
Ddoorr!! Ddoorr!!
“Aakkhhh..”
Dua peluru kembali melesat dan mengenai sasarannya. Namun kali ini bukan berasal dari bawah, suara tembakan itu terdengar dari atas sana.
“A-Alex..” pekik Bianca kala menyadari siapa pemilik peluru itu.
Ya, detik-detik sebelum Jevon berhasil melepaskan timah panasnya, Alexander dan Dannis datang dari arah belakang. Siapa sangka bangunan yang terletak di tengah hutan itu, menyimpan satu buah lift rahasia yang terhubung langsung ke lantai atas. Dan itu semua berkat kerja keras seorang Dannis.
“Kalian benar-benar seperti hewan, bahkan kata itu masih tidak pantas untuk kalian berdua..” geram Alexander.
Setelah melihat rekaman Video yang dikirimkan oleh Dannis, lelaki tua itu langsung murka dan berniat untuk membunuh kakak beradik itu.
“Bagaimana bisa aku begitu bodoh selama ini karena tertipu oleh manusia bajingan seperti kalian!!” Sesalnya
“Terlebih kau Bianca!! Selain menipuku, kau dengan teganya mengambil kebahagiaan putramu sendiri!! Kau menghancurkan hidupnya BIANCA!! Kau tidak pantas menjadi seorang ibu!!” Teriak Alexander, kala sehari sebelum kejadian ini, putra bungsunya itu datang dan meminta sesuatu hal padanya.
#FLASHBACKON
Bbuugghhh..
Diego menjatuhkan tubuhnya dengan kedua lutut sebagai tumpuannya. Kepala menunduk, tak berani menatap laki-laki tua yang tengah berdiri dihadapannya.
“Maafkan aku Dad..” lirih Diego yang membuat Alex mengernyitkan dahinya.
Alexander membalikkan tubuhnya, ia sedikit terkejut melihat posisi putranya saat ini.
“Hey.. apa yang kau lakukan Diego!! Bangunlah nak” pinta Alex yang bergegas menghampiri putranya”
Kedua bahu lelaki bertubuh kekar itu bergetar, sekuat tenaga ia menahan isakan kecil yang mulai keluar dari bibirnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Alexander khawatir.
Diego mengangkat kepalanya, menampakkan wajah yang sudah dibasahi air mata.
“Kau pasti sudah melihat video itu dad..” ujar Diego menatap penuh sesal ke arah sang ayah.
Alexander mengangguk “lalu kenapa kau seperti ini?” Tanya Alex yang merasa bingung.
“Ini semua terjadi karena aku dad.. mommy melakukan semua ini karena aku,,” jawabnya
Deggg!
Alex tertegun mendengar penuturan putranya itu. Bagaimana bisa Diego berpikir seperti itu?.
Ia memang sudah melihat semua rekaman itu, dan begitu membenci Jevon serta Bianca. Namun sedikit pun ia tidak menaruh rasa benci itu kepada putra bungsunya, Diego tidak tahu apapun dan tidak ada alasan bagi Alexander untuk membenci putranya.
“Siapa yang mengatakan hal itu? Apakah Bianca?” Tanya Alex lagi yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Diego.
“Kemarilah, kita bicarakan baik-baik” Alex
Ayah dan anak itu kini melangkah menuju sofa berwarna coklat tua yang terletak di ujung ruangan. Mendaratkan tubuh secara bersamaan lalu saling melemparkan tatapan satu sama lain.
“Sekarang katakan, apa yang membuatmu berpikir jika semua ini terjadi karena mu!” Pinta Alex sembari menatap putranya.
Diego menghela nafasnya sejenak, ia lalu menceritakan semua hal yang ia ketahui. Mulai dari kejadian yang menimpa dirinya dan sang kekasih, hingga menyebabkan ia harus kehilangan orang yang begitu ia cintai. Lalu rekaman video tentang kejadian tragis yang menimpa keluarga yang begitu bahagia sebelum sang ibu dan sang paman merusak semuanya.
“Jadi, kejadian malam itu juga ulah Bianca dan Jevon?!” Tanya Alex dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.
__ADS_1
Diego mengangguk pelan, berusaha menelan kembali ingatan tentang kejadian naas itu.
“Bajingan!! Mereka benar-benar tidak pantas disebut manusia!! Bagaimana bisa seorang ibu merenggut kebahagiaan putranya sendiri!!” Alex menyandarkan tubuhnya ke pinggiran sofa secara keras, dengan salah satu tangan memijat pelipisnya kuat.
Ia benar-benar tak menyangka, perempuan yang datang saat dirinya sedang terpuruk adalah penyebab dari semua penderitaannya selama ini.
“Dad..bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Diego
“Katakan nak”
“Andaikan jika suatu saat nanti aku pergi, aku mohon satukan aku dengan Jasmine” Diego mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menahan sesuatu yang sudah membendung di pelupuk matanya.
Alex mengerutkan dahinya “Hey.. pertanyaan macam apa itu?” Ujar Alex dengan nada tidak suka
“Dad..kau tahu sendiri bukan, setelah kejadian ini, mommy dan uncle pasti akan bertindak lebih jauh lagi. Aku sangat tahu bagaimana mommy dan juga uncle, mereka bisa saja mengincar nyawa kak Darren dan tidak menutup kemungkinan juga diriku. Meskipun ia adalah ibuku, aku akan tetap memihak kepada kebenaran dan itu sangat bertentangan dengan tujuan mommy” jelas Darren.
“Apakah kau tahu sesuatu?” Tanya Alex lagi
“Aku tidak tahu secara pasti apa yang mereka rencanakan, namun yang pasti, mereka tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.” Imbuhnya
Alexander menghela nafas sejenak, benar yang dikatakan putranya. Orang-orang seperti Jevon dan Bianca tidak akan pernah berhenti melakukan kejahatan sampai tujuan mereka tercapai.
“Diego, bolehkan daddy bertanya sesuatu?”
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Kau sangat tahu bukan apa prinsip hidup daddy?…”
“Mata di bayar mata!” Jawab Diego dengan cepat, seakan tahu arah dari pertanyaan sang ayah.
“Sudah aku katakan sebelumnya. Aku akan selalu berada di jalan kebenaran, meskipun aku harus mengkhianati surgaku nantinya. Apapun keputusan daddy, aku tidak akan menghalanginya. Namun aku hanya meminta satu hal dad..”
“Jangan biarkan mommy merasakan sakit” pinta Diego dengan tulus
“Daddy berjanji” jawab Alex dengan tegas.
“Hhuuffttt.. aku sudah merasa lega dad. Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?” Diego menghela nafas panjang
“Tentu, kemarilah” Alex merentangkan kedua tangannya. Ini adalah pertama kalinya, ia bersikap begitu hangat kepada darah dagingnya sendiri.
Diego masuk ke dalam pelukan sang ayah, entah mengapa air matanya mengalir deras seiring dengan eratnya pelukan sang ayah.
“Aku sangat menyayangi kalian, daddy, mommy, mommy Ayumi, kak Darren, kak Olive, dan kau Jasmine” gumam Diego dalam hati.
#FLASHBACKOFF
Maaf agak gak nyambung, ideku tiba-tiba buyar😁
Btw, aku mau spill karya baruku yang akan rilis gak tahu kapan🤪.
Nih aku spill dialognya dikit✌️
•
•
………….
Ini adalah kali pertama Aroon melihat tuannya tak bereaksi apapun kala seseorang dengan berani menyentuhnya. Terakhir ia melihat seorang wanita harus kehilangan kedua tangannya karena telah berani menyentuh lengan pria itu. Namun kali ini, lelaki kejam itu bahkan tak bereaksi apapun dan memintanya untuk tetap diam.
__ADS_1
“Aku menginginkan butikmu, dan sebutkan harga yang harus aku bayar” ujar Kim menyampaikan keinginannya secara gamblang, mengingat nama yang tertulis di akta itu adalah Jane Suchart.
Gadis itu terdiam, ia terus menatap wajah Kim dengan durasi yang cukup lama, membuat semua orang didalam sana saling pandang.
“Kau sungguh menginginkan butikku?” tanya Jane seakan mencari sesuatu dibalik pertanyaan itu.
Kim tak menjawab pertanyaan Jane, ia hanya menganggukkan kepala pelan.
“Hah.. pa, aku pergi dulu! Katakan pada Tod untuk membelikanku mobil limited edition, agar aku bisa mengenalinya dengan baik!” Pintanya kepada sang ayah.
Jane berdiri dan hendak melangkah keluar, hingga gerakan kakinya terhenti tepat di samping lelaki yang tengah menatapnya jengah. ia menundukkan wajahnya, berada lebih dekat dengan wajah lelaki itu.
“Jika kau menginginkan bangunan itu, kau harus menikah denganku dan tanamkan saham sebesar 10% ke perusahaan ayahku! Jika kau setuju, datanglah besok pagi ke Wihara dekat mansionku, lengkap dengan setelan jas terbaik yang kau punya!” Bisik Jane sebelum benar-benar pergi meninggalkan Kim yang kembali diam mematung.
Apa gadis itu gila?
Apa dia tidak salah dengar?
“Eh tunggu..” langkah Jane tiba-tiba terhenti. Gadis itu melangkah mundur dan kembali mensejajarkan tubuhnya dengan Kim.
“Agama mu Buddha?” Bisiknya ditelinga Kim.
Entah ada angin apa, Kim yang biasanya tak suka basa basi kini menjawab pertanyaan Jane dengan suka rela.
“Kristen..” jawabnya singkat.
Gadis itu mengangguk setuju, ia membalikkan badan dan kini menatap sang ayah.
“Pa..aku seorang Kristen bukan?” tanya nya kepada lelaki tua yang tengah kebingungan.
Aat mengangguk pelan, dengan maksud membenarkan pertanyaan putrinya.
Tunggu, apakah penyakit pelupa Jane separah itu, hingga ia melupakan agamanya sendiri.
“Hhmm.. maaf aku terlalu sering pergi ke wihara untuk mengantar Nik..” kilah Jane kala mendapat tatapan tajam dari sang ayah.
Gadis itu kembali berbalik dan menundukkan kepalanya.
“Ralat, besok pagi datanglah ke gereja dekat dengan mansionku..” bisiknya
Cup
Tanpa diduga, sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di pipi Kim, yang berhasil mengundang keterkejutan dari semua orang yang ada diruangan itu, tak terkecuali Kim.
“Sampai bertemu besok..” gadis itu melambaikan tangannya dan kini benar- benar melenggang pergi dengan langkah santai, meskipun banyak mata tengah menyorot ke arahnya.
Aat mengkerutkan keningnya, apa yang telah dikatakan putrinya kepada Kim, mengapa lelaki itu sampai diam mematung.
“Paaa.. besok ambillah cuti!!” Teriak Jane dari luar ruangan, lalu bayangannya benar-benar hilang dari balik pintu.
Kim berdiri dan membalikkan tubuhnya tanpa berucap satu katapun. Hatinya sedikit kesal, bukannya mendapat lampau hijau, ia malah mendapat kesulitan.
“Aroon kita kembali” titahnya, tang dijawab anggukan kepala oleh sekretarisnya itu.
Apa yang dikatakan Jane? Mengapa Kim terlihat kesal. Batin Aat.
...****************...
*Segini aja dulu spoilernya**👌*
__ADS_1