Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir

Selembar Kontrak Cinta Sang Presdir
Episode 81


__ADS_3

Ibu Ari masih kepikiran soal omongan Velicia tentang masa lalu Arya dan Raisya.


Tentang Arya yang terkenal dingin, kaku dan tak mau peduli dengan orang lain.


Dan juga tentang Raisya, gadis yang dinikahi putranya itu dulu adalah sekretaris nya dikantor.


Gadis yang sudah mampu membuat laki laki kaku dan dingin seperti Arya menjadi sosok yang hangat dan perhatian dengan sesamanya.


"kenapa dulu kamu jadi orang yang dingin dan kaku nak? apa karena kehidupan kamu dimasa lalu yang tidak bahagia, hidup tanpa kasih sayang orang tua, terutama ibu."


ucap ibu Ari seraya memandangi foto Arya yang ada di dompetnya.


Foto Arya beliau dapatkan dari majalah bisnis yang kemudian di potong rapi dan dimasukkan ke dalam dompet agar setiap saat bisa dilihat.


"tapi kamu beruntung nak, kamu bisa mendapatkan orang tua sebaik orang tua kamu yang sekarang, kamu bisa hidup layak tanpa kekurangan suatu apapun.


Kalau saja dulu kamu bersama ibu, belum tentu kamu bisa menjadi seperti sekarang ini.


Dan kamu juga beruntung, bisa mendapatkan pendamping hidup yang baik dan sempurna seperti Raisya."


Ibu Ari merasa sangat bersyukur karena Arya diasuh oleh keluarga yang baik dan berkecukupan sehingga kehidupan Arya pun menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Beliau juga bersyukur karena ada Raisya disamping putranya.


Raisya gadis yang baik, sejak pertama bertemu dengannya, ibu Ari merasa bahwa Raisya orang baik dan sangat pantas menjadi pendamping putranya.


Raisya adalah satu satunya gadis yang bisa mengubah Arya yang awalnya seorang laki laki dingin dan kaku menjadi pribadi yang hangat dan perhatian.


Namun beberapa saat kemudian ibu Ari teringat dengan wanita muda yang beliau lihat dikantor beberapa waktu yang lalu.


Waktu itu terlihat ada bersitegang antara Arya dan wanita itu.


Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka?


Ingin rasanya ibu Ari bertanya pada Arya ataupun Raisya.


Tapi bagaimana caranya, statusnya memang sebagai ibu kandung Arya tapi saat ini yang Arya dan Raisya juga yang lain tahu ibu Ari hanya seorang cleaning servis di perusahaan Wijaya Grup.


"Arya, yang ibu inginkan sekarang hanyalah melihat kamu hidup bahagia itu saja sudah lebih dari cukup.


Ibu sadar, ibu bukanlah ibu yang baik buat kamu." ibu Ari memeluk dan mencium foto Arya yang ada di dompetnya sambil menangis.


Ingin rasanya beliau memeluk Arya walaupun hanya sekali dalam seumur hidupnya, tapi itu sepertinya tidak mungkin.


Bagaimanapun juga disana Arya adalah atasannya, pemilik kantor tempatnya bekerja.


...----------------...


Sore ini kondisi Raisya sudah semakin membaik, Raisya pun ingin segera bisa pulang kerumah dan bertemu dengan putri kecilnya yaitu Pelangi.


Padahal baru semalam saja ia tak bertemu dengan gadis kecil itu, tapi rasanya sudah kangen sekali.


Mungkin inilah yang dinamakan naluri seorang perempuan, naluri seorang ibu terhadap anaknya.


"mas, aku pengen pulang!" ucap Raisya pada Arya yang kini sedang menemaninya di samping ranjang pesakitan.


"sayang, kondisi kamu belum benar benar pulih, kamu sabar dulu ya, aku janji aku akan selalu di samping kamu, aku gak akan pernah ninggalin kamu sendiri disini."


"bukan begitu mas, aku kangen sekali sama Pelangi, lagipula aku sudah gak apa apa, aku sudah baik baik saja."


