SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 55


__ADS_3

Darren tersenyum simpul, menatap dua paper bag yang ada ditangan kanan dan kirinya secara bergantian. Ia sungguh tidak sabar untuk bertemu Aera, membayangkan eskpresi sumringah wanitanya ketika melihat isi paper bag itu.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, senyumannya pudar begitu saja berganti dengan ekspresi penuh kecurigaan, kala ekor matanya menangkap dua sosok yang begitu familiar tengah berdiri di lobby rumah sakit.


Di detik kemudian, ia tersadar akan sesuatu dan segera berlari ke ruangan Aera. Khawatir, itulah satu kata yang tepat untuk mewakilkan ekspresi serta perasaannya saat ini.


“No..No!!David ada disana. Aera pasti aman” gumamnya sembari mempercepat langkahnya.


.


.


.


“David?! Darimana kau?” Tanya Darren ketika mereka berpapasan tepat di depan pintu ruangan tempat Aera di rawat.


“Saya keluar sebentar membeli air putih dan camilan untuk nona Aera” jawab David, seraya mengangkat dua paper bag yang tergantung ditangannya.


“Lalu siapa yang menjaga Aera di dalam?”


“Ti-tidak ada tuan…”


Belum sempat David melanjutkan kalimatnya, Darren sudah membuka pintu ruangan itu dengan kasar dan segera masuk ke dalam sana, tanpa memberi penjelasan apapun.


David yang merasa bingung, akhirnya ikut masuk ke dalam sana.


“Sial!!..” umpat Darren kala tak mendapati siapapun di dalam ruangan itu.


“Aera!!” Panggil Darren mencoba memastikan jika dugaannya tidak salah.


“Ada apa tuan? Dan dimana nona Aera?” Tanya David dengan kedua mata yang ikut menyusuri ke semua sudut ruangan.


“Aarrghhh!! Kenapa kau begitu ceroboh David!!..”


Darren hendak melangkah keluar dengan wajah kesal dan perasaan yang khawatir karena kekasihnya menghilang begitu saja.


“Tuan tunggu!! Apa yang terjadi?”


Darren membalikkan tubuhnya, menatap marah ke arah lelaki yang sudah mengabdi kepada keluarga selama puluhan tahun itu.

__ADS_1


“Kau masih bertanya apa yang terjadi?! Aku memintamu untuk tetap menjaganya ketika aku pergi dan jangan pernah meninggalkannya sendiri. Tapi kau malah pergi dan membuat ketakutanku menjadi kenyataan”


Darren meninggalkan ruangan itu telat setelah ia mengatakan kalimat terakhirnya. Ia berlari menuju lobby tempat ia melihat dua orang yang begitu familiar di matanya.


“Kau benar-benar bajingan gila!! Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani menyentuhnya!!” gumam Darren.


Darren sampai di lobby rumah sakit, sepertinya dia sudah terlambat. Dua orang itu sudah tidak terlihat di tempat itu maupun sekitarnya.


Dengan cepat ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


“Dion, aku butuh bantuanmu. Aera menghilang” ujar Darren melalui sambungan telepun.


.


.


.


“Lihat, mereka membawa Aera dengan menggunakan mobil ambulance dan menyamar sebagai perawat dirumah sakit ini”


Dion menunjuk ke arah layar monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV di beberapa koridor rumah sakitnya.


“Sepertinya aku membutuhkan bantuan Dannis untuk melacak keberadaan mereka.


“Baiklah.. aku pergi. Minta kepada Dannis untuk melakukannya dengan cepat. Aku takut bajingan itu akan melakukan sesuatu pada Aera”


Dion mengangguk setuju, ia segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan segera menghubungi Dannis.


Sedangkan Darren bergegas menuju basement untuk mengambil mobil dan pergi menyusul orang-orang yang telah berani mengusik ketenangannya.


“David, lacak keberadaanku dan bawa beberapa anak buahmu” titahnya melalui sambungan telepun.


Matanya kembali fokus ke arah jalanan kota yang masih ramai walaupun hari sudah gelap.


“Bertahan lah untukku Aera” gumam Darren.


.


.

__ADS_1


.


“Siapa kalian?”


Aera mulai merasa takut saat mobil yang membawanya masuk ke dalam jalanan sepi yang begitu asing dimatanya.


“Diamlah!! Atau aku akan membuatmu tertidur” ancam salah satu dari mereka.


Ddrrttt!!


“Kami sudah berhasil membawanya tuan dan kami sudah sampai”


Aera mencoba mendekatkan telinga, ia ingin mencari tahu siapa dalang dari penculikan ini. Namun seseorang yang duduk di sebelah kanan menarik tangannya dengan kasar.


“Cepat turun!!” Titah pria berkepala botak


“Kenapa aku harus turun?”


“Jangan mencoba melawan nona, jika kau masih ingin hidup”


Sebuah pistol sudah bertengger di depan wajah Aera, membuat nyali gadis itu menciut seketika. Wajahnya berubah pias, dengan kedua tangan yang mulai gemetar tak terkendali.


Ia hanya bisa menuruti perintah orang itu dan ikut masuk ke dalam bangunan tua dengan cahaya remang-remang.


Mereka menyediakan sebuah kursi dan meminta Aera untuk duduk diatasnya, lalu seseorang datang dan membawa seutas tali untuk mengikat wanita itu.


“Hey!! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!!” Teriak Aera dengan rasa takut yang menjalar di hatinya.


“Diam!! Atau aku akan benar-benar melubangi kepalamu nona”


“Sstt.. jangan membuatnya takut. Dia tamuku dan perlakukan dia dengan sebaik mungkin”


Aera mengalihkan perhatiannya pada suara yang terdengar dari arah ruangan yang tidak terdapat penerangan sedikit pun.


Rasa takutnya semakin menjadi-jadi, ketika segerombolan orang dengan pakaian hitam masuk ke dalam sana.


“Pastikan kalian mengikatnya dengan kencang, namun jangan sampai membuatnya kesakitan” titah orang itu lagi.


Mata Aera memblalak sempurna kala melihat seseorang yang menjadi dalang dari semua ini.

__ADS_1


“Kau??” Pekik Aera.


Bersambung…


__ADS_2