
Lina mengantarku ke tempat kos. Sampai di rumah Kos, aku langsung memasuki kamarku setelah berbasa basi dengan tetanggaku yang kebetulan sedang sibuk menyiangi rumput di selokan.
Rumah kos nampak sangat sepi. Ini semua terjadi karena beberapa temanku mungkin sedang melaksanakan kuliahnya di kampus. Dua hari aku tidak pulang, membuat suasana kamar sangat pengap. jendela tidak pernah dibuka, udara tidak masuk dan lantai kamar kurasakan sangat kotor sehingga aku tidak bisa nyaman berada di sini. Kuletakkan tasku di sudut meja belajar. Kaki kulangkahkan menuju jendela dan perlahan kubuka jendela. Kamar yang tadinya gelap berubah menjadi terang karena cahaya masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka. Udara perlahan namun pasti sudah mulai agak segar. Kuambil sapu yang tergeletak di sudut riang tengah. Dengan segera kusapu atap kamar sekedar untuk menghilangkan debu atau barangkali ada laba-laba yang sudahmulai membuat sarang. Selesai dengan atap, aku segera membersihkan meja dan tempat tidurku. Seprei kugulung dan kuganti dengan yang baru. Taplak meja yang lusuh, sudah berganti dengan yang wangi dan kedua barang yang kotor itu segera kutaruh di keranjang pakaian. Tanganku masih setia memegang sapu. Kusapu kamar dan rumah kosku. Lalu kuambil alat pel di sudut kamar mandi.
Tubuhku kurasa sangat lelah setelah semua kegiatanku selesai. Penat mulai kurasakan dan akhirnya aku bergegas mengambil handukku di lemari. Langkah kuayunkan menuju kamar mandi dan tidak berpa lama, aku sudah bersih. Kukenakan pakaian ganti dan kugulung rambutku dengan handukku lalu kulangkahkan kaki ke kamar setelah kuambil air wudhu.
Kudirikan qobliyah ashar lalu kudirikan ashar dengan segera karena adzan sudah berkumandang setengah jam lalu. Sehabis sholat, kuluruskan tubuhku di dipan kecil yang sudah kubersikan tadi. Tubuhku sangat penat, sehingga entah berapa lama aku sudah terlelap. Aku terbangun ketika alarm yang ku atur jam setengah enam berbunyi dengan kerasnya.
Aku segera duduk. Kuraih hpku dan kumatikan alarm. Kubuka kunci layar lalu kubuka barangkali ada pesan baru di whatsapp. Luar biasa. Ada dua ribu lima ratus pesan belum kubaca. Ada whatsapp Sisy dari dua hari lalu dan aku tidak tahu. Astaghfirullah. Sisy bilang Mas Kinkan menyuruhku pulang karena ada keluargaku datang dari jogja, dan aku tidak tahu. “Yaa Rabb. Maafkan aku yang sudah melupakan keluargaku.” Gumamku. Sejenak aku termangu. Tidak tahu apa yang akan aku lakukan sekarang. Hari sudah mulai gelap dan belum kudengar suara teman-teman di rumah. Aku ingin mencoba menelpon Sulis, tapi kuurungkan. Aku tahu dia tidak akan mendengar teleponku karena selama kami berkerja di sana, tak sekalipun kami menyentuh ponselku.
Bebrapa menit kemudian, kumandang adzan menggema. Aku segera bangkit dan mengambil wudhu. Sambil berjalan kutengok kamar Maulida. Kuketuk sebentar barangkali dia ada di dalam.
“Ya sebentar.” Sahut seseorang dari dalam kamar. Tak berapa lama Maulida muncul.
“Masya Allah, kamu Risa ? Kapan pulang ?” tanya Maulida penasaran.
“Tadi jam dua. “ jawabku singkat.
“Kamu seberapa sibuk sih, Ris. Sampai-sampai ibu dan bapakmu dating kamu ditelpon berkali-kali tidak diangkat.” Sungut Maulida.
“Aku bahkan baru membaca pesan Sisy tadi saat tiduran di kamar.”
Kulihat Maulida menggeleng.
“Kamu benar-benar tidak ingin pulang ? “
“Pulang kemana maksudmu ?” tanyaku penasaran.
“Ya pulang ke Jogja lah. Kakakmu pulang dari Makassar. Kemarin datang bersama ibu dan bapakmu. “
“Kak Willy? Pulang ?” tanyaku sambil melonjak kegiarangan.
“Iya, mereka datang dan menitipkan ini untukmu. “ Maulida mengambil sebuah bungkusan dari dalam lemari. “ Kakakmu sudah kembali terbang ke Makassar setelah gagal menemuimu di sini karena dia hanya mampir sejenak setelah melaksanakan dinas luar.” Maulida menjelaskan. Risa menjambak rambutnya, dia sangat menyesal karena dia tidak memperdulikan keluarganya. Sebenarnya baru dua pecan lalu dia kembali ke rumah, sebelum longsor melanda Kemanukan.
Aku segera mengambil posnelku dan menghubungi ibu, namun setelah beberapa kali tak terhubung, aku segera menghubungi ayah. Sesaat, aku menunggu. Panggilanku masuk, namun setelah beberapa menit, ayah tak mengangkat teleponku. Aku sekali lagi menghubungi Kak Willy, semoga sekarang berhasil.
“Halo,” sapanya.
“Assalamualaikum, Kak”
“Waalaikum salam, anak nakal.” Sapanya kesal.
“Kak Wily kenapa kemarin tidak ke lokasi bencana kalau kangen sama Risa ?” godaku.
“Hei, siapa juga yang kangen sama anak nakal macam kamu? Yang ada ibu dan ayah yang kangen. Aku nggak” bantahnya.
“Ah, sayangnya Risa tidak melihat wajah kak Willy secara langsung. Kalau Risa bisa melihat tentu sangat terlihat jelas kalau Kakakku yang paling ganteng ini wajahnya memerah, “ ucapku.
“Hei, sekarang kau ceritakan, apa yang kau lakukan di lokasi bencana. Jangan bilang kalau kamu hanya duduk manis di sana. Karena Kakak tahu, adikku ini tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis,”goda Willy sambil tertawa.
“Ihhh, sebel” sekali lagi kudengar Kak Willy tertawa. “Kakak yang bisanya hanya menggoda. “ sambungku kesal.
“Bagaimana kabarmu adikku sayang?”
“Nah, begitu kan manis, kakakku sayang.”
Willy mndesah.
“Kamu tidak ingin bertemu Kakak? “ tanyanya dengan suara pelan.
“Ingin sekali, Kak. Tapi, bagaimana mungkin Risa ke Makassar kalau kuliah Risa tidak libur?”
“hhh, ya sudah. Kapan-kapan kau bisa datang. “ desah Willy kecewa.
“Kak,”
“Apa ?”
“Ibu kemana ya? Ditelpon kok tidak aktif.”
“Mungkin masih mengajar di kelas. KAmu kan tahu sendiri kalau Ibu seorang guru yang mengajar aktif sampai sore hari.”
__ADS_1
“Ini sudah jam setengah lima, Kak. Masa masih mengajar.”
“ Sudahlah, kau bisa menelpon lagi nanti malam. Kakak sedang sibuk, hari ini ada rapat dengan direktur. Sudah ya, Kakak tutup dulu telponmu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam warahmatullah.”
Kututup telpon dan kupandang Maulida yang sedang menatapku penuh tanya.
“Kak Willy sedang rapat, jadi tidak bisa lama bicaranya.” Ucapku ke Maulida.
“Dia nampaknya sayang sekali padamu, Ris.” Maulina menunduk.
“Hei, tentu saja sayang karena dia anak tertua. Bagaimana dengan kakakmu? Tentu saja sangat menyayangimu Kan ?”
Maulida hanya menarik nafas panjang.
“Kalau dia tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya, itu mungkin karena dia tidak terbiasa. Kalau nanti kamu dalam kesulitan, kakakmu pasti akan membelamu.” Ucapku menenangkan MAulida.
“Masa harus menunjukkan perhatian kalau aku dalam kesulitan saja.” Ucapnya cemberut.
“Ya sudah, Da. Semoga suatu saat nanti dia bisa menunjukkan kasih sayangnya padamu. O iya, ngomong-omong, Sisy kok belum pulang ?”
“Kamu tidak tahu kalau dia sudah tidak kos lagi ?”
“Oh ? Mulai kapan ?” tanyaku penasaran.
“ Kemarin. Dia bilang akan kembali ke asrama, tinggal di sana karena kekasihnya sudah pulang dari tugas.”
“Ya sudah kalau begitu. Berarti kita hanya berdua saja di kos ?”
“Iya, Mas Kinkan pulang malam, karena harus menyelesaikan tugas kantor katanya.”
“Kita cari makan dulu yuk, Da. Aku lapar sekali.” Ajakku.
“Aku ingin makan bakso saja, Ris. Bagaimana ?”
Akhirnya kusetujui usulnya. Dan berdua kami berjalan menyusuri gang kecil di belakang kos menuju warung baso yang langganan kami.
***
“ Kemarin ibu, bapak dan kakakmu datang. Mereka Nampak buru-buru karena harus segera ke bandara. Kami sudah menghubungimu, tapi nampaknya kau sedang sibuk. Kau sudah menghubungi mereka, Ris ? “ Kata Mas Kinkan pelan. Aku menarik nafas lega. Saya kira dia akan marah karena tiga hari saya tidak pulang.
“Belum mas. Saya baru saja bisa bicara dengan Kak Willy. Ibu dan ayah tidak mengangkat telponku tadi sore. Semoga malam ini kami bisa bicara.” Sahutku.
“Apa yang kau lakukan di camp pengungsian “ tanyanya penuh selidik.
“AKu di dapur umum membantu menyiapkan makan untuk pengungsi dan relawan. Kadang juga masuk pos kesehatan untuk membantu dokter Wildan dan para perawat saat banyak pengungsi yang sakit. “ jawabku penuh semangat.
“Saya kira kamu hanya menggoda tim SAR dan tentara, Ris.” Ucap Mas Kinkan sambil tertawa.
“Masa iya, Risa begitu, Mas. “
“Ya siapa tahu saja, ya Mas ?” sambung Maulida.
“Kamu boleh ikut ke sana besok kok Da.”
“benarkah ?” sahut Maulida penuh semangat.
“Tentu saja. Kami masih memerlukan banyak tenaga. Kalaupun hari ini aku pulang, itu murni karena saya ingin agar kalian tidak salah paham dengan aktifitas saya. “
“Kami juga tidak salah paham, Ris. Hanya heran saja kok kamu seperti tidak ada rasa lelah. Tiga hari tidak pulang terus kamu tidur di mana ?” tambah Mas Kinkan.
“Kami tidur di ruang perangkat desa, Mas. Beberapa relawan putri di beri tempat di ruang perangkat desa.”
“O’ hanya itu yang bisa mereka ucapkan. Selanjutnya kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat malam ini.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam ketika listrik tiba-tiba padam. Hatiku berdebar tak karuan. Anganku melayang jauh ke desa Kemanukan. Mereka di sana memang sudah terbiasa dengan gelap karena pasca longsor, PLN belum membetulkan instalasi listrik. Tapi di kos, aku merasa sangat tersiksa karenanya.
***
Usai mendirikan subuhku, kuambil mushaf alquran yang tersimpan rapi di rak bukunya. Dibacanya surat alkahfi 1 – 110. Melanjutkan bacaan beberapa hari lalu. Kubuka terjemah dari surat yang baru saja saya baca, “ segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al kitab dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”
__ADS_1
“Risaaaaaa”
Baru saja kubaca ayat pertama, kudengar Maulida menjerit histeris. Aku segera melepas mukena dan berlari kea rah ruang tengah.
“Longsor kembali terjadi di kecamatan B, dan titik longsor bertambah, dari yang awalnya hanya tiga titik di Kemanukan, sekarang menyebar menjadi Sembilan titik di Sembiring, Sembung dan Kedawung. Korban diperkirakan mencapai seratus orang dan titik pengungsian yang tadinya di balai desa Kemanukan di pindah ke sekolah shelter di kecamatan B”
“Innalillahi wa innailaihi rojiuun” ucapku sambil menahan air mata. Aku tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Mereka pasti sangat panik dan aku tak bisa membayangkan kejadian selanjutnya.
“Ris, kau masih mau pergi ke Kemanukan hari ini ?” tanya Maulida penasaran.
“Aku akan mencoba menuju sekolah shelter, barangkali kita bisa bertemu dengan mereka di sana.”sahutku.
“Kita berangkat sekarang, Ris?’ Maulida Nampak gugup. Dia segera berlari menuju kamarnya dan aku hanya menggeleng takjub.
Hari masih sangat pagi, dan kurasakan lapar menggodaku. Aku segera menuju ke dapur, untuk menanak nasi dan memasak sekedar untuk sarapan. Aku tak mau di pengungsian hanya menumpang makan.
“Risaaaa” jerit MAulida dari arah kamarku.
“Iya, ada apa Da? “ sahutku sambil berlari tergopoh-gopoh.
“Astaghfirullah, saya kira kamu sudah meninggalkan aku.” Ucapnya sambil menarik nafas dalam.
“Mana mungkin kamu kutinggalkan.” Godaku.
“Bisa saja. Kemarin kau tinggalkan Sisy juga kan ?’ sungutnya.
“ Kita makan dulu yuk ! Tidak mungkin kita hanya numpang makan di sana.” Ajakku. Berdua kami menuju dapur. Nasi yang kumasak di rice cooker sudah matang karena kupanasi sampai mendidih di kompor. Mi instan yang kumasak sudah matang dan langsung kutuang di mangkuk. Aneh memang, sudah masak mie instan, masih masak nasi. Tapi inilah aku yang tak bisa makan tanpa nasi. Apapun makanannya, kalau tidak ada nasi, aku merasa belum makan. Dan akhirnya teman-teman kosku pun meniru kebiasaanku.
“Kau memangnya sudah mandi Da?” godaku.
Maulida hanya memandangku lalu mengambil piring di hadapannya dan mengisinya dengan nasi lalu menambahkan mie kuah dan kerupuk.
“Aku mau makan dulu.” Sahutnya.
“Ohh”
“Kau harus ingat, jangan kau tinggalkan aku kalau aku belum selesai mandi.” Pesannya.
“Insya Allah.”
“ hei, jangan insya Allah. Kamu harus menungguku.” Tandasnya.
“Ida, sayang. Siapa yang menjamin kita bisa melakukan sesuatu tanpa ijin Allah ?Memangnya kita siapa ? yang bisa membuat kepastian akan semua yang sudah kita rencanakan? Aku mengucapkan insya Allah bukan untuk bermain-main kata dan perasaan karena apaun yang kita lakukan, kalau Allah tidak menghendaki, tidak akan pernah terjadi”
“Iya, iya, aku mengerti. Ayo makan dulu, nanti keburu siang.”
Kami makan dalam diam. Seperempat jam, kami selesaikan sarapan kami. Ida, langsung membersihkan piringnya dan berlalu mengambil handuknya lalu mandi dengan kecepatan kilat. Aku yang sudah mandi sejak sebelum subuh tadi langsung ke kamar setelah membersihkan piring dan dapur kosku. Kuganti pakaianku dengan celana kulot warna hitam dan kaos lengan panjang berwarna abu-abu. Kerudung motif yang lebarnya menutupi pinggangku, sudang kupas, lalu aku menyiapkan mukena dan baju ganti, karena aku yakin, akan banyak kegiatan yang akan kulakukan di camp pengungsian hari ini.
Aku segera keluar kamar, menunggu Maulida yang masih sibuk dengan persiapannya di kamar. Kubuka ponselku, barangkali ada pesan dari teman-teman relawan.
“Kalau kau ingin ke camp pengungsian hari ini, tunggu aku di kosmu.”
Pesan Lina baru saja masuk.
“Aku langsung mengetik jawabanku.
“Iya, ini sudah siap mau berangkat’
“Hah ? Sudah siap ? Tunggu aku!” Aku baru saja bangun.”
Ku kirim sticker untuk lina dan dibalas dengan sticker yang sama. Aku tersenyum.
“Kau senyum-senyum sendiri, Ris ?” sapa Maulida mengagetkanku.
“ Lina memintaku untuk menunggunya. Dia baru bangun katanya.’
“What ? Baru bangun?” ucap Maulida melototkan matanya.
“Kau sabar, kan menunggunya?”
“Kalau kau mau menunggu mana mungkin saya akan berangkat sendiri." sahutnya cemberut.
__ADS_1
"oh, Ida, kau manis sekali kalau sedang cemberut. " godaku sambil mencolek pipinya.