Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
Episode 71*


__ADS_3

Setelah hanya berdua saja, kini Raisya yang mulai bertanya lagi pada ibu Ari tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu Ari terlihat sedih sekali.


"buk, sekarang ibu bisa cerita apa saja sama saya disini, saya akan dengan senang hati mendengarkan." ujar Raisya.


"begini mbak, sebenarnya saya, saya sangat merindukan anak saya."


...****************...


Raisya terlihat sangat terkejut ketika mendengar ucapan ibu Ari yang mengatakan bahwa ia sangat merindukan putranya.


Karena yang ia dengar dari suaminya, ibu Ari itu hidup sebatang kara, beliau tak punya sanak saudara atau famili.


Tapi ini tadi, sungguh ia benar benar tidak salah dengar ketika ibu Ari mengatakan kalau beliau merindukan puteranya.


Dan itu artinya ibu Ari sebenarnya punya keluarga.


"maksud ibu, putra ibu,,? jadi ibu masih punya keluarga, ibu masih punya putra, tapi mengapa mas Arya bilang ke saya, ibu ini sebatang kara yang tak punya sanak saudara atau famili?" tanya Raisya bingung


"sebelumnya saya minta maaf Bu, bukan maksud saya untuk menyembunyikan identitas saya, tapi saya sendiri ingin membuka lembaran baru hidup saya." Ibu Ari mulai bercerita.


"lembaran baru ? maksudnya.?" tanya Raisya kembali.


"maaf Bu, sebenarnya sebelum bekerja di kantor ini, saya pernah di penjara selama hampir 20 tahun karena kasus pembunuhan.'


"apa? kasus pembunuhan?" Raisya terlihat sangat terkejut dan shock mendengar ucapan ibu Ari yang mengatakan ia pernah dipenjara karena kasus pembunuhan 20 tahun yang lalu.


"gak mungkin, orang seperti ibu Ari tidak mungkin melakukan hal itu, Saya tidak percaya, ibu berbohong kan?"


Ibu Ari menggeleng pelan dan air matanya mulai menetes sekarang.


"enggak Bu, ini semua benar, saya memang telah melakukan pembunuhan, tapi saya melakukan itu semua untuk membela diri, jika saya tidak membunuh orang itu, makan sayalah yang akan dibunuh, dan saya tidak mau mati sebelum saya melihat anak saya." cerita ibu Ari pada Raisya.


Kemudian obrolan mereka terhenti karena makanan dan minuman pesanan mereka telah datang.


"terimakasih Wati.."


"iya sama sama mbak..kalau begitu aku tinggal dulu ya, selamat menikmati makanannya."


Tak lama kemudian Wati pergi dari sana dan Raisya meminta ibu Ari melanjutkan ceritanya.


"lanjutkan ibu." pinta Raisya.


"Perlu ibu Raisya ketahui, jika dulu saya adalah wanita malam, dan saya pernah hamil dengan seorang laki laki yang tak bertanggung jawab. bukan karena malu atau bagaimana karena saya punya anak tanpa suami, saya meninggalkan bayi saya di depan panti asuhan..hal itu saya lakukan agar anak saya tidak terjerumus pada dunia yang kelam seperti saya, saya tidak ingin nantinya anak saya di cap sebagai anak haram oleh orang orang, jadi terpaksa saya tinggalkan di panti asuhan, saya berharap anak saya kelak bisa diadopsi oleh keluarga baik baik."


"terus apa ibu sekarang sudah bertemu dengan anak ibu?" tanya Raisya penasaran.


Ibu Ari menggeleng pelan, ia tak mau rahasianya terbongkar oleh Raisya, menantunya sendiri kalau ia mengatakan yang sebenarnya.


"anak saya sudah di adopsi oleh sebuah keluarga terhormat, dan pihak panti pun tak tahu dimana mereka tinggal sekarang karena mereka sekeluarga sudah tak lagi menempati alamat yang dulu diberikan kepada pihak panti." bohong ibu Ari pada Raisya, padahal ia sudah bertemu dan bahkan berinteraksi langsung hampir setiap hari dengan putranya.


Raisya sungguh merasa trenyuh dengan cerita hidup ibu Ari.


Ternyata hidupnya lebih memprihatinkan dibandingkan dengan kehidupannya yang dahulu,


Raisya sungguh sangat bersyukur dengan kehidupannya yang dulu yang mengantarkannya pada kehidupannya yang sekarang.


