
Tubuh Aera terasa lemas dengan rasa kesemutan di hampir sekujur tubuhnya. Tidak hanya itu, keringat dingin bercucuran diwajahnya, tubuhnya terasa panas seperti berada di antara kobaran api. Perasaan gugup, cemas bercampur menjadi satu.
Ia segera pergi ke toilet untuk sekedar membasuh wajahnya serta mencoba mengerti keadaan tubuhnya saat ini. Kakinya hampir tidak kuat untuk menopang tubuhnya, hingga ia memilih untuk duduk sejenak di atas meja wastafel.
“Sshhh.. ada apa ini? Apa aku sedang demam?” Gumam Aera menahan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya.
Aera menggelengkan kepala beberapa kali, mencoba untuk menjaga kesadarannya yang perlahan mulai hilang. Jari-jarinya mulai mencengkram kuat bagian lengannya agar bisa terap tersadar.
Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam sana. Tersemat di dalam hatinya untuk meminta bantuan, karena ia merasa jika sudah tidak sanggup lagi.
Ditambah ia tidak membawa ponsel ataupun alat komunikasi apapun untuk menghubungi Darren.
“To-long..” lirih Aera
Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas, hingga di detik berikutnya ia merasa tubuhnya sudah berada di dalam pelukan seseorang.
Ditempat lain, mata elang Darren tengah memeriksa satu-persatu ruangan melalui kamera CCTV. Di rekaman sebelumnya, terlihat jelas Aera berada di antara kerumunan dan mengabaikan peringatan dari Darren.
Gadis itu terlihat meminum segelas air yang diantarkan oleh pelayan. Hal itu cukup membuat Darren merasa khawatir, ia begitu ceroboh membiarkan Aera berada di antara kerumunan seorang diri.Seharusnya ia menitipkan Aera kepada para sahabatnya saja.
“Lihat, dia pergi ke toilet. Sepertinya tengah terjadi sesuatu padanya, ia berjalan dengan langkah yang aneh” seru Dannis
Tidak hanya Darren dan Dannis, di dalam ruangan itu terdapat Albert, Damian dan Dion yang ikut serta membantu.
“Ayo bergegas, aku mempunyai firasat buruk tentang hal ini” ajak Albert
“Dannis, awasi pergerakannya. Laporkan setiap gerak-gerik mencurigakan kepada kami” perintah Albert
Mereka berempat bergegas pergi dari ruangan itu meninggalkan Dannis seorang diri.
__ADS_1
Disisi lain, David tengah berkeliling mencari diantara kerumunan manusia yang hadir di acara itu. Namun ia tak mendapatkan hasil apapun.
“David, cepat pergi ke toilet yang ada di sekitar sana. Aku melihat Aera masuk ke dalam sana” perintah Darren melalui alat yang menempel pada telinga David.
“Baik tuan” David segera bergegas ke tempat yang ditujukan oleh tuannya.
Rasa cemas dan khawatir terlihat jelas di raut wajahnya. Dalam hati ia terus berdoa agar adiknya dalam keadaan baik-baik saja.
David berhenti sejenak di depan toilet wanita yang sedang ramai. Mencoba meminta ijin kepada mereka yang ada di dalam sana.
“Permisi nona, apakah anda melihat wanita seperti di foto ini, di dalam sana?” Tanya David kepada seorang wanita, dengan memperlihatkan sebuah foto.
“Hhmm tidak. Aku tidak melihatnya” jawab sang wanita lalu pergi begitu saja.
Tanpa berpikir panjang, David masuk ke dalam sana, disambut wajah kaget dari para wanita di dalam sana.
“Ma-maaf karena membuat kalian merasa tidak nyaman, aku harus memeriksa ruangan ini. Apakah kalian melihat seorang wanita seperti di foto ini?” Tanya David kepada beberapa wanita di dalam sana.
“Baiklah, terima kasih. Sekali lagi aku minta maaf sudah menganggu kenyamanan kalian” ujar David lalu pergi dari tempat itu.
David bergegas keluar, hingga di luar sana ia bertemu dengan Darren serta ketiga sahabatnya.
“Bagaimana?” Tanya Darren
“Nona tidak ada di dalam tuan” lapor David
“Sial.. sepertinya ini benar-benar sebuah jebakan” umpat Darren.
“Dannis, Aera tidak ada di dalam toilet” lapor Albert melalui alat yang terpasang di masing-masing telinga mereka.
__ADS_1
“Guys.. bergegaslah ke lantai 3. Beberapa saat yang lalu ada yang mencoba mengacaukan rekaman CCTV, namun aku berhasil mengatasinya. Mereka membawa Aera ke salah satu kamar di lantai 3” jelas Dannis
Tanpa aba-aba, Darren langsung berlari. Memecah kerumunan manusia yang menghadiri acara itu.
Kembali ke sisi Aera, wanita itu benar-benar sudah kehilangan kendali untuk tubuhnya sendiri. Tubuhnya semakin terasa panas, bahkan ia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya saat ini.
Di sisa kesadaran yang ia miliki, ia merasa seperti dibawa ke suatu tempat oleh dua orang yang ia temui di dalam kamar mandi.
Ia tidak tahu kemana mereka akan membawa dirinya. Aera hanya berharap jika mereka adalah orang baik.
Ceklek!!
Pintu salah satu kamar terbuka, dua gadis memapah Aera masuk ke dalam sana dan membaringkannya di atas ranjang besar.
“Keluar, dan menghilanglah” perintah seorang laki-laki.
Mereka berdua mengangguk setuju, dengan senyum diwajahnya setelah menerima bayaran dari si laki-laki.
Tangan laki-laki itu memutar kunci pintu setelah memastikan tak ada seorang pun di dalam sana kecuali mereka berdua.
“Sshhh.. to-tolong..” suara rintihan dari gadis yang tengah bergerak dengan gelisah di atas ranjang berhasil mengalihkan perhatiannya.
Perlahan ia melangkah mendekat ke sisi ranjang, ia tersenyum penuh kemenangan melihat Aera di atas ranjang.
Tangannya terangkat, menyentuh dengan lembut pipi merah Aera, membuat gadis itu kembali bereaksi.
Entah mengapa sentuhan itu menbuat Tubuh Aera semakin kesemutan. Bahkan tubuhnya seperti menginginkan sentuhan yang lebih dari itu.
“Eenngg.. bersabarlah baby. Kau akan mendapatkannya sebentar lagi. Aku akan membantumu mengatasi rasa gerah itu” ujar si laki-laki dengan senyum liciknya.
__ADS_1
Bersambung…