
"sayang kamu bertahan yaa,,kamu harus bertahan demi anak kita..kamu harus tetap sadar,," Arya berusaha terus untuk membuat Raisya tetap sadar..tapi usahanya Nihil beberapa saat kemudian Raisya tak sadarkan diri..keringat dingin bercucuran di wajah cantiknya yang kini berubah menjadi pucat.
Arya pun melajukan mobilnya semakin kencang..agar cepat sampai di rumah sakit..
15 menit kemudian mereka telah sampai di depan IGD sebuah rumah sakit.
Arya segera turun dan meminta pertolongan..
mendengar suara orang minta tolong beberapa perawat datang membawa bed sorong untuk membawa pasien ke ruang IGD.
Arya pun mengikuti perawat yang membawa Raisya masuk ke ruang IGD.
"maaf bapak silakan tunggu diluar..biar dokter yang akan menangani istri bapak.."
"tapi suster saya ingin mendampingi istri saya.."
"iya pak ijinkan kami tim medis menangani istri bapak.."
"saya mohon tolong selamatkan istri saya suster.."
"iya pak kami akan berusaha semampu kami.."
Setelah beberapa saat berdebat dengan perawat,,karena perawat atk mengijinkan nya masuk menemani Raisya,akhirnya Arya pun menyerahkan semuanya pada tim medis.
Arya merasa frustasi melihat kondisi istrinya yang tak sadarkan diri..entah apa yang akan terjadi selanjutnya,,ia tak berani berharap lebih..
drrt drrt drrt
Ponsel Arya yang ada dalam saku jas nya bergetar..ia pun segera mengambilnya..ternyata mamanya yang menghubunginya.
"assalamualaikum ma,,"
"waalaikumsalam Arya,,apa Raisya sudah sama kamu sekarang,,tadi dia pamitnya cuma sebentar tapi sampai sekarang belum pulang..perasaan mama gak enak dari tadi.."
"iya ma,,kami di rumah sakit sekarang,,Raisya di rampok.." Arya menjelaskan bila Raisya mengalami musibah.
"astaghfirullah adzim,,.mama akan segera kesana..! "
"iya ma ...assalamualaikum.."
"waalaikumsalam.."
Panggilan telepon dengan sang ibu terputus..Arya kembali fokus pada pintu ruang IGD berharap ada dokter atau perawat keluar membawa berita baik tentang istrinya.
Tak lama yang dinantikannya pun tiba,,seorang dokter keluar dari ruang igd.
Melihat sang dokter keluar..Arya pun segera menghampirinya menanyakan kondisi istrinya.
"dokter,,bagaimana keadaan istri saya dan calon bayi nya,,??"
"kondisi istri bapak saat ini kritis..dan mohon maaf untuk calon bayinya,,kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain,,calon anak bapak tak bisa kami selamatkan..ini akibat dari benturan keras yang mengenai perut istri bapak waktu kejadian.."
"innalilahi wa inna lillahi rojiun jadi bayi kami meninggal dokter..?"
"iya pak,,kami mohon maaf sebesar besarnya karena tak bisa menyelamatkannya.." Arya mengusap wajahnya dengan frustasi mendengar kabar calon putranya telah tiada.
"maaf dokter ini berkasnya.." seorang perawat datang membawa berkas persetujuan operasi yang harus di tandatangani Arya selaku suami pasien..karena pasien harus segera mungkin di operasi untuk mengambil calon bayinya yang meninggal di dalam kandungan.
"pak ini berkas operasi istri bapak mohon ditandatangani agar kami bisa segera melakukan tindakan..karena kami harus segera mengambil bayinya.."
Dengan berat hati Arya menandatangani persetujuan operasi istrinya,,karena bayinya yang sudah tiada harus segera di keluarkan agar tak membahayakan sang ibu.
"terimakasih pak,,kami akan segera lakukan tindakan pada istri bapak..dan kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi istri bapak..mohon di bantu dengan doa semoga semua baik baik saja..Aamiin.."
Dokter dan perawat kembali ke ruang IGD melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada pasien.
Arya kembali duduk dengan tangan menutupi wajahnya..ia menyesali apa yang telah terjadi pada Raisya,,andaikan saja tadi ia mengijinkan Raisya untuk ikut masuk dalam supermarket..ini semua tak akan terjadi..semua akan baik baik saja..tidak seperti sekarang..
"Arya.." Arya mendongak ketika mendengar ada orang yang memanggil namanya dan ternyata yang datang,,ke 2 orang tuanya beserta ibu Widya ,,mertuanya.
