
“DIAM KAU ALEX!! Kau tidak tahu apa-apa!! Aku melakukan semua ini untuk Diego!!” Teriak Bianca dengan lantang.
“Hahahaha.. apa katamu? Kau melakukan semua ini demi Diego?” Alex tertawa keras lalu setelahnya kembali menatap tajam ke arah Bianca.
“Bagaimana bisa kau melakukan semua kejahatan itu saat sebelum Diego lahir? Bahkan setelah kau merebut kebahagiaannya, sekarang kau menjadikan dirinya sebagai alasan atas semua dosa yang kau buat!! KAU BENAR-BENAR WANITA IBLIS BIANCA!! AKU MERASA KASIHAN KARENA PUTRAKU HARUS LAHIR DARI RAHIM WANITA SEPERTIMU!!” Teriak Alexander marah.
Bianca menundukkan kepalanya, tidak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar adanya. Tanpa ia sadari, Bianca telah menyeret putranya sendiri ke dalam jurang kehancuran.
“Hikksss.. kau memang benar Alex. Diego tidak seharusnya lahir dari rahimku. Di dunia ini, tidak akan ada cerita seorang ibu membiarkan putranya meregang nyawa karena ulahnya sendiri!!” Rasa bersalah, tidak berguna, dan penyesalan memenuhi hati dan kepala Bianca.
Tunggu, apa yang dikatakan Bianca? Meregang nyawa? Apa maksudnya?. Alex mengerjap perlahan, berusaha mencerna kalimat yang keluar dari mulut istrinya.
“A-apa maksudmu?” Tanya Alex dengan pikiran yang mulai tak terkendali.
“Dia pergi dad!!” Alex menoleh ke sumber suara yang berasal dari arah belakang.
“Darren!” Seru Alex dengan wajah tegang kala melihat tubuh putra sulungnya dibasahi darah segar.
Kkkrreeekkkk!!!
Darren tak berkata apapun, ia memompa pistolnya dan…
Dooorr!!
Pistol Darren memuntahkan satu peluru dan bersarang dibahu seorang laki-laki.
“Aakhhhh..” pekik Jevon
“Darren, katakan!!” Pinta Alex dengan raut wajah penuh kekhawatiran, melihat bagaimana raut wajah Darren yang memancarkan kemarahan bercampur rasa sedih.
“Diego pergi dad!! Dia meninggalkanku!! Dan semua itu karena paman bajingannya ini!!” Tatapan penuh amarah tengah menyorot Jevon yang terduduk lemas dengan dua tangan yang kehilangan jari-jari dan bahu yang tertembus peluru.
Tangan Alex lemas seketika, hatinya terasa berdenyut, tanpa sadar matanya meneteskan cairan bening dan mengalir ke pipinya yang mulai keriput.
Kkrreekkk!!!
“Sesuai permintaan adikku!! Aku tidak akan membiarkanmu merasakan sakit, jadi bersiaplah!!” Darren mengangkat tangannya yang terdapat sebuah pistol. Mengarahkannya tepat di dahi wanita yang tengah meratapi keserakahannya.
Kkrreekkk!!!
Ddooorrr!!!
Tanpa basa-basi, Darren melepaskan pelurunya dan darah segar mengalir deras dari kepala Bianca.
“BIANCA!!” Pekik Jevon, ia mendelikkan mata, terkejut bercampur rasa takut terlihat jelas diwajahnya, membuat Darren mengeluarkan smirknya.
“Ada apa Jevon? Kau takut?” Ledek Darren
“Dad, bisakah kau turun dan memastikan jika apa yang aku lihat tidaklah nyata!! Serahkan sisanya padaku dan Dannis akan berada disini bersamaku!! Aku berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat” pintanya kepada sang ayah yang dijawab dengan anggukan kepala pelan.
Alex tak mengucapkan sepatah katapun, ia berharap fakta itu tidak benar. Karena jujur ia tak akan sanggup untuk menerimanya.
⚠️WARNING⚠️ bagi kalian yang gak suka adegan sadis ataupun kekerasan, mending skip aja ya! Tapi tidak terlalu sadis, levelnya masih rendah!!
__ADS_1
Darren melangkah maju, ia menjatuhkan pistolnya ke lantai, membuat Dannis dan Jevon menatap heran.
“Katakan padaku Jevon!! Kematian seperti apa yang kau inginkan?!” Tanya Darren dengan suara rendah namun terdengar mengerikan di telinga setiap orang yang mendengarnya.
Bahkan Dannis, seseorang yang bersama dengan Darren sejak masih kanak-kanak, tidak dapat mengenali sosok pria Dihadapannya itu.
Dia bukan Darren. Batin Dannis
“Aaaakkkhhhh!!” Teriakan Jevon menggelegar memenuhi bangunan itu, kala Darren mendaratkan kakinya tepat di tangan kanannya
“Sakit?”
“Lepaskan bajingan!!” Umpat Jevon sembari meringis.
“Heh.. bahkan mulutmu masih bisa mengumpat!!”
Bbuugghhh!!!
Tendangan keras mendarat dengan sempurna di wajah Jevon, membuat empunya mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya yang robek.
Cetak!!
Jevon kembali mendelikkan matanya, kala Darren mengeluarkan sebuah benda tajam dari dalam saku celananya.
Lelaki itu menyeret tubuhnya mundur seiring dengan langkah Darren yang terus maju mendekatinya.
