SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 46


__ADS_3

Dddrrtt!!!!


Benda berbentuk persegi panjang yang tergeletak di atas meja bergetar, menandakan sebuah telepun masuk.


Laki-laki yang baru saja memejamkan matanya harus rela terbangun untuk menghentikan suara getaran yang dapat menggangu ketenangan seseorang yang tengah tidur lelap Disampingnya.


Tangannya bergerak sembarang di atas meja, berusaha meraih ponselnya tanpa harus melihat terlebih dahulu.


“Hhmm..” jawab Darren malas setelah berhasil meraih benda persegi panjang itu.


[ Tuan maaf menganggu anda sepagi ini, namun saya hanya ingin mengingatkan anda jika siang ini anda harus menghadiri rapat di gedung utama ]


“Baiklah.. terima kasih telah mengingatkanku”


[ Bagaimana keadaan nona Aera? ]


“Dia masih tertidur, aku tidak tega membangunkannya. Katakan pada daddy, jika aku akan sedikit terlambat nanti!”


[ Baik tuan ]


Darren meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Matanya masih terasa begitu berat, tubuhnya pun terasa pegal. Bahkan ia merasa jika lututnya sedikit bergetar ketika dipakai untuk menopang tubuhnya.


Namun semua lelah itu hilang kala matanya menangkap wajah cantik bidadari yang membuatnya gila tadi malam. Bayangan permainan panas yang ia lakukan berputar begitu saja membuat sesuatu dibawah sana kembali terbangun.


“Ooiii.. jangan membuat ulah. Biarkan dia tidur.” Tuturnya kepada pusaka miliknya sendiri.


Tangannya terangkat, menyentuh dengan lembut pipi kenyal Aera. Sesekali ia menusuk pipi menggemaskan itu dengan jari telunjuknya.


“Kau benar-benar membuatku gila Aera. Ingin rasanya aku mengurungmu disini selama sehari penuh” gumamnya sembari menoel hidung Aera dengan gemas


“Eenngghh..” Aera memasang wajah cemberutnya, kala Darren tak henti-henti menggerakkan tangannya dengan jahil.

__ADS_1


“Aku mohon, biarkan aku tidur sebentar saja” pinta Aera dengan suara seraknya.


Darren tertawa kecil “maafkan aku baby, kau bisa melanjutkan tidurmu hingga sore nanti. Aku akan pergi ke kantor sebentar untuk meeting bersama daddy”


Wanita itu membuka matanya perlahan meskipun terasa begitu berat kala telinganya mendengar sesuatu hal mengenai pekerjaannya.


“Meeting? Tapi aku tidak sanggup untuk pergi” ujar Aera


“Siapa yang memintamu pergi Hhmm? Bukankah sudah aku bilang jika kau bisa tidur sampai sore disini. Aku akan pergi sendiri, kau tidak perlu khawatir” jawab Darren, mengusap dengan lembut pucuk kepala sang kekasih.


“Eemm, terima kasih.” Ujar Aera lagi.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Darren dengan mata yang menatap dalam ke arah Aera.


“Hhmm..”


“Ee..itu..Apakah kau marah? Atau membenciku setelah kejadian semalam?” Tanya Darren lagi dengan nada penuh kekhawatiran.


“Aku minta maaf, namun aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membantumu. Aku tidak bisa melihatmu menderita seperti itu..aku..aku..aku hanya ingin memban..” Darren menghentikan kalimatnya kala benda kenyal yang membuatnya gila semalam tadi menempel pada bibirnya.


Aera menarik kembali bibirnya dan menatap Darren dengan matanya yang masih terasa sangat berat. Ia menampilkan sebuah senyuman tulus ke arah Darren.


“Terima kasih telah datang tepat waktu dan menolongku dengan cepat. Aku pastikan tidak ada penyesalan atau apapun itu tentang kejadian malam tadi. Aku tidak tahu jika seandainya kau tidak datang, apa yang akan terjadi dengan diriku. Mungkin aku akan merasakan penyesalan itu” jawab Aera


“Sstt..aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuhmu, walaupun itu hanya seujung rambutmu.”


“Terima kasih” ujar Aera lalu kembali memejamkan matanya.


Darren mengangguk pelan, memberi ciuman ringan pada kening Aera serta menaikkan selimut tebal hingga menutupi setengah wajah Aera.


“Morning kiss” bisik Darren, lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Aera menyipitkan matanya, mengintip dari balik selimut tebal yang menggulung tubuh serta setengah wajahnya, memastikan jika lelaki itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Ia tersenyum, jantungnya kembali berdetak kencang kala mendapat perlakuan manis dari laki-laki membuatnya kehabisan tenaga malam kemarin.


Bayangan kejadian malam tadi kembali terlintas menampakkan semburat merah di wajah Aera.


“Hey..ini masih pagi, kenapa kau sudah berpikir kotor. Otak sialan” gerutu Aera


Dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi keseluruhan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.


*****


“Rencanamu gagal?” Tanya Jevon kepada Diego


“Tidak.. aku memang sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin memberinya peringatan, sebelum aku benar-benar menyerangnya nanti” jawab Diego dengan smrik diwajahnya.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?”


“Kau tahu uncle, selama ini kita terus mencari titik kelemahannya tapi kita tidak mendapatkan hasil apapun untuk itu. Tapi sekarang, dia sudah memiliki titik lemah itu. Tentu saja kita harus memanfaatkan itu bukan?!” Ujar Diego tersenyum penuh arti ke arah Jevon.


“Bagus, kau harus selalu memanfaatkan kesempatan yang ada. Dan jika kau membutuhkan bantuan, aku akan selalu ada untukmu. Jangan merasa sungkan” timpal Jevon sembari menepuk pelan pundak sang keponakan.


“Untuk saat ini aku masih bisa melakukannya sendiri uncle”


“Aku tahu. Ah..iya.. jangan lupa, hari ini adalah rapat kedua pemilihan pewaris perusahaan daddymu. Kau harus menyiapkan sesuatu yang membuat semua orang akan memilihmu” kata Jevon


“Tenang saja uncle, aku sudah menyiapkan semua itu” jawab Diego sombong.


“Aku akan terus maju untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkannya mengambil apapun dariku lagi” imbuh Diego dengan sorot mata penuh kebencian.


Jevon yang melihat sorot mata sang keponakan, tersenyum sinis sekaligus senang. Api kebencian yang membara di dalam diri Diego membuatnya merasa senang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2