
"Bella, Leo bisakah Tante minta tolong sama kalian?" tanya ibu Lina yang pada saat ini masih ada dirumah sakit menunggu Raisya.
"tentu saja Tante,,apa yang bisa saya dan mas Leo bantu? " jawab Bella sembari bertanya pada ibu Lina..
"tolong Kalian bawa Pelangi pulang, kasihan dia kalau diajak di rumah sakit lama lama, lagipula rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak seusia Pelangi."
"baiklah Tante, saya akan bawa Pelangi pulang kerumah."
"satu lagi, Tante nitip Pelangi sama kamu ya, selama Raisya masih disini..tolong jaga Pelangi."
"iya Tante, Tante tenang saja, Pelangi sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, Jadi Tante tenang saja, Pelangi akan baik baik saja bersama saya. Kalau ada perkembangan apapun tentang Raisya tolong kabari saya ya Tante." jawab Bella meyakinkan.
"pasti Bella,,kamu dan Leo bantu doa ya, semoga Raisya cepat keluar dari masa kritisnya."
Bella mengangguk. " pasti Tante, saya akan berdoa untuk kebaikan Raisya."
Setelah berpamitan dengan semuanya, Leo dan Bella pulang bersama Pelangi.
Sementara Arya, dan kedua orang tuanya masih setia menunggu Raisya di rumah sakit, tepatnya di depan ruang IGD.
Beberapa saat setelah Leo dan Bella pulang bersama Pelangi.
Beberapa orang perawat keluar dengan Raisya berada diatas branker rumah sakit.
Wanita itu masih belum sadarkan diri.
Arya langsung berlari mendekati Raisya ketika istrinya itu dibawa keluar untuk dipindah ke ruang rawat oleh perawat.
"sayang,,kamu harus bertahan, ada aku disini, dan juga Pelangi yang masih sangat membutuhkan mamanya, kamu harus kuat sayang." ucap Arya lirih saat di dekat Raisya.
"maaf pak, kami akan segera membawa istri anda keruang perawatan..bapak dan ibu bisa menemui pasien di ruang perawatan." ujar salah seorang perawat, yang kemudian melanjutkan membawa Raisya ke ruang rawat yang sudah disiapkan sebelumnya. Ruang VVIP. 01.
Arya dan kedua orang tuanya mengikuti para perawat membawa Raisya.
Dan akhirnya mereka sampai di ruang VVIP. 01.
Raisya pun dipindahkan ke ranjang pesakitan yang ada dalam ruangan itu dalam keadaan belum sadarkan diri.
"terimakasih Suster." ucap ibu Lina ketika perawat sudah selesai memindah Raisya ke ruang rawat.
"sama sama ibu, kalau ada apa apa dengan pasien ibu bisa panggil perawat atau pencet Bel."
"iya suster, sekali lagi terimakasih."
__ADS_1
"sama sama Bu, kami permisi dulu." pamit perawat ketika meninggalkan ruang rawat Raisya.
Kini Arya duduk manis di samping ranjang pesakitan Raisya, dengan terus menggenggam tangan Raisya dengan tangan nya.
Begitu pula dengan Pak Ridwan dan ibu Lina, mereka berdua menemani Arya menjaga Raisya.
Pak Ridwan tadi juga sudah mempercayakan semua pekerjaan Arya pada Leo.
Karena disaat seperti ini Arya tak mungkin sedetik saja mau meninggalkan istrinya,,jadi untuk sementara Leo yang akan menghandle semua pekerjaan Arya selama Raisya belum pulih.
......................
Berbeda dengan Arya dan keluarganya yang terpuruk karena kondisi Raisya, beda lagi dengan Reva.
Reva sekarang ini sedang menyaksikan berita di tv tentang terjebaknya Istri Pengusaha muda Arya Wijaya di dalam lift.
Dan berita itu sangat membuatnya bahagia.
"ini baru awal Raisya, kamu lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan sama kamu." ucapnya seraya tertawa di apartemen sembari minum minum.
Sungguh kejam sekali wanita yang bernama Reva itu, sungguh ia wanita yang tak punya hati.
Ia akan melakukan segala cara untuk merebut Arya kembali dari tangan Raisya.
Tapi setidaknya, bukan Raisya yang mendapatkan cinta Arya,,sungguh ia merasa terbanting karena Arya lebih memilih wanita itu daripada dirinya yang jelas jelas status sosialnya di atas rata rata, ia juga seorang model dan pengusaha, walaupun sekarang karir modelnya meredup, tapi setidaknya ia bisa berbisnis yang lain.
