Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
Episode 70*


__ADS_3

Ibu Ari terlihat menangis sendiri di pantry kantor setelah beberapa saat yang lalu membersihkan ruang kerja Arya, ruang kerja puteranya sendiri.


Ia merasa sangat sedih ketika beberapa waktu yang lalu mendengar secara langsung kalau putera semata wayangnya yaitu Arya Wijaya tak enggan bertemu dengannya bahkan hanya dengan melihat fotonya pun tak mau.


Mungkin ini memang salahnya yang sudah tega menelantarkan anaknya dan meninggalkannya di panti asuhan waktu itu.


Tapi lagi lagi ia tak bermaksud begitu, ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


Dan terbukti sekarang, Arya menjadi sosok seorang pemimpin perusahaan yang namanya sudah sangat dikenal oleh jajaran pebisnis di Indonesia bahkan sampai diluar negeri.


Pasti keluarga Wijaya mengurusnya dengan baik, sehingga Arya bisa menjadi seperti sekarang ini.


"permisi,,"


Tiba tiba saja ada seseorang yang datang mengagetkan ibu Ari yang sedang duduk sendiri di pantry.


Dan lebih kagetnya lagi yang datang adalah Raisya, istri Arya, yang berarti menantunya sendiri.


"ibu Ari,, Anda ibu Ari kan, yang beberapa waktu lalu ketemu di panti asuhan.?" tanya Raisya ketika bertemu dengan ibu Ari di pantry kantor.


"ibu Raisya kan? istrinya pak Arya?" kini gantian ibu Ari yang bertanya pada Raisya.


"iya buk, ibu kenapa sendirian disini?"


" hemm tidak apa apa buk, tadi saya baru saja selesai mengantarkan minuman untuk karyawan yang lain. Bu Raisya ada apa kesini ? ibu sendirian?" tanya ibu Ari ketika melihat Raisya datang sendiri ke pantry.


"ini buk, saya mau membuatkan kopi untuk mas Arya."


"kenapa repot repot Bu, ibu kan bisa panggil saya atau yang lain..gak harus ibu sendiri yang membuat kopi untuk pak Arya..biar saya saja yang buat buk, ibu silakan tunggu di ruangan pak Arya."


"enggak apa apa buk..kalau ada saya, mas Arya gak mau dibuatkan minum sama yang lainnya. jadi biar saya saja yang buat, ibu istirahat saja." tolak Raisya dengan sopan.


Ibu Ari hanya tersenyum mendengar ucapan Raisya.


Ia merasa ikut bahagia bila rumah tangga puteranya bahagia, terlihat sekali Arya sangat mencintai istrinya,.


Raisya mulai meracik kopi untuk suaminya dengan tangannya yang sudah hafal dengan selera sang suami.


Sementara ibu Ari hanya bisa melihatnya.


"loh gak pakai gula Bu?" tanya ibu Ari ketika Raisya hanya menambahkan kopi pada cangkir.


"gak Bu, mas Arya sukanya kopi pahit,, dan airnya harus baru di rebus, mas Arya gak suka air dari termos." jelas Raisya seraya menyalakan kompor untuk merebus air.


"tapi biasanya saya buat pakai gula buk, dan pak Arya diam saja."


"iya buk, memang mas Arya orangnya begitu, dia gak mau mengecewakan orang lain."


"ibu,,ibu Ari habis nangis ya?" tanya Raisya ketika melihat jelas wajah ibu Ari memerah dan matanya sedikit sembab.

__ADS_1


Mendengar ucapan Raisya, ibu Ari segera memalingkan wajahnya dan menghapus bekas air mata di wajahnya.


"ibu kenapa?" tanya Raisya peduli.


"saya gak apa apa Bu mungkin ini tadi kena debu," jawab ibu Ari berbohong.


"Bu, kalau ibu ada apa apa cerita saja sama saya gak apa apa. saya akan dengan senang hati mendengarnya, itupun kalau ibu percaya sama saya." ujar Raisya sambil menyeduh kopi untuk suaminya dan mengaduknya perlahan namun dengan tetap peduli pada ibu Ari.


"sebenarnya ada apa Bu?" Raisya mencoba bertanya kembali ketika melihat ekspresi ibu Ari yang terlihat ingin berbagi cerita dengannya.


Namun baru saja ibu Ari mau bercerita, sekretaris Arya, yaitu Velicia tiba tiba saja datang.


"eh mbak Raisya ada disini juga? apa kabar mbak?' tanya Velicia dengan ramah pada Raisya.


"Alhamdulillah Vel..kamu sendiri?"


"Alhamdulillah baik mbak..mbak disini sedang apa?"


"ini lagi buatin kopi untuk mas Arya, oiya kalau kamu tidak keberatan bisa bantu saya untuk mengantarkan kopi ke mas Arya?." kali ini Raisya minta tolong Velicia untuk mengantar kopi ke tempat Arya, agar ia bisa meneruskan bicara dengan ibu Ari.


"iya mbak, tentu saja, saya juga akan ke ruangan pak Arya untuk meminta tanda tangan beliau."


Raisya pun memberikan secangkir kopi kepada Velicia untuk diberikan kepada Arya.