"sayang, aku tahu kamu kangen sama Pelangi tapi kita tunggu keputusan dari dokter dulu ya, apa dokter mengijinkan kamu pulang atau tidak hari ini, kalau memang dokter mengijinkan kita akan pulang hari ini juga." ucap Arya memberikan penjelasan pada sang istri yang ngotot ingin pulang.


"oiya kamu dari tadi belum makan loh, kamu makan dulu ya aku yang akan suapin kamu."


"aku gak lapar mas,"


"sayang, tapi kamu harus makan biar kondisi kamu cepat pulih, dan ingat satu hal lagi, ada calon anak kita dalam perut kamu, dia juga butuh asupan makanan, kalau mamanya gak mau makan kasihan calon anak kita dia juga gak dapat makanan di dalam.


Kamu makan ya, ini tadi ada bubur dari rumah sakit, atau kamu mau makan yang lain?" Arya berusaha terus membujuk sang istri agar mau makan.


Namun Raisya tetap menolak makan makanan dari rumah sakit karena menurutnya rasanya gak enak.


"terus kamu mau makan apa hmmmm?"


Raisya berpikir sejenak, kemudian ia teringat ada penjual siomay yang biasanya mangkal di dekat kantor.Dia jadi pengin makan siomay.


"mas, aku pengen makan siomay."


"siomay? kamu pengen makan siomay?" tanya Arya berulang.


Raisya pun menjawab dengan anggukan pelan.


"Yasudah aku akan minta tolong Leo untuk mencarikan siomay yang paling enak buat kamu, sebentar ya sayang ?"

__ADS_1


Arya pun segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk menghubungi Leo.


"aku maunya yang ada di dekat kantor mas,"


"dekat kantor? yang mama?"


"itu yang ada di pojokan dekatnya tukang martabak."


Arya mencoba mengingat ingat penjual martabak yang ada di dekat kantor, dan akhirnya ia mengingatnya.


"itu kan pedagang yang pakai gerobak pinggir jalan sayang, itu gak higienis, biar Leo carikan di tempat lain ya?"


"gak mau, aku maunya yang disitu mas, rasanya enak, boleh ya,,please ini anak kamu yang minta." rengek Raisya memaksa minta siomay yang ada di dekat kantor.


Akhirnya Arya pun tak bisa menolak permintaan Raisya yang mengatasnamakan bayi dalam kandungannya yang pengin makan siomay dari situ.


"yasudah, iya iya, biar aku telepon Leo dulu ya?"


Arya pun mencoba menghubungi Leo untuk minta tolong membelikan siomay dekat kantor.


Namun ternyata Leo saat ini sedang ada meeting dengan klien mewakili Arya di luar kantor.


"kenapa mas?" tanya Raisya ketika mendengar ucapan Arya bahwa Leo sedang berada diluar kantor.


"Leo sedang meeting diluar kantor sayang, gimana? kalau aku yang pergi kamu disini gak ada temennya." Arya bingung, ia tak mungkin meninggalkan Raisya sendiri dirumah sakit walaupun disana ada banyak perawat tapi dia tetap saja tidak tenang meninggalkan sang istri tanpa ada salah satu keluarganya disana.


"gak apa apa mas, aku disini sendiri lagipula kan ada banyak perawat yang bisa jagain aku."


"gak, aku tetap tidak tenang kalau tidak ada keluarga yang jagain kamu disini."


Raisya berpikir sejenak kira kira siapa yang bisa membawakan siomay yang ia inginkan.


"mas, gimana kalau mas minta tolong sama ibu Ari aja, kan mess karyawan gak jauh dari penjual siomay."


"tapi aku gak punya nomer Bu Ari sayang gimana caranya aku minta tolong?"


"mas telpon penjaga mess saja minta disambungkan sama Bu Ari."


"kamu benar juga sayang, yasudah aku coba hubungi penjaga mess nya yaa?"


Arya pun kemudian menghubungi penjaga mess karyawan.


Dan Alhamdulillah tersambung dan bisa bicara langsung dengan ibu Ari.


