SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 6


__ADS_3

Tit..tit..tit!!


Tombol pintu apartement berbunyi dan itu artinya seseorang sedang memasukkan kode untuk masuk ke dalam.


Mata mungil seorang bocah laki-laki nampak berbinar mendengar suara itu.Matanya berat akibat mengantuk itu masih bisa tertahankan kala mengetahui daddynya pulang.


“Daddy..”teriak Ethan kegirangan sembari berlari ke arah pintu.


Ya bocah laki-laki itu bernama Ethan Alexander.Ia dibesarkan oleh Darren seorang diri disebuah apartement hingga berumur 7 tahun.Ethan adalah putra dari sang kakak yang telah meninggal akibat bunuh diri.


Tidak satupun dari keluarganya mengetahui tentang keberadaan Ethan,karena yang mereka tahu sang kakak dan bayinya meninggal saat insiden itu.


Hal itu sengaja ia lakukan,Darren terlalu takut jika ada yang ingin mengincarnya.


Ceklek!!


Pintu terbuka,wajah antusias yang ditunjukkan saat mendengar suara tombol tiba-tiba berganti menjadi raut wajah bingung.Terpaut dengan jelas wajah kecewa yang ditunjukkan oleh anak laki-laki itu.


“Uncle Albert”


“Hy..kau belum tidur?”


Bocah itu menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah yang menunduk.


“Jangan bersedih,ayo ikut bersama uncle..daddy mu bilang ada urusan mendadak ke luar negeri dan tidak sempat memberimu kabar.Jadi daddy mu meminta uncle untuk menjemputmu”


Albert berjongkok di depan Ethan,mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil itu.Selain dirinya,Darren juga mengenalkan bocah itu kepada ketiga sahabatnya.Sehingga tak heran jika Ethan tak merasa takut.


“Apakah benar begitu?”


“Kau tidak percaya dengan uncle?”


“Aku percaya”cicitnya


“Kalau begitu ayo,besok kita akan berjalan-jalan dan bermain diluar..bukankah sudah lama kau tidak diajak keluar?”


Albert masih mencoba membujuk Ethan yang masih tidak bergeming meskipun bibir mungil itu berkata jika ia percaya kepada Albert.


“Kau tahu,dirumah uncle kau akan mendapatkan teman baru karena uncle memiliki 4 anak sekarang”


Ethan akhirnya mengangkat kepala,menatap antusias wajah Albert.


“Benarkah?”


“Hhmmm”


“Baiklah uncle,aku akan ikut”


Albert tersenyum senang,ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan mungil itu.


****


Keesokan paginya,Darren sudah diijinkan untuk pulang.Semua biaya rumah sakit telah dilunasi oleh Aera,dan tentunya hal itu membuat dirinya merasa sedih.


“Oh My..uangku”


Aera masih meratapi jumlah angka yang tertera di ponselnya.Ia harus bersabar menunggu beberapa hari lagi agar rekeningnya bisa terisi lagi.

__ADS_1


“Tidak perlu merasa sedih,setelah aku ingat nanti,aku pasti mengganti semuanya”Ujar Darren


“Tidak perlu,semua itu adalah tanggung jawabku..tapi jika kau tetap memaksa maka aku tidak akan sungkan”


Darren memutar bola matanya malas,ternyata wanita yang berada Disampingnya benar-benar perhitungan.


Kini mereka berdiri di sebuah halte menunggu bus yang sedari tadi tak kunjung tiba.


“Kenapa kau tidak memesan taksi saja”


Keluh Darren karena ia sudah lelah menunggu sejak tadi


“Hah..jika aku memesan taksi maka seterusnya kita akan menyantap mie instan sampai aku mendapat gaji..apa kau mau memakan mie instan setiap hari?”


Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat,itu adalah ide yang buruk terutama untuk perutnya yang tidak terbiasa.


Bus yang ditunggu akhirnya tiba,dengan kaki yang sedikit pincang Darren masuk ke dalam sana dibantu oleh Aera.


Jarak dari Rumah sakit ke rumah Aera tidak terlalu jauh,sehingga dalam waktu sekejap mereka sudah sampai.


“Siapkah kakimu,karena Kita akan berjalan kaki sekitar 100 meter”Ujar Aera melirik sejenak laki-laki yang berada Disampingnya.


“Ah iya..berhubung kau tidak ingat dengan namamu,dan aku harus hidup beberapa kedepan denganmu..jadi aku memutuskan untuk memberi sebuah nama”


Darren mengernyitkan dahinya”aku hampir melupakan hal itu”


“Jadi kau memberi ku nama siapa?”


