
"Sebenarnya mas Arya dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang model terkenal, sampai pada akhirnya mereka putus karena suatu hal, dan akhirnya kami bertemu."
"maaf mbak apa wanita yang mbak Raisya maksud itu wanita yang kemarin sempat berdebat dengan pak Arya di depan lift, maaf kalau saya tidak sengaja mendengarnya."
Mendengar ucapan ibu Ari Raisya terhenyak kaget, ia tak menyangka jika Bu Ari bisa berpikiran jika Reva adalah mantan calon tunangan Arya beberapa tahun yang lalu.
"maksud ibu, Reva?" tanya Raisya kembali.
"iya mbak, maaf kemarin saya sempat melihat bersitegang ya pak Arya dengan wanita itu."
Raisya menarik napas panjang sebelum menjelaskan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"iya Bu, ibu benar. Wanita yang ibu lihat beberapa hari yang lalu itu memang dulunya pernah menjalin hubungan khusus dengan mas Arya, kemudian karena suatu hal hubungan mereka berakhir dan itu jauh sebelum saya dan mas Arya bertemu."
"tapi kenapa wanita itu terlihat tidak menyukai mbak Raisya?"
"jujur memang Reva sangat membenci saya, karena ia berpikir bahwa saya sudah mengambil posisinya sebagai pasangan mas Arya, bahkan Reva sudah berulang kali mencoba mencelakai saya. Alhamdulillah Tuhan masih berbaik hati pada saya."
"sampai sebegitunya mbak?"
Raisya mengangguk,
"iya Bu, saya sendiri sudah berusaha memaafkan semua perbuatannya pada saya, tapi mas Arya, dia menjadi sangat murka pada Reva."
"wajarlah mbak kalau pak Arya murka, wanita itu sudah berbuat tidak baik sama mbak Raisya. Pasti setiap suami akan melakukan apa yang dilakukan pak Arya. Benar benar gak bisa dimaafkan wanita itu mbak.Saya saja yang tak tahu apa apa ikut geram apalagi pak Arya.Tapi kenapa mbak Raisya begitu mudahnya memaafkan wanita itu mbak, padahal dia sudah begitu jahat sama mbak Raisya."
Raisya tersenyum menanggapi ucapan ibu Ari.
"Tuhan saja maha pemaaf, masa kita hambanya gak bisa memaafkan Bu.
Menurut saya menyimpan dendam hanya akan menambah masalah saja, jadi biarlah terserah mereka mau berbuat apa sama kita."
Ibu Ari merasa sangat bersyukur karena putranya mendapatkan pendamping hidup seperti Raisya.
Menantunya itu sungguh berhati mulia, bahkan para pegawai kantor saja sangat menghormati dan menyanjung Wanita yang kini menjadi istri putranya itu.
"terbuat dari apa sih hati mbak Raisya itu, kok bisa sesabar itu menghadapi orang orang yang sudah jahat sama mbak."
Lagi lagi Raisya menanggapi ucapan ibu Ari dengan senyuman.
"saya sama seperti perempuan yang lain pada umumnya yang ingin hidup damai dan bahagia bersama keluarga saya, itu saja sudah cukup."
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dan tak lama muncul wanita paruh baya beserta wanita tua.
"assalamualaikum."
"waalaikumsalam, mama, eyang..silakan masuk."
Raisya mempersilakan kedua wanita penting dalam hidupnya, yaitu ibu mertua dan juga eyang nya untuk masuk.
Melihat ada keluarga yang datang, ibu Ari pun pindah dari tempatnya yang sebelumnya berada di samping Raisya untuk memberi ruang keluarganya dekat dengan Raisya.
"bagaimana keadaan kamu sayang? eyang khawatir sekali mendengar kabar dari mama kamu kalau kamu kena musibah?" tanya eyangnya penuh perhatian.
Sebelumnya Raisya melakukan ritual bersalaman dan cium tangan dengan eyang dan juga ibu mertuanya.
"Raisya sudah gak apa apa eyang, kapan eyang datang?" tanya Raisya kembali.
"siang tadi Sya, eyang minta tolong sopir buat ngantarin eyang ke Jakarta. Eyang Kakung juga ada disini tapi masih diluar sama suami kamu."
Melihat posisi ibu Ari tersisih karena kedatangan mertua dan eyangnya, Raisya pun segera memperkenalkan mereka agar tidak canggung dan tidak merasa asing.
"mama, eyang, perkenalkan ini ibu Ari, ibu Ari ini karyawan baru di kantor mas Arya.
Bu Ari, perkenalkan ini mama Lina, mamanya mas Arya, dan ini eyang Warti, eyangnya mas Arya ibunya mama Lina."
__ADS_1
Ibu Ari dan juga ibu Lina seta eyang saling berkenalan dan berjabat tangan.