Ibu Ari pun dengan senang hati membantu Arya dan Raisya membelikan siomay yang ada di dekat kantor.


Namun Arya juga tak membiarkan ibu Ari berangkat sendiri ke rumah sakit, Arya meminta sopir kantor untuk mengantarkan Bu Ari.


Hanya butuh waktu kurang dari satu jam ibu Ari sudah datang beserta siomay pesanan Raisya.


kini ibu Ari sedang berjalan menuju kamar rawat Raisya setelah tadi mendapat informasi dari resepsionis.


tok tok tok


"mas ada yang ketuk pintu."


"ya sayang aku buka pintunya dulu." Arya beranjak dari tempat duduknya untuk membuat pintu.


Dan ternyata yang datang adalah ibu Ari beserta siomay pesenan Raisya.


"selamat sore pak.."


"selamat sore Bu,, mari masuk."


Arya mempersilakan Bu Ari untuk masuk keruang rawat Raisya.


"sayang, lihat ini pesanan kamu sudah datang."


"selamat sore mbak Raisya."


"selamat sore Bu.."


"bagaimana kondisi mbak Raisya sekarang? apa sudah baikan?" tanya ibu Ari menunjukkan perhatiannya pada Raisya.


"Alhamdulillah sudah lebih baik Bu."


"Alhamdulillah kalau begitu mbak..oiya mbak ini siomay pesanan mbak Raisya mau dimakan sekarang atau nanti?" tanya ibu Ari seraya meletakkan bungkusan siomay di meja.


"iya buk, makasih ya buk, maaf sudah merepotkan ibu."


"gak apa apa mbak saya malah senang karena bisa sekalian mengunjungi mbak Raisya."


Disela Raisya dan Bu Ari ngobrol, Arya mengambil bungkusan berisi siomay dan menyiapkan untuk Raisya.

__ADS_1


"maaf pak, harusnya biar saya saja yang menyiapkan untuk mbak Raisya, ini malah pak Arya sendiri."


ibu Ari merasa tidak enak melihat Arya sendiri yang menyiapkan siomay untuk Raisya.


"gak apa apa buk, biasanya selalu Raisya yang menyiapkan semua kebutuhan saya, jadi sekarang giliran saya yang melayani Raisya.


Iya kan sayang? " jawab Arya seraya membawa sepiring siomay dan duduk di kursi sebelah Raisya.


"makan dulu sayang," ucap Arya seraya menyuapkan se sendok siomay pada Raisya.


"nanti saja mas, aku belum lapar." tolak Raisya.


"sayang dari tadi kamu belum makan loh,,kamu gak kasian sama calon bayi kita yang ada dalam kandungan kamu?"


"iya mbak, mbak Raisya makan dulu biar cepat pulih, atau biar saya yang suapin?" ibu Ari menawarkan diri untuk menyuapi Raisya.


Mendengar ucapan Ibu Ari, Raisya malah beradu pandang dengan Arya.


Mereka tak menyangka ibu Ari orangnya sangat perhatian.


"gak usah Bu, terimakasih nanti malah ngerepotin ibu lagi." tolak Raisya, sebenarnya ia tak keberatan jika ibu Ari yang menyuapinya.


"gak apa apa mbak, pak Arya maaf biar saya saja yang menyuapi mbak Raisya, pak Arya istirahat saja, pasti pak Arya kurang istirahat karena menjaga mbak Raisya."


Arya pun menyerahkan piring berisi siomay pada Bu Ari.


"sebelumnya terimakasih ya Bu, ibu sudah begitu baik pada istri saya." ucap Arya setelah menyerahkan piring siomay pada Bu Ari.


"sama sama pak, mbak Raisya dan pak Arya juga sudah begitu baik pada saya,seharusnya saya yang berterimakasih karena pak Arya sudah mengijinkan saya untuk bekerja di kantor bapak."


"sama sama Bu, mungkin itu sudah menjadi rezeki ibu, karena waktu itu kantor kami sedang membutuhkan pegawai."


"sayang, aku keluar dulu sebentar, mau menelepon Leo."