“Darren..aku memberimu nama Darren..keren bukan”katanya dengan bangga sembari mengangkat kedua alisnya.


Aera mengkerutkan dahinya”kenapa wajahmu seperti itu?..apa kau tidak suka dengan nama yang aku berikan?”


“Suka,nama yang bagus”


Aera mulai melangkahkan kakinya,tak lupa ia memapah Darren untuk mengikuti langkahnya.


“Aku berpikir keras untuk menemukan nama yang pas untukmu..jika kau tidak suka,terserah padamu”


“Aku suka”jawab Darren singkat


Aera melepaskan tangannya dari pinggan Darren,kini mereka sudah berdiri didepan sebuah rumah yang terlihat sederhana dari luar.


“Apakah kita sudah sampai?..kakiku sudah sangat pegal”rengeknya


Aera menggelengkan kepala,mereka berjalan tidak terlalu jauh tapi laki-laki itu mengeluh layaknya sudah berjalan sejauh 1 km.


“Ini rumahmu?”Darren menatap Aera


Wanita itu hanya mengangguk sembari membuka pintu gerbang dan melangkah maju untuk membuka pintu utama.


Ctek!!


Ceklek!!


Pintu rumah Aera terbuka,ruangan yang tak begitu luas dengan perabotan yang tertata rapi menjadi pemandangan pertama yang Darren lihat.


“Ayo masuk”ajak Aera dengan memapah kembali tubuh tegap Darren yang lumayan berat baginya.

__ADS_1


Gadis itu mengajak Darren ke arah sofa yang terletak di tengah ruangan,tidak hanya itu,ia membantu laki-laki itu duduk di atas sofa.


Mata Darren menyusuri setiap sudut dari ruangan tengah milik Aera.Meskipun terlihat sederhana,namun perabotan di dalamnya termasuk lengkap.


“Maaf jika rumahku sangat sederhana dan kecil,aku hanya tinggal seorang diri sehingga aku memilih rumah kecil ini”Aera melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil sesuatu.


Pintu lemari dingin ia buka,tak ada apapun didalam sana karena lagi-lagi dirinya melupakan sesuatu.


“Aaiissshh..aku lupa membeli air minum”


Aera memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Darren yang terlihat masih sibuk menyusuri setiap jengkal dari rumah itu.


“Yyaa!!..kenapa kau meneliti rumahku hingga sedetail itu?..apa kau pikir aku menyimpan benda berharga di rumah ini?”ujar Aera kesal


“Cckk aku hanya melihat-lihat saja..bagaimana pun aku harus menyesuaikan diri”


Aera memutar bola matanya malas”terserah..aku akan keluar sebentar untuk membeli air minum”


Setelah mengatakan hal itu,Aera pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Darren.


“Hah dia bahkan tidak menanyakan,apakah aku ingin menitip sesuatu..Cckk..dasar wanita pelit”gerutu Darren.


Ia merebahkan tubuhnya sejenak,pikirannya kembali terfokus pada kejadian beberapa yang lalu.Entah mengapa ia kejadian itu seperti direncanakan oleh seseorang.


Darren mulai merasa bosan,namun tiba-tiba matanya melihat sebuah bingkai foto berukuran kecil di atas meja.


Entah mengapa ia sangat penasaran,dengan bersusah payah ia berdiri dan menghampiri foto tersebut.


“Apa yang kau lakukan disana”


Tiba-tiba Aera datang dan membuatnya terkejut.


“Aaiisshh..bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu,kau membuatku hampir mati terkena serangan jantung”gerutu Dareen


“Yaa!!..ini rumahku kenapa aku harus mengetuk pintu,katakan apa yang kau lakukan dengan fotoku?”


Darren semakin dibuat terkejut”i-ini foto mu?”


“Hhmm..apa ada yang aneh dengan foto masa kecilku?”


Darren menggidikkan bahunya lalu berbalik membelakangi Aera.


“Akhirnya aku menemukanmu”


“Hanya saja kau terlihat lebih cantik ketika kecil”


“Maksudmu aku tidak cantik sekarang?..Wwaahh kau benar-benar penumpang tak tahu diri”


Darren tersenyum simpul,entah mengapa rasa kesalnya hilang seketika.


Ppllaakkk!!


“Letakkan fotoku,jangan sampai kau merusaknya karena itu foto satu-satunya yang aku punya”


Aera mengambil foto dari tangan Darren dengan sedikit kasar lalu pergi ke dapur untuk meletakkan minuman yang ia beli.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2