
"Firman ?"
Reva terlihat sangat terkejut melihat Firman yang sudah menghilang beberapa tahun yang lalu tepatnya saat Arya memergoki dirinya bersama Firman di apartemen nya mendatangi nya.
"Hay Reva, boleh aku masuk?" tanya Firman setelah beberapa saat yang lalu menyapa Reva.
Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik rumah, Firman pun menerobos masuk kedalam dan langsung duduk disofa.
"ngapain kamu kesini? bukannya kamu selama ini tinggal di luar negeri?" tanya Reva yang belum hilang rasa kagetnya karena kehadiran Firman.
"ya kamu benar sekali, baru dua hari yang lalu aku sampai di Jakarta, pekerjaan mengharuskan aku untuk kembali ke Jakarta."
"Dan apa kamu tahu tadi pagi aku bertemu dengan siapa? aku bertemu dengan mantan kekasih kamu Arya Wijaya."
"mau apa kamu bertemu dengan Arya?"
"tenang, kamu tenang dulu, aku bertemu dengannya Karena urusan pekerjaan, sekarang perusahaan tempat ku bekerja menjalin kerja sama dengan Wijaya Grup. Jadi tadi pagi aku dan beberapa staf perusahaan datang ke kantor Wijaya Grup untuk membahas kerja sama kita."
Reva pun duduk di samping Firman seraya mendengarkan cerita firman tentang pertemuan nya dengan Arya pagi tadi.
"apa Arya menolak bekerja sama dengan perusahaan kamu?" tanya Reva.
Firman tertawa mendengar ucapan Reva.
"kenapa kamu berpikiran seperti itu? tentu saja Arya tidak akan mencampur adukan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, dan apa kamu tahu apa yang dikatakan oleh Arya pada ku?"
"apa?"
"Arya mengucapkan terimakasih karena berkat kita ketahuan waktu itu, sekarang dia mendapatkan seorang istri yang menurutnya lebih segala galanya dari kamu. Memang seperti apa sih istrinya Arya? apa dia juga model kelas atas seperti kamu?"
"cih,,bisa bisa nya Arya membanding bandingkan aku dengan perempuan j****g itu."
"perempuan j****g ? Maksud kamu?" tanya Firman tak mengerti maksud Reva.
"iya bagaimana bisa aku di bandingkan sama perempuan kampung yang hanya pegawai rendahan seperti dia." ucap Reva kesal.
"jadi maksud kamu perempuan yang dinikahi Arya itu cuma pegawai rendahan?"
Reva mengangguk.
"iya dulu perempatan itu hanyalah sekretaris Arya yang naik pangkat jadi istrinya."
"jadi artinya kamu kalah saing sama perempuan yang kamu bilang kampungan itu?" ucap firman seraya menertawakan Reva.
"auw.." Firman meringis kesakitan karena dilempar bantal oleh Reva secara sengaja.
"lagian kamu juga menertawakan aku, bikin aku kesel." sewot Reva.
"oiya tadi Arya sempat bilang kalau kamu sudah berulang kali mencoba mencelakai istrinya dan malahan kamu sudah membuat mereka kehilangan bayi mereka.Apa itu benar?" tanya Firman pada Reva.
"menurut kamu?" Reva balik tanya.
"kamu ini aku tanya malah balik tanya. Kan tinggal jawab iya apa enggak aja apa susahnya sih?"
"ya kalau aku bilang iya, apa kamu percaya?" tanya Reva kembali.
"ya yang aku tahu sih kamu memang orangnya nekat dan akan melakukan apapun demi ambisi kamu."
Reva pun tersenyum.
"nah itu kamu tahu."
"jadi benar kamu berusaha mencelakai istri Arya dan sudah membuat mereka kehilangan bayi mereka? kamu ini benar benar sudah gila ya, aku gak nyangka kamu bisa Setega itu sama orang." Firman menggeleng kan kepala seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"ya itu belum sebanding dengan apa yang sudah dilakukan perempuan itu sama aku, perempuan itu sudah mengambil tempat ku disamping Arya, mengambil tambang emas ku.Merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuat perempuan itu menderita." sumpah serapah Reva.
"memangnya kamu gak takut sama Arya, ingat Arya itu bukan orang sembarangan.
