
Darren sudah berdiri tepat di depan pintu sebuah ruangan dengan seorang pria tua di dalam sana. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangannya terangkat untuk memutar knop pintu, memantapkan diri untuk memijakkan kakinya ke dalam sana.
Ceklek!!
Pintu sudah terbuka, Darren benar-benar masuk ke dalam sana. Nampak seorang pria tua dengan segelas anggur ditangan tengah menatap lurus ke arah luar jendela.
“Dad..” panggil Darren dengan nada rendah.
Pria tua itu masih tetap terdiam, ia menyempatkan diri untuk mengangkat gelasnya lalu meneguk habis minuman itu hingga tandas.
“Duduklah” perintahnya
Darren mengangguk pelan, ia beralih ke arah sofa berwarna hitam yang terletak di ujung ruangan, mendaratkan tubuhnya perlahan namun terlihat sedikit kaku.
Alexander melangkah menuju sebuah meja kecil, meletakkan kembali gelas yang ia genggam sejak tadi dan menghampiri sang putra dengan tatapan mengintimidasi.
Ia mendaratkan tubuhnya perlahan, menyandarkan tubuhnya ke pinggiran sofa dengan menyilangkan kedua kakinya. Kedua matanya masih menatap fokus ke arah lelaki muda yang tanpa ia sadari sudah beranjak dewasa.
“Kenapa kau menyembunyikan hal penting ini dari daddy?” Tanya Alexander to the point.
Darren mengangkat kepalanya, menatap lekat ke arah lelaki tua yang duduk Dihadapannya dengan raut wajah penuh kekecewaan.
“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu dad” jawab Darren
“Lalu? Apa ini? Kau menyimpan rahasia besar ini selama 7 tahun lamanya seorang diri. Itukah yang kau maksud tidak ingin menyembunyikannya dariku?!” Ujar Alexander dengan nada bicara yang terdengar menyedihkan.
Bagaimana bisa putranya menyembunyikan sesuatu yang begitu berharga baginya. Ia merasa jika sang putra tak percaya dengan dirinya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
“Dad.. biarkan aku menjelaskan semuanya padamu dan setelah itu kau bebas untuk menghakimi ku..” balas Darren
#FLASHBACK ON
“Hey apa kau sudah gila Darren?” Pekik Dion dengan raut wajah yang tidak percaya.
“Ku mohon Dion, aku sudah kehilangan mommy dan juga kakakku. Dia satu-satunya hartaku yang tersisa, aku tak ingin kehilangan lagi. Ku mohon..” pinta Darren dengan wajah yang di banjiri air mata.
Darren luruh begitu saja ke dasar lantai dengan kedua lutut sebagai tumpuannya. Ia menengadah, menatap penuh harap kepada sang sahabat yang berdiri tak berdaya di hadapannya.
“Ini melanggar kode etik Darren, aku tidak bisa melakukan ini” tolak Dion untuk kesekian kalinya.
Darren kembali menjatuhkan kepalanya, menunduk dan menatap pasrah ke arah lantai rumah sakit.
“Hah.. baiklah, jika kau tak bisa membantuku. Jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu diluar kendali ku dan jangan pernah mencoba untuk ikut campur setelahnya” ancam Darren
Namun ia masih diberi keberuntungan, Tuhan menyisakan satu malaikat kecil yang berhasil lolos dari maut. Meskipun ia harus kehilangan sosok sang kakak yang tak bisa sekuat malaikat kecil itu.
Ia tak pernah menyangka jika sosok kuat seperti sang kakak akan mengalami hal mengerikan seperti ini. Darren merasa tak berguna, ia bahkan tak tahu siapa lelaki yang harus bertanggung jawab untuk janin yang dikandung sang kakak. Kejadian itu membuat psikis Olivia terguncang dan menuntunnya untuk melakukan hal mengerikan itu.
