
Sulis memandang pria tampan berpakaian dokter di hadapannya. sesekali ia mengucek matanya, mencoba meyakinkan bahwa pandangannya tidak keliru. Pemuda di hadapannya tersenyum memandang sikap Sulis yang sedang terpana memandangnya. Tangannya ia giyang-goyangkan di hadapan Sulis, mencoba membuyarkan lamunan gadis itu. Ia mengulurkan tangannya mencoba menyalami Sulis, namun Sulis segera menangkupkan tangannya di depan dada.
“Pujiarto? Ini benar Pujiarto?’ dokter di hadapan Sulis tersenyum seraya mengangguk bahagia.
“Iya. Alhamdulillah kau masih mengenalku. Apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu. Kuharap Allah selalu melindungimu dalam setiap kesempatan.”
“Aamiin. Alhamdulillah aku baik. Kau sendiri bagaimana kabar?”
“Seperti yang kau lihat. Aku dalam keadaan sehat walafiat tanpa kesulitan suatu apa. O iya, siapa yang dirawat?”
“Teman”
Pujiarto mengangguk lalu memandang Rosa yang masih diam tak bersuara.
“Kau tidak ingin mengenalkan temanmu yang cantik ini padaku?’ Sulis tersenyum. Hatinya tercubit mendengar Pujiarto menggodanya.
“O iya, kenalkan ini sahabatku Rosa namanya. Ros, dia temanku dari Semarang. Namanya Pujiarto. Kami bertemu ketika pendidikan resimen di Telaga Menjer Wonosobo.” Rosa mengangguk lalu menangkupkan tangannya sambil menyebut nama.
“Rosa.”
“Pujiarto, temannya Sulis.”
Rosa tersenyum mendengar Pujiarto mengatakan bahwa dia temannya Sulis. Penekanan pada kata teman membuat Sulis merasa sedikit tersingkir. Ia memang pernah berharap bisa memiliki senior di pendidikannya, namun kini ia harus berusaha memupusnya karena Pujiarto hanya menganggapnya sebagai teman.
“Saya juga temannya Sulis.”
“Aku tahu.”
Rosa diam mendapat pukulan telak dari kalimat Pujiarto.
“Ah iya. Mas Puji sudah tahu. aku lupa.”
“Ha ha ha, jangan diambil hati. Aku hanya bercanda.”
“Tidak masalah. Aku juga tahu kalau Mas bercanda. I am Ok.”
__ADS_1
“Kalau begitu, aku minta maaf. Aku akan segera mengunjungi sahabatku yang masih koma di ruang ICU. Assalamualaikum.” Sulis mencoba memutus pembicaraan karena tidak ingin Meli terlalu lama menunggu.
“Baiklah. Insya Allah kita akan bertemu lagi nanti. Atau kapan-kapan aku akan mengunjungimu di Markas Komando.”
“Terserah kamu saja.”
“OK, Bye, Sulis.” Sulis melambaikan tangannya sambil melangkah meninggalkan Pujiarto yang masih berdiri di tempatnya.
Ruang ICU nampak sangat ramai dengan beberapa pengunjung yang mencoba untuk membesuk pasien. Waktu kunjung ICU yang belum dibuka, membuat mereka masih berisik, mengobrol satu sama lain, sambil menunggu mendapatkan giliran.
“Kalian boleh menghubungi petugas dulu. kalian bisa masuk. Ibu akan tetap di sini menunggu giliran.” Sulis dan Rosa mengangguk. ia segera mengikuti langkah Meli menuju petugas yang sedang berjaga di kamar Sisy.
“Permisi, Pak.”
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Dua gadis ini adaah sahabat Sisy anakku. Biarkan dia berkunjung sekarang karena dia memiliki kegiatan setelah ini.” Petugas jaga ruang Sisy mengangguk. ia melangkah menuju sebuah lemari, mengambil dua mantel yang tergantung rapi di sana, lalu menyerahkannya pada Sulis dan Rosa.
Setelah mereka memakai pakaian khusus, petugas segera mengantar keduanya menuju sebuah tubuh yang terbaring lemah di bed. Beberapa alat bantu yang menempel di tubuh Sisy membuat Rosa dan Sulis tak kuasa membendung air matanya.
Mereka hanya terisak sambil memandang Sisy.
“Si, aku sangat kecewa ketika mendengar bahwa kau sama sekali tidak menginginkan bertemu dengan Marissa.” Sulis menyenggol lengan Rosa, mencoba mengingatkan agar Rosa tidak menyinggung nama Marissa sesuai permintaan Meli. Namun Rosa tidak mengabaikan. Ia terus saja menyebut namaa Marissa demi membangkitkan emosi Sisy.