"bagaimana keadaan Raisya Arya..? kenapa ini semua bisa terjadi.." ucap ibu Widya ketika bertemu dengan menantunya.
"Raisya masih di dalam bu,,maafkan Arya bu,,ma pa,,Arya sudah gagal menjadi seorang suami,,dan seorang ayah,,Arya gak bisa menjaga istri dan calon anak kami..." tangis Arya pecah ketika berbicara pada mertua dan kedua orang tuanya.
"sudah Arya kamu tenang,,semua akan baik baik saja,,kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri.."
Ibu Lina menasehati Arya putranya yang sedang terpuruk..
__ADS_1
"kami harus kehilangan calon anak kami ma,," tangis Arya kembali pecah saat mengatakan anak yang dinantikan seluruh keluarga besarnya telah tiada karena kejadian ini..
Semua keluarga terkejut mendengar berita itu..
"innalilahi wa inna illahi rojiun.." ucap semua orang ketika mendengar kabar kematian sang bayi yang mereka nanti nantikan kehadirannya.
"kamu yang sabar Arya,,Pasti Tuhaan punya rencana lain di balik ujian ini..kamu jangan seperti ini..ingat ada Raisya yang masih butuh kamu,," Ibu lina memeluk Arya yang sedang menangis.
Sedangkan ibu mertuanya tak bisa berkata apa apa hanya air mata yang berbicara..yang beliau inginkan sekarang adalah melihat Raisya pulih dan sehat kembali seperti sedia kala.
Beliau tak menyalahkan Arya atas kejadian ini,,ini murni musibah..dan bisa menimpa siapa saja..termasuk putrinya.
Tak lama dokter pun kembali dan membawa kabar yang kurang baik tentang Raisya.
"bagaimana kondisi istri saya dokter.." Arya dan anggota keluarga yang lain berhamburan mendekat ke arah dokter.
"pak bisa ikut ke ruangan saya sebentar,,saya akan menjelaskan kondisi istri bapak saat ini,,"
Arya mengangguk dan mengikuti sang dokter menuju ruangannya.
"bagaimana dokter,,istri saya baik baik saja kan,?" tanya Arya dengan nada khawatir.
Sebelum menjelaskan dokter memperlihatkan hasil usg Raisya dengan bantuan layar monitor yang berada di mejanya.
"begini pak,,setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut,,hasilnya salah satu ovarium istri bapak harus diangkat..karena rusak..bila tidak diangkat secepatnya ini akan membahayakan nyawa istri bapak,,jadi kami akan kembali meminta persetujuan dari bapak selaku suami dari pasien untuk melakukan tindakan ini.."
"maksudnya bagaimana dokter,,maaf saya kurang mengerti dalam hal ini,,apa nanti ada efek nya bila ovarium istri saya diangkat..?"
"ya pak..dengan diangkatnya satu ovarium milik istri bapak,,kemungkinan istri bapak untuk kembali punya anak sangat sulit.."
"Yaa Tuhan..jadi kami tidak akan bisa memiliki keturunan lagi dokter,,"
"kemungkinan itu tetap ada pak ada sekitar 20-25 % peluang istri bapak untuk hamil..bapak jangan patah harapan,,,kami sebagai tim medis hanya bisa memprediksi,,untuk selebihnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa.yang penting kita sebagai hambanya tak lepas berdoa dan berikhtiar..tak sedikit wanita bisa punya anak setelah salah satu ovariumnya diangkat..dan mungkin atas kejadian ini istri anda bisa mengalami sedikit Depresi jadi saya berharap bapak sebagai suami memberikan perhatian dan semangat yang lebih untuk istri bapak.."
Arya tak bisa berkata apa apa lagi,,setelah mendengar penjelasan dokter,,yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana dengan Raisya,,apa ia sanggup menerima ujian seberat ini..
"silakan anda baca dan tandatangani berkas ini pak agar kami bisa segera melakukan tindakan.." dokter menyodorkan kembali berkas persetujuan pengangkatan ovarium Raisya pada Arya untuk segera di tandatangani.
Arya pun dengan ragu mulai mengambil pena dan menandatangani berkas persetujuan itu.
Setelah semua selesai Arya kembali keluar bersama orang tuanya dan juga mertuanya.
"bagaimana Arya,,apa kata dokter..?? semua baik baik saja kan,,??" tanya ibu lina penasaran.
Arya hanya diam,,ia tak bisa berkata apa apa lagi ia bingung.