Sementara ia masih ingin berbincang bincang dengan ibu Ari.


Tadinya ia hanya lewat, namun ketika melihat ada istri bosnya, jadi ia mampir sebentar untuk sekedar menyapa.


"iya makasih ya Vel.."


"sama sama mbak."


Stelah Velicia pergi meninggalkan pantry, Raisya pun mengajak Ibu Ari untuk pindah ke kantin, agar tak ada lagi yang mengganggu obrolan mereka.


"Bu, bagaimana kalau kita bicaranya di kantin saja, agar ibu bisa leluasa dan bebas untuk bercerita."


"iya Bu." ibu Ari pun menurut ketika diajak Raisya pindah ke kantin.


......................


Sesampainya di kantin, Raisya memesan minuman untuk dirinya dan juga ibu Ari, tak lupa dengan menu sarapan karena pasti ibu Ari belum sarapan pagi ini.


"ibu mau minum/ makan apa ? silakan dipesan jangan sungkan sungkan." ujar Raisya.


"mbak mbak..pinjam buku menunya ya." panggil Raisya pada salah satu pegawai kantin tersebut.


"iya mbak..sebentar.." jawab pegawai kantin,, dan dengan segera pegawai itu datang dengan membawa buku menu.


"eh mbak Raisya ternyata, apa kabar mbak?" tanya pegawai kantin ketika tahu siapa yang ada di depannya

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah baik mbak, lama ya kita gak ketemu, aku pikir mbak lupa." ujar pegawai kantin yang diketahui bernama Wati.


"ya nggak lah, masak lupa, dulu kan sering ketemu dan makan disini." jawab Raisya.


"ya itu kan dulu, waktu mbak Raisya masih jadi sekretaris pak Arya, tapi sekarang kan mbak sudah jadi istrinya pak Arya, jadi ya wajar lah kalau lupa sama orang kecil kaya aku."


"kamu ini bisa saja, aku ini masih sama seperti dulu, masih makan nasi juga, gak ada bedanya sama yang dulu." canda Raisya.


"ah mbak bisa saja, oh iya, aku sampai lupa, aku turut bersuka cita ya mbak atas meninggalnya putra mbak dan Pak Arya, maaf waktu itu gak bisa kesana, lagipula akses ke rumah keluarga Wijaya sangat ketat jadi aku dan lain tak bisa kesana,"


"terimakasih ya atas perhatiannya, ya memang waktu itu, mas Arya ingin aku tenang dulu, dan pada akhirnya mas Arya juga mengadakan konferensi pers untuk hal itu."


"mbak Raisya yang sabar ya,,, oiya dengar dengar mbak sudah hamil lagi ya,,? " tanya Wati dan dijawab dengan senyum dan anggukan oleh Raisya.


"selamat ya mbak, semoga kali ini, semuanya lancar dan mbak beserta bayinya sehat terus sampai persalinan."


"Aamiin , terimakasih atas doanya ya..oiya menu spesial yang ada disini sekarang apa? lama aku gak makan disini jadi kangen masakannya." ujar Raisya mengalihkan pembicaraan karena disana ada ibu Ari yang sedang menunggu ingin bercerita.


Wati pun memberitahu menu spesial di kantin pada Raisya dan Raisya pun tak lupa mengenalkan ibu Ari pada Wati.


"oiya, kenalkan ini ibu Ari, karyawan baru mas Arya, " tentu saja Raisya tak menyebutkan bahwa ibu Ari adalah cleaning servis di kantor suaminya, tapi hanya dengan melihat seragam yang dipakainya saja, Wati tentu sudah hafal ada di bagian apa ibu Ari ini.


"Bu, ini Wati sahabat saya, waktu saya masih baru bekerja di kantor ini dulu."


Ibu Ari dan Wati saling berkenalan satu dengan yang lain.


"oiya Bu, Wati ini juga tinggal di mess karyawan yang sama dengan ibu, jadi nanti ibu bisa barengan sama Wati,"


"iya Bu, kalau ibu butuh sesuatu atau butuh bantuan bilang saja ke saya." ujar Wati pada ibu Ari.


"terimakasih mbak,,mbak dan ibu Raisya sudah sangat baik sama saya." tak lupa Bu Ari pun mengucapkan terimakasih pada Raisya dan Wati yang sudah begitu baik dan peduli padanya.


"gak apa apa Bu,, disini kita itu keluarga, jadi jangan sungkan kalau ada apa apa.


Yasudah kalau begitu aku akan siapkan pesanan Mbak Raisya dan juga ibu Ari, kalau ada tambahan lagi, panggil saja."


Wati pun segera pergi dari meja Raisya dan ibu Ari untuk menyiapkan menu yang dipesan mereka berdua.


Setelah hanya berdua saja, kini Raisya yang mulai bertanya lagi pada ibu Ari tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu Ari terlihat sedih sekali.


"buk, sekarang ibu bisa cerita apa saja sama saya disini, saya akan dengan senang hati mendengarkan." ujar Raisya.


"begini mbak, sebenarnya saya, saya sangat merindukan anak saya."


...****************...


to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉

__ADS_1


__ADS_2