Kkrraakkk!!
“Aakkhhhh!!!” Jevon kembali berteriak karena kini kakinya tengah diinjak dengan begitu keras.
“Ssstttt.. diamlah!! Aku bahkan belum memulainya” ujar Darren sembari berjongkok dihadapan jevon dengan salah lutut bertumpu di betis lelaki itu.
Jjlleebbbb!!! Kkrreaassss!!!
“Aarrggghhh!!!!!” Jevon berteriak pilu, pisau yang tidak tajam itu memaksa masuk dan merobek pahanya yang terbungkus celana kain.
“Cckkk.. pisauku tumpul” Darren menyabut kembali pisau kecil yang memang tidak tajam itu, membuat darah segar menyembur dengan deras.
“Hah..Hah..bunuh aku bajingan!!” Pinta Jevon dengan nafas tersengal-sengal menahan rasa sakit.
“Hahahaha.. apa kau bilang? Membunuhmu? Itu terlalu mudah untuk seorang iblis sepertimu Jevon. Setidaknya kau harus merasakan siksaan neraka di dunia nyata terlebih dahulu sebelum nanti kau merasakannya di neraka yang sesungguhnya!!” Ujar Darren dengan tawa mengerikan.
“Dannis, katakan padaku!! Dibagian mana aku harus mengasah pisauku ini?!” Tanya Darren, berhasil membuyarkan lamunan Dannis.
“Hhmm.. coba di bagian mata sebelah kanan! Sepertinya itu cukup membantu!” Jawab Dannis enteng.
“Ide bagus!!” Darren mengangkat kembali pisau kecil itu ke arah atas, bersiap membidik sasaran selanjutnya.
“Tidak!! Tidak!! Jangan lakukan itu Darren, bunuh saja aku!!” Teriak Jevon dengan tubuh bergetar.
Jjlleebb!!
“Aaarrrgghhhh!!!”
__ADS_1
Dannis tercengang, bagaimana bisa seorang Darren melakukan itu. Ia benar-benar tidak menyangka sahabatnya itu akan melakukan apa yang ia katakan. Mungkin jika itu adalah Damian, ia akan biasa saja, namun ini adalah seorang Darren.
Kkrreekkk!!
Dengan sekali gerakan, Darren mencongkel bola berwarna putih dengan bintik hitam ditengah-tengahnya, mengeluarkan benda bulat itu dari sarangnya.
“Aaarrgghhh!!!” Jevon kembali berteriak pilu.
Tubuhnya semakin melemah, rasa sakit yang tak terhingga membuat kesadarannya hampir hilang.
Jjllrebbb!!!
“Aaarrrgghhh!!”
Pisau kecil itu kini menancap di perut jevon, mengiris setiap inci daging tebal berlapis kulit itu, membuat Jevon kembali berteriak kesakitan.
“Jangan tertidur dulu! Aku belum selesai!!” Ujar Darren yang terus menggerakkan pisau tumpul itu di bagian perut Jevon.
Wajahnya terlihat begitu tenang menikmati permainan yang cukup menyenangkan itu. Tidak sia-sia selama ini ia bersahabat dengan manusia setengah iblis seperti Damian.
“Hah.. aku hampir bosan” keluh Darren.
“Apakah aku harus mengakhirinya? Katakan!!” Darren meraih wajah jevon dan mencengkramnya erat.
“Bu-bunuh aku.. se-kar-ang!! Pinta jevon dengan suara yang hampir tak bisa terdengar.
“AS wish you!!” Darren tersenyum iblis
Ia kembali mengangkat pisau kecil itu, dan…
Jjlleeebbb!!! Kkrraasss!! Kkrraassss!!!
“Aaarrrgggbhh” Suara teriakan pilu jevon bercampur menjadi satu dengan teriakan penuh amarah dari Darren.
“INI UNTUK ORANG-ORANG TERDEKATKU YANG KAU BUNUH DENGAN SADIS JEVON!!! AARRGGHHH!!!
Lelaki itu merobek tubuh Jevon dengan membabi buta, wajah, dada, perut, tidak ada satupun bagian tubuh yang luput dari pisau kecil tumpul itu. Membuat tubuh jevon terkoyak bahkan tak berbentuk lagi.
“MATILAH KAU JEVONNNN!!!” Jjllleebbbb!!!
Darren mengakhiri aksinya dengan menancapkan pisau itu tepat di dada sebelah kiri jevon. Tidak ada perlawanan ataupun teriakan yang terdengar dan itu artinya jevon benar-benar mati.
“Hiikksss!!” Isakan kecil terdengar seiring dengan berhentinya aksi brutal yang dilakukan Darren.
“Darren!!” Panggil Dannis, ia ingin memastikan jika sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Adegan didepan matanya memang sudah biasa ia lihat namun entah mengapa kali ini terasa berbeda, hingga membuat tubuhnya kaku dengan detak jantung berdetak kencang.
Darren berdiri dengan sekuat tenaga, berusaha menopang tubuhnya yang mulai melemah. Ia melangkah ke arah Dannis dengan wajah yang di banjiri air mata dan…
Bbuugghhh!!
Tubuh lemah itu akhirnya ambruk, beruntung Dannis menghampirinya dan menangkap tubuh Darren.
__ADS_1
“Setelah ini, kau akan baik-baik saja sobat” gumam Dannis sembari mengangkat tubuh sahabatnya dengan sekuat tenaga.
Bersambung….