Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
Episode 87*


__ADS_3

"wanita itu, cantik sekali, baru kali ini aku bertemu dengan wanita secantik dan se anggun dia." ucap laki laki yang sedari tadi memperhatikan.


Laki laki itu adalah Firman sahabat Arya beberapa tahun yang lalu.


Firman tidak tahu jika wanita yang sedari tadi ia perhatikan adalah Raisya, istri Arya.


Firman terus mengikuti Raisya dari kejauhan.


Ia benar benar terpesona dengan istri orang.


"siapa dia sebenarnya? kenapa beberapa waktu lalu waktu kemari aku tak melihatnya? apa dia salah satu staf di divisi lain?" gimana Firman.


Belum juga ia sempat mengenal wanita itu, seorang staf kantor Arya memanggilnya untuk segera keruang meeting karena yang lain sudah menunggu disana.


Akhirnya dengan berat hati Firman pun mengurungkan niatnya untuk mengenal wanita itu.


Diruang meeting


Ada beberapa klien dari perusahaan yang berbeda hadir dalam meeting itu.


Tujuannya tak lain dan tak bukan berlomba lomba menarik perhatian Arya selalu CEO dan pemilik perusahaan agar mau bekerja sama dengan mereka.


Namun dalam meeting ini, Firman tak lagi bisa konsen mengikutinya.


Pikirannya terbayang wanita yang ia temui di lift tadi.


Wajah cantik dan anggun wanita itu membayang di pikirannya.


Sampai pada saatnya meeting selesai, dan karena ia merasa perutnya lapar, Firman pun pergi ke cafetaria kantor Arya.


Firman mengambil tempat duduk di dekat jendela untuk bisa menikmati indahnya Jakarta dari ketinggian.


Baru saja ia menikmati jus jeruk yang ia pesan.


Firman kembali melihat wanita itu, wanita yang membuatnya terpesona sejak pertama kali melihatnya.


Entah dari mana datangnya wanita itu, dia pergi dan datang begitu saja.


Sebenarnya dia itu manusia atau malaikat? batin Firman.


Wanita itu terlihat berbincang dengan kasir cafetaria dengan santai kemudian pergi dengan membawa kantong yang mungkin berisi makanan.


Melihat wanita itu pergi meninggalkan cafetaria dengan segera Firman pun mengikutinya.


Sepanjang Firman mengikuti Raisya, ia melihat wanita itu selalu tersenyum ramah ketika berpapasan dengan para staf kantor.


Mereka juga terlihat sangat menghormatinya.


"siapa sebenarnya wanita itu, kenapa semua orang dikantor ini terlihat sangat menghormatinya?" tanya Firman pada dirinya sendiri.


Ingin rasanya firman ikutan menyapanya seperti yang lain.


Dan tentunya mendapat hadiah senyuman manis Raisya.


"mbak Raisya,,apa kabar?"


terlihat Seseorang memanggilnya dengan sebutan Raisya.


"oh ternyata namanya Raisya, nama yang indah, seindah orangnya." gumam Firman seraya tersenyum.


Firman pun mulai berjalan mendekati Raisya.


Namun kiranya kurang beberapa langkah saja firman melihat Raisya menutup mata seseorang dari belakang.


"Ayo tebak siapa?" terdengar Suara Raisya bertanya.


seketika pria yang di tutup matanya dari belakang oleh Raisya itupun memegang tangan Raisya dan berbalik kemudian mencium tangannya.


"Arya?" Firman terlihat sangat kaget melihat Arya bersama Raisya.


Mereka berdua terlihat begitu dekat.


seperti sepasang kekasih, tapi yang ia dengar dari Reva, Arya sudah menikah.


Apa mungkin Arya selingkuh dengan Raisya?


Beberapa pertanyaan muncul di benak Firman.


Tentang hubungan Arya dan Raisya.


"sayang, kamu kok ada disini? bukannya kamu harusnya lagi di rumah sakit cek kandungan?" tanya Arya pada Sang istri.


"iya tapi gak jadi, karena anak kamu ini mauya ditemani sama papanya."


Jawab Raisya seraya tersenyum.