"iya mas,"


"Bu tolong temani istri saya sebentar ya, saya mau keluar untuk menelepon Leo dulu."


"iya pak."


Arya tak lupa mencium sang istri sebelum keluar dari ruang rawatnya.


Hal itu membuat ibu Ari ikut bahagia melihat keharmonisan keluarga putranya itu.


Arya pun kemudian meninggalkan ruangan itu, dan kini tinggallah ibu Ari yang menyuapi Raisya sekaligus menemani Raisya di dalam kamar.


"mbak, kelihatannya pak Arya itu sayang sekali sama mbak ya?" ucap ibu Ari.


Raisya hanya tersenyum mendengar ucapan ibu Ari.


"ya begitulah Bu, saya sangat bersyukur bisa menjadi istri mas Arya, menjadi istrinya saya diperlakukan seperti ratu oleh keluarganya padahal dulu saya hanya seorang gadis biasa yang kebetulan menjabat sebagai sekretaris mas Arya karena waktu itu sekretaris yang lama resign karena menikah dan ikut suaminya jadi saya yang menggantikan posisi itu.?"


"oh jadi benar dulu mbak Raisya ini sebelum menjadi istrinya pak Arya adalah sekretarisnya?" tanya ibu Ari.


Raisya pun mengangguk dan tersenyum.


"iya Bu, saya hanyalah anak dari seorang pedagang kue dan sayur keliling waktu itu, dan waktu itu pula saya sedang sangat membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan adik saya yang mengidap gagal ginjal.


Saya tidak tahu bagaimana nasib adik saya kalau tidak ada mas Arya.


Mas Arya membiayai semua pengobatan dan operasi pencangkokan ginjal adik saya sampai adik saya bisa sembuh seperti sekarang ini." jelas Raisya sambil sesekali memakan siomay dari tangan ibu Ari.


"tapi mbak, saya pernah dengar dari pegawai kantor, mereka bilang pak Arya itu dulu sebelum menikah dengan mbak Raisya orangnya menakutkan? kaku dan dingin apa itu benar mbak?' tanya ibu Ari penasaran.


Lagi lagi Raisya menanggapi omongan ibu Ari dengan senyuman.


"iya Bu, itu benar mas Arya dulu memang orangnya dingin dan kaku, sehingga banyak karyawan termasuk saya sendiri yang takut dengannya."


"saya juga dengar kalau semenjak pak Arya menikah dengan mbak Raisya, sikapnya berubah total.


Pak Arya yang dulunya dingin dan kaku menjadi sosok yang hangat dan perhatian berati ini semua karena mbak Raisya."


"bukan Bu, mas Arya berubah bukan karena saya, tapi karena dalam diri mas Arya masih ada sisi baik yang memang jarang atau bahkan tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain kecuali keluarga dan orang terdekatnya. Jujur dulu saat mas Arya melamar saya, saya juga masih takut, karena mas Arya orangnya begitu dingin dan kaku, tapi ketika mas Arya berada di tengah-tengah keluarganya saya baru tahu jika mas Arya orangnya hangat dan penyayang."


"memangnya dulu mbak Raisya dan pak Arya pacaran berapa lama sampai akhirnya menikah?"


"kami tidak pacaran Bu, saya dan mas Arya menikah karena memang meras cocok saja, dan mas Arya sendiri sudah begitu baik mau menanggung semua biaya pengobatan adik saya saat itu, jadi ketika mama dan papanya mas Arya datang melamar saya, saya tidak punya alasan untuk tidak menerimanya,"


"apa waktu itu mbak Raisya dan pak Arya sama sama masih singgle?"


"sebenarnya mas Arya dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang model terkenal, sampai pada akhirnya mereka putus karena suatu hal, dan akhirnya kami bertemu."


"maaf mbak apa wanita yang mbak Raisya maksud itu wanita yang kemarin sempat berdebat dengan pak Arya di depan lift, maaf kalau saya tidak sengaja mendengarnya."

__ADS_1


...****************...


to be continued ✍️✍️✍️✍️✍️👉👉👉👉👉


__ADS_2