Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
Episode 67*


__ADS_3

"Ibu Ari...ibu ada disini juga..?" tanya Arya sedikit terkejut melihat ibu Ari, cleaning service di kantornya berada di panti yang sama dengannya..


......................


"iya pak..pak Arya ada disini juga?" jawab ibu Ari yang sama terkejutnya dengan Arya ketika bertemu dengan putera semata wayangnya di panti asuhan.


Begitu juga dengan ibu panti, ia juga tak kalah terkejutnya dengan Ibu Ari dan Arya yang sudah sama sama kenal.


"mas,,mas Arya kenal dengan ibu ini..?" tanya Raisya penasaran.


"iya sayang, aku sampai lupa cerita sama kamu, kalau dikantor kita ada cleaning servis baru, ya ibu Ari inilah orangnya,"


"Bu, perkenalkan ini Raisya, istri saya..dan ini Pelangi, putri kami."


Arya memperkenalkan Raisya dan juga Pelangi dengan ibu Ari.


"saya Raisya Bu, istrinya mas Arya." Raisya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Bu Ari seraya menyebutkan namanya.


Begitu juga sebaliknya..


"jadi, ibu Ari ini kerja di kantor pak Arya sekarang,?" tanya ibu panti yang belum sembuh dari keterkejutannya melihat Arya dan ibu Mustari yang notabene adalah ibu kandung Arya Wijaya saling mengenal satu sama lain.


"iya buk..ibu Ari ini karyawan baru di kantor saya." jelas Arya.


"terus ada keperluan apa ibu Ari kesini..?" tanya Arya pada ibu Ari.


Ibu panti dan ibu Ari saling berpandangan, mereka berdua bingung mau menjawab apa.


"hemmz, kebetulan ibu Ari ini teman lama saya pak..dan beliau sudah tak punya sanak saudara lagi, jadi beliau tinggal di panti bersama kami." terang ibu panti dan mendapat anggukan oleh ibu Ari.


"hemm bukannya jarak dari sini ke kantor lumayan jauh Bu..?" tanya Arya Kembali.


"ya mau bagaimana lagi pak, ibu Ari ini tidak punya siapa siapa di Jakarta ini,,jadi gak apa apa kalau ibu Ari tinggal dipanti."


"oiya mas, bukannya di kantor menyediakan mess untuk karyawan yang tempat tinggalnya jauh ya,? kenapa ibu Ari gak mas minta tinggal di mess karyawan saja,,kan bisa lebih dekat dengan kantor." kini Raisya yang angkat bicara, ia mengingatkan Arya tentang mess yang di sediakan kantor untuk karyawan yang rumahnya jauh.


"oiya sayang kamu benar juga, kantor kan menyediakan mess karyawan ya..bagaimana Bu. apa ibu mau tinggal di mess karyawan? kalau ibu mau buat nanti saya hubungi sekretaris saya untuk menyiapkannya?" tanya Arya pada Bu Ari yang kini duduk bersebelahan dengan ibu panti.


Dan terlihat ibu Ari melihat ke arah ini panti, kemungkinan untuk meminta pendapat.


"bagaimana Bu,, biar ibu tidak terlalu capek ketika pulang kerja. jadi ibu bisa nanti bisa langsung pulang dan istirahat di mess karyawan, karena kebetulan tempatnya masih di kawasan kantor jadi tak perlu naik kendaraan umum lagi, banyak juga karyawan lain yang tinggal disana."


"tapi ya semuanya terserah ibu, kalau ibu tetap mau tinggal di sini juga gak apa apa.." ucap Arya selanjutnya ketika melihat keraguan di wajah ibu Ari.


"iya pak saya mau, jadi kapan saya bisa mulai tinggal di mess karyawan?"


"hari ini ibu dapat shift apa..? kemungkinan ibu mulai besok ibu sudah bisa tinggal di mess karyawan..nanti saya akan informasikan pada bagian yang mengelola mess karyawan."


"baik pak, saya ucapkan banyak terimakasih pada bapak dan ibu yang sudah mau memberikan tempat tinggal untuk saya selama saya bekerja, padahal saya ini karyawan baru di kantor bapak dan ibu."


"sama sama Bu, ini sudah menjadi hak ibu selaku karyawan kantor kami." ucap Arya pada ibu Ari.


"oiya Bu, tadi kami membawa barang barang untuk anak anak disini, ada baju, buku, mainan dan yang lainnya..dan ada juga bahan makanan..ini tadi istri saya yang membelanjakan nya sendiri. mohon di terima." kini giliran Arya berbicara dengan ibu panti.


"iya pak buk terimakasih karena sudah merepotkan bapak dan ibu."


"tidak apa apa Bu, sudah sepatutnya sebagai sesama kita saling membantu satu sama lain. Kebetulan hari ini saya cuti satu hari untuk menemani istri dan anak saya..karena beberapa hari terakhir ini saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya sehingga sedikit melalaikan istri dan anak saya." terang Arya.


"sekali lagi terimakasih pak buk atas semuanya,"


"sama sama Bu, kalau begitu kami permisi dulu, kasian si kecil sudah capek diajak jalan dari tadi pagi, dan juga mamanya yang sedang hamil muda takutnya kecapean juga." pamit Arya pada ibu panti dan juga ibu Ari.


Kemudian mereka ber 3 keluar dari panti dan pulang ke rumah.


......................


Diperjalanan pulang, Arya sempat bercerita pada Raisya soal ibu Ari.


"sayang, aku kadang kasian lihat ibu Ari..orang yang sudah seusia beliau masih saja harus bekerja demi mencari sesuap nasi, dan juga beliau tak punya sanak saudara." ujar Arya pada Raisya.


"iya mas, aku juga ngerasa kasihan, mengingat dulu ibu ku sendiri juga mengalami hal serupa, ibu harus mencari nafkah untuk aku dan Nadia yang kala itu aku masih duduk di bangku sekolah." kini Raisya yang mulai sedih mengingat masa lalunya yang serba sulit bersama ibu dan adiknya namun ketika bertemu dengan Arya, yang kini menjadi suaminya, hidupnya berubah drastis sampai ia sendiri tak bisa membayangkannya.


"sayang, maka dari itu, disisa hidup ku, aku ingin selalu membuat ibu dan juga mama dan papaku agar mereka tak merasa kesusahan lagi agar mereka selalu bahagia di masa tua mereka." ujar Arya seraya meraih tangan istrinya dengan lembut.


"aku tak henti hentinya bersyukur pada Tuhan , karena Tuhan sudah mempertemukan aku dengan mas Arya, karena mas Arya sudah membuat hidup ku dan juga keluarga ku menjadi lebih baik seperti sekarang.


Aku tak tahu akan seperti apa hidup ku dan juga keluargaku jika aku tak bertemu dengan mas Arya." terang Raisya penuh haru.


Raisya mencium tangan suaminya berkali kali karena ia merasa sangat beruntung mendapatkan pasangan hidup sebaik suaminya.


Baginya suaminya itu adalah malaikat baginya dan juga keluarganya.


"terimakasih ya mas, karena mas Arya sudah hadir dalam hidup aku, dan mas Arya juga bersedia menerima ku yang hanya seorang manusia biasa untuk mendampingi hidup mas Arya.".

__ADS_1


Arya sangat terharu mendengar ucapan Raisya, ucapan terimakasih nya atas semua yang ia lakukan untuknya dan juga keluarganya.


Padahal Arya merasa tidak pernah melakukan hal hal yang lebih di banding apa yang telah dilakukan istrinya pada nya dan juga seluruh keluarganya.


Karena hadirnya Raisya, ia mengerti akan artinya cinta yang dulu tak pernah ia rasakan sebelum ia mengenal wanita itu.


Namun setelah bertemu dengan Raisya hidupnya berubah 180° jauh lebih baik dari sebelumnya.


Arya menyadari sebelum mengenal Raisya, ia adalah sosok seseorang yang dingin dan kaku, yang sama sekali tak pernah memperdulikan orang lain, terkecuali keluarganya sendiri dan diluar itu ia sama sekali tak mau tahu.


Namun setelah bertemu dengan Raisya, ia berubah menjadi sosok yang hangat dan peduli, buka. hanya pada keluarga tapi pada orang lain di sekitarnya.


Dulu ketika di kantor, ia merasa karyawannya sangat takut padanya, karena sikapnya yang kaku dan dingin pada setiap orang, namun kini mereka menghormatinya sebagai seorang atasan tapi ia merasa mereka sudah tidak merasa takut lagi padanya, malah mereka semakin dekat dengannya, seakan tak ada jarak antara atasan dan bawahan..yang ada hanya saling bekerja sama untuk memajukan usaha mereka.


Sungguh ini perubahan yang menurutnya sangat luar biasa dalam hidupnya .Dan ini tentunya karena wanita nya..wanita yang kini menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya, yaitu Raisya.


Sungguh ia wanita yang istimewa dan sangat Luar biasa.


"oiya mas, gimana kalau mampir ke rumah ibu dulu..?" pinta Raisya pada Arya, suaminya..


"iya sayang boleh." jawab Arya, kemudian ia melajukan mobilnya menuju ke arah rumah mertuanya.


Sampai dirumah ibu


"Assalamualaikum Bu.."


"Waalaikumsalam..eh kalian ibu kira siapa yang datang. ayo masuk."


Raisya mengucap salam saat masuk kerumah sang ibu dan mendapat jawaban salam juga dari sang ibu, si pemilik rumah.


Raisya dan Arya tak lupa bersalaman


dan mencium tangan ibunya ketika datang.


Ibu Widya langsung mengambil alih cucu kesayangannya, Pelangi dari gendongan Arya.


"duh cucunya eyang makin besar aja sekarang ya, baru juga beberapa hari gak ketemu.


Eyang kangen banget sama kamu sayang.." ibu Widya menggendong dan menciumi Pelangi dengan gemas.


"Ibu lagi repot ya.?"


"iya, ibu dapat pesanan nasi kotak buat selamatan di rumah tetangga sebelah."


"iya bu,, mas Arya benar, ibu sudah waktunya istirahat jangan bekerja lagi, kini giliran anak anak ibu yang mencari nafkah untuk ibu dan membahagiakan ibu dan juga Nadia. Raisya gak mau ibu nanti jatuh sakit karena kecapean." kini giliran Raisya yang berbicara pada ibunya.


Ibu Widya hanya tersenyum mendengar ucapan anak dan menantunya, ia mengerti jika anak anaknya itu peduli padanya.


"Raisya, Arya, ibu mengerti kalian berdua sangat peduli dengan ibu, tapi kalian tahu sendiri dari dulu ibu terbiasa sibuk dengan pekerjaan memasak, dan ibu sangat senang melakukan pekerjaan ini.


Lagipula ini kan tidak setiap dari juga. hanya kadang kadang."


Ya Raisya mengerti, jika ibunya itu hobi memasak dan hasil dari masakan ibu sangatlah istimewa, jadi tidak heran bila orang sudah pernah merasakannya akan ketagihan.


"yasudah kalau begitu, tapi ibu harus janji ibu akan membatasi pekerjaan ibu, agar ibu tetap sehat, jangan sampai telat makan dan kurang tidur." Raisya akhirnya mengalah berdebat dengan sang ibu..lagipula ia tak bisa menghalangi kesenangan dan hobi ibunya..yang mungkin akan membuatnya bahagia.


Tiba tiba saja Pelangi yang ada di pangkuan ibu Widya menangis, mungkin ia haus atau mengantuk.


"kamu kenapa sayang, kan sudah sama eyang..cup cup.." ibu Widya mencoba menghentikan tangisnya tapi bukan berhenti malah semakin kencang.


"ayo sayang sini sama mama.." Raisya mengulurkan kedua tangannya pada puteri, tapi si kecil malah memandang dan mengulurkan tangannya pada Arya,papanya


"sayang, mau ikut papa,,yasudah sini sini sama papa." kini Arya lah yang mengambil alih Pelangi dari tangan ibu Widya.


"mas mungkin Pelangi haus,,tadi susunya mas taruh dimana, biar aku buatkan susunya.?"


"ada di tasnya Pelangi yang kamu bawa itu.." Arya menunjuk tas bayi yang ada di sebelah Raisya.


"mama buatkan susu dulu ya sayang.. kamu sama papa." setelah menemukan susu dan juga botolnya, Raisya segera ke dapur untuk membuatkan susu Pelangi.


Tak butuh waktu lama untuk membuat susu, kini Raisya pun sudah kembali ke depan. dan duduk bersama suami, ibu dan Puteri kecilnya. Pelangi


"mas, ajak Pelangi ke kamar aja ya, mungkin dia capek dari tadi di gendong terus. gak bebas." pinta Raisya pada Arya, suaminya untuk membawa Pelangi ke kamar mereka.


"iya sayang,,, sayang kita ke kamar ya biar kamu bisa bergerak leluasa."


Setelah Arya dan Pelangi ke kamar, Raisya membantu ibunya untuk menyiapkan nasi box pesanan tetangga sebelah.


Semua sudah matang, tinggal menatanya saja dalam box.


"ngomong ngomong tadi kalian darimana, kok Arya gak ngantor hari ini? " tanya ibu Widya pada Raisya yang sedang membantu menyiapkan pesanan nasi box.


"iya Bu, hari ini mas Arya memang sengaja tidak ke kantor."

__ADS_1


"lho memang kenapa? Arya sakit?" tanya ibu Widya khawatir.


"enggak Bu, mas Arya baik baik aja,,karena beberapa hari ini terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi hari ini mas Arya sengaja meluangkan waktunya untuk mengajak aku dan Pelangi jalan jalan,


Tadi kita sempat belanja barang barang untuk anak anak panti asuhan Bu , terus sekalian diantar kesana." terang Raisya.


"ow begitu, terus kamu sendiri? gak belanja apa apa tadi?" tanya ibu Widya pada Raisya yang terlihat tak bawa belanjaan saat kerumahnya,


Ia hanya membawakan untuk kebutuhan ibu dan adiknya.


