SEKRETARIS AERA

SEKRETARIS AERA
Episode 70


__ADS_3

“Anak buah mereka cukup banyak, dan sebagian besar adalah anak buah uncle Alex” ujar Dannis dengan kedua mata yang fokus ke arah layar tablet.


“Gedung ini dirancang seperti sebuah labirin. Aku baru bisa masuk di tiga ruangan saja, mereka juga meletakkan pintu dimasing-masing ruangan dengan jarak yang berjauhan. Pintu utama terletak di bagian selatan, lalu pintu ruanga kedua ada di sebelah utara dan ruangan ketiga ada di bagian barat…” imbuh Dannis


“Berapa jumlah orang disetiap ruangan?” Seru Damian


“Diruangan utama terdapat kurang lebih 50 orang, diruangan kedua 20 orang dan diruangan ketiga 10 orang”


“Tunggu, kenapa diruangan ketiga sedikit?” Tanya Albert yang merasa aneh


“Aku lupa memberitahu kalian, jika diruangan ketiga dibangun seperti sebuah aula dan diatasnya dibangun lagi sebuah lorong kecil mengelilingi ruangan. Singkatnya, kita bisa melihat ke tengah aula jika berdiri dari atas. Dan diatas sana, ada sekitar 20 snipper.”


“Apakah ada anak tangga menuju ke lantai atas?”


“Hhmm.. tapi akan begitu sulit menjangkaunya, mengingat anak tangganya berada di bagian ujung yang jauh dari pintu masuk. Ketika kalian masuk, aku yakin mereka akan langsung menyerang.”


Mereka terlihat berpikir, terdengar sulit tapi tidak sampai membuat mereka menyerah.


“Hhmm.. bagaimana jika seperti ini..” Damian melirik sahabatnya satu persatu sebelum mengemukakan idenya.


“Kita tidak bisa masuk secara bersamaan, karena itu akan sangat merepotkan kita. Aku, albert dan Dion akan masuk lebih dulu, kita bisa menggunakan gas air mata untuk menghalangi penglihatan mereka. Selanjutnya David akan masuk dengan perlahan dan pergilah ke lantai atas untuk membantai para sniper itu. Terakhir, kau Darren, masuklah dengan hati-hati dan cari pintu masuk ke ruangan selanjutnya” jelas Damian


“Ide yang bagus, aku akan berusaha mencari pintu masuk ke ruangan selanjutnya. Pastikan earbuds kalian terpasang dengan baik” timpal Dannis


Mereka mengangguk setuju, lalu bersiap dengan senjata masing-masing.


“Darren, kau baik-baik saja?” Tanya dion yang melihat darah segar mulai membasahi baju lelaki itu.


“Hhmm.. aku tidak selemah itu” jawabnya dengan wajah kesal.


“Bolehkah aku masuk bersamanya?” Tanya dion


“Aku hanya merasa khawatir” imbuhnya


Damian mengangguk setuju, jika boleh jujur, ia pun merasa khawatir dengan keadaan Darren yang masih terluka.


“Ayo masuk” ajak Albert.


Tanpa membuang waktu lagi, mereka berlima mulai bergerak masuk, sedangkan Dannis kembali ke dalam mobil dengan tablet ditangannya,




“Berhasil” seru Aera dalam hati, ketika usahanya membuahkan hasil.


Ikatan itu terlepas dengan sempurna, membuat Aera sedikit bernafas lega.


Lalu apa selanjutnya?


Aera masih fokus ke arah ibu dan anak yang terus berdebat, hingga di detik berikutnya Diego melirik ke arahnya.


Hey, kenapa dia menatapku?. Batin Aera


Gadis itu sedikit tegang, takut jika Diego mengetahui tindakannya.

__ADS_1


Diego menaikkan salah satu alisnya, memberikan sebuah isyarat kepada gadis itu.


Awalnya Aera merasa bingung, namun Didetik berikutnya ia mengerti. Lelaki itu ternyata membantunya, dan kini ia tengah menanyakan hasil dari usaha Aera melalui bahasa isyarat.


Aera mengedipkan salah satu matanya sebagai jawaban. Lalu Diego kembali memberi isyarat dengan mengarahkan matanya ke arah bawah.


