
“Tidak!! Ini tidak mungkin!! Ini TIDAK MUNGKIN!!!”
Teriak Diego, menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bbrraakk!!
Diego menyapu bersih meja yang terdapat laptop serta beberapa peralatan diatasnya tanpa tersisa.
“Aarrrgghhhh!!!” Suaranya menggema diruangan dengan nuansa serba hitam itu.
Diego merogoh saku celananya, meraih ponsel lalu dengan cepat menghubungi seseorang.
“Krist.. bawa Gekko dan Greg kehadapanku sekarang juga!!” Titahnya dengan nada dinginnya.
Bbrraakk!!
Diego melempar ponsel miliknya dengan keras ke arah dinding hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping.
Untuk sesaat, tubuhnya membeku dengan dada naik turun menahan emosi yang tak terbendung.
“Kenapa?? Kenapa mereka melakukan ini??! Kenapa??”
Tubuhnya luruh ke atas lantai dengan kedua lutut menjadi tumpuan. Hatinya terasa berdenyut saat ini, mengetahui fakta jika selama ini ia salah menaruh dendam.
“Mommy.. Why mom??” Lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia, Diego baru saja melihat bukti yang tersimpan di dalam Flashdisk milik Darren. Dalam video gabungan dari beberapa rekaman CCTV yang berdurasi 45 menit itu, terlihat jelas jika Darren dan dirinya telah dijebak.
Terlihat beberapa orang yang tak begitu asing dimatanya muncul di video itu. Memukul Darren hingga pingsan, lalu mengangkat tubuh sang kakak menuju sebuah mobil. Setelahnya rekaman itu beralih ke sebuah jalanan sepi yang menjadi tempat tragedi mengerikan yang tak bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kencang, menabrak mobil merah metalic yang tak lain adalah mobil miliknya, dengan sangat keras. Dua orang yang muncul di video pertama kembali muncul, namun kali ini mereka keluar dari mobil hitam yang menabrak mobilnya.
Mereka mengangkat seorang laki-laki yang masih tak sadarkan diri dan meletakkannya ke dalam mobil hitam itu. Tepat di menit kemudian, Diego keluar dari mobilnya dengan kepala yang berlumuran darah.
Tok!!tok!!tok!!
“Permisi tuan…”
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Diego. Ia berusaha bangkit dan menghapus buliran bening yang jatuh membasahi pipinya.
“Masuklah!!” Titahnya
__ADS_1
Tiga sosok pria berpakaian serba hitam, khas seorang bodyguard, masuk ke dalam ruangan khusus milik Diego.
“Ada perlu apa tuan memanggil kami?” Tanya Greg mewakili temannya.
“Krist.. menyingkirlah” perintahnya kepada lelaki yang menjadi orang kepercayaannya selama ini.
Krekk!! Krekk!!
Diego mengeluarkan dua buah pistol dari belakang celananya dan menodongkannya ke arah Gekko dan Greg, membuat dua orang itu terdiam mematung.
“Katakan padaku!! Apakah mommy yang memerintahkan kalian untuk menabrak mobilku dan menjebak kak Darren??” Tanya Diego to the point.
Ia tahu jika semua itu adalah ulah sang ibu, karena kedua orang yang berdiri dihadapannya saat ini merupakan mantan anak buah Bianca. Namun ia ingin mendengar langsung semua fakta itu dari mulut si pelaku.
“A-apa maksud anda tuan?” Tanya Greg dengan wajah gugup dan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Ddoorr!!!
Satu pistol yang berada di tangan kanannya memuntahkan pelurunya dan berhasil melubangi kepala lelaki yang berdiri di samping Greg, membuat darah segar mengenai wajah Greg.
Bbuugghhh!!!
“Kenapa rekaman CCTV yang aku dapatkan sangat berbeda dengan rekaman aslinya? Apa itu juga ulah mommy?” Tanya Diego lagi dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Diego.
Greg menelan ludahnya kasar, ia begitu takut saat ini terlebih melihat rekannya sudah terbujur kaku di sampingnya.
“Katakan semuanya atau kau akan bernasib sama dengannya” ancam Diego.
“A-ampun tuan.. saya hanya menjalankan perintah Nyonya Bianca dan tuan Jevon. Mereka juga memintaku untuk merekayasa rekaman CCTV di club serta jalanan itu” jelas Greg dengan wajah gugup sekaligus takut.
“Hhmm.. terima kasih karena kau susah jujur, sekarang kau boleh keluar!!” Titah Diego yang di balas dengan anggukan kelapa cepat oleh Greg.
Greg tersenyum lega, ia membalikkan tubuhnya hendak keluar dari ruangan itu, namun..
DDOORR!!!
Diego melepaskan pelurunya tepat di kepala bagian belakang Greg, membuat lelaki itu jatuh tersungkur.
“Krist.. urus mereka berdua!! Jadikan mereka hadiah istimewa untuk mommy dan uncle. Setelah itu kau hubungi mereka, katakan aku akan datang!!” Titahnya lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
.
__ADS_1
.
.
“Eenngghh!!” Lenguhan kecil terdengar dari arah ranjang di salah satu kamar Vip milik Dion.
Lelaki dengan baju pasien berwarna biru itu tengah berusaha membuka matanya yang terasa begitu berat. Mengerjap perlahan, ia mencoba untuk mengimbangi cahaya ruangan yang cukup membuatnya kesulitan membuka mata.
“Tuan Darren!! Anda bisa mendengar saya??!!” Gumam seseorang yang terdengar samar di telinganya.
“Hhmm..” ia menjawab seadanya.
“Tunggu sebentar, saya akan memanggil dokter Dion!!”
Ya laki-laki yang berdiri di sisi ranjang itu adalah David. Ia dengan setia menunggu tuan mudanya sejak satu jam yang lalu.
“Aera…” panggil Darren dengan suara serak
David menghentikan langkahnya “Tuan..”
“Dimana Aera, David?” Tanya Darren sembari mencoba untuk menggeser tubuhnya.
Melihat hal itu, dengan sigap David meraih tubuh Darren.
“Tuan, tenanglah!! Anda tidak boleh banyak bergerak, saya akan memanggilkan dokter Dion terlebih dahulu”
“Jawab aku David!! Dimana Aera? Kemana kau membawanya pergi?”
Deggg!!!
Tubuh David membeku, bagaimana tuannya bisa tahu tentang rencananya.
“A-apa maksud anda tuan?”
Darren menepis tangan David yang masih bertengger di lengannya, ia memaksakan diri untuk bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke arah dinding.
Kepalanya menengadah ke atas, berusaha menahan rasa sakit yang teramat dari arah perut dan bahunya yang terluka.
“Kenapa kau melakukan ini David?!!”
Bersambung…
__ADS_1