
Rabu malam
Ba’da isya, aku lebih fokus usaha untuk memejamkan mataku. Aku berbaring di sudut ruangan, jauh dari teman-temanku yang masih bercengkerama di luar. Malam ini banyak anak BEM menginap. Sebagian besar mereka sedang bercengkerama di luar ruang perangkat desa. Aku ingin terlelap, meski banyak manusia di sekelilingku.
Kulupakan sejenak urusan pengungsi. Aku baru saja mematikan ponselku dan berniat untuk memejamkan mataku di ruang perangkat desa.
“ Ris”Tiba-tiba Syamsya memanggilku. Aku tak tahu kapan ia masuk.
“ Ya” Sejenak pandangan kutujukan pada Syamsya yang sedang duduk di hadapanku dengan lesu. Ingin kerengkuh tubuhnya sekedar untuk meringankan bebannya, namun kuurungkan. Aku tak harus selebay itu memikirkan Syamsa. Dia baik-baik saja.
“ Kamu tahu tidak tadi siang kami kemana ?” tanyanya dengan mata berbinar.
“ Kami ? Siapa maksudnya kami ?” tegasku penasaran. Aku tak tahu siapa kami yang dia maksud. Seharian yang kulakukan hanya bercengkerama dengan Bu Darmi dan pengungsi lain di dapur. Otakku tidak terbersit sedikitpun untuk mengawasi Syamsya dan siapa kemana.
“Kami itu aku dan Qomar ?“ Jawabnya ringan tanpa beban. Aku terperanjat. Bukan karena mendengar nama Qomar, namun karena tak menyangka kalau Syamsya menunjukkan wajah sumringah. Sepertinya ada yang sedang membuat hatinya berbunga.
“Memangnya kalian kemana ?” Hatiku berdebar menanti jawaban Syamsya. Tidak pernah terbersit sedetikpun bahwa Syamsya pergi bersama Qomar. Ada nyeri yang mulai menyengat di sudut hatiku. Kuingat kembali masa-masa dimana Syamsya masih belum mau bicara, dan Qomar menawarkan bantuan untuk membuatnya membuka suara, dengan harapan ia bisa menjadikan Syamsya menjadi piala atas kemenangan yang sudah ia raih. Aku merinding. Dulu, aku tak pernah mengira kalau semua yang Qomar lakukan akan menjadi nyata adanya.
“Dia mengajakku turun. “ sambung Syamsya tiba-tiba.
“Tu . . . run kemana ?” Nyaris saja aku gagap. Surprised. Sakit yang sudah muncul sejak tadi, kini bertambah parah dan aku tak tahu untuk alasan apa.
“Turun ke kota membeli kerudung. “Syamsya mengeluarkan beberapa kerudung dari tas plastik dengan cap sebuah supermarket ternama di kotaku. Hatiku kembali bergetar. Rasa sakit yang tadi sedikit menyeruak masuk, pelan namun pasti sekarang sudah menyerang ke seluruh penjuru ulu hati. Kurasakan sesuatu menusuk dada, nyeri dan akhirnya dingin seolah darah meleleh membasahinya. Ingin ku seka darah di hatiku, namun sebelum kucoba, hatiku sudah menolaknya.
“Mbak Syamysa minta kerudung pada Mas Qomar ? “ Aku nyaris tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
“Tidak. “ Sahutnya cepat. Dia bingung dengan reaksiku. Dia pandang wajahku sambil menautkan kedua alisnya lalu menunduk.
“Terus ?” tanyaku penasaran.
Syamsya menarik nafas dalam. Ada kecemasan terlihat di wajahnya. Dengan sedikit keberanian yang ia munculkan, akhirnya dia berkata “Kamu marah. Ris ?”
“Ti . . . tidak. Tak ada alasannya aku marah padamu, Mbak. Mas Qomar bukan siapa-siapaku. Hanya saja . . . .” Sengaja kugantung kalimatku. Bukan untuk membuatnya penasaran pada kalimat selanjutnya tapi murni karena rasa sakit mencekat tenggorokanku.
“ Hanya saja apa Ris ? “desak Syamsya.
“Aku heran. Begitu mudahnya kalian dekat.” Ucapku lirih.
“ha . . .ha . . .ha . . .” Syamsya tertawa keras, dan mendengar tawanya, bulu kudukku perlahan berdiri. Ada keanehan yang kudengar dalam tawanya dan ini membuat aku sadar bahwa seharusnya aku memaklumi tindakannya.
“Qomar laki-laki yang baik, ramah dan banyak canda, pantas dong kalau dia mudah sekali bergaul dengan siapapun.” lanjutnya.
Syamsya benar. Dia memang supel. Tidak sepertiku yang kuper. Aku merasa disisihkan. Tersisih tepatnya. Merasa diri sudah tak ada artinya di hