Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
*Episode 52*


__ADS_3

Hari ini Pak Wijaya beserta istri sudah kembali dari luar kota..mereka pulang tidak hanya ber dua saja..tapi ada eyang Kakung dan eyang putri bersama mereka dan satu lagi Tania..


"Assalamualaikum.."


"waalaikumsalam..mama papa..lho eyang juga datang.." ucap Arya sedikit kaget saat melihat ke dua orang tuanya datang tidak sendiri..mereka bersama eyang juga..dan adik kesayangannya yaitu Tania.


Seperti biasa ritual cium tangan pada orang yang lebih tua tak pernah ketinggalan.


"Arya mana cucu mantu dan buyut eyang kok ga kelihatan..?"eyang putri menanyakan keberadaan Raisya dan Pelangi yang sedari tadi tak dilihatnya.


"ada eyang lagi ganti popok barusan si kecil pup..nah itu mereka.." ucap Arya ketika melihat istri dan putri kecilnya muncul.


"eyang..apa kabar.." sapa Raisya tak lupa cium tangan..eyangnya dan juga mertuanya.


"eyang baik Sya..kamu baik juga kan..bilang ke eyang kalau Arya bertindak macam macam sama kamu,,biar eyang jewer dia nanti.." semua orang tersenyum mendengar ucapan eyang putri.


"tenang aja eyang ,,Arya ga pernah macam macam ke cucu menantu eyang cuma satu macam aja..ya kan sayang..?"ucapnya sambil mengedipkan matanya pada Raisya.


"kamu ini ya..oiya pasti ini buyut eyang ya..duh kamu cantik banget sih nak..mirip mama kamu..sini sama Uyut.." eyang putri mengambil alih Pelangi dari gendongan Raisya.


Tapi Pelangi menangis..mungkin karena baru pertama kali bertemu jadi belum kenal.. sebelumnya hanya lewat video call..belum pernah bertemu langsung.


"sayang ..kenapa nangis..ini Uyut nya Pelangi..yasudah sini sama mama.." Raisya mengambil alih kembali si kecil dari pangkuan eyang putri..dan kembali duduk di samping Arya,, suaminya.


Mereka ngobrol ngobrol untuk melepas kangen sampai tiba waktunya makan siang.


Selama di tinggal makan siang Bella mengambil alih Pelangi dari tangan Raisya untuk di suapi juga sambil main di depan.


Dan seperti biasa ketika Raisya melihat beberapa menu masakan yang tak cocok dengan moodnya ia langsung mual.


Begitu pun siang ini ,,di meja makan ada beberapa menu pilihan..salah satunya cumi asam manis..favorit Tania..menu itu bibik yang masak karena ada request sebelumnya dari Tania.


Melihat cumi..perut Raisya langsung mual..tak dapat di tahan dan akhirnya ia pamit ke belakang.


"Raisya kenapa Arya..? dia sakit..?" tanya sang mama dan eyangnya kompak.


"sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu Raisya seperti ini..ma,, eyang ...ya sudah Arya susul Raisya sebentar ya.." Arya meninggalkan meja makan dan anggota keluarga yang lain untuk menyusul Raisya ke kamar mandi.


**


"sepertinya akan ada kabar gembira ini ...?" eyang Putri bicara dengan nada bahagia..seraya memandang bergantian penghuni meja makan.


Dan hal itu membuat semua orang bingung,,kecuali ibu Lina ,,mamanya Arya.


"gimana menurut kamu Lina..?" tanya eyang putri pada ibu Lina menantunya.


"semoga saja ya buk." jawab ibu Lina sambil tersenyum.


"maksud kalian ini apa bapak gak ngerti..kamu ngerti Jaya apa yang istri dan ibu kamu bicarakan..?" tanya eyang Kakung pada pak Wijaya sang anak..dan pak Wijaya hanya bisa menggelengkan kepala pelan karena memang gak ngerti.


"kalian ini para lelaki tau apa urusan perempuan.." ucap Eyang putri melihat kebingungan anak dan suaminya.


***


Tak lama Raisya dan Arya pun kembali..Arya menuntun Raisya kembali ke tempat duduknya.


"Mbak Raisya gak apa-apa..?" tanya Tania khawatir.


"mbak gak apa-apa Tania..maaf sudah mengganggu makan siang kita semua ."


"gak apa-apa Sya..kamu sudah periksa ke dokter..?" tanya eyang putri pada cucu mantu kesayangannya.