"Arya,,papa tahu bagaimana perasaan kamu saat ini,,kamu harus kehilangan calon bayi kalian yang sangat kalian nantikan,,tapi kamu jangan patah semangat,,ingat istri kamu,,ikhlaskan semua ,ini ujian,,bukankah nanti kalian bisa memulai program punya anak lagi setelah Raisya kembali pulih..?" kini giliran pak Wijaya yang angkat bicara..mendengar ucapan papanya yang masih berharap memiliki seorang cucu darinya,,Arya jadi tak tega mengatakan yang sebenarnya bila kemungkinan Raisya bisa hamil lagi sangatlah tipis..jadi ia memutuskan untuk diam.
"kapan operasinya di lakukan..?" tanya ibu Lina.
"sebentar lagi ma,,dokter sudah mempersiapkan semuanya.."
Beberapa saat kemudian ada beberapa perawat keluar dari ruang igd dengan membawa branker dan ada Raisya disana yang masih tak sadarkan diri..Raisya akan di bawa ke ruang operasi..
"Raisya,," Arya dan yang lain berlari mendekati branker yang ada Raisya diatasnya.
"sayang kamu harus kuat,,aku ada disini untuk kamu,," ucap Arya lembut sambil membelai dan mencium puncak kepala Raisya yang masih tak sadarkan diri..
"Sya kamu harus kuat nak ibu disini,," giliran ibu Widya yang melihat putrinya beliau merasa tak tega melihat kondisi Raisya..
Sedangkan di sisi lain pak Wijaya hanya bisa memeluk istrinya yang sedang menangis di belakang Arya.
"maaf pak..bu kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi karena dokter susah menunggu disana.."
"tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya suster.."
"iya pak kami akan berusaha semaksimal mungkin semampu kami,,kami permisi dulu.."
Akhirnya Arya pun melepas tangan istrinya,,yang beberapa saat yang lalu berada dalam genggamannya.
Para perawat segera membawa kembali Raisya ke ruang operasi karena dokter sudah menunggu disana.
Hampir 1 jam Arya dan keluarganya menunggu jalannya operasi..
Akhirnya salah seorang perawat memanggil Arya untuk memperlihatkan bayinya yang sudah tiada.
Arya dengan langkah gontai pergi ke kamar jenazah dimana perawat mengarahkannya.
__ADS_1
Arya tak sendiri ia bersama ke dua orang tuanya dan ibu mertuanya.
Arya mendekati bayi mungilnya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa di ruang jenazah.
Bayi itu sudah terbentuk sempurna karena usia kandungan Raisya sudah 8 bulan dan menurut HPL bayi itu akan lahir 1 bulan lagi dari sekarang.
Ia dengan pelan membelai wajah putranya..yang dibilang sangat mirip dengan Raisya sang mama,,hidungnya mancung seperti mamanya..sedangkan rambutnya hitam legam menurun dari Arya papanya.
"sayang,,anak papa kamu tenang disana ya nak,,papa janji akan menjaga mama kamu disini dengan baik..Tuhan lebih menyayangi kamu jauh melebihi kami..sehingga Tuhan mengambil kamu kembali dari kami.." ucap Arya terbata,,ia pun membisikan doa pada telinga jenazah putranya..kemudian menciumnya dengan lembut..
Setelah itu giliran mertua dan juga ke 2 orang tuanya yang melakukan hal yang sama pada jenazah bayi mungil itu.
Di dalam kamar jenazah kini penuh dengan tangisan..mereka menangisi kepergian salah satu anggota keluarga mereka yang sangat mereka nantikan kehadirannya,
Tapi kini mereka harus mengikhlaskan semuanya agar bayi mungil itu damai saat kembali ke pangkuan sang pencipta.
Setelah diijinkan di bawa pulang..Arya sendiri yang menggendong bayinya pulang kerumah,,memangkunya saat dimandikan,,menyolatinya,,serta yang terakhir mengantarkannya ke tempat peristirahatan putranya yang terakhir.
Arya dengan berat hati melepaskan kepergian putranya untuk yang terakhir kalinya..ia merasa hancur sehancur hancurnya saat ini,,tak pernah sebelumnya ia merasakan cobaan yang seberat ini,,bahkan ketika dulu ia mendengar kabar bahwa ibu kandungnya yang seorang wanita malam.
"Arya ayo kita pulang,,tadi mama mu menelepon papa kalau Raisya sudah sadar...kita harus ke rumah sakit sekarang,,"
Mendengar ucapan papanya Arya kembali teringat istrinya,,apa yang akan terjadi pada wanitanya itu saat mengetahui bahwa buah hati mereka telah tiada...pasti ia akan lebih hancur lagi melebihi dirinya saat ini.
Sebelum pergi meninggalkan makam putranya,,Arya kembali memandang nisan yang bertuliskan..Arsya Wijaya bin Arya Wijaya..ia tak menyangka akan melihat tulisan itu di atas batu nisan..
"Arya...Ayo.." ajak papanya kembali..karena melihat Arya kembali larut dalam sedihnya.
Mereka pun pulang ke rumah sebentar,,untuk mandi dan ganti baju selanjutnya pergi ke rumah sakit.
"Assalamualaikum.."
"waalaikumsalam.." Arya dan papanya memberi salam sebelum masuk ke kamar rawat Raisya..disana ada Ibu Lina dan juga ibu Widya,,ibunda Raisya..
Melihat kedatangan Arya ke dua wanita itu berdiri ..dan memberikan tempat untuk Arya di samping ranjang pesakitan Raisya.
Mereka pun keluar guna untuk memberikan waktu Arya dan Raisya berbicara ber 2.
Arya melihat istrinya berbaring di ranjang pesakitan dengan wajah berpaling dari nya..
Arya pun berjalan mendekat,,dan duduk berdiri tepat di samping ranjang istrinya..Ia membelai rambut Raisya dan mencium keningnya dengan lembut.
"sayang,," ucapnya pelan dan lirih tapi masih terdengar jelas di telinga Raisya.
Mendengar panggilan Arya,,,Raisya pun menoleh dan memandang ke arah suaminya dengan wajah bercucuran air mata...Raisya tak mampu berkata apapun..ia sangat shock ketika sadar melihat perutnya yang tadinya membuncit kini telah rata kembali,,dan ketika ia bertanya pada suster,,suster menjawab bila bayinya telah tiada...mulai saat itu Raisya hanya bisa diam membisu dan menangis.
"sayang kamu yang kuat yaa,,kita akan hadapi semua ini bersama sama,,kita harus mengikhlaskan putra kita,,biar dia tenang disana.." Arya tak kuasa melihat istrinya menangis sehingga tanpa ia sadari ia pun ikut menangis..padahal ia sudah berjanji untuk tidak terlihat lemah di depan istrinya,,tapi ini di luar kuasanya.
Arya menciumi tangan istrinya dengan lembut mencoba menenangkannya..walaupun ia sendiri tak bisa sekuat yang ia harapkan,,namun setidaknya ia bisa sedikit memberikan semangat dan kekuatan untuk istrinya dimasa masa sulit seperti ini..
"maaf,,maaf kan aku.." hanya kata maaf uang keluar dari mulut Raisya setelah beberapa saat terdiam.
"ssst..." Arya menutup mulut Raisya dengan ujung jari telunjuknya.
"kenapa kamu minta maaf sayang,,gak ada yang perlu di maafkan dari kejadian ini,,ini semua ujian dari Tuhan,,yang seharusnya minta maaf adalah aku,,aku yang tak bisa menjaga kamu dan anak kita dengan baik.."
"aku yang gak bisa menjaga anak kita mas,," ucap Raisya sambil bercucuran air mata.
"sayang dengarkan aku..ini ujian ini musibah,,hal ini bisa menimpa siapa saja termasuk kita.."
"sayang Allah tidak akan pernah menguji hamba Nya kecuali karena Allah mencintainya..dan Allah tidak akan pernah memberi kesedihan pada hambaNya kecuali untuk membahagiakannya." Arya mencoba memberikan pengertian dan semangat pada sang istri dengan kata katanya..ia berharap sang istri bisa lebih kuat dan tegar menghadapi ujian ini.
"mas,,aku ingin sekali melihat anak kita.."
"sayang anak kita sudah tenang di surga,,aku sendiri yang mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir...sekarang yang harus kita lakukan adalah belajar mengikhlaskannya yaa,,"
"dan aku pun tak sempat melihat nya bahkan untuk yang terakhir kali.."
Melihat istrinya yang sangat ingin melihat buah hati mereka akhirnya Arya pun mengambil ponselnya dan membuka galeri foto memperlihatkan wajah mungil bayi mereka yang tak sempat mereka rawat.
"inilah bayi kita,,Arsya kita..lihat dia sangat mirip dengan mamanya kan..?" Raisya mengambil ponsel dari tangan Arya dan kini ia bisa melihat wajah bayi mungilnya dengan jelas walaupun hanya di foto.
"dia ganteng seperti papanya,,sayang maafkan mama,,mama gak bisa jagain kamu,,maafkan mama,," tangis Raisya kembali pecah saat ia melihat foto bayinya di ponsel Arya ia meraba gambar bagian wajah bayinya yang mungil dan lucu.
__ADS_1
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