SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 34


__ADS_3

Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi luka serta darah segar yang masih mengalir dari sudut bibir dan hidungnya kembali jatuh terjerembab ke atas tanah.


Seluruh tubuhnya terasa remuk,bahkan beberapa bagian tulangnya terasa patah.Pukulan,tindakan dan hantaman keras ia dapat bertubi-tubi tanpa diberi kesempatan untuk melawan atau sekedar menghindar dari serangan.


“Berhenti memukulnya, berikan dia kesempatan untuk membuka mulut” ujar Damian


Albert,Damian dan Dion duduk di sebuah sofa empuk ditemani beberapa camilan yang disiapkan khusus untuk menonton pertunjukan Darren malam ini.


Sedangkan Dannis tengah sibuk berkutat dengan layar komputernya tanpa berkomentar apapun.


Mereka berlima memilih berkumpul di rumah Damian,karena Darren meminta bantuan kepadanya untuk menangkap seseorang yang berani mengusiknya.


Darren tak menggubris peringatan yang diberikan oleh Damian,dengan emosi yang masih menguasai pikirannya,ia terus menerus melayangkan pukulan dan tendangan dengan keras.


“Huft..” Albert menghela nafasnya panjang.


Laki-laki itu berdiri,merapikan jas yang ia gunakan dan melangkah ke arah Darren.Salah satu tangannya masuk ke dalam saku jasnya dan merogoh sesuatu di dalam sana.


DDOORR!!


“Waktumu untuk bermain-main telah habis, sekarang duduklah dan tunggu Dannis menyelesaikan pekerjaannya” perintah Albert ketika dirinya berhasil melubangi kepala lelaki itu.


“Cckk..kau selalu saja seperti ini Albert” ujar Darren dengan wajah kesal.


Pria dengan penampilan yang berantakan itu melangkah lemas menuju sofa dan mendaratkan tubuhnya dengan keras.


Dion hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat hal itu.Sedangkan Damian tersenyum sinis sembari menepuk pelan pundak sahabatnya yang terlihat kesal.


“Kau terlalu suka membuang-buang waktu Darren. Aku pun sama kesalnya dengan Albert melihat kebodohanmu itu” ejek Damian


Darren menatap jengah ke arah Damian namun setelah itu ia hanya bisa memutar bola matanya malas.


“Walaupun kau membuatnya sekarat atau bahkan mati, dia tidak akan membuka mulut, karena seorang pengawal tidak akan mengkhianati tuan mereka apapun yang terjadi” jelas Albert


“Lalu kenapa kau tidak membunuhnya saja sejak pertama kali kalian menangkapnya” protes Darren


“Harusnya kau berterima kasih karena aku memberimu kesempatan untuk membalas perbuatannya” timpal Albert


“Berhentilah berdebat, aku sudah selesai dengan ponsel sialan ini” sela Dannis, ia ikut duduk bersama yang lain.

__ADS_1


“Siapa?” Tanya Dion


“Pemilik perusahaan Jepang YG Grup” jawab Dannis,tangannya terulur untuk mengambil camilan.


“Wah..sepertinya kau mendapat lawan yang cukup seimbang” seru Damian


Darren mengepalkan kedua tangannya,matanya menyorot tajam ke arah depan.Seharusnya ia tidak menyepelekan firasat buruk Aera waktu itu.


“Hey..seimbang seperti apa yang kau maksud. CRYSTAL jauh di atas mereka kau tahu” jawab Albert menyunggingkan bibirnya.


“Bajingan, Yamamoto..akan kU pastikan kau salah dalam memilih lawan” umpat Darren


“Sudahlah..bukankah menjatuhkan perusahaan sekecil itu akan sangat mudah. Kenapa kau harus emosi seperti itu.” Ujar Dannis menimpali.


“Hhmm apalah dayaku yang tidak mengerti dengan pembicaraan kalian karena aku hanyalah seorang dokter” celetuk Dion yang mulai bosan


“Hahaha lihat..dokter kita sedang merasa terasing kan sekarang” ujar Dannis diiringi gelak tawa.