“Kau tahu kan kalau selama ini kami menganggap kau baik-baik saja dengannya? Aku bahkan terkejut ketika ibumu mengatakan kau sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Aku sangat kecewa, Sy. Kalau kau tahu, bagaimana Marissa memikirkanmu, kau pasti akan sangat menyesal. Please, Sisy, jangan biat dirimu menyesal kedua kalinya. Dia adalah sahabat terbaik. Dia sangat menyayangimu. Sangat menyayangi kita.” Rosa diam. ia pandang wajah Sisy dan mencoba menganalisa perubahannnya.
Wajah Sisy kini nampak menegang. Air mata keluar dari sudut matanya yang masih terpejam. Sulis memandang Rosa dengan panik. Reaksi yang ditunjukkan Sisy atas perkataan Rosa sangat luar biasa.
“Apakah kau tidak terlalu kejam padanya?’
“Tidak. Dia boleh saja manja terhadap ibunya, tapi tidak terhadapku. Aku akan tetap berdiri di belakang Marissa, karena aku tahu bagaimana kronologinya.”
“BAiklah. Itu cara yang bagus, tapi lihatlah, wajahnya tegang dan air mata menetes di pipimnya. Apakah ini tidak keterlaluan?’
Rosa menggeleng.
__ADS_1
“Tidak Lis, aku yakin dia akan baik-baik saja. Karena dia di alam lain, dia pasti sadar kalau apa yang kuucapkan adalah kebenaran dan dia mengakuinya. Sedang ada perang batin antara sisi gelap dan sisi baiknya
sekarang, dan aku tetap berharap Sisy bisa memilih jalan terbaik.”
Sulis mendesah. ia memegang tangan Sisy, lalu memandangnya.
“Sisy, aku yakin kau bisa merasakan kehadiran kami. Kau akan segera bangun karena orang yang kau rindukan sekarang berada di hadapanmu. Aku dan Rosa akan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebaikanmu. Apapun yang telah terjadi padamu, aku tetap berharap kau mampu mnegatasinya.”
“Sy, kami pulang dulu ya. semoga besok kami bisa bertemu lagi di sini.”
“Assalamualaikum”
Sulis dan Rosa berdiri, lalu meninggalkan ruang ICU. Setelah menyerahkan baju khususnya pada petugas, ia segera menemui Meli.
“Bagaimana? Apakah ada reaksi?”
“Insya Allah, Bu.”
“Baiklah kalau begitu. Ibu hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu mengunjungi anakku. Kami tidak bisa membalas apapun. hanya doa terbaik untuk kalian. Semoga Allah memberikan
kemudahan pada langkah yang kalian tempuh.”
“Aamiin. Terima kasih, Bu. Kami mohon pamit. Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
Sulis dan Rosa berlalu. Kini Meli seorang diri. Walau suasana di sekelilingnya sangat ramai, ia tetap merasa kesepian. Anak semata wayangnya belum sadar, sedang sang suami masih melaksanakan tugasnya di perbatasan.
Meli merasa nelangsa. Perjuangannya selama ini dalam membesarkan Sisy ia rasakan sangat berat. Ia yang selalu menuruti segala keinginan anaknya, kini merasakan buah dari pola asuh yang dia terapkan. Pola pemanjaan yang membuat Sisy tidak bisa bersikap dewasa, meski usianya sudah bukan remaja lagi. Ia manusia dewasa yang sudah siap membangun rumah tangga, namun ia sama sekali tidak bisa memilih jalan terbaik untuk hidupnya sendiri.
“Maafkan Ibu, Nak. Kau tumbuh menjadi gadis manja karena Ibu. Andai saja aku bisa sedikit saja tegas kepadamu, aku pasti tidak akan merasakan selelah ini menghadapi sikapmu.”
Meli mendesah. ia merasa sendiri. Keterasingan di tempat yang ramai membuatnya segera menemui petugas ICU dan memintanya untuk mengantar ke Sisy.
Sampai di ruangan anaknya, ia menemukan Sisy sedang mengalami kejang.
__ADS_1
“Sisy, apa yang terjadi padamu, Nak? Apakah kedatangan kedua sahabatmu tadi membuatmu tidak nyaman, Sayang? Ibu minta maaf, Nak. Tolong berhentilah membuat ibumu ini ketakutan.” Petugas segera mengecek Sisy. Ia pegang lengan Sisy dan mengecek suhu tubuh serta mencoba membuka mata yang masih terpejam. Beberapa titik ia sentuh hingga akhirnya, petugas memandang Meli.
“Ada apa dengan anakku, Pak?”