"enggak Bu, lagipula mau belanja apa, dirumah mama semuanya sudah ada, mau belanja baju, baju Raisya sudah banyak, bahkan masih ada yang belum dipakai sama sekali.


Jadi sayang kan buang buang uangnya mendingan uangnya di salurkan ke panti asuhan yang sangat membutuhkan." jelas Raisya.


Ibu Widya hanya Tersenyum mendengar ucapan puterinya.


Memang dari dulu Raisya tak pernah membeli barang-barang untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih membeli barang-barang untuk nya dan juga Nadia.


Tapi itu dulu saat mereka masih hidup dalan kesulitan.


Namun sekarang biarpun suaminya seorang konglomerat, tak membuat Raisya berubah, ia tetap Raisya yang dulu, Raisya yang sederhana.


"ibu mengerti nak, tapi sekarang kamu itu istri Arya, istri pengusaha, kamu harus perhatikan juga penampilan kamu, ya boleh dikatakan kamu harus ngikuti tren sekarang, karena kamu sekarang ada di kalangan atas mendampingi suami kamu." Ibu Widya menasehati putrinya agar memperhatikan penampilan nya, nanti apa kata orang jika istri seorang konglomerat penampilannya hanya begitu begitu saja.


Mendengar nasihat ibunya, Raisya hanya tersenyum.


"ibu gak usah khawatir, Raisya akan tetap berusaha menempatkan diri sebagai istri mas Arya pada waktu dan acara yang tepat.


Apa ibu tahu, saat Raisya dan mas Arya pindah ke rumah mama dan papa, semua keperluan Raisya sudah siap dan komplit, mulai dari baju, sepatu, gaun, sampai pada hal hal kecil pun, mama Lina sudah menyiapkan semuanya untuk Raisya ..


Raisya tak kekurangan apapun dan Raisya tak perlu apa apa lagi, buat Raisya yang terpenting Raisya bisa hidup bersama orang orang yang Raisya cintai.


Ada mas Arya, Pelangi, ada ibu, Nadia , dan juga keluarga mas Arya.


Itu semua bagi Raisya sudah lebih dari cukup Bu."


Sang ibu lagi lagi hanya tersenyum, Raisya sekarang tetaplah Raisya yang dulu, tak ada yang berubah sedikit pun darinya. walaupun sekarang kondisinya telah berubah.Ia telah menjadi istri dari seorang Arya Wijaya. pemilik kerajaan bisnis terbesar Wijaya group yang sangat terkenal itu.


Jika puterinya mau, ia bisa saja menggunakan kesempatan nya ini untuk hidup ber foya foya, memanfaatkan kekayaan suaminya yang mungkin tak akan habis 7 turunan sekalipun.


"iya sayang ibu ngerti, ibu akan selalu berdoa untuk kamu dan Arya, agar kalian selalu hidup bahagia tak terpisahkan sampai ajal yang memisahkan kalian."


"Aamiin Bu, terimakasih atas semua doa ibu selama ini,, hanya doa dari ibu yang selalu Raisya harapkan, doa ibu selalu menolong Raisya dalam kondisi apapun." Raisya meraih tangan ibunya dan mencium tangan wanita yang sudah melahirkannya.


Ia sangat berterimakasih pada sang ibu karena selama ini sudah membuatnya jadi wanita


yang kuat dan tegar dalam menghadapi dunia ini.


.....................


Lain halnya dengan Arya yang kini sedang bersama putri kecilnya di dalam kamar.


Kini putri kecilnya itu sudah terlelap setelah menghabiskan sebotol susu yang dibuat oleh Raisya.


Gadis kecil itu memegang erat jari telunjuknya dengan tangan mungilnya.


"sayang, papa berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kamu seperti anak kandung papa


sendiri, walaupun nanti anak mama dan papa lahir, itu semua tak akan pernah mengurangi rasa sayang kami kepada kamu sayang, kamu tetap menjadi putri kecil papa dan Mama." bisik Arya pada putri kecilnya yang kini sedang tertidur di sampingnya.


ARYA mencium lembut tangan dan jemari putri kecilnya.


Terlihat sekali ia sangat menyayangi Pelangi nya itu.


drrt...drrt..drrt


Dering ponsel Arya mengganggu kebersamaan dengan si kecil.


Arya pun segera meraih ponselnya, agar suaranya tak membangunkan si kecil.


Dan ternyata itu panggilan dari Leo, asisten pribadinya.


Arya bangkit dari tempat tidur dan sedikit menjauh agar suaranya tak membangunkan si kecil.


"ya halo Leo ada apa?"


***


"apa? ini gak boleh terjadi, kamu urus aja semuanya bicarakan semua ini dengan pengacara saya, dan apapun yang terjadi jangan sampai orang itu lolos."


...****************...


to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉

__ADS_1


.


__ADS_2