Sedangkan Albert dan Damian hanya bisa tertawa pelan. Sudah sangat lama mereka tidak berkumpul seperti ini, terlebih tiga diantara mereka sudah memiliki istri dan anak.


“Teruslah tertawa..Darren aku memiliki informasi yang tak kalah penting untukmu” ujar Dion yang membuat suasana kembali serius.


“Katakan”


“Dua hari yang lalu aku berkunjung ke rumah sakit milik salah satu sahabat ayahku. Kebetulan aku membutuhkan bantuannya untuk meminjamkan salah satu dokter bedah terbaik miliknya karena aku sedang membutuhkan seorang dokter ahli bedah untuk rumah sakitku…” Kalimat Dion terpotong.


“Langsung saja ke inti ceritamu..” potong dannis


“Cckk bisakah kau memberiku waktu untuk menceritakannya secara rinci” jawab Dion kesal


“Dion lanjutkan”pinta Darren


“Hhmm..ketika aku hendak masuk ke dalam sana,aku melihat seseorang yang begitu familiar keluar dari rumah sakit itu dan orang itu adalah salah satu orang kepercayaan keluargamu”


“Orang kepercayaan keluargaku? Bukankah rumah sakitmu adalah rumah sakit kepercayaan keluargaku?” Tanya Darren yang semakin penasaran.


“Hhmm..itulah yang membuatku curiga. Ia berpakaian casual saat itu,bahkan ia memakai topi dan juga masker untuk menutupi dirinya. Tingkahnya pun terlihat aneh, matanya sibuk melihat kesana kemari seperti sedang menghindari seseorang” Dion menghentikan ceritanya dan meletakkan sebuah map berwarna coklat di atas meja.


“Apa ini?” Tanya Darren.

__ADS_1


“Bacalah..aku harus memaksa seseorang untuk melanggar sumpahnya untuk tidak membocorkan rahasi pasien demi dokumen itu” imbuh Dion.


Darren mengambil map itu dan mulai membukanya.Dalam pikirannya ia masih menduga-duga siapa orang yang dimaksud oleh Dion.


“Awalnya aku ingin menghubungimu untuk bertanya tentang keberadaannya di rumah sakit itu,namun aku mengurungkan niatku dan lebih memilih untuk memeriksanya sendiri. Aku pikir ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dari kalian” jelas Dion.


Darren tertegun sejenak setelah selesai membaca semua isi map coklat itu.


“Sepertinya, dia berusaha menyembunyikannya darimu dan juga keluargamu.” ujar Dion


“Bolehkan kami membacanya?” Pinta Dannis yang dijawab anggukan kepala oleh Darren.


Dannis mengambil kertas itu lalu membacanya bersama Albert dan juga Damian.


“Kenapa dia harus melakukannya dengan cara bersembunyi seperti ini?“ tanya darren


“Tunggu, bukankah dia adalah putra salah satu orang kepercayaan ayahmu?” Seru Albert


Darren mengangguk dengan cepat


“Itu berarti wanita itu adalah putri dari orang yang sama bukan” tanya Albert lagi.


Darren kembali mengangguk dengan wajah yang sedang berpikir keras.


“Itu berarti anak kecil yang bermain bersamaku adalah putri uncle Max dan Aunty Sania..”gumam Darren.


“Anak kecil?” Tanya Damian


“Hhmm..seorang anak perempuan yang ceria dan selalu datang dengan bersembunyi untuk menemui ibuku. Namun ia menghilang begitu saja bertepatan dengan hari dimana ibuku ditemukan meninggal karena kecelakaan bersama Aunty Sania”jelas Darren


“Jika dugaan tidak salah, perempuan ini ada hubungannya dengan kejadian itu” sambung Dion


“Aku juga memiliki dugaan seperti itu” timpal Dannis


Darren kembali terdiam, otaknya yang jenius tengah mencerna setiap kejadian yang ada.


“Saranku,tetaplah diam seperti kau tidak mengetahui apapun yang sedang ia lakukan. Tunggu sampai ia mengatakannya sendiri padamu” ujar Dion lagi.


Darren mengangguk setuju,kini mereka berlima kembali bersantai sembari menikmati anggur serta camilan yang ada di atas meja hingga larut malam.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2