"Ya Tuhan senyumnya manis sekali.." gumam Firman yang melihat keharmonisan Arya dan Raisya dari jarak yang lumayan dekat.


"enggak mas, tadi pihak rumah sakit telepon aku, mereka bilang jadwalnya ditunda sore karena dokternya lagi ada seminar pagi ini. Jadi artinya anak kamu maunya ditemani papanya."


Arya pun mengelus dan mencium perut Raisya yang sedikit membuncit.


"apa iya ini anak papa maunya ditemani papanya nanti pas periksa, atau jangan jangan mamanya yang pengen ditemani papanya." canda Arya.


"Apa? papa? mama? jadi Raisya itu istri Arya?""


nah akhirnya Firman tahu juga apa hubungan antara Arya dan Raisya.


Dan ketika Arya dan Raisya berbalik, mereka melihat ada firman.


Arya pun memanggilnya.


"Firman? kamu masih disini?"


tanya Arya sambil berjalan menggandeng Raisya kearah Firman.

__ADS_1


"iya, tadi aku ke toilet sebentar." jawab Firman berbohong dan sedikit gugup.


"oiya sayang, kenalkan ini Firman, Dan Firman kenalkan ini Raisya,istriku."


Firman dan Raisya saling berkenalan dengan berjabat tangan.


Entah kenapa rasanya hati Firman terasa begitu perih ketika Arya menyebut Raisya dengan sebutan istriku.


"Firman ini teman aku dari waktu kuliah sayang,"


"maaf sepertinya aku baru bertemu sekali ini ya mas?"


"iya sayang, karena Firman ini beberapa tahun terakhir ada di luar negeri dan baru kembali beberapa hari yang lalu. Terang saja kamu belum pernah ketemu."


Raisya hanya mengangguk menanggapi omongan Arya.


"oiya mas, seminggu lagi kan Pelangi ulang tahun yang pertama bagaimana kalau kita undang mas Firman juga?"


"boleh juga sayang, gimana Firman apa kamu ada waktu untuk datang di acara ulang tahun putri kami Minggu depan?"


Arya pun mengundang Firman secara langsung di depan Raisya, dan itu pun karena permintaan Raisya.


Padahal secara pribadi Arya sudah muak melihat wajah Firman karena sahabatnya itu sudah pernah mengkhianati kepercayaannya.


Namun di depan umum apalagi di depan istrinya ia berpura pura tidak pernah terjadi apa apa.


"bisa kan mas Firman? kita hanya mengadakan syukuran kecil - kecilan dengan hanya mengundang keluarga dekat dan anak yatim saja."


"aku akan usahakan untuk datang, Minggu depan kan?" Akhirnya Firman pun menyanggupi undangan Arya dan Raisya untuk datang di acara ulang tahun Pelangi.


"baiklah kalau begitu aku pamit dulu karena masih banyak urusan."


Pamit Firman pada Arya dan Raisya.


Arya dan Raisya pun mempersilakan Firman untuk pamit dengan senyuman manis mereka.


Setelah itu Arya dan Raisya masuk ke ruangan Arya, karena Raisya sudah membawakan makan siang untuk suaminya itu.


"mas, mas Firman itu benar sahabat mas Arya?" tanya Raisya penasaran.


"iya, memangnya kenapa?" tanya balik Arya seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"ya aneh saja menurutku."


"aneh gimana sih sayang?"


"ya aneh saja, cara mas Arya ngobrol dengan mas Firman beda aja ketika mas Arya ngobrol dengan sahabat mas Arya yang lainnya, kayak kaku gitu."


Arya terdiam sejenak mendengar kata kata istrinya.


Apa iya terlihat jelas jarak antara dia dan Firman? sampai sampai istrinya ngomong begitu.


"mungkin perasaan kamu saja sayang, gak ada yang aneh, biasa biasa saja mungkin karena kamu baru ketemu saja sama Firman."


"kamu gak makan ?" tanya Arya mengalihkan topik pembicaraan.


Raisya menolak untuk makan.


Sehingga Arya makan siang sendiri dengan ditemani istri tercintanya.


Melihat sang suami sudah selesai makan, Raisya pun pamit pulang.


