
CCIITTT!!!
Mobil yang dikendarai oleh David berhasil menghadang mobil milik seseorang yang dicurigai telah menculik adik sekaligus kekasih tuannya.
Titik merah di layar ponsel David menunjukkan jika posisi Aera berada di dalam mobil itu.
Kkrreekkk!!
Darren mengeluarkan pistol miliknya dan bergegas keluar dari mobil, disusul oleh David lengkap dengan senjatanya sendiri.
“Keluar kalian!!” Bentak Darren.
Darren semakin waspada kala pintu mobil itu mulai terbuka.
“Minggir sialan” ujar seseorang yang keluar dari mobil itu.
“Dannis?!”
“Tuan Dannis?!” Pekik mereka berdua secara bersamaan.
Darren meletakkan kembali senjatanya dan menghampiri Dannis.
“Jelaskan padaku, kenapa ponsel Aera ada padamu”
Dannis memutar bola matanya malas.
“Kau tanyakan saja pada Dion!” Jawab Dannis, lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Darren mengernyitkan dahinya, apa yang tengah direncanakan oleh sahabatnya itu.
Pintu bagian depan terbuka, begitupun dengan dua pintu dibelakang. Menampakkan 3 orang yang begitu dekat dengannya.
“Albert..”
“Damian..”
“Dion..”
Absen Darren, ia semakin kebingungan.
“Jelaskan padaku!!” Geram Darren
Dion melangkah maju, menghampiri sahabatnya itu. Ia tahu jika Darren pasti akan kecewa kala mendengar penjelasannya.
“Ini rencana Aera dan aku hanya mengikuti permintaannya” ujar Dion
“Apa maksudmu?”
“Aera meminta bantuanku dan yang lainnya. Ia ingin membalas dendam kepada dua orang yang telah membunuh kedua orang tuanya”
__ADS_1
“Mak-sudmu, Aera sudah mendapat kembali ingatannya?”
“Hhmm..”
“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?” Nada bicara Darren terdengar makin meninggi.
“Ini permintaan dari Aera. Ia tidak ingin kau berada dalam bahaya”
Bodoh, itu yang dirasakan oleh Dion saat ini.
Bbuugghhh!!
“DARREN!” Pekik Albert dan Damian ketika pukulan keras berhasil mendarat di wajah Dion.
“Bajingan!! Kau sahabatku Dion!! Kenapa kau melakukan ini, HAH!!!” Teriak Darren
David meraih tubuh tuannya ketika lagi dan lagi Darren ingin menyerang sahabatnya itu.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku sudah berjanji padanya, dan pantang untukku mengingkari janji itu.” Ujar Dion sembari menyeka darah di sudut bibirnya.
“Sudahlah Darren, maafkan kami karena bertindak tanpa persetujuanmu terlebih dahulu. Dion hanya mengkhawatirkan keadaanmu sobat.” Damian mencoba untuk menengahi.
“Tapi masalah ini menyangkut diriku, apa susahnya jika kalian berbicara padaku” raut wajah penuh kekecewaan terpancar di wajah Darren.
“Sekali lagi kami minta maaf Darren, tapi percayalah, kami semua mengkhawatirkanmu” kali ini Albert ikut menengahi.
“Hheeyyy!! Sampai kapan kalian akan bertengkar?! Sinyalnya semakin menjauh, apa kalian mau gadis ini hilang Hah!!” Teriak seseorang dari dalam mobil
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu jika Bianca dan Jevon akan bertindak, maka dari itu aku memberikan sebuah alat kepada Aera, agar aku tetap bisa memantaunya”
“Oooiiiii cepatlah, waktu kita tidak banyak..” teriak Dannis lagi.
“Ayo cepat” ajak Albert
Darren mengangguk mengerti, ia marah dan kecewa, namun saat ini semua itu tidak penting.
“Kau ikuti mobil kami” titah Damian
Darren dan David bergegas masuk ke dalam mobil, menepikan mobilnya dengan cepat, memberi akses untuk mobil Albert agar melaju didepannya.
“Ikuti mereka David!” Titahnya
“Baik tuan”
David memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, begitupun dengan mobil didepannya.
•
__ADS_1
•
“Haihhh.. mereka mengikatku dengan kencang” gerutu Aera kala merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
“Hheeyy!! Lepaskan aku!” Teriak Aera
“Diamlah nona!!”
“Kemana kalian akan membawaku?” Tanya gadis itu dengan tenang, meskipun jauh di dalam hati ia merasa sangat takut.
“Aku bilang diam dan jangan mencoba untuk melawan!”
“Cckkk sangat sensitive”
Aera memilih untuk diam, matanya menyapu pemandangan disisi kanan dan kirinya. Tempat ini terlihat tidak asing, pohon-pohon tinggi dan jalanan sepi ini…
“Aahhh ini adalah tempat yang sama” seru Aera dalam hati.
Tiba-tiba bayangan masa lalu terlintas di kepalanya, membangkitkan rasa trauma dimasa lalu.
“Tenanglah Aera, kau tidak boleh takut. Ini demi Daddy, mommy dan nyonya Ayumi” batin Aera
Mobil terus melaju, masuk lebih dalam menuju hutan. Namun tak lama setelah itu, mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah gedung.
“Kenapa ada bangunan di dalam hutan belantara seperti ini?” Gumam Aera
“Keluar!!” Bentak salah satu dari mereka.
Aera sedikit terlonjak, lalu mengikuti perintah salah satu penculik itu tanpa melakukan perlawanan.
“Apakah kalian akan membunuhku?” Tanya Aera
Entah keberanian dari mana, gadis itu menanyakan hal itu.
“Tentu saja! Apa kau takut?”
“Tidak, kenapa aku harus takut”
“Bagus, tapi bukan kami yang akan melakukannya”
“Lalu siapa?”
“Tentu saja tuan kami, ia ingin berbicara padamu terlebih dahulu sebelum membunuhmu”
“Hhmm.. aku penasaran”
Aera terus digiring untuk masuk ke dalam bangunan itu. Gadis itu sangat yakin, jika Bianca dan Jevon adalah dalang dari semua ini.
Bersambung….
__ADS_1
Tandai kalo ada Typo ya…