Tapi sayang seribu sayang, ibu Ari tak seberuntung ia dan keluarganya dulu.

__ADS_1


Ibu Ari telah kehilangan anaknya.


Raisya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan seorang anak yang sangat ia sayangi, karena ia juga pernah merasakannya.


"terus apa tidak pernah ada kabar dari panti asuhan tentang keberadaan anak ibu sekarang?." tanya Raisya kemudian.


"sebenarnya pihak panti pernah bilang ke saya, kalau anak saya sempat berkunjung ke sana."


"terus, anak ibu juga mencari tahu keberadaan ibu sekarang?"


Ibu Ari menggeleng pelan dengan raut wajah yang sangat sedih.


"tidak, malahan dia tak mau bertemu atau bahkan hanya untuk melihat foto saya sekali saja ia tak mau, dia tak mau tahu tentang saya."


"seharusnya anak ibu tidak bersikap seperti itu, bagaimanapun juga ibu adalah ibu kandungnya, ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya di dunia ini.


Tanpa ibu dia tidak akan ada di dunia ini." ucap Raisya.


"ibu Raisya tidak bisa serta merta menyalahkan anak saya, Sya tahu saya sudah salah, saya yang meninggalkannya, dari dia masih sangat kecil., bahkan sebelum ia sempat mengenali wajah ibunya sendiri, ini semua murni kesalahan saya." ucap ibu Ari sambil menyeka air matanya.


"maaf maksud saya bukan begitu Bu, seharusnya anak ibu itu mau mendengar penjelasan dari ibu, tentang alasan ibu dulu meninggalkannya, karena saya sangat yakin, tidak ada seorang ibu pun yang sanggup berpisah dengan anak kandungnya. tak terkecuali ibu Ari."


"mungkin dia terlalu membenci saya, ibunya, sehingga hanya dengan melihat foto saya pun dia tak mau.


Tapi saya bahagia, karena menurut informasi dari pihak panti, anak saya sekarang jadi pribadi yang sangat baik, dia hidup berkecukupan, dia juga sudah menikah dengan wanita baik baik pilihannya sendiri..dan juga sekarang mereka sudah hidup bahagia.".terang ibu Ari.


"hmm apa ibu Ari punya fotonya dan tahu namanya ? siapa tahu mas Arya atau saya mengenalnya?" tanya Raisya menyelidiki, bukannya ia mau ikut campur tapi siapa tahu dengan begitu ia bisa mempertemukan ibu Ari dengan anak semata wayangnya.


Ibu Ari sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan Raisya kali ini.


Jadi dengan sangat terpaksa ibu Ari berbohong lagi.


"dulu saya memberikan nama Yahya waktu ibu meninggalkannya di panti asuhan. tapi saya juga tidak tahu apa keluarga yang mengadopsinya mengganti namanya atau tidak. kalau foto, saya hanya punya foto saat ia masih bayi baru lahir."


"beh saya melihatnya Bu?" tanya Raisya dengan penuh rasa penasaran ingin melihat bagaimana wajah anak ibu Ari.


Ibu Ari pun mengambil dompet berukuran kecil yang ada disini saku celananya.


Kemudia.n ia membukanya dan mengeluarkan selembar foto yang sudah usang..karena Toto itu diambil waktu Arya baru beberapa hari lahir ke dunia.


"ini Bu.." ibu Ari memperlihatkan selembar foto yang disana terdapat gambar seorang ibu bersama anak nya yang masih bayi.


Dan hanya dengan melihat foto itu saja, Raisya sudah sangat yakin jika wanita yang ada di dalam foto itu adalah ibu Ari.


Wanita yang kini tengah duduk bersamanya.


"maaf Bu, fotonya sudah tidak begitu jelas, mungkin bisa di cetak ulang biar hasilnya lebih jelas "


Raisya menyarankan pada ibu Ari untuk memperbaiki dan mencetak ulang foto itu agar lebih jelas, namun ibu Ari menolak dengan alasan ia sudah sangat hafal dengan wajah puteranya walaupun foto itu sudah usang dan tidak begitu jelas


"tidak usah Bu, saya sudah menghafal dan menyimpan foto anak saya dalam hati saya, sehingga sampai matipun saya tidak akan pernah lupa bagaimana wajah mungilnya kala itu." tolak ibu Ari dengan sopan.