Raisya menggelengkan kepala pelan..karena memang ia belum ke dokter.


"Dari kemarin eyang..Arya bujuk Raisya untuk ke dokter tapi dianya gak mau..katanya gak apa-apa..cuma masuk angin' aja..tapi sampai sekarang masih seperti ini.." giliran Arya yang menjelaskan pada semua orang.


"kamu ke dokter donk Sya..takutnya kamu kenapa napa."


"Raisya gak apa apa kok eyang..mama sama eyang tenang aja..mungkin cuma masuk angin..minum obat juga baikan.."


"kamu ini..keras kepala juga ternyata..gak jauh beda sama suami kamu..tapi ingat kalau sampai besok pagi kamu masih gini terus keadaan nya..kamu harus ke dokter ya.." tegas sang eyang..dan akhirnya Raisya pun tak bisa menolak..ia hanya bisa menurut apa kata eyang nya.


Untungnya saat Raisya kembali menu cumi nya udah dilahap habis sama Tania..jadi Raisya sudah berkurang mualnya.


Sehabis makan siang..Raisya ingin menemani Pelangi bermain tapi ternyata si kecil udah tidur..dan di bawa ke kamar Bella..jadi yasudah lah.Raisya pergi ke kamarnya untuk istirahat dan tentu saja bersama sang suami tercinta Arya Wijaya.


"lho katanya kamu mau ngambil Pelangi..kok gak jadi Sya ?" tanya Arya ketika ia melihat istrinya masuk ke dalam kamar sendirian.


"iya mas,,pelangi sudah tidur di kamar Bella,,jadi aku gak tega buat bangunin dia..kasian.." ucap Raisya seraya ikut duduk di ranjang bersama sang suami.


"ya sudah,, kalau begitu.. giliran kamu yang istirahat ya..kondisi kamu juga lagi kurang baik..jadi jangan terlalu capek..ada Bella yang urusin Pelangi..kamu gak usah khawatir.." Arya meraih tangan sang istri dan memeluknya.


"mas.."


"hemb..ada apa..?"


"kok aku tiba tiba jadi pengin martabak manis yang waktu itu pernah kita beli di perempatan dekat kantor yaa..gimana kalau kita beli sekarang..?"


"sayang besok aja ya belinya..kamu lihat sendiri kan di luar hujan ..dan kamu juga lagi masuk angin.."


"tapi aku pengen nya sekarang mas..ya kita keluar ya beli martabak sekarang.." Raisya merengek minta martabak yang di jual di perempatan dekat kantor..tak tau kenapa tiba tiba saja ia sangat ingin makan martabak yang disana.


"iya iya sayang ..tapi kamu dirumah aja ya..biar aku sendiri yang pergi beli martabak manis buat kamu.."


"gak mau..aku maunya ikut.. boleh ya boleh..?"


"baiklah nyonya Arya ..apa sih yang gak buat seorang Raisya Wijaya..apapun akan aku berikan buat kamu..bahkan jika kamu minta nyawa ku sekalipun,, akan aku berikan buat kamu.."


"makasih ya mas..aku sayang sekali sama mas Arya ." Raisya terlihat sangat bahagia akhirnya Arya mengajaknya untuk membeli martabak manis yang inginkan..spontan ia mencium pipi Arya sambil tersenyum.


"aku juga sayang dan cinta sekali sama kamu sayang..ya sudah kamu ambil jaket kita berangkat sekarang.."


Mendengar ucapan suaminya dengan senang hati Raisya segera bangkit dari tempat tidurnya untuk mengambil jaket dalam lemari kamarnya kemudian ia dan Arya keluar dari kamar untuk pergi membeli martabak manis.


"kalian mau kemana hujan hujan begini.. bukannya Raisya lagi kurang enak badan..?" tanya ibu Lina sang mama saat melihat anak dan menantunya memakai baju hangat.

__ADS_1


"ini ma..menantu kesayangan mama ini tiba tiba kepengin martabak manis yang dekat perempatan kantor itu ma..


Arya sudah memintanya untuk nunggu dirumah.. biar Arya sendiri yang pergi membeli nya..tapi dianya ngotot pengen ikut.." jelas Arya pada sang mama.


"ya sudah gak apa-apa..yang penting kalian hati hati.."


Jawab sang mama sambil tersenyum..karena beliau punya firasat baik soal menantunya itu..semoga saja firasat nya itu tidak meleset.


"kalau begitu kami pergi dulu ya ma....mama mau nitip apa..?"tanya Arya sebelum pergi.


