
Sampai di ruang kerjanya, Arya masih terlihat sangat emosi karena kehadiran Reva yang merusak harinya.
"mas, mas Arya tenang, jangan selalu terbawa emosi karena Reva." pinta Raisya seraya menenangkan emosi suaminya..
"Sya, apa kamu lupa, Reva yang sudah membuat kita kehilangan Arsya, kehilangan anak kita." ujar Arya sarat dengan amarah dan kebencian pada Reva.
"mas lihat aku.." Raisya menangkap wajah tampan suaminya dan menatap matanya dengan lekat.
"aku sama sekali tidak lupa dengan apa yang telah Reva lakukan pada Kita mas, tapi sekarang mas Arya pikirkan, apa dengan kita membenci Reva Arsya kita akan kembali pada kita? apa Arsya akan kembali dalam pelukan kita? tidak kan? jadi kalau bisa aku minta sama mas Arya jangan lagi membenci Reva, karena dengan membenci seseorang itu akan menjadi beban buat kita sendiri,"
Arya pun meraih tangan Raisya yang kini berada di wajahnya.
"entah dari apa Tuhan menciptakan hati kamu sayang, sehingga kamu terlalu mudah memaafkan orang orang yang jelas jelas sudah menyakiti kamu."
ucap Arya seraya mencium tangan Raisya.
"mas, kebencian akan selalu membunuh kita dengan caranya, tapi cinta tidak akan pernah mati.
itulah yang membedakan keduanya.
Apa yang diperoleh cinta selalu abadi.tapi sebaliknya apa yang di peroleh kebencian hanya akan menjadi beban hidup kita sendiri." sungguh apa yang Raisya katakan adalah benar, karena kebencian akan menjadi beban hidup kita sendiri, sedangkan dengan cinta kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
Arya pun memeluk sang istri dengan erat, Selama ini hanya Raisya yang bisa meredam emosinya, hanya wanita itu yang bisa menenangkan hatinya.
"terimakasih sayang, sudah menyadarkan aku dari ini semua, entah apa yang terjadi dengan ku jika tidak ada kamu di samping aku."
"aku merasa jadi laki laki paling beruntung di dunia ini karena aku memiliki kamu di hidupku,, kamu bukan hanya istri bagiku, kamu bukan hanya pendamping dalam hidup ku, melainkan kamulah hidupku, kamulah nafas ku, bagiamana mungkin aku bisa hidup tanpa kamu sayang." ucap Arya dengan lebih mengeratkan pelukannya pada Raisya.
"mas Arya salah, akulah yang sudah beruntung karena bisa menjadi istri kamu, bisa menjadi pendamping hidup kamu, kamu bukan hanya penyelamat hidup Nadia, tapi kamu adalah penyelamat hidup ku.
Dengan memiliki kamu dalam hidup ku, rasa nya aku sudah tak menginginkan apa apa lagi, karena memiliki kamu sudah lebih dari cukup buat aku." kini giliran Raisya yang berkata tulus dari dalam lubuk hatinya pada Arya.
Yang jelas disini, baik Arya maupun Raisya, keduanya sama sama beruntung karena bisa saling mencintai dan saling memiliki di dunia ini.
"baiklah, karena ini sudah siang, dan sebentar lagi mas Arya juga ada meeting dengan klien, jadi sudah saatnya aku pulang, gak enak sama mama kalau harus jagain Pelangi sendirian dirumah, karena Pelangi sedang di fase aktif aktifnya."
"yasudah sayang, kamu hati hati ya, kabari aku kalau kamu sudah sampai dirumah.,"
pesan Arya pada sang istri.
Kemudian seperti biasa, ia mencium pipi kanan dan kiri sang istri dan juga kening sang istri sebelum mereka berpisah.
Begitu juga Raisya, ia tak pernah lupa ritual wajibnya bersalaman dan mencium punggung tangan suaminya.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam,,,hati hati sayang."
Raisya pun keluar dari ruangan suaminya menuju lantai satu dengan menggunakan lift.
Sampai di lantai satu ia sudah ditunggu oleh sopir kantor yang ditugaskan Arya untuk mengantarkannya pulang kerumah.
"mau pulang sekarang Bu.." tanya laki laki paruh baya yang bekerja sebagai sopir kantor pada Raisya.
__ADS_1
"iya pak, kita pulang sekarang."
jawab Raisya dengan sopan, walaupun sekarang ia sudah menjadi istri konglomerat muda yang kaya raya, tapi ia selalu menghormati orang lain walaupun orang lain itu hanya pembantu ataupun sopir.
Itulah yang membedakan dia dengan yang lain.
Sopir pun segera mengantar Raisya ke mobil dan membukakan pintu mobil untuk istri dari atasannya itu, dan segera menjalankan tugasnya mengantarkan majikannya itu pulang kerumah.
30 menit perjalanan Raisya pun sudah sampai dirumah keluarga Wijaya
Ia disambut oleh Mertua dan putri kecilnya, Pelangi.
"assalamualaikum ma.."
"waalaikumsalam sayang, kamu sudah pulang,lihat sayang mama sudah pulang.." ucap ibu Lina pada Pelangi setelah menjawab salam dari Raisya.
Raisya pun tak lupa ritual cium tangan dengan mertuanya..kemudian mencium Pelangi yang sedang bermain dengan gemas.
"ma, Raisya ke kamar dulu ya, tadi mas Arya pesan minta diambilkan berkas berkasnya biar sekalian di titipkan ke sopir," pamit Raisya ke kamar untuk mengambil berkas milik suaminya.
iya sayang.".
Raisya pun segera pergi ke kamarnya dan mengambil berkas berkas yang dimaksudkan oleh Arya.