Arya dengan mudah bisa menghancurkan karir kamu bisa dengan mudah menghancurkan hidup kamu."
"aku tidak peduli, kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau, perempuan itu pun juga tidak akan mendapatkan apapun."
"kamu yakin?"
"tentu saja, aku gak akan pernah berhenti menghancurkan hidup perempuan itu. Apapun resikonya."
"terserah kamu saja, yang penting aku sudah mengingatkan kamu tentang hal ini."
"kalau kamu mau kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Arya dan juga perempuan itu."
"tidak tidak tidak, itu semua tidak ada hubungannya sama aku, ini urusan kamu.
Arya juga tak pernah mengusik hidupku.
Bahkan disaat dia memergoki kita dulu, dia pun tidak berusaha menghancurkan hidupku, padahal kalau dia mau, dia bisa dengan mudah menghancurkan karir ku, tapi nyatanya itu tidak ia lakukan. Jadi tidak ada alasan buat aku untuk menghancurkan Arya."
"kamu yakin gak mau bantu aku?"tanya Reva.
"maaf kali ini aku tidak bisa bantu kamu, bertemu dengan Arya saja aku sudah malu setengah mati apalagi mau bantu kamu menghancurkan dia."
Firman benar benar tidak mau membantu Reva dalam hal menghancurkan keluarga Arya.
Karena Arya sudah tidak mempermasalahkan kejadian memalukan beberapa tahun yang lalu dimana sebagai sahabat Arya dia sudah mengkhianati nya, dan dia juga tidak pernah sekalipun mengusik kehidupan nya.
Seminggu kemudian.
Hari ini adalah jadwal cek up kandungan Raisya.
Namun Arya ada meeting yang tidak bisa di tunda atau diwakilkan.
__ADS_1
"mas, kamu kenapa? ada masalah?"
tanya Raisya ketika melihat Arya murung pagi ini.
"enggak apa apa sayang, oiya maaf ya hari ini aku tidak bisa menemani kamu cek kandungan,"
"iya mas, sudah berapa kali kamu minta maaf sama aku? aku gak apa apa, lagipula aku bisa pergi sama mama atau ibu.
Jadi mas Arya gak usah khawatir ya?"
"bukan itu saja sayang, aku juga pengen sekali lihat perkembangan anak kita dalam kandungan kamu, tapi meeting di kantor tak bisa di tunda atau di wakilkan." Arya terlihat sedih dan kecewa karena tidak bisa menemani Raisya ke dokter kandungan.
"kan nanti mas Arya bisa lihat hasil USG nya, "
"gak sama sayang, hasilnya itu cuma berupa selembar foto saja."
Raisya tersenyum melihat Arya yang ngeyel.
"sudahlah, lain kali kan bisa mas Arya temani aku cek ke dokter ya, sudah jangan sedih gitu, nanti anak kita ikutan sedih kalau lihat papanya sedih.."
Mendengar ucapan Raisya, Arya pun kemudian mengelus perut Raisya yang sedikit membuncit karena usia kandungannya sudah menginjak 6 bln dan masuk trimester ke 3.
"sayang, anak papa, maafin papa ya, hari ini papa gak bisa temani mama kamu periksa.
Tapi papa janji lain kali papa akan terus temani mama kamu ke dokter untuk melihat perkembangan kamu dalam perut mama."
Arya berbicara pada bayi yang masih berada dalam perut istrinya, kemudian menciumnya dengan lembut.
"ya sudah sekarang lebih baik mas berangkat ke kantor, lihat sudah jam berapa? nanti kamu mas telat."
"sayang, aku ini bos di kantor aku, jadi kalau aku telat sedikit ya gak apa apa,"
"seharusnya kalau jadi bos itu bisa jadi contoh karyawannya bukan malah malas kayak gini,"
"biar saja." jawab Arya seraya memeluk sang istri dengan erat seakan enggan pergi ke kantor.
"bukannya dulu mas Arya itu orangnya disiplin banget, apa apa harus tepat waktu, apa apa harus siap, kenapa sekarang jadi seperti ini?"
"iya karena dulu aku belum punya kamu sebagai prioritas ku, dulu yang terpenting buat aku adalah karir dan karir, tapi sekarang aku punya kamu."
