
“Bagaimana, Lis? Apakah kau tidak ingin mengunjungiku ? Aku sudah pulang dan aku ingin mengobrol
denganmu hari ini.” Sulis yang masih duduk dengan Sari hanya mendesah. ia tidak tahu harus menjawab apa pada Sisy. Seminggu lalu ketika ia dan Rosa menengoknya di rumah sakit, ia sebenarnya sudah terbawa
emosi karena Rosa mengatakan akan selalu mendukung Marissa yang bagi Rosa, Marissa selalu benar.
Kini dia dalam dilemma. Mendukung Rosa dan Rissa sama dengan mendapat musuh seorang Sisy yang notabene selalu berkuasa di kos, sedang bila dia mendukung Sisy, dia pun kini sadar diri. Selama ini perlakuan Sisy di kos pada teman-temannya sangatlah buruk.
“Aku usahakan deh. Insya Allah nanti aku hubungi kamu kalau Rosa mau menengokmu. Tapi kelihatannya hari ini Rosa sangat sibuk. Dia kan juga ada bimbingan skripsi, Sy.”
“Ok,tidak apa-apa, Lis. Aku kan bilang kalau kamu bisa. Kalau tidak bisa aku tidak akan memaksa kok. Kau baik-baik saja ya, lakukan tugasmu engan baik. Aku yakin kuliahmu akan segera selesai. Tidak seperti aku yang sudah terlanjur out.”
“Memangnya kamu tidak ingin melanjutkan kuliah? Sayang kan kalau sampai tidak lulus. Kamu sebentar lagi juga selesai.” Sisy mendesah. apa yang dikatakan Sulis memang benar. Tinggal selangkah lagi dan dia selesai. Menjadi sarjana seperti keinginan kedua ornag tuanya, namun mengingat dirinya sendiri, kini Sisy kehilangan gairah.
“Aku akan berusaha untuk melanjutkan kuliah, tapi kalau Mas Seno mengijinkan.”
“Kok Mas Seno? Apa hubungannya kamu dan Mas Seno?” Sisy tersenyum sendiri. Jemarinya lincah menari di layar ponsel membentuk barisan kata dan ia segera mengirimkannya pada Sulis.
“Aku akan segera menikah dengan Mas Seno.”
“What ?”
“Kenapa?”
“Tidak apa –apa. Hanya kaget sesaat.”
“Ha ha ha”
“Kenapa tertawa? Memangnya lucu ya kalau aku bisa menikah dengan Mas Seno?”
“Tidak sama sekali. Kau bisa saja memiliki apapun yang kau mau. Kamu kan anak pejabat.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Terus?”
“aku tetap berjuang untuk mendapatkan hatinya, Lis.”
“Oh”
Sisy tersenyum membaca pesan Sulis yang seolah terhenyak dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.
“Kau harus menginap di rumahku. Siapa tahu nanti ada banyak teman ayah yang melirikmu.”
“Insya Allah. Sudah ya, aku harus pergi sama Sari. Kasihan dia kalau terlalu lama menungguku.”
“OK, salam untuk Sari.”
“Insya Allah.”
Sulis segera menarik lengan Sari dan mengajaknya ke kasir. Setelah membayar tagihan makanan, mereka segera keluar rumah makan dan melangkah menuju kampus.
“Apa yang dikatakan Sisy kelihatannya kalian sangat serius?” Sulis mendesah. ia tidak ingin membahas lagi tentang Sisy tapi demi menghargai Sari, ia akhirnya embuka suara.
“Dia akan menikah.”
__ADS_1
“What?” Sulis tersenyum mendengar keterkejutan Sari.
“Kaget?”
“Iyalah. Masa selama ini kan dia tidak pernah pacaran. Kenapa tiba-tiba menikah?”
“KAu yang salah. Dia memiliki laki-laki incaran yang tidak bisa dia lepaskan walau sang laki-laki mencintai orang lain.”
“ O iya? Memangnya siapa calon suaminya?’
“Tentara seperti bapaknya.”
“Dia menikah dengan Om om?”
“Tidak.”
“Terus?”
“Teman bapaknya, tapi masih sangat muda.”
“Oh, aku baru dengar.”
“Dia atasannya bapaknya Sisy.”
“Semoga keluarga yang dibangunnya menjadi keluarga bahagia dunia kahirat.”
“Aamiin.”
Sulis dan Sari akhirnya diam. mencerna pikiran masing-masing tanpa ingin saling mengganggu satu sama lain.
Mereka melangkah memasuki koridor perpustakaan dan masuk ke ruang penuh buku yang kini menjadi tempat nongkrong favorit mahasiswa yang sedang menyusun skripsi seperti mereka.
Sulis menggeleng. ia memang tidak tahu akan sampai jam berapa. Yang jelas saat ini ia membutuhkan waktu
untuk sedikit memasukkan ilmu ke dalam otaknya demi bisa menyusun kata-kata yang akan ia tuangkan dalam sebuah penelitian.
“Memangnya ada apa?”
“Kebiasaan burukmu kapan akan berakhir? Selalu kalau ditanya balik bertanya.”
“Lagian juga kau tidka tahu diri sih, aku kan baru masuk sama Sari, iya kan Sari? MAsa langsung ditanya mau
sampai jam berapa, memangnya ada masalah apa?”
“Sisy meminta kita untuk mengunjunginya sekarang.”
“Bukannya kamu yang bilang ya kalau kamu akan selalu membela Marissa. Sekarang mengapa giliranmu yang
mengajakku ke sana?”
Rosa memukul bahu Sulis. Dimatanya selalu saja Sulis terlihat bodoh. tidak pernah sekalipun bertindak cerdas dalam situasi genting seperti saat ini.
“Ibunya bilang aku harus segera datang. dia sedikit syok mendengar orang tuanya bertengkar tadi.”
“Sekarang giliranmu yang menerima ajakannya tanpa konfirmasi padaku dulu.”
__ADS_1
“Ha ha ha, anggap saja itu sebagai balasan atas apa yang kamu lakukan kemarin.” Sulis terpana. Ia tidak
pernah menyangka kalau Rosa akan membalas perbuatannya kemarin.
“Ok, kau boleh lakukan apapun sesukamu. Aku terima. Tapi kali ini aku rasanya sudah terlanjur ill fill sama
Sisy.”
“What? Tidak salah dengar aku? Biasanya kamu yang selalu berdiri di belakangnya, mendukung semua aksinya, iya kan?’
“Tapi kini sudah beda, Sista. Aku merasa muak kala mendengar dia merajuk. Bermanja pada kita seolah hanya dia yang membutuhkan perhatian. Memangnya kita ini patung? Bukan manusia yang butuh diperhatikan juga?’
“apapun yang jelas sekarang ayo kita ke sana sebelum asar berkumandang, Ok?”
Sulis menggeleng. ia memandang jam tangannya dan menoleh ke arah Sari yang sejak tadi membaca sambil meringkas materi.
“Nah kan, aku selalu kalah sama Sari. Aku bahkan selalu mendapat gangguan kala sedang serius. Kamu sih, selalu tidak bisa membiarkan aku sedikit saja bebas melakukan apapun yang aku mau.”
“Please, Sari. Ijinkan aku membawa Sulis sekarang ya, ya?”
Sari tersenyum. ia segera mengemas buku-buku dan catatannya lalu mengangguk.
“Aku ikut.”
“Benarkah? Kau akan ikut dengan si centil ini menemui Sisy?” tanya Sulis sedikit tidak percaya. selama ini yang
dia tahu Sari selalu cuek terhadap Sisy. Ia sama sekali tidak pernah berdekatan dengan Sisy, bahkan dalam hal apapun.
“Apakah aku salah?”
Sulis menggeleng membuat Sari tersenyum.
“Ok, ayok. Katanya nanti keburu Asar.” Sari mendahului Sulis dan Rosa meninggalkan perpustakaan. Sulis dan Rosa mengikuti Sari yang sudah melangkah jauh di depan mereka.
“Sari tunggu!”
Sari berhenti lalu menoleh ke belakang. Ia tersenyum melihat dua temannya yang kewalahan menyusul langkahnya.
“Kalian bukannya sahabat kentalnya Sisy ya, mengapa bukan langsung lari ketika Sisy butuh kalian, malah
ini mengulur-ulur waktu.”
“Ih, lagian siapa suruh kamu terlalu semangat, Sari. Kami bukannya tidak mau menyegerakan ke rumah Sisy,
tapi kami kan memang benar sedang sibuk menyiapkan skripsi.”
“Alasanmu sajalah. Awas nanti aku sampaikan ke Sisy ya biar dia marah sama kamu.” Sulis dan Rosa saling
pandang, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Awas saja kalau kau sampai mengatakan itu pada Sisy. Aku tidak akan mengenalmu sama sekali, Sari.” Sari
terkekeh. Pancingannya dimakan ikan.
“Tentu saja aku akan bilang.”
__ADS_1
“Sariiii” Sulis dan Rosa berlari mengejar Sari yang kini semakin jauh menuju tempat parkir motornya di sudut
kampus.