Semua terjadi begitu cepat, Olivia yang mengalami depresi berat selama hampir 8 bulan lamanya karena harus mengandung tanpa tahu ayah dari bayi yang ada di dalam perutnya. Gadis itu memilih untuk mengakhiri hidupnya, ia pergi berkendara seorang diri dan dengan kecepatan tinggi. Hingga sebuah kecelakaan yang mengerikan terjadi dan merenggut nyawanya. Namun sebuah keajaiban datang, janin yang ia kandung masih tetap bernafas di dalam sana walaupun sangat lemah. Beruntung dokter mengambil tindakan dengan cepat dan berhasil menyelamatkan malaikat mungil itu.
“Cckk.. baiklah, Aku akan membantumu.” Ujar Dion lantang.
Kalimat yang diucapkan oleh Dion berhasil menghentikan langkah Darren. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Dion dengan mata berbinar.
Lelaki itu berlari untuk menghampiri sahabatnya, ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dion dan mengucapkan kalimat yang sama hingga berkali-kali.
__ADS_1
“Terima kasih Dion, terima kasih.” Ujarnya dengan air mata yang keluar semakin deras.
Dion mengangguk pelan, ia bisa merasakan bagaimana kesedihan yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu.
“Dengar, ini tidak akan semudah yang kita pikirkan. Aku harus mencari pengganti secepat mungkin. Aku akan menyembunyikannya sebisa mungkin hingga ia lebih kuat untuk ikut bersamamu. Kau cukup bantu aku untuk mengulur waktu, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan itu. Katakan pada mereka jika dokter sedang membantu untuk mengeluarkan bayi yang ada di kandungan kakakmu. Setelah aku selesai, aku akan mengatakan jika mereka berdua tak bisa terselamatkan” jelas Dion
“Hhmm.. tapi bisakah kau berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun termasuk daddy ku” pinta Darren
“Ada apa? Apa kau tidak percaya dengan uncle?”
“Bukan, aku hanya takut rahasia ini tak akan bertahan lama jika daddy tahu. “ jelas Darren.
“Apa kau mencurigai seseorang yang berhubungan dengan keluargamu?” Tanya Dion yang dijawab anggukan kepala pelan oleh Darren.
“Baiklah, aku berjanji akan menjaga rahasia ini. Namun sepertinya kau harus menceritakan ini kepada Albert, Damian dan Dannis. Aku rasa kau akan membutuhkan bantuan dari mereka untuk sistem keamanannya” saran Dion
Darren mengangguk setuju, apa yang dikatakan oleh Dion memang benar adanya. Ia tak sendiri, ia masih memiliki 3 sahabat lainnya yang bisa ia percaya.
Sesuai rencana Dion, Darren mengulur waktu dengan mengatakan jika dokter sedang melakukan operasi untuk sang kakak, meskipun kenyataannya jika sang kakak telah tiada.
Semua berjalan lancar sesuai rencana mereka. Hari demi hari Darren lalui dengan begitu berat. Menjaga bayi seorang diri ditambah ia harus tetap bekerja benar-benar menguras banyak tenaganya. Tak hanya itu, ia harus selalu memastikan jika keadaan aman. Ia rela membeli 1 gedung tinggi yang berisikan 15 unit apartement demi memastikan tak ada orang asing di dalam sana. Apartement itu ditempati oleh orang-orang kepercayaan yang dikirimkan oleh Albert dan Damian, sehingga ia tak perlu merasa khawatir.
Beruntung di tahun pertama, Albert mengirimkan seorang maid kepercayaannya dan membantunya menjaga si kecil Ethan hingga bocah itu berumur 4 tahun.
Ethan kecil begitu cerdas dan penurut, Darren tak pernah merasa khawatir meskipun harus meninggalkan bocah itu seorang diri ketika ia pergi ke kantor. Hanya saja, Darren tak pernah meninggalkannya terlalu lama. Itulah alasan seorang Darren tak pernah bekerja keluar kota ataupun keluar negeri, meskipun terpaksa, ia pastikan tidak akan menginap dan segera kembali.
#Flashback OFF
__ADS_1
Bersambung..