Takutnya jika foto itu diperbaiki dan dicetak ulang Raisya akan mengenali foto masa kecil/ bayi suaminya.


Dan lebih fatalnya lagi jika Arya juga memiliki foto bayinya dari ibu panti.


"baiklah kalau itu yang ibu mau, maaf saya tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu ibu Ari, tapi jika ibu Ari butuh sesuatu atau butuh teman ngobrol saya bersedia kapan pun ibu Ari butuhkan."

__ADS_1


ucap Raisya seraya tersenyum pada ibu Ari yang notabene adalah ibu mertuanya.


"oiya Bu, tadi saya mendengar dari mbak Wati kalau anak ibu Raisya meninggal ya? saya turut bersuka cita ya buk, semoga ibu dan pak Arya diberi kesabaran dalam mengahadapi ujian ini."


"Aamiin Bu, terimakasih atas doanya."


"memangnya anak ibu sakit apa sampai bisa meninggal dunia?" tanya ibu Ari.


Raisya menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibu Ari.


"anak saya meninggal sebelum sempat saya lahirkan Bu karena sebuah insiden perampokan."


"perampokan Bu?" ulang ibu Ari kaget.


"iya Bu, waktu itu usia kandungan saya sudah sampai 8 bulan..tinggal satu bulan lagi anak kami lahir..tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan mengambil anak kami kembali ke pangkuannya."


"ibu yang sabar ya buk, pasti ini semua berat untuk ibu jalani..tapi yakinlah bahwa Tuhan pasti akan menggantikan dengan yang lain yang lebih baik di balik ujiannya.." ibu Ari ikut merasakan kesedihan yang menantunya rasakan, ia paham sekali bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, mungkin ia masih beruntung, masih bisa melihat Arya walaupun dengan identitas yang lain.


Tapi Raisya, menantunya itu kehilangan anaknya untuk selama lamanya tanpa dapat melihatnya kembali.


"iya bu, ibu benar sekali karena di tengah keterpurukan saya saat itu, saya menemukan Pelangi, "


"Pelangi? maksud ibu Raisya gadis kecil yang kemarin ikut ke panti asuhan itu?" ulang ibu Ari menyebut nama Pelangi.


"iya Bu, Pelangi bukanlah anak kandung saya dan mas Arya.


Saya waktu itu menemukan Pelangi menangis di tepi jalan dekat TPU dimana anak saya dimakamkan.


Waktu itu saya dan mas Arya membawa Pelangi ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang penemuan bayi, kami takut kalau Pelangi adalah korban penculikan.


Tapi ternyata sampai batas waktu yang di tentukan oleh pihak kepolisian, tak ada satu keluarga pun yang mencari keberadaannya,


Sehingga kami memutuskan untuk mengadopsinya menjadi anak kami." terang Raisya panjang lebar pada ibu Ari


"saya tidak menyangka kehidupan ibu Raisya tak semudah yang saya bayangkan,"


"tidak hanya itu saja bu, masih ada cerita lain dalam hidup saya." Raisya kembali bercerita tentang kehidupannya pada ibu Ari.


"maksudnya?"


"akibat peristiwa perampokan itu, saya tidak hanya kehilangan bayi saya, bahkan dokter juga mengangkat satu ovarium saya karena kondisinya sudah rusak parah, dan ibu tahu, kehilangan satu ovarium akan membuat saya sulit untuk memiliki anak lagi, dan itu membuat saya semakin hancur dan terpuruk,


Untung saja mas Arya d.an seluruh keluarganya juga ibu saya selalu mendukung saya, sehingga saya bisa kuat sampai detik ini.


Mertua saya yang sebenarnya sangat menginginkan penerus keluarganya pun tak mempermasalahkan jika nantinya saya tidak bisa memberikan cucu pada mereka yang terpenting bagi mereka saya baik baik saja dan hidup bahagia. bersama mas Arya dan yang lainnya."


Entah mengapa Raisya begitu Nayaman bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada ibu Ari., orang yang baru beberapa kali di temuinya.


Mungkin ada ikatan batin antara ia dan ibu Ari.


Ikatan batin antara. menantu dan ibu mertua.


...****************...


to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉


"

__ADS_1


__ADS_2