"ibu ini baru kerja dikantor anak saya ya, pantesan saya belum pernah melihat ibu sebelumnya.Padahal saya sering sekali mampir ke kantor.Tapi memang akhir akhir ini saya jarang karena jagain cucu dirumah maklum cucu masih 1 jadi keasikan main dirumah." canda mama Lina.
"iya Bu..saya baru satu Minggu bekerja, tapi pak Arya dan mbak Raisya sudah begitu baik sama saya, saya diberi ijin untuk tinggal di mess karyawan padahal saya masih baru."
"gak apa apa Bu, memang itu sudah menjadi hal ibu sebagai keluarga besar perusahaan.Oiya ibu ini asalnya dari mana? dari Jakarta atau dari luar kota?"
"saya dari Surabaya Bu, saya datang ke Jakarta untuk merantau."
"ma, ibu Ari ini teman lamanya ibu panti, jadi kemarin sebelum tinggal di mess karyawan ibu Ari tinggal di panti asuhan.
Karena jarak panti ke kantor lumayan jauh jadi mas Arya meminta ibu Ari untuk tinggal di mess karyawan saja biar tidak terlalu capek pulang kerja langsung bisa istirahat." Raisya menjelaskan pada ibu Lina dan juga eyangnya.
"terus keluarga ibu dimana? tinggal di Surabaya semua.?"
"saya,,saya sudah tidak punya siapa siapa lagi Bu, saya hidup sebatang kara, makanya saya pindah ke Jakarta rencananya untuk membantu mengurus anak anak di panti tapi ternyata saya malah dapat pekerjaan di kantor pak Arya." jelas Bu Ari.
Beberapa saat mereka berbincang mengenai ibu Ari dan kehidupannya.
Setelah itu baru ngobrol soal keluarga Wijaya terutama menantu kesayangan mereka yaitu Raisya.
"oiya Saya tadi mama masakin kamu sup ayam kesukaan kamu, kamu makan ya sayang?" ibu Lina menawarkan sup ayam pada menantu nya.
Tapi karena Raisya baru saja makan siomay yang dibawakan ibu Ari jadi dengan terpaksa ia menolaknya.
"nanti saja ma, Raisya masih kenyang, karena baru makan siomay yang dibawakan ibu Ari,
tadi tiba tiba saja Raisya pengin makan siomay yang ada di dekat kantor terus mas Arya minta tolong ibu Ari untuk membelikan dan mengantarnya kemari." tolak Raisya dengan halus dan sopan.
"yasudah gak apa apa, tapi nanti kamu makan ya?"
"iya ma, terimakasih mama sudah repot repot masakin Raisya sup ayam."
"kamu ini ngomong apa sih sayang, mama gak merasa direpotkan, mama malahan senang sekali bisa membuatkan sesuatu buat kamu."
Ibu Ari tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga Wijaya.
Mereka baik pada semua orang, walaupun mereka dari golongan menengah atas tapi mereka menghormati orang lain tanpa memandang status ekonominya.
"ibu Ari kaget ya melihat keluarga kami? " tanya ibu Lina seraya tersenyum pada ibu Ari yang melihat kebahagiaan keluarganya.
"saya ikut senang Bu, melihat keluarga ibu seharmonis ini, melihat ibu dan keluarga menyayangi menantu ibu seperti anak sendiri."
Mendengar ucapan ibu Ari, ibu Lina tersenyum kemudian duduk di samping Raisya dan memeluk menantu kesayangannya itu.
"Bu, Raisya ini bukan sekedar menantu bagi keluarga kamu, dia ini sudah seperti malaikat bagi keluarga kami,sejak kehadirannya keluarga kami berubah 180° semakin bahagia,"
"ma..."
"sudah sayang, kamu jangan protes memang itulah kenyataannya, karena kamu keluarga kita dilimpahi kebahagiaan yang sempurna.
Lagi lagi ibu Lina memeluk erat menantu kesayangannya.
"dan perlu ibu Ari tahu, hanya Raisya yang bisa meluluhkan dinginnya hati putra kamu Arya, sebelum mengenal Raisya, Arya itu orangnya dingin dan kaku pada semua orang dan tak peduli dengan orang di sekitarnya tapi setelah mengenalnya Raisya dia berubah menjadi pribadi yang hangat dan penuh perhatian pada semua orang, bahkan ibu yang baru saja mengenalnya sudah bisa merasakannya bukan?"
"kenapa semua jadi pada ngomongin aku..?" tiba tiba saja Arya muncul bersama eyang kakungnya.
Ia pun sudah tak punya tempat lagi untuk berada disamping istrinya.
"memang kenapa kalau ngomongin kamu, yang kita omongin kan fakta, ya gak Bu?" ibu Lina menjawab ucapan Arya kemudian bertanya pada ibu Ari.
Disisi lain pak Jaya, eyang Kakung nya berjalan mendekati cucu menantunya yang sedang berada di ranjang pesakitan.
"apa kabarnya kamu nak,?"
"baik eyang, eyang sendiri bagaimana?"
__ADS_1
Sekali lagi Raisya tak lupa bersalaman dan mencium tangan eyang Kakungnya yang kini berada di samping ranjangnya.
"eyang akan selalu baik baik saja kalau cucu menantu eyang ini juga baik baik saja."
Arya pun yang merasa tempatnya sudah diambil alih oleh eyang dan juga mamanya memilih duduk di sofa bersama ibu Ari.
"lihat Bu, kalau ada mereka saya yang jadi suaminya Raisya jadi tersisih, entah yang anak nya itu saya atau Raisya karena saya merasa mereka semua lebih menyayangi Raisya daripada saya?" Arya pura pura mengadu dan mengeluh pada ibu Ari sehingga karena ucapannya itu ia mendapatkan tatapan tajam dari mama dan juga kedua eyangnya.
"ARYA..." ucap ibu Lina.
"iya ma,,bercanda."
Seisi ruangan itu jadi tertawa karena tingkah konyol Arya yang cemburu pada istrinya sendiri karena merasa keluarganya lebih menyayangi istrinya daripada dirinya.
Tak berselang lama ada dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Raisya.
"selamat sore semuanya,"
"selamat sore dokter silakan masuk."
"terimakasih pak Arya,ibu, pak Jaya dan Bu Jaya." dokter pun menyapa seluruh anggota keluarga Wijaya dengan penuh hormat dan sopan.
Karena selain Raisya adalah pasien VVIP, Raisya juga menantu keluarga Wijaya yang merupakan pemilik rumah sakit ini.
"Kami kemari untuk memantau sekaligus memeriksa kondisi ibu Raisya."
"iya dokter silakan." Arya mempersilakan dokter dan perawat untu melakukan pemeriksaan kepada istrinya, Raisya.
Dokter pun berjalan mendekat ke ranjang pesakitan Raisya dan meminta ijin pada pasien untuk melakukan pemeriksaan.
"apa kabar ibu Raisya, bagaimana kondisi ibu sore ini, apa yang ibu rasakan atau keluhkan?"
tanya sang dokter pada Raisya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik dokter, dan bila di ijinkan saya ingin pulang kerumah." jawab Raisya.
Dokter itupun tersenyum mendengar permintaan Raisya.
"baiklah Bu, kalau begitu saya akan periksa kondisi ibu dahulu, kalau kondisi ibu benar benar sudah membaik tentu saja ibu boleh pulang, tapi tidak hari ini karena ini sudah menjelang malam, jadi Jika hasil pemeriksaan semuanya baik besok ibu sudah bisa keluar dari rumah sakit."
jelas sang dokter sebelum melakukan pemeriksaan kepada Raisya.
Disaat Raisya menjalani pemerintah oleh dokter tak Ketinggalan Arya juga mendampingi di samping sang istri yang juga bersama keluarganya.
"bagaimana kondisi istri saya dokter? apa semua baik baik saja?" tanya Arya langsung pada dokter yang terlihat sudah selesai melakukan pemeriksaan pada Raisya.
"Alhamdulillah pak, kondisi ibu semua sudah baik baik saja dan kalau sampai besok pagi kondisinya tetap seperti ini besok pagi juga ibu bisa keluar dari rumah sakit." jelas sang dokter.
"Alhamdulilah sayang, kamu sudah baik baik saja, kamu bisa kembali ke rumah besok." ucap Arya pada Raisya.
"tapi perlu di ingat, ibu Raisya sementara harus bedrest untuk beberapa hari ke depan agar kondisinya benar benar pulih."
"baik dokter, terimakasih atas semuanya yang dokter lakukan pada istri saya."
"sama sama pak ini sudah tugas kami sebagai tim medis."
"Arya coba nanti kamu bicara dengan kepala rumah sakit untuk memberikan bonus kepada dokter beserta tim medis yang sudah membantu merawat istri kamu." pinta eyang Jaya pada Arya.
"iya eyang." jawab Arya.
Ya sebagai pemilik tunggal rumah sakit ini, Arya punya hak untuk memberikan apapun pada dokter, perawat, atau pun staf rumah sakit yang lain.
"kami rasa itu tidak perlu pak, ini sudah menjadi tugas dan kewajiban kami menolong dan merawat pasien, apalagi ibu Raisya salah satu anggota keluarga Wijaya pemilik rumah sakit ini."
"tidak apa apa dokter, ini hanyalah sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukur kami atas kesembuhan istri saya."
"kalau begitu terimakasih pak, Bu kamu permisi dulu."
__ADS_1
...****************...
to be continued ✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️👉👉👉