Ia pun tak lupa untuk menelepon suaminya sesampainya dirumah.
"assalamualaikum mas,,ini aku sudah sampai dirumah, dan ini aku mau ambil berkas berkas yang mas Arya minta."
"iya mas,,yasudah aku temui pak sopir dulu ya, kasian sudah nunggu lama.. assalamualaikum."
'iya sayang,, waalaikumsalam tolong sampaikan salam sayang ku pada putri kecil kita ya."
" iya mas,,"
Raisya pun kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan Arya dan segera menyerahkan berkas berkas itu pada pak sopir untuk diserahkan kembali pada Arya di kantor.
"pak ini berkas berkasnya, tadi suami saya ber pesan , sampai di kantor bapak langsung saja ke ruangan suami saya dan serahkan ini pada suami saya langsung." ucap Raisya pada sopir kantor suaminya yang tadi mengantarnya pulang kerumah.
"baik Bu, kalau begitu saya permisi kembali ke kantor, " pamit si sopir pada Raisya.
"iya hati hati pak."
"iya buk permisi."
Setelah itu Raisya kembali kedalam bergabung bersama anak dan mertuanya.
"sayang kamu lagi main apa sih, kayak nya seneng banget." tanya Raisya saat menghampiri Pelangi.
Melihat mamanya datang, Pelangi pun langsung meninggalkan mainannya dan merangkak ke arah Raisya, sang mama.
"sayang..." Raisya pun meraih Pelangi dan membawanya ke atas pangkuannya.
"gimana acaranya semalam Sya?" tanya sang ibu mertua.
__ADS_1
Raisya merasa tidak anak hati menjawab jujur apa yang dia lakukan bersama Arya semalam.
"ehm..."
"Iya kemarin Arya bilang kalau kamu lagi pengen martabak manis yang ada di ujung jalan kantor kita..dan ternyata penjual nya sudah pulang karena sudah habis, jadi kalian pergi kerumahnya untuk minta dibuatkan lagi,,hingga larut malam.
Kemudian Arya telepon kalau kalian mau nginap di Raisya hotel karena yang lebih dekat dengan rumah penjual martabak manisnya." jelas ibu Lina,
Hal itu membuat Raisya lega, karena suaminya itu tak berkata ya g sebenarnya pada mamanya alasan sebenarnya mereka keluar semalam dan tidak pulang.
Seandainya laki laki itu berkata ya g sesungguhnya tentunya ia akan merasa sangat malu di depan ibu mertuanya.
"bagiamana kamu sudah dapatkan apa yang kamu mau kan sayang?" tanya ibu Lina memastikan kalau ngidamnya sang menantu kesampaian.
Raisya pun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.
Ia merasa sangat berdosa sudah ikut ikutan suaminya membohongi ibu mertuanya.
"maafin Raisya ya ma, karena Raisya sudah banyak merepotkan mama, jadinya mama yang harus menjaga Pelangi selama Raisya dan mas Arya pergi "
Raisya merasa tak enak hati karena sudah merepotkan ibu mertuanya untuk menjaga Pelangi semalaman.
"kamu ini ngomong apa sih Sya, kamu ini anak mama, dan Pelangi juga cucu mama, jadi mama gak merasa direpotkan. malahan mama seneng bisa semalaman tidur sama Pelangi, lagipula dianya gak rewel juga. dia anteng. iya kan sayang, Pelangi seneng kan dirumah sama Oma ya sayang ya.."
mendengar ucapan Omanya, Pelangi membalasnya dengan senyuman manisnya dengan menunjukkan dua giginya bagian depan yang baru tumbuh.
kelihatan sangat lucu seperti gigi kelinci.
"kamu lihat sendiri kan, Pelangi seneng sekali tidur sama Omanya." ucap ibu Lina.
"oiya kamu sudah makan belum Sya? kalau belum kamu makan dulu jangan sampai telat makan karena jika kamu telat makan akan berpengaruh juga pada bayi yang ada dalam kandungan kamu."
"sudah ma, tadi makan di hotel bersama mas Arya." jawab Raisya.
"terus tadi Arya langsung pergi ke kantor?" tanya ibu Lina.
"iya ma, mas Arya dari hotel langsung ke kantor karena pagi ini ada meeting, dan kebetulan juga pak Leo sedang ada urusan mempersiapkan pernikahan nya dengan Bella, jadi harus mas Arya sendiri yang menghadiri meetingnya." terang Raisya pada ibu mertuanya.
"ow begitu, ngomong ngomong sud.ah sampai mana persiapan pernikahan Leo dan Bella.?"
"Raisya juga kurang tahu, kemarin sih Bella sempat bilang kalau mereka sudah fitting baju pengantin juga, gak tau hari ini jadwalnya apa."
"semoga Bella dan Leo nantinya bisa mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang kamu dan Arya rasakan selama ini ya sayang, apalagi Bella yang sudah tak punya siapa siapa lagi di dunia ini selain kita..
Jadi dengan Bella menikah dengan Leo, Bella akan mendapatkan kebahagiaannya dan mama yakin mamanya Leo juga akan memperlakukannya di dengan baik dan menganggap Bella bukan hanya sekedar menantu tapi juga seperti anak kandungnya sendiri, seperti mama yang menganggap kamu seperti anak mama sendiri."
Memang benar apa yang dikatakan oleh ibu Lina, Bella sudah saatnya bahagia bersama pasangan hidupnya, dan ibu Lina juga yakin kalau Leo adalah orang yang tepat untuk Bella.
Leo orang yang baik dan tidak neko-neko, ibu Lina sangat tahu itu, karena beliau mengenal Leo sudah cukup lama dan ibu Lina juga yakin, Leo bisa membahagiakan Bella.
...****************...
to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉
__ADS_1