Berbeda dengan Raisya yang dianggapnya hanya wanita rendahan dan murahan tapi sanggup meluluhkan hati seorang Arya Wijaya yang terkenal. dingin dengan wanita.
"Arya aku bersumpah akan membuat kamu meninggalkan wanita itu dan kembali kepadaku.
Kalau aku tak bisa mendapatkan kamu, maka tidak seorang pun yang berhak mendapatkan kamu."
sumpah serapah Reva..ia masih belum jera untuk berusaha memisahkan Arya dan Raisya.
"kalau saja dulu aku tak bertindak gegabah, pasti sekarang akulah yang menjadi istri Arya Wijaya bukan Wanita itu, pasti aku yang menjadi pendamping Arya, dan aku bisa pergi jalan jalan kemanapun aku mau..tapi wanita j****g itu merebut semuanya dariku," Reva merutuki dirinya sendiri yang pernah melakukan kesalahan fatal yang membuat Arya meninggalkannya dan memilih Raisya menjadi pendamping hidupnya, sebagai pengganti dirinya, tentu saja ia tak terima dengan itu semua.
......................
Setelah mengantarkan Bella dan Pelangi pulang kerumah keluarga Wijaya, Leo pun kembali ke rumah sakit untuk memastikan kondisi istri bosnya itu.
Setiba dirumah sakit, Leo mendapat informasi jika Pasien atas nama Raisya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. no.01.
Leo pun langsung pergi ke kamar rawat inap Raisya dan menemui Pak Ridwan dan ibu Lina.
__ADS_1
"selamat malam om. Tante."
"selamat malam Leo." jawab pak Ridwan.
"bagaimana kondisi mbak Raisya?" tanya Leo kemudian.
"masih sama, Raisya belum juga sadarkan diri.' ucap ibu Lina lemah, ia juga sama seperti Arya, ia juga sangat sedih atas kondisi menantunya yang masih saja belum sadarkan diri pasca terjebak di dalam lift beberapa jam yang lalu.
Raisya bukan sekedar menantu bagi ibu Lina, tapi Raisya sudah seperti putrinya sendiri.
Ibu Lina sangat menyayangi Raisya seperti beliau menyayangi Arya dan Tania.
Sama halnya dengan Leo , ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya atas kondisi Raisya sekarang ini.
Raisya bukan hanya istri dari bos nya, tapi mereka juga bersahabat sejak sama sama bekerja di Wijaya group, yang saat itu Raisya bekerja sebagai sekretaris Arya..yang pada akhirnya menjadi istri dan menantu dari Arya Wijaya, pemilik Wijaya group.
Selain itu Raisya juga sahabat dekat calon istrinya yaitu Bella.
"om, maaf bisa bicara sebentar di luar?" tiba tiba saja Leo meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan pak Ridwan dan tentu saja diluar ruangan rawat Raisya.
Pak Ridwan pun mengangguk, dan beliau berjalan keluar dari ruangan bersama Leo.
"ada apa Leo?" tanya pak Ridwan.
"begini om, sepertinya ada orang yang sengaja ingin mencelakai mbak Raisya,"
Pak Ridwan pun terlihat terkejut.
"maksud kamu?"
"begini om, apa om ingat apa yang dikatakan cleaning servis di gedung itu tadi? dia mengatakan kalau dia yang meminta Raisya pergi ke lantai 4 gedung itu karena dapat pesan dari pak Arya, padahal jelas jelas pak Arya ada di lantai dasar bersama dengan tamu tamu yang lain." terang Leo yang sedari awal sudah merasa ada yang tidak beres dengan kejadian Raisya terjebak di lift tapi ia belum sempat mengutarakannya pada Arya maupun pak Ridwan karena tak ada waktu untuk bicara dengan Arya maupun pak Ridwan.
Mereka semua masih fokus pada kondisi Raisya saat itu, dan tentu saja tak bisa berpikir jernih tentang apa sebenarnya yang terjadi.
"Dan satu lagi om, kabar berita mengenai kejadian ini sudah menyebar ke seluruh media elektronik, dan bukan tidak mungkin berita ini juga akan ada tersebar di media cetak besok pagi.'
"baiklah Leo, kamu lakukan apa saja yang menurut kamu terbaik untuk semuanya, om dan keluarga om mempercayakan semua sama kamu, " ujar pak Ridwan pada Leo, beliau mempercayakan semuanya pada asisten pribadi putranya itu.
Beliau yakin Leo bisa mengatasi masalah ini.
...****************...
to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉
__ADS_1