
Setelah penerbangan kurang lebih satu jam,,akhirnya Arya dan Raisya mendarat dan tiba di Jakarta kembali dengan selamat.
"oiya mas,,mas sudah telepon sopir buat jemput kita..?" tanya Raisya pada pria yang berjalan beriringan dengannya saat menginjakan kakinya di jakarta.
"sudah sayang,,kita sudah di tunggu di parkiran..ayok.." jawab Arya sambil menggandeng sang istri berjalan menuju parkiran bandara.
Perjalanan dari bandara ke rumah memakan waktu sekitar 45 menit.
Saat ini Raisya hanya ingin segera bertemu dengan buah hatinya..rasanya sudah lama sekali tak bertemu dengan malaikat kecilnya itu..padahal baru juga 2 hari ini mereka berpisah..dan disamping itu ia dan buah hatinya selalu melakukan video call saat mereka berjauhan.
"aku sudah gak sabar mas pingin ketemu sama Pelangi aku kangen banget sama dia mas..semoga saja dia belum tidur ya.."
"sayang aku ngerti kamu kangen banget sama pelangi,,aku pun sama..tapi ini sudah malam..lihat sudah hampir jam 9 malam.." ucap Arya sambil melihat arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"pastinya dia sudah tidur sayang..kan gak bagus juga kalau balita tidurnya larut malam.."
Arya meraih sang istri yang duduk di sampingnya ke dalam pelukannya..mencium kening sang istri.
"oiya maaf mas mbak..kita mau ke rumah sakit atau pulang kerumah dulu..?" tanya sopir tiba tiba dan sekaligus membuat Arya dan Raisya yang duduk di bangku belakang kaget.
"kerumah sakit..? memang siapa yang sakit pak..?" tanya Arya kembali.
"apa mas/ mbak tidak di beri tahu kalau non Pelangi masuk rumah sakit..?" ucapan sopir kali ini mengagetkan Arya dan Raisya.
Mendengar ucapan sopir barusan Raisya sudah tak bisa membendung air matanya..ia sangat takut kalau terjadi apa apa dengan putri kecilnya.
"Pelangi mas..."
"kamu tenang dulu sayang..Pelangi di bawa kerumah sakit pak..?? memang kenapa..?"
"tadi non Pelangi demam dan muntah muntah terus sama ibuk di bawa ke rumah sakit.."
"yasudah pak kita langsung kerumah sakit sekarang.."
"baik mas.."
"sayang kamu tenang dulu ya..pasti Pelangi tak apa apa..aku mau coba telepon mama dulu.." Arya mengambil ponselnya yang belum sempat dia aktifkan semenjak masuk dalam pesawat tadi.
Dan ketika di aktifkan..banyak notiv masuk..dari mama dan papanya begitu juga Bella..ia menelpon berkali kali dan mengirim pesan.
"banyak telepon dan pesan masuk sayang..dari orang rumah..kasih tahu kalau Pelangi masuk rumah sakit..biar aku telpon mama dulu ya."
Arya segera menelepon mamanya dan pada dering ke 3 sang mama sudah menjawab panggilannya.
"Assalamualaikum ma...tadi Arya dan Raisya dapat kabar dari sopir katanya Pelangi masuk rumah sakit ma..gimana keadaannya sekarang.. Pelangi baik baik saja kan..?? ...
"ini Arya sama Raisya masih di jalan ma,,kami akan segera kesana,, "
"ya ma nitip Pelangi..Assalamualaikum..."
"gimana Pelangi mas.." tanya Raisya penasaran ketika melihat Arya sudah mengakhiri sambungan teleponnya.
"kamu tenang sayang..Pelangi gak apa apa..dia cuma demam biasa aja kok..kamu jangan khawatir ya..sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.." Arya memeluk sang istri yang sedari tadi menangis untuk menenangkannya.
30 menit kemudian mereka pun telah sampai dirumah sakit tempat Pelangi dirawat.
Arya dan Raisya langsung ke bagian resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Pelangi.
"selamat malam mbak.."
"selamat malam pak buk apa bapak dan ibu ingin menemui Pelangi.? tanya pegawai RS saat tahu ada Arya dan Raisya selaku keluarga pemilik RS itu.
"iya..di kamar berapa putri saya
"putri bapak,, Pelangi Putri Wijaya usia 10 bln..dirawat di kamar vvip no.001.." ucap pegawai RS itu..dan selanjutnya Arya dan Raisya bergegas menuju ke sana.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka sudah ada di depan kamar vvip.001..& mereka pun langsung masuk..di dalam ternyata sudah ada bapak dan ibu Wijaya,,ibu Widya dan juga Bella yang menemani Pelangi.
"Assalamualaikum.." kompak Arya dan Raisya mengucap salam.
"waalaikumsalam..kalian sudah datang..??" ucap ibu Lina.
"iya ma,,bagaimana kondisi Pelangi ma,,??" tanya Raisya pada ibu mertuanya..seraya ia mendekati putri kecilnya yang terbaring diatas ranjang pesakitan dengan mata terpejam dan selang infus di tangannya..Raisya perlahan duduk di kursi samping ranjang..Raisya memegang tangan mungil Pelangi..sebagai seorang ibu ia tak tega melihat putri kecilnya terbaring lemah tak berdaya..dia sangat takut kejadian beberapa bulan yang lalu saat ia harus kehilangan putra kesayangannya, Arsya.