"jadi semua ini gara gara aku? aku jadi ngerasa bersalah ni gara gara aku, suami aku jadi malas bekerja dan malas mencari nafkah,,"
"bukan begitu sayang, aku gak malas cari nafkah, tapi aku mulai dari lulus kuliah aku sudah bekerja keras hingga menjadi seperti sekarang ini. Jadi apa salahnya jika aku sekarang ingin istirahat menghabiskan masa tua ku bersama kamu, lagipula biarpun aku tidak bekerja kita gak bakalan kekurangan apapun." jelas Arya dengan masih sambil memeluk Istrinya.
"iya aku tahu, makanya kita harus banyak banyak bersyukur karena kita di berikan rezeki yang lebih oleh Tuhan."
"iya sayang, karena itulah aku selalu menyisihkan sebagian hasil kerja keras ku untuk aku berikan ke panti dan orang orang yang membutuhkan."
Raisya mendongak mendengar ucapan suaminya.
"aku bangga sekali sama kamu mas, karena kamu itu orangnya baik baik banget, walaupun dulu nyebelin dan nakutin."
"ow jadi aku nyebelin? iya?" tanya Arya.
"iya tapi itu dulu sih, sebelum kita menikah. Banyak loh yang bilang kalau mas Arya itu berubah 180° setelah menikah sama aku, dan orang orang berpikir akulah yang sudah merubah kamu menjadi seperti ini."
"apa yang dikatakan orang orang itu gak salah, aku begini dan jadi seperti ini karena kamu, kamu yang sudah mengajarkan aku rasanya dicintai dan mencintai,bagaimana rasanya diperhatikan dan disayangi."
"gak mas itu semua bukan semata mata karena aku, tapi memang pada dasarnya dalam diri Mas Arya masih ada rasa peduli pada sesama."
"sudahlah jangan ngomong terus, mendingan sekarang mas Arya berangkat ke kantor, lihat ini sudah jam berapa?"
Akhirnya dengan penuh rasa malas bersiap pergi ke kantor juga.
Seperti biasa semua kebutuhannya sudah disiapkan oleh Raisya.
"ayo aku antar ke depan."
Raisya menarik tangan suaminya dan keluar dari kamar menuju depan rumah agar suaminya itu segera berangkat ke kantor karena pastinya banyak orang yang sudah menunggunya dikantor.
Dan pada akhirnya suaminya itu berangkat juga ke kantor.
Rumah jadi sepi karena mertua dan eyangnya sedang keluar mengajak si kecil bersama mereka.
"baru juga Raisya masuk ke dalam rumah setelah mengantar Arya ke depan, ponselnya berdering.
Raisya pun segera menerimanya.
"hallo "
"hallo selamat pagi dengan ibu Raisya Wijaya?"
"iya saya sendiri, maaf ini dari mana ya?"
"maaf ibu, kami dari rumah sakit xxx memberitahukan bahwa jadwal cek kandungan ibu Raisya di tunda nanti sore karena dokter sedang ada seminar pagi ini."
"ohh iya mbak terimakasih atas informasinya."
"sama sama ibu, sekali lagi kamu mohon maaf atas pergantian jadwalnya yang mendadak."
"iya mbak tidak apa apa. Untuk jadwal sorenya jam berapa ya kira kira?"
"untuk jam nya, ibu bisa datang jam 5 sore Bu.."
"baiklah kalau begitu, terimakasih atas informasinya."
"iya bu sama sama, selamat pagi."
"pagi."
__ADS_1
Raisya tersenyum seraya duduk di sofa ruang tengah.
Ia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.
"sayang, pasti kamu seneng kan jadwal periksanya di tunda? biar papa kamu bisa ikut bersama kita."
"kamu baik baik di dalam perut mama ya sayang, karena banyak sekali orang orang yang menunggu kehadiran kamu disini, ada mama, papa, Oma, opa, eyang, Tante, ada kakak Pelangi juga dan masih banyak lagi.Jadi kamu harus sehat terus ya sayang."
Raisya berbicara pada bayi yang ada dalam kandungannya dengan tangan nya yang masih mengelus perutnya.
"nanti mama akan kasih tahu papa, kalau jadwal periksanya ditunda nanti sore, pasti papa ikutan senang karena bisa nganterin kita."