"mas, aku pulang dulu ya? kasian Pelangi nanti kalau pulang aku gak ada."


"Yasudah kamu tunggu sebentar, aku mau cek pekerjaan ku dulu, habis itu kita pulang."


Arya pun segera mengambil beberapa berkas yang sudah ada di meja kerjanya untuk dicek ulang dan di tandatangani.


"aku pulang sendiri gak apa apa."


"jangan, kita akan pulang bareng, ini gak lama."


Arya tidak mengijinkan istrinya pulang sendiri, ia sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu dengan istri dan calon bayinya.


Jadi dia pilih meninggalkan pekerjaannya dan memilih menemani istrinya.


Sungguh kejadian Arsya dulu membuatnya trauma.


"baiklah kalau begitu, oiya mas hari ini ibu Ari masuk pagi atau siang?"


Raisya menanyakan tentang ibu Ari pada Arya.


"ya mana aku tahu sayang, coba kamu tanya Velicia, pasti dia lebih tahu. Biar aku telepon velic ya."


Arya pun mengambil teleponnya untuk menghubungi Velicia, menanyakan tentang ibu Ari.


"gak usah mas, biar aku saja yang keruangan Velicia, sudah lama aku gak ketemu sama dia."


"yasudah terserah kamu saja."


"kalau begitu aku ke ruangan Velicia dulu ya mas?" pamit Raisya pada Arya kemudian pergi meninggalkan ruangan suaminya menuju ruangan kerja Velicia.


Arya pun segera menyelesaikan seluruh pekerjaannya agar bisa secepatnya pulang.


Belum juga Arya selesai mengecek satu berkas, Raisya sudah kembali dengan raut wajah khawatir.


"loh kenapa kamu balik lagi sayang? Apa Velicia gak ada? kamu kenapa kok mukanya gitu? ada apa sayang?" tanya Arya ini ikut khawatir.


"mas, Ibu Ari gak masuk."


"owh mungkin ibu Ari dapat shift sore sayang."


"bukan mas, tapi Velicia bilang hari ini ibu Ari ijin gak masuk kerja karena sakit."


"ibu Ari sakit? sakit apa ?" entah kenapa Arya ikut khawatir ketika mendengar ibu Ari sakit.

__ADS_1


Padahal yang ia tahu dan ia kenal ibu Ari hanyalah staf cleaning servis kantornya.


Arya tak tahu jika sebenarnya ibu Ari adalah ibu kandungnya.


"iya mas, nanti sebelum pulang kita tengok ibu Ari sebentar ya mas, aku khawatir kalau sakitnya parah, kan disini Bu Ari tidak punya siapa siapa mas,"


"iya sayang, tapi aku selesaikan dulu pekerjaan ku dulu ya, setelah itu kita tengok ibu Ari."


Raisya pun mengangguk kemudian duduk disofa yang ada di ruang kerja suaminya


Sekitar 30 menit kemudian, Arya dan Raisya pergi menengok ibu Ari di mess karyawan yang tak jauh dari sana dan hanya butuh waktu beberapa menit saja.


tok tok tok


Arya mengetuk pintu kamar ibu Ari yang berada di mess karyawan.


"kok gak ada jawaban mas, coba ketuk lagi mas."


"iya sayang."


Arya pun mengetuk kembali pintu kamar ibu Ari.


Sampai 3 kali, dan yang terakhir, ibu Ari pun akhirnya keluar.


Arya dan Raisya terkejut melihat wajah ibu Ari yang pucat dan badannya lemah.


"pak Arya, mbak Raisya ada apa datang kemari? maaf karena hari ini saya ijin tidak masuk karena sedang tidak enak badan."


ucap ibu Ari ketika melihat anak dan menantunya datang.


Ibu Ari pun mempersilakan anak dan menantu nya itu masuk ke dalam kamarnya.


"iya gak apa apa Bu, kami kesini karena mendengar kabar kalau ibu sedang sakit.


Ibu gak apa apa? ibu sudah periksa ke dokter?" tanya Raisya.


Ibu Ari tersenyum mendengar ucapan menantunya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"saya tidak apa apa mbak, mungkin hanya masuk angin saja, istirahat sebentar juga akan baikan."


"tapi ibu pucat sekali, mas bagiamana kalau kita antar ibu Ari periksa ke dokter?" tanya Raisya pada Arya, suaminya.


"tidak usah repot repot pak Arya dan Mbak Raisya, saya tidak apa apa." ibu Ari menolak ajakan Raisya dan Arya untuk pergi ke dokter.


"istri saya benar Bu, kita ke dokter saja ya, biar saya dan istri saya yang antar," kini giliran Arya yang bicara pada ibu Ari.


Terlihat ibu Ari diam, Arya mengerti apa yang di khawatirkan oleh ibu Ari.


"Bu, ibu tenang saja, masalah biaya, semua kantor yang urus, ibu tidak usah khawatir ya." tambah Arya.


"bukan begitu maksud saya pak, mbak, hanya saja saya tidak ingin merepotkan pak Arya dan mbak Raisya, itu saja."


terang ibu Ari, beliau menolak ke dokter bukan hanya takut dengan biaya nya, tapi juga merasa tidak enak karena sudah merepotkan atasannya walaupun sebenarnya mereka bukan hanya sekedar atasannya, tapi mereka adalah anak dan menantunya.


"baiklah kalau memang ibu tidak mau diantar ke dokter biar saya saja yang meminta dokter untuk datang kemari memeriksa kondisi ibu."


Arya pun bertindak tegas, ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter untuk datang ke mess karyawan guna memeriksa kondisi kesehatan ibu Ari.


"tapi pak?" ibu Ari mencoba melarang Arya untuk menghubungi dokter, namun apalah daya Arya sudah terhubung dengan dokter dan pastinya dokter akan segera datang


"sudahlah Bu, ibu ikuti saja apa kata mas Arya ya, ini semua juga demi kebaikan ibu."


ujar Raisya.


Akhirnya ibu Ari hanya bisa menurut apa kata Arya dan Raisya.


Ibu Ari pun bersedia diperiksa oleh dokter suruhan Arya.


"bagaimana keadaannya dokter? apa ada yang serius?"


tanya Arya pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Ibu Ari.


Sang dokter pun tersenyum.


"tenang saja pak Arya dan ibu Raisya, tidak ada yang perlu di khawatirkan, kondisi ibu Ari baik baik saja, mungkin hanya kelelahan saja."


Terang sang dokter.


"Alhamdulillah.." Arya dan Raisya kompak mengucap syukur karena kondisi ibu Ari tidak ada yang serius.


"ini hanya sekedar vitamin untuk menjaga daya tahan ibu Ari."


dokter memberikan selembar resep vitamin pada Arya yang selanjutnya untuk diberikan pada ibu Ari.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak Bu,,"


"sekali lagi terimakasih dokter sudah menyempatkan waktunya untuk datang kemari."


"sama sama pak, saya permisi dulu selamat siang," pamit sang dokter pada Arya dan Raisya kemudian pergi meninggalkan kamar ibu Ari.


"siang dokter " Jawab Arya dan Raisya kompak.


Setelah itu Arya menelepon pengurus mess karyawan untuk menebus resep ibu Ari di apotek.


"lebih baik ibu Ari istirahat sambil menunggu obat ibu datang." pinta Raisya pada ibu Ari.


"iya Bu, ibu istirahat saja dulu." tambah Arya.


"sekali lagi terimakasih banyak atas semua yang sudah pak Arya dan mbak Raisya lakukan sama saya, saya sudah banyak merepotkan pak Arya dan mbak Raisya.


"gak ada yang merasa direpotkan Bu, iya kan mas?"


"iya Bu, disini kita itu keluarga Bu, jadi sudah sepatutnya kita saling membantu." Ujar Arya dan di dukung oleh Raisya.


"keluarga? ya benar kita ini keluarga nak, saya ini ibu kamu, ibu kandung kamu, ibu yang sudah melahirkan kamu, tapi ibu tidak bisa mengatakannya pada kalian," batin ibu Ari sedih.

__ADS_1


...****************...


to be continued ✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉


__ADS_2