Raisya menciumi tangan putri kecilnya dengan perlahan disertai air mata yang terus mengalir di wajah cantiknya.
Melihat hal itu Arya merasa tak tega..ia pun mendekati sang istri dan memeluknya.
"sudah sayang,,tidak akan terjadi apa apa dengan putri kecil kita.." ucapnya seraya mengecup kening Raisya dengan lembut.
Semalaman Raisya duduk di samping putri kecilnya..seakan ia tak mau meninggalkan Pelangi sedetik pun.
Semua orang juga masih berkumpul disana untuk menemani anggota keluarga terkecil mereka yang sedang terbaring sakit.
"Arya.." ibu Lina memanggil putranya yang sedari tadi berdiri di samping Raisya..mendengar panggilan mamanya Arya pun segera berjalan mendekat.
"iya ma.."
"duduklah disini..dari tadi kamu berdiri saja disana.." Arya menurut kata kata mamanya dengan duduk di sebelahnya.
"apa kamu dan Raisya sudah makan ..?" Arya menggeleng pelan menjawab pertanyaan sang mama.
"sekarang ajak istri kamu untuk pergi makan..mama gak mau kalian ikutan sakit karena telat makan.."
Arya pun mengangguk dan bangkit dari duduknya berjalan menuju tempat sang istri.
"sayang..kita cari makan dulu..dari tadi siang kamu belum makan..nanti kamu sakit.." ucap Arya perlahan pada sang istri.
"aku gak lapar mas,,mas saja yang makan..aku mau disini bersama Pelangi.." tolak Raisya,,ia tak ingin jauh jauh dari putri kecilnya itu.
"sayang tapi kamu harus makan..nanti kamu bisa sakit,,kalau kamu sakit siapa yang ngurus Pelangi.." Arya terus mencoba membujuk sang istri agar mau makan.
"ayo Sya..." ajak Arya pada Raisya untuk pergi membeli makanan di kantin Rumah sakit.
Dan pada akhirnya Raisya mengikuti ajakan sang suami untuk pergi makan.
"buk..kami nitip Pelangi sebentar ya.." pamit Arya sebelum meninggalkan kamar rawat Pelangi.
Ibu Widya pun mengangguk..dan duduk menggantikan posisi Raisya di samping ranjang pesakitan pelangi.
Kini Raisya dan Arya sampai juga di kantin rumah sakit yang memang buka 24 jam.
"kamu mau makan apa sayang..??" tanya Arya pada istrinya yang kini duduk di salah satu meja kursi yang ada di sana.
"apa saja mas.." jawabnya singkat..akhirnya Arya memanggil pelayan untuk memesan beberapa kotak makanan untuk nya dan Raisya dan juga untuk semua yang ada di kamar rawat Pelangi.
"sayang,,dengarkan aku...." ucap Arya seraya memegang ke dua tangan istrinya.
"sayang aku ngerti kamu sangat menghawatirkan Pelangi,,aku juga sama seperti kamu..begitu juga keluarga kita,,mereka sama sama khawatir akan kondisi Pelangi karena mereka sangat menyayangi Pelangi seperti kita..tapi aku minta sama kamu..kamu juga harus perhatikan kondisi kamu..jangan sampai kamu ikutan sakit..aku gak mau kamu sampai sakit sayang.."
"aku gak mau kehilangan Pelangi seperti aku kehilangan Arsya mas..aku gak mau.." air mata Raisya pecah saat itu juga..ia tak ingin kehilangan lagi seperti beberapa waktu yang lalu ,,sungguh ia tak ingin kehilangan buah hatinya lagi.
"usst...kamu gak boleh bicara seperti itu..kita gak akan pernah kehilangan Pelangi..ia akan baik baik saja..dia sudah ditangani dokter terbaik disini..yang harus kita lakukan saat ini adalah berdoa,,semoga Pelangi cepat pulih dan sehat kembali seperti sedia kala.."
Tak lama pelayan kantin datang dengan membawa pesanan mereka.
Arya sengaja tidak mengajak Raisya makan disana karena ia yakin Raisya tak kan mau,, jadi ia putuskan untuk pesan makanan dan dibawa ke kamar rawat Pelangi.
"sekarang kita kembali ke kamar Pelangi..ayo.." Arya menggandeng Raisya berjalan menuju kamar Pelangi.
Sampai disana masih dalam keadaan yang sama Pelangi masih tertidur mungkin efek dari obat yang di berikan dokter.
__ADS_1
"ma..pa makan dulu pasti mama sama papa belum makan.."Arya memberikan kotak makanan pada mama dan papanya..diteruskan pada ibu mertuanya dan Bella.
"lebih baik mama,,papa,,ibuk,,dan juga Bella makan dulu..jangan sampai ikutan sakit.." ucap Arya pada seluruh anggota keluarganya.
Semua orang yang ada disana mengikuti kata kata Arya dengan makan makanan yang Arya beli dari kantin rumah sakit.