Aera mengikuti pergerakan mata Diego, lelaki itu menunjuk pada jari-jarinya yang mulai bergerak untuk menghitung.


Hey, apa itu? Apa dia memintaku bersiap?


“Baiklah mom, jika itu keputusan mommy maka aku tidak akan memohon lagi. Maaf, aku tidak bisa berada di pihakmu karena tujuan kita yang berbeda” ujar Diego dengan jari yang mulai menghitung.


1 2 3…


Setelah mengucapkan kalimat itu, Diego bergegas berdiri dan mendorong tubuh sang ibu.


“Diego!!” Teriak Bianca kala tubuhnya jatuh ke atas lantai.


“Cepat!” Diego mengulurkan tangannya, lalu dengan cepat disambar oleh Aera.


“Tangkap mereka berdua!!” Titah Bianca kepada amah buah yang berjaga di sekitar.


Mereka berdua kini berlari, berusaha menghindari puluhan hujan puluru yang melesat dengan cepat ke arah mereka.


“Hah..Hah..Hah.. kau bisa menggunakan senjata?” Tanya Diego ketika berhasil bersembunyi di balik pilar.


“Hhmm.. bolehkah aku mencobanya terlebih dahulu?”


“Ini..” Diego menyerahkan sebuah pistol ke tangan Aera


Gadis itu mulai mengangkat senjatanya dan membidikkan ke arah depan.


Ddoorr!!


“Wwaahh.. amazing” seru Aera kegirangan


“Bisa?”


“Hhmm sepertinya aku berbakat”


“Aku tidak heran, mengingat kau adalah putri uncle Dominic, aku dengar ia adalah salah satu penembak terbaik”


“Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai kau lengah” imbuh Diego.


Aera mengangguk setuju, ia mulai membidik musuh lalu menembaknya dan Ddooorr.. tepat sasaran.


“Bagus, seperti itu” puji Diego.


Beberapa menit berlalu, mereka berdua masih berusaha untuk membantai setiap musuh yang datang tak ada habisnya.


“Sial, kita kehabisan peluru” umpat Diego


“Berhenti menembak Aera, simpan peluru itu” cegah Diego


“Tapi musuh masih sangat banyak Diego..”

__ADS_1


“Aku tahu, tapi kita tidak bisa berbuat apa, selain berlari dan menghindar. Apa kau sanggup?”


Aera terdiam sejenak, jika boleh jujur, ia merasa sangat takut.


“Semoga” jawabnya singkat


“Jangan takut, percaya padaku dan pegang erat tanganku” Ujar Diego


“Kau lihat pintu itu? Kita harus menjangkaunya agar bisa keluar dari sini”


Aera menatap lurus kedepan, pintu itu memang cukup dekat namun akan sedikit sulit untuk menjangkaunya.


“Berlari lah sekuat yang kau bisa” imbuh Diego


Aera mengangguk setuju, ia mulai mengambil ancang-ancang, lalu mulai berlari.


Ddoorr!! Ddoorrr!! Ddoorrr!!


Mereka kembali dihujani oleh puluhan peluru, Diego dan Aera terus berlari sembari melindungi kepala mereka dengan salah satu tangan.


Mata Aera berbinar kala tangannya berhasil meraih gagang pintu.


Ceklek!!


SIAL, pintunya terkunci,


Kkrreekkk!!


“Menyerah lah tuan muda, atau kami tidak akan segan melukai anda”


Diego terdiam lalu mengangkat kedua tangannya ke atas ketika sebuah pistol menempel di bagian belakang kepalanya.


“Jangan coba-coba kalian menyentuh Aera!” Ujar Diego sembari membalikkan tubuhnya.


Kkrreekkk!! Bbuugghhh!!


Diego berhasil mematahkan tangan salah satu dari mereka dan merebut pistolnya.


Ddoorrr!!


“Aakhhh..”


“Diego!!” Pekik Aera


Tubuh Diego jatuh terjerembab ketika peluru berhasil menembus bagian betisnya.


“Bawa mereka!” Titah Jevon


Ya, pelakunya adalah pamannya sendiri.


“Andai saja kau tidak melawan, maka aku tidak akan melukaimu” imbuh Jevon


Sedangkan Bianca, hanya bisa terdiam sembari memalingkan wajahnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2