"ehm mama akan coba kirim pesan ke papa kamu."
Raisya mengambil ponselnya kembali dan mengirim chat pada Arya sang suami yang kemungkinan masih ada diperjalanan ke kantor.
Raisya sedikit kecewa karena pesan yang dikirim ke Arya belum juga dibalas bahkan belum dibuka.
"papa belum balas chat mama sayang, mungkin papa masih dijalan.
Yasudah bagaimana kalau kita nyusul papa ke kantor saja daripada sendiri dirumah, kakak Pelangi juga lagi keluar sama Oma dan uyut..kita siap siap dulu ya."
Raisya berbicara sendiri, bukan sendiri sih, sebenarnya ia mengajak bicara bayinya yang masih ada dalam kandungannya.
Karena ia pernah baca di internet kalau ada sebagai ibu hamil kita harus sering sering mengajak bicara bayi yang ada dalam kandungan biarpun mungkin si bayi belum paham tapi setidaknya sudah ada ikatan batin antara ibu dan bayi bahkan sejak masih dalam kandungan.
Dan itulah yang sering ia lakukan dan Arya pada bayi dalam kandungannya.
Raisya ke kamar sebentar untuk mengambil tas nya kemudian kembali ke depan dan pamit pada art nya.
"bik, saya mau nyusul mas Arya ke kantor, jadi nanti kalau ada yang nyari atau mama dan Yang lain tanya bibik bilang saja begitu ya."
"iya mbak.."
"yasudah saya pergi dulu, assalamualaikum."
"waalaikumsalam hati hati mbak."
"iya bik."
Raisya pun pergi menyusul Arya ke kantor dengan diantar sopir.
Kebetulan tadi mertua dan eyangnya milih bawa mobil sendiri tanpa sopir, jadi Raisya bisa minta tolong sopir dirumah untuk mengantarkan nya ke kantor Arya.
Karena ia tidak bisa nyetir mobil sendiri.
Memang dari dulu ia selalu menolak jika diajari bawa mobil oleh Arya suaminya.
Jadi kemana mana mesti ada yang antar kalau tidak ya terpaksa naik tadi online.
Setengah jam perjalanan akhirnya Raisya sampai juga dikantor Wijaya Grup.
"mbak Raisya mau ditunggu apa gimana?"
tanya sopir ketika mereka sudah sampai di loby kantor.
"Bapak pulang saja, biar nanti saya pulangnya sama mas Arya."
"iya mbak."
"kalau begitu saya masuk dulu ya pak, terimakasih."
"sama sama."
Raisya pun segera turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor.
Ia langsung menuju lift dan masuk ke dalamnya yang sudah ada seseorang di dalamnya.
Raisya pun memencet tombol nomor 3 untuk menuju ke ruangan suaminya.
Didalam lift Raisya merapikan rambut dan sedikit make up nya agar ia tampak segar saat bertemu suaminya nanti.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk bisa sampai di lantai gedung itu.
Raisya pun segera keluar dari lift ketika pintu lift terbuka.
Dan sampai di lantai 3 Raisya bertemu dengan beberapa staf kantor dan mereka menyapanya dengan hormat.
"selamat pagi mbak Raisya bagaimana kabarnya?."
"pagi, Alhamdulillah baik, "
"oiya pasti mbak Raisya kemari untuk mencari...?"
"iya tapi jangan bilang bilang kalau saya ada disini, saya tahu kalau lagi ada meeting biar saya tunggu saja diruangan."
"iya mbak.. saya gak akan beritahu kalau mbak ada disini, kalau begitu saya kembali kerja dulu ya mbak."
"iya silakan."
Raisya pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan Arya, tapi sebelumnya ia merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, karena terdengar dering ponselnya.
Raisya tidak menyadari kalau sedari dia masuk ke dalam lift tadi ada seseorang yang memperhatikannya.
"wanita itu, cantik sekali, baru kali ini aku bertemu dengan wanita secantik dan se anggun dia." ucap laki laki yang sedari tadi memperhatikan.
Laki laki itu adalah Firman sahabat Arya beberapa tahun yang lalu.
Firman tidak tahu jika wanita yang sedari tadi ia perhatikan adalah Raisya, istri Arya.
__ADS_1