Kini giliran Raisya yang belum menggerakkan tangannya untuk mengambil sesuap nasi..hanya air matanya yang terus mengalir di wajah cantiknya ketika melihat putri kecilnya lemah tak berdaya.
"Sya,,makanlah..ayo.." dengan bujukan Arya akhirnya Raisya mau makan walau hanya sedikit..karena baru suapan ke dua Pelangi bangun dan menangis..mendengar putrinya menangis Raisya dengan spontan meninggalkan kotak makannya.
"sayang..ini mama nak..mama ada disini.." Raisya menggenggam jemari mungil Pelangi guna menenangkannya.
Namun karena Pelangi masih saja menangis..Raisya pun menggendongnya..dengan hati hati ia mengangkat tubuh mungil putrinya..karena ada selang infus di tangannya.
Sedangkan Arya mengambil botol infus dan mengikuti Raisya yang sedang menggendong Pelangi.
Tapi si kecil masih saja menangis..dan dia terus berontak..hingga akhirnya selang infus di tangannya lepas..dan itu membuat darahnya keluar begitu banyak.
"mas,,Pelangi mas gimana ini.." Raisya ketakutan sekali melihat darah di tangan putrinya.
Melihat kejadian itu yang lain ikut khawatir dan salah satu dari mereka pergi memanggil dokter.
Tak lama kemudian dokter dan perawat pun datang..dokter meminta Raisya untuk membaringkan si kecil di ranjang rumah sakit untuk memudahkan penanganan.
Sementara dokter dan perawat menangani..Raisya hanya bisa menangis dalam pelukan Arya sang suami..apalagi saat dokter memasang infusnya dan kembali menusukan jarum di pergelangan tangan putrinya..Raisya menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya karena tak tega melihatnya..
Proses pemasangan infus pun berjalan agak lama,karena si kecil dengan usianya sekarang dia lebih aktif bergerak.
"sudah selesai pak buk.." ucap dokter ketika selesai memasang infusnya kembali.
"bagaimana kondisi putri kami dokter..?" tanya Arya pada dokter yang menangani Pelangi.
"sampai saat ini kondisinya masih stabil pak..demamnya juga sudah mulai turun..jika kondisinya terus begini dan demamnya besok pagi sudah turun..besok sudah bisa dibawa pulang..jadi bapak dan ibu tak perlu khawatir..karena tak ada yang serius pada si kecil..hal ini wajar dialami balita seusia anak bapak dan ibu..apalagi cuaca sedang tidak menentu.." ucap sang dokter menjelaskan.
"tolong berikan yang terbaik untuk anak kami dokter.." ucap Arya kembali.
"tentu saja pak..kami akan berikan yang terbaik untuk semua pasien di sini tak terkecuali anak bapak dan ibu..tolong jaga baik baik ya jangan sampai infusnya lepas lagi karena pasti akan menimbulkan trauma bila sering di suntik.."
"iya dokter.."
"kalau begitu saya permisi dulu..kalau ada apa apa silakan hubungi saya..permisi.."
"trimakasih banyak dokter.."
"iya sama sama pak buk..mari.."
Setelah dokter dan perawat keluar Raisya kembali duduk di kursi disamping ranjang pesakitan tempat Pelangi berbaring.
Kini si kecil sudah tertidur kembali setelah di beri obat lewat selang infus oleh dokter..agar ia bisa istirahat dan tidak terlalu aktif bergerak..sehingga infusnya tidak terlepas kembali.
"Sya..lebih baik kamu istirahat biar mama dan papa yang gantian jaga Pelangi..pasti kamu juga capek habis perjalanan jauh.." pinta ibu Lina sang mertua.
"gak ma,,biar Raisya disini jagain Pelangi..mama istirahat saja ya..Raisya gak apa apa ma..mama gak usah khawatir.." Raisya bicara pelan dan sopan dengan mertuanya dia meyakinkan mertuanya kalau ia akan baik baik saja.
Akhirnya ibu Lina pun mengalah..karena ia paham benar bagaimana perasaan Raisya,,perasaan seorang ibu saat melihat anaknya sakit seperti ini..karena beliau pun pernah mengalaminya..sehingga paham benar apa yang dirasakan Raisya saat ini.
Semalaman Raisya tak memejamkan matanya sedetik pun..ia selalu menggenggam tangan mungil putrinya..ia hanya beranjak sebentar untuk sholat setelah itu kembali duduk di samping si kecil.
Jam 8 pagi ada visit dokter..untuk mengecek kondisi Pelangi..dan pagi ini panasnya sudah turun/ normal kembali..si kecil juga sudah tidak muntah sudah bisa minum susu lagi..jadi dokter pun melepas infusnya..dan memberitahukan kalau hari ini Pelangi sudah bisa di bawa pulang.
Mendengar ucapan dokter..Raisya terlihat lebih tenang dari sebelumnya,,apalagi melihat dokter sudah melepas infusnya.
Pelangi pun sudah bisa di ajak bermain dan bercanda..membuat Raisya bahagia melihatnya.
...****************...
__ADS_1
to be continuedπππππ