Aera hendak mengangkat kepalanya untuk menatap seseorang yang baru saja datang, namun gerakannya terhenti saat suara dari wanita itu terdengar familiar di telinganya.

__ADS_1


Deggg!!


Jantung Aera tiba-tiba berdetak kencang, suara wanita itu kini berputar-putar di dalam telinganya.


“Su-suara ini..” gumam Aera dalam hati.


Sesuatu yang berbentuk kepingan-kepingan kecil mulai menyatu di dalam kepalanya. Suara wanita yang ia dengar beberapa tahun yang lalu beradu dengan suara wanita yang ia dengar saat ini.


“Aakkhhh..sshhh kepalaku” pekik Aera ketika merasakan sakit yang tak tertahankan pada bagian kepalanya.


David yang berdiri tak jauh dari sang adik, langsung bergegas menghampiri ketika mendengar Aera merintih kesakitan.


“Dia.. Aakkhh.. kepalaku..tolong, ini sakit sekali” rintih Aera sembari memegangi kepalanya kuat-kuat.


“Hey Nona Aera anda baik-baik saja?” Tanya David yang mulai panik.


Sedangkan wanita yang berdiri dihadapan kakak beradik itu hanya bisa terdiam dengan raut wajah bingung.


“Aakkhhh.. ini sakit sekali kak..” rintih Aera semakin menjadi-jadi.


“Tenanglah, coba atur nafasmu serileks mungkin. Jangan pikirkan apapun saat ini” ujar David mencoba menenangkan sang adik.


Namun semua itu tak berhasil hingga rasa sakit yang di rasakan Aera membuatnya tak sadarkan diri.


“Hey Aera, Aera, bangunlah..Hey..” pekik David


“Maaf nyonya, saya harus membawa nona Aera ke rumah sakit” pamit David


“Ada apa dengannya David?” Tanya Bianca dengan rasa penasaran yang begitu besar.


“Saya belum tahu nyonya, maka dari itu saya harus membawanya ke rumah sakit” jelas David lalu bergegas mengangkat Aera dan membawanya keluar dari mansion.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2