"udah gak usah..kamu ikutin aja kemauan istrimu.." jawab sang mama sambil tersenyum.


****


Dan setelah menempuh perjalanan di tengah hujan lebat..akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju..tapi antriannya sungguh panjang.


"ya Tuhan antriannya panjang banget Sya..kita bisa sampai rumah malam hari ini..gimana kalau kita cari di tempat lain aja.."


"aku pengen nya disini mas...kalau mas Arya gak mau ngantri biar aku sendiri yang ngantri..mas Arya bisa pulang,,nanti aku pulangnya naik taksi aja.." Raisya sudah mulai kesal..ia pun segera membuka sabuk pengaman nya..dan berniat keluar di tengah hujan deras..Arya segera menarik tangannya..dan melarangnya untuk keluar.


"iya iya,,aku yang akan ngantri disana..kamu tunggu di mobil aja..di luar hujan deras.." akhirnya Arya lah yang keluar ikut dalam antrian panjang di depan penjual martabak manis..sedangkan Raisya menunggu di mobil dengan sabar.


Kasian juga rasanya melihat sang suami ngantri panjang berdempetan dengan orang-orang apalagi hujan hujan kayak gini..tapi mau gimana lagi.. keinginannya akan makanan yang bernama martabak manis sudah tak bisa di bendung lagi..jadi harus di turuti hari itu juga.


2 jam sudah berlalu akhirnya Arya mendapatkan apa yang di inginkan sang istri.


Namun saat sampai di dalam mobil..malah Raisya ketiduran.


"Sya..ini...Ya Tuhan sayang kamu sampai ketiduran begini karena nunggu lama.."


Arya bergumam sendiri saat melihat istri tercintanya tertidur di dalam mobil.


"Sya...bangun sayang..ini martabak nya sudah jadi.." Arya berusaha membangunkan istrinya dengan mengelus puncak kepala sang istri untuk memberikan martabak manis yang dimintanya..karena martabak enaknya dimakan selagi hangat.


Akhirnya perlahan Raisya pun membuka matanya..dan hidungnya sudah sangat hafal dengan aroma martabak manis favoritnya.


"ini martabaknya sudah jadi..kamu makan dulu selagi hangat."


Arya membuka kotak berisi martabak dan memberikan sepotong martabak manis untuk sang istri.


"makasih ya mas.."


"iya sama sama.."


sesaat setelah mendapatkan martabak itu..langsung saja Raisya melahapnya seperti orang kelaparan..Arya saja yang melihatnya juga heran.. kenapa istrinya begitu lahap makan martabaknya.


"mas..gak makan..ayo dimakan.." melihat Arya yang sedari tadi hanya memandanginya..Raisya pun segera mengambil sepotong martabak dari kardus dan menyuapkan nya langsung ke mulut Arya..


Arya pun dengan senang hati menerima perlakuan istrinya itu..ia sangat bahagia melihat wanita yang dia cintai bahagia seperti ini..dalam hati ia berjanji..ia akan melakukan apa saja demi kebahagiaan wanita itu.


"bagaimana sudah puas makan martabaknya.." tanya Arya ketika Raisya sudah selesai memakan beberapa potong martabak..dan masih terdapat sisa cokelat di bibir Raisya..dengan lembut Arya menghapusnya dengan jemari tangannya.


"belepotan ya..?" tanya Raisya polos ketika Arya menghapus sisa cokelat di bibirnya.


"gimana masih mau cari makanan yang lain lagi..?" tanya Arya selanjutnya..dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Raisya


"gak mas..aku sudah kenyang banget..sekarang kita pulang saja ya.."


"baiklah nyonya.." canda Arya seraya mulai menjalankan mobilnya karena tadi mereka makan martabak nya di pinggir jalan dekat dengan penjualnya.


**


Baru setengah perjalanan..tiba tiba Raisya meminta berhenti karena melihat ada jajanan cilok di pinggir jalan..


"mas..mas..tolong berhenti sebentar.." Arya pun segera menginjak rem mobilnya ketika Raisya memintanya untuk berhenti.


"ada apa..kenapa kamu minta berhenti disini..?"


"itu mas.." Raisya menunjuk ke arah tukang cilok yang ada di seberang jalan yang sudah mereka lewati.


"aku mau itu..?" Arya melihat arah yang ditunjuk kan Raisya dan ternyata tukang cilok.


"kamu mau cilok..?gak salah? itu kan di jalanan Sya, gak sehat..apalagi kamu lagi gak enak badan..nanti kamu tambah sakit gimana..?"


"aku gak apa apa mas..beliin ya..pliss.." Raisya memohon pada suaminya untuk membeli kan cilok yang ada di seberang jalan.


"ya sudah iya iya aku akan belikan.. kamu tunggu disini biar aku sendiri yang beli.."mendengar ucapan Arya..Raisya mengangguk dan tersenyum..dan dengan sabar nya ia menunggu Arya yang keluar sebentar untuk membeli cilok yang dia inginkan.


Beberapa saat kemudian Arya pun kembali dengan membawa cilok permintaan istrinya.


"ini.." Arya menyerahkan sebungkus cilok pada Raisya..dan dengan girangnya Raisya menerima dan lagi lagi langsung melahapnya..


Arya bener bener di buat heran oleh Raisya..gak biasanya ia makan sebanyak ini..tadi sudah makan beberapa potong martabak manis dan sekarang masih juga melahap makanan yang di sebut cilok.


Arya pun segera menjalankan mobilnya kembali setelah memberikan apa yang diminta istrinya.


Sambil mengemudi sesekali Arya melihat Raisya yang masih lahap memakan ciloknya...dan ia masih merasa heran dengan kelakuan wanitanya hari ini.


****


Malam harinya..Raisya merasa perutnya lapar..padahal ini sudah lewat jam 11 malam..gak biasanya ia makan di waktu selarut ini.


"kamu mau kemana Sya..ini sudah malam.." tanya Arya ketika melihat istri nya diam diam berjalan keluar kamar.


"mau ke dapur mas,,aku lapar.. hehehehe" jawab Raisya sambil tersenyum malu..Arya hanya bisa menggeleng namun akhirnya ia pun menemani Raisya ke dapur.


**


"mas..mau makan juga ..?" tanya Raisya ketika ia mencoba membuat sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar.


"enggak aku masih kenyang..kamu aja yang makan.."


"mau aku buatkan kopi..?"


"air putih aja Sya..takutnya kalau kopi nanti malah begadang.."

__ADS_1


Raisya mengambilkan segelas air putih untuk suaminya..kemudian ia melanjutkan membuat masakan untuk menunda laparnya.


Beberapa menit kemudian jadilah roti sandwich ala Raisya..ia pun duduk bersama Arya di kursi meja makan.


"mas Arya yakin gak mau nyoba..ini enak lho..?"Raisya menawarkan sandwich buatannya pada Arya namun Arya menolak karena masih kenyang.


"yasudah kalau gak mau..aku makan sendiri.." dan dengan lahapnya Raisya makan sandwich buatannya sendiri..seakan akan sudah beberapa hari tidak makan..Hanya perlu waktu beberapa menit saja sandwich buatannya sudah habis..dan di akhiri segelas air putih hangat.


"sudah kenyang..?" tanya Arya ketika melihat istrinya selesai makan..Karena dari tadi ia hanya melihat wanitanya itu makan dengan sangat lahap.


Raisya pun tersenyum..


"sudah....mas..balik ke kamar saja dulu aku mau beresin ini sebentar.."


"enggak aku akan tunggu kamu sampai selesai.."


"baiklah.." Raisya segera membereskan Apa yang tadi ia pakai untuk membuat makanan dan tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.


"sudah selesai..ayo tidur lagi.." ajak Raisya pada suaminya untuk kembali ke kamar melanjutkan istirahat nya.


***


Beberapa hari kemudian Leo menemui Arya di kantor.


"ada hal penting yang ingin kamu sampai kan sama saya leo..?" tanya Arya ketika mereka bertemu di depan lift.


"iya pak..ini soal mbak Reva.."


"kalau begitu kita bicara di ruangan saya saja.."


"baik Pak."


Arya dan Leo menuju ruang kerja Arya yang ada di lantai 3 gedung itu.


"silakan duduk..ada informasi apa soal Reva..? apa ini ada hubungan dengan pelaku perampokan itu.."


"iya pak,,ternyata apa yang kita curigai selama ini adalah benar..mbak Reva ada di balik itu semua.."


Mendengar penjelasan Leo Arya terlihat sangat marah terlihat dari ia mengepalkan tangannya..seakan ia ingin membalas perbuatan Reva pada istrinya saat itu juga.


"kalau saya pikir pak ,,mbak Reva baru akhir akhir ini menemui pelaku karena gak mau dicurigai sebagai dalang dari peristiwa itu semua.."


"kamu benar Leo..saya harus secepatnya membuat perhitungan dengan Reva.. setelah apa yang sudah ia perbuat pada istri dan calon anak kami..sampai kami harus kehilangan anak kami..dan kamu Leo tugas kamu sekarang coba bicara pada pengacara kita untuk membicarakan itu semua..kalau bisa secepatnya Reva dijebloskan ke penjara.."


"baik pak..kalau begitu saya permisi dulu..selamat siang pak.."


"siang.."


Setelah Leo pergi dari ruangan itu..Arya segera menelepon Reva..untuk memastikan kebenarannya informasi yang Leo dapatkan.


"Halo Arya tumben kamu telpon aku..ada apa..oh pasti kamu kangen sama aku..ya kan.." ucap Reva dengan nada masih sombong seperti dulu.


"bisa kita ketemu sekarang di tempat biasa.." Arya bicara to the point.


"wah wah sepertinya kamu benar-benar kangen sama aku..oke aku berangkat sekarang..sampai ketemu Arya.."


Arya langsung memutuskan sambungan telponnya..dan ia pun segera pergi untuk menemui Reva di tempat yang sudah ia tentukan yaitu di restoran xxxx..yang tempatnya tak terlalu jauh dari kantor nya.


Setengah jam kemudian Arya sampai ditempat dimana ia janji bertemu dengan Reva..namun saat ia sampai disana Reva belum datang..ya karena jarak apartemen Reva ke tempat itu memang lumayan jauh.


Sambil menunggu Reva Arya memesan secangkir cappucino untuk sedikit meredamkan amarahnya.


"Hay Arya apa kabar.." Reva datang berniat langsung mencium Arya.. seperti yang biasa ia lakukan saat masih bersama Arya dulu..namun Arya keburu menghindar.


"silakan duduk..mau minum apa..?" Arya masih berbaik hati menawarkan minum pada Reva yang kini duduk berhadapan dengannya..dengan melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran.


"iya pak ada yang bisa saya bantu.."


"Reva silakan kamu mau pesan apa..?"


"orange juice aja mbak 1.."


"baik di tunggu ya mbak.."


Sambil menunggu pesanan Reva,,Arya memulai pembicaraannya dengan Reva.


"Reva to the point saja..aku mengundang kamu kesini karena ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu.."


"kenapa serius amat..santai dulu aja lah.." Reva mencoba mengukur waktu agar ia bisa berlama-lama dengan Arya.


"cukup Reva..beberapa hari terakhir ini aku mendapat informasi dari orang kepercayaan ku dan ternyata seperti dugaanku.."


"maksudnya..aku gak ngerti arah pembicaraan kamu Arya..dugaan apa maksudnya.." Reva memang benar benar tak mengerti kemana arah pembicaraan Arya..


"mungkin kamu sudah lupa dengan peristiwa perampokan yang sudah menimpa istri ku yang membuat kami kehilangan anak kami.. dan istri ku hampir gila karena kehilangan bayinya."


"lha terus apa hubungannya sama aku.." Reva masih pura pura gak tau apa-apa.


"kamu jangan pura pura lagi Reva..aku baru tahu jika kamu dalang di balik semua ini..iya kan..?" nada bicara Arya mulai meninggi..karena ia sudah sangat marah.


"ha ha..jangan menuduh tanpa bukti pak Arya Wijaya..kamu bisa aku laporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik.."


"mungkin sekarang aku belum punya bukti untuk menyeret Kamu ke penjara..tapi aku tak akan tinggal diam untuk masalah seserius itu.."


"ohhh jadi kamu sudah tau semua..syukurlah kalau begitu.."


"ternyata kamu tak pernah berubah..kamu tetap saja seperti dulu seorang wanita ambisius..yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.."


"nah kamu tahu sendiri kan gimana aku..jika aku tak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan..jangan harap orang lain mendapatkan nya..apalagi wanita j****g itu.." lagi lagi Reva menyebut Raisya wanita j****g..dan hal itu membuat emosi Arya semakin naik ke level di atasnya.


"sekali lagi kamu menyebut Raisya dengan sebutan seperti itu.. apalagi berani menyakitinya..aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup kamu..ingat itu.." Arya segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Reva yang masih menikmati capuccino nya dengan santai selama Arya masih bisa mengontrol emosi nya.


...****************...


*to be continued*👉👉👉👉👉*

__ADS_1


__ADS_2