
"mau apa sih ni orang.." ucap Arya sedikit kesal.
"siapa sih mas?"
"gak tahu sayang, biar aku keluar sebentar ya?"
Arya kemudian keluar dari mobilnya sementara Raisya menunggunya di dalam mobil.
Tak disangka sangka pemilik mobil yang berlawanan arah dengannya itu juga keluar dari mobilnya.
"Reva..?"
Arya kaget melihat siapa yang keluar dari mobil yang ada di depannya.
Begitu pula dengan Raisya yang menunggu di dalam mobil.
"Hai Arya apa kabar?" sapa Reva dengan senyuman munafiknya.
"kabar ku selalu baik asal tidak bertemu dengan kamu seperti ini.
Bisa tolong pinggirkan mobilnya karena mobil kamu menghalangi jalan mobil ku." ucap Arya.
Reva tersenyum, kemudian ia melihat kearah dalam mobil Arya, dia melihat ada seseorang yang duduk disamping kemudi.
Dan Reva pun bisa langsung menebak kalau orang itu adalah Raisya.
Istri kesayangan Arya.
Reva mengakui jika Raisya telah merebut hati mantan tunangannya itu, semuanya ia ambil alih.
Mulai dari hati Arya hingga keluarganya, mereka sangat menyayangi dan mengagungkan Raisya.
"ohh jadi kamu sedang bersama wanita j***Ng itu?"
Lagi lagi Reva menyebut Raisya dengan sebutan wanita j****g dan hal itu membuat Arya emosi.
"sudah aku bilang sama kamu, jangan sekali kali kamu sebut istriku dengan sebutan itu, sebaiknya kamu berkaca dulu sebelum mengatakan itu.Lebih baik sekarang kamu minggir atau aku akan panggil scurity untuk pindahin mobil kamu?" ancam Arya.
"ok ok kali ini aku mengalah, tapi ingat satu hal, aku bukan hanya akan menghalangi laju mobil kamu, tapi aku juga akan menghalangi jalan kebahagiaan kamu." sumpah serapah Reva pada Arya kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan meminggirkan mobilnya agar mobil Arya bisa keluar.
Arya pun kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya bersama dengan sang istri yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Arya kemudian melanjutkan perjalanan pulang kerumah.
"mas, mau apa lagi tadi Reva?" tanya Raisya pada Arya ketika mereka sudah keluar dari area pusat mainan.
"biasalah sayang, dia itu selalu bikin gara gara saja."
"ingat mas, jangan meladeni Reva dengan emosi, karena emosi tak akan menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah."
"iya sayang aku ngerti.Audah ya kamu jangan terlalu banyak pikiran, kasian calon bayi kita kalau mamanya stres dia juga akan ikutan stres dan itu akan mempengaruhi perkembangannya juga."
"iya mas, tapi mas juga harus janji, jangan menghadapi Reva dengan emosional."
"iya sayang aku janji."
Setengah jam kemudian akhirnya Arya dan Raisya sampai juga rumah keluarga Wijaya.
Arya dan Raisya pun langsung masuk ke dalam rumah.
"assalamualaikum "
salam Arya dan Raisya saat masuk kedalam rumah.
"waalaikumsalam..kalian sudah pulang,,lihat sayang siapa yang datang?" jawab ibu Lina yang sedang bermain dengan si kecil Pelangi.
Disana Pelangi juga ditemani eyang uyut nya yang terlihat bahagia bisa bermain bersama.
"itu mama sama papa pulang.." ucap ibu Lina.
bahagia melihat menantu kesayangannya sudah kembali kerumah.
Seperti biasa ritual cium tangan pada keluarga yang lebih tua tak pernah terlupakan oleh Arya dan Raisya.
"sayang mama kangen sekali sama kamu..sini sayang."
Raisya mengulurkan kedua tangannya pada Pelangi.
Si gadis kecil itu pun merosot dari pangkuan Omanya dan beralih kepada mamanya.
"sayang jangan capek capek ya..ingat apa kata dokter kamu harus banyak istirahat." ucap Arya mengingatkan sang istri agar tidak kecapean.
"iya mas, aku ngerti.."
"sayang kamu duduk dekat mama saja ya, jangan gendong mama dulu, mama baru sembuh dari sakit." Arya bicara pada putri kecilnya dan berharap gadis kecilnya itu mengerti apa yang ia katakan.
Arya pun mengangkat si kecil untuk duduk didekat Raisya.
Si kecil pun terlihat senang sekali ketika dekat dengan sang mama.
Sepertinya ia juga kangen dengan mama nya setelah dua hari tak bertemu mamanya.
"lihat Sya Pelangi dari tadi lihatin kamu terus..kayaknya dia juga sama kangennya seperti kamu." ujar ibu Lina melihat Pelangi yang terus menatap Raisya dari tadi.
Raisya pun tersenyum, dia kembali menciumi gadis kecilnya itu dengan gemas saking kangennya.
"kenapa sayang lihatin mama terus, kamu kangen sama mama ya? iya sayang? mama juga kangen sama kamu, kangen banget."
"saya tadi kamu sudah makan belum, kalau belum kamu makan dulu terus istirahat sayang."
"iya ma,,"
"mau makan sekarang? biar mama yang siapin buat kamu."
"biar Arya saja ma, " Arya yang mengajukan diri untuk mengambil kan makanan untuk sang istri.
"kamu mau makan apa sayang?"
__ADS_1
"apa saja mas, apa yang ada saja." jawab Raisya, ia tak henti menguap syukur pada sang pencipta atas semua anugerah yang telah diberikan padanya.
Dulu sebelum menikah dengan Arya, jangan kan mau milih makan apa, untuk makan apa adanya saja rasanya susah.
Tapi kini apa yang ia inginkan semua sudah tersedia.
Arya pun langsung ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Raisya.
Di dapur ia menemukan ada oseng daging dan juga dadar jagung favorit istrinya.
Arya pun segera mengambil piring kosong lalu menambahkan nasi dan juga oseng daging beserta dadar jagung.
Kemudian segera kembali ke depan bersama istri dan juga keluarganya.
"nah ini dia makanannya,ada oseng daging dan dadar jagung favorit kamu sayang, aku suapin kamu ya?"
Raisya melongok mendengar ucapan Arya yang ingin menyuapinya.
"kenapa bengong?" tanya Arya.
"ayo buka mulutnya."
Arya menyendokkan nasi kemulut Raisya.
"mas aku makan sendiri saja." tolak Raisya karena malu disana ada mertua dan eyangnya.
"kenapa? kamu malu disini ada mama sama eyang? lah kan yang suapin suami kamu sendiri, udah ayo buka mulutnya !." perintah Arya.
"iya Sya kenapa mesti malu sama mama dan eyang, kami malah senang melihat keharmonisan kalian berdua." ucap ibu Lina pada Raisya menantu kesayangan nya.
Raisya pun tersenyum kemudian membuka mulutnya.Dan mulai makan dari tangan Arya.
Jujur ia sangat bahagia bisa berada di tengah tengah keluarga yang sangat menyayanginya.
Entah apa yang telah dia lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga di kehidupan sekarang ini ia mendapatkan banyak kebahagiaan seperti ini.
Setelah makan dan minum obat, Arya mengajak sang istri untuk istirahat dikamar dan menemaninya.
Arya ingin disaat istrinya lemah seperti ini dia selalu ada di dekatnya, dia sendiri yang mengurusnya.
Arya rela meninggalkan semua pekerjaannya hanya untuk bisa menemani sang istri dirumah.
Semua pekerjaannya sudah dihandle oleh Pak Ridwan sang papa dan juga dibantu oleh asisten pribadinya Leo dan sekretaris nya Velicia.
"kamu istirahat ya, aku akan temani kamu disini." Arya menuntun Raisya untuk duduk di tempat tidur kemudian menata bantal nya agar sang istri bisa beristirahat dengan nyaman.
"mas,"
"hmmm apa?"
"mas Arya gak ke kantor?" tanya Raisya pada Arya suaminya.
Mendengar pertanyaan istrinya , Arya hanya tersenyum kemudian duduk disamping sang istri sambil memeluk nya.
"selama kamu masih sakit, aku gak akan ninggalin kamu walau cuma sebentar, pekerjaan sudah di handle sama papa, dan juga ada Leo dan Velicia yang akan membantu papa kamu gak usah khawatir.".
"sayang papa sendiri yang menawarkan bantuannya, masa iya aku nolak gak enak juga kan?"
"sudahlah sekarang yang paling penting kamu sembuh dulu, untuk urusan yang lain kita pikirkan nanti, buat aku kamu yang terpenting." dan cup Arya mencium bibir sang istri yang dari tadi bawel tak mau diam.
"mas Arya,"
"kenapa? mau lagi?"
"enggak enggak.." buru buru Raisya menolak, bukannya menolak perlakuan manis dari suaminya, namun jika dibiarkan bukan tidak mungkin akan berakibat lebih dari sekedar ciuman.
Dan saat ini kondisinya masih lemah, ia takkan sanggup melawan suaminya itu.
Sebenarnya Arya juga tidak bermaksud seperti itu, hanya saja ia suka sekali menggoda sang istri
Ia akan menjadi suami yang sangat keterlaluan jika meminta hak nya saat kondisi sang istri sedang sakit seperti saat ini.
"yasudah kalau begitu kamu istirahat ,aku mau telepon Leo dulu sebentar." Arya meninggalkan Raisya sebentar untuk menelepon Leo menanyakan bagaimana kerjaannya hari ini.
Seminggu kemudian
Kondisi Raisya sudah kembali pulih mesti ia belum boleh beraktivitas yang berat.
Sudah dua hari ini Arya kembali beraktivitas di kantor.
Seperti biasa setiap pagi Arya menemani istrinya jalan pagi di sekitaran komplek perumahannya.
Usia kandungannya kini sudah menginjak 5 bulan dan dokter menyarankan agar banyak jalan untuk memperlancar saat persalinan nanti.
"mas, aku pengin makan bubur itu." ucap Raisya seraya menunjuk pedagang bubur ayam yang mangkal di sekitaran komplek perumahan.
"kamu yakin mau makan bubur disitu sayang? itu gak higienis, kita cari yang lain saja ya?"
"gak aku maunya disitu, boleh ya? ini anak kamu lho yang minta," rengek Raisya ia sengaja membuat alasan kalau bayi dalam kandungannya yang minta agar Arya memperbolehkan nya.
Dan alhasil Arya tak bisa menolak permintaan Raisya apalagi demi sang buah hati yang beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia.
"ya sudah sudah ayo."
Raisya pun tersenyum penuh kemenangan Karena apapun yang ia inginkan Arya selalu mengabulkannya.
Ia sungguh merasa sangat sangat beruntung bisa menjadi istri Arya.
Raisya dan Arya pun berjalan ke arah tukang bubur yang ada di pertigaan komplek.
"bang bubur nya 1 ya.." ujar Arya pada si penjual bubur.
"kok cuma satu, mas Arya gak makan?" tanya Raisya yang sudah duduk manis di salah satu kursi plastik di di dekat gerobak bubur.
"gak sayang kamu saja yang makan, nanti aku makan dirumah."
"yakin gak mau makan bubur?" tanya Raisya kembali seraya menerima semangkuk bubur dari si penjual bubur. Dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"iya sayang,. sudah kamu makan saja."
"yasudah kalau gak mau."
Raisya pun segera menyantap bubur ayam yang ada di tangan nya.
Raisya terlihat begitu lahap menyantap bubur ayam sehingga membuat Arya menelan ludah.
"kenapa mas? mau nyobain? Raisya yang melihat suaminya menelan ludah segera menawari suaminya bubur.
"gak, kamu saja yang makan." tolak Arya.
"sudah cobain dulu, " Raisya langsung menyiapkan se sendok bubur ayam ke mulut Arya, suaminya.
Arya pun jadi ikut merasakan bubur yang di makan oleh Raisya.
Ternyata rasanya enak juga.
"bagaimana? enak kan? " tanya Raisya sambil tersenyum.
"bang pesan buburnya satu lagi ya.."
"iya neng,"
Tanpa persetujuan dari Arya, Raisya sudah terlebih dahulu memesan satu porsi bubur ayam untuk suaminya.
"ini neng buburnya." penjual bubur menyerahkan semangkuk bubur lagi pada Raisya.
"makasih bang. Nih mas Arya makan juga,"
Raisya memberikan seporsi bubur ayam pada Arya, suaminya.
Arya pun menyantap dengan lahap bubur yang dipesan oleh istrinya
Bagaimana tidak, bubur ayam itu rasanya enak sekali, tak kalah dari bubur ayam yang ada di cafe atau restoran.
Raisya hanya tersenyum melihat sang suami makan bubur nya dengan lahap. Padahal sebelum nya ia menolak untuk makan bubur disana.
Setelah selesai makan bubur, Arya dan Raisya berjalan kaki kembali untuk pulang ke rumah, karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Jam 9 pagi Arya sudah sampai di kantor karena ada meets penting dengan klien yang tak bisa ia wakilkan.
"maaf pak klien dari PT.xxx sudah menunggu bapak di ruang meeting."
Velicia memberitahu Arya kalau meeting akan segera dimulai dan semuanya sudah hadir tunggal menunggunya saja.
"baiklah, apa semua bahan meeting kita sudah siap ?"
"sudah pak."
"Yasudah kita langsung ke ruang meeting sekarang."
"baik pak silakan."
Arya pergi menuju ruang meeting diikuti oleh Velicia di belakangnya.
"selamat pagi semuanya, maaf saya sedikit terlambat."
ucap Arya seraya memberi salam pada seluruh peserta meeting hari ini.
Baru saja Arya mau berbicara lagi, ia melihat seseorang yang tak asing baginya.
Seorang sahabatnya yang telah tega mengkhianati nya dengan menjalin hubungan dengan Reva dibelakang nya beberapa tahun yang lalu.
Siapa lagi kalau bukan firman.
Laki laki yang dulu terpergok bersama dengan Reva diapartement.
Begitu juga dengan firman ia mengangguk kan kepala untuk sekedar menyapa Arya, sahabat lamanya.
Tapi Arya tak meresponnya sama sekali.
Arya sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengan apa yang pernah firman lakukan padanya tempo dulu.
Namun untuk saat ini, Arya tak ingin membahas hal itu.
Semua itu hanyalah masa lalu dan tidak untuk dikenang kembali dimasa sekarang.
Arya juga tak menyangka akan bertemu dengan Firman kembali disini, dikantor nya sendiri.
Arya segera membuka meeting hari ini dengan gaya khas seorang Arya Wijaya.
Meeting pun berjalan dengan lancar sekitar satu setengah jam.
"baiklah saya rasa meeting hari ini cukup sampai disini, bila ada keperluan lebih lanjut silakan menghubungi asisten saya ataupun sekretaris saya .
Terimakasih dan selamat siang."
Ucap Arya mengakhiri meetingnya hari ini.
Dengan langkah pasti Arya bangkit dan keluar dari ruangan meeting.
"Arya tunggu ."
Baru beberapa langkah ia keluar dari ruangan meeting ada seseorang yang memanggilnya.
Siapa lagi kalau bukan Firman.
Dengan mendengar suaranya tanpa menoleh kebelakang Arya pun sudah tahu siapa yang memanggilnya.
Arya pun menghentikan langkahnya sebentar menunggu firman yang mengejarnya.
"Arya tunggu kita perlu bicara." kini Firman sudah berhadapan dengan Arya.
...****************...
to be continued ✍️✍️✍️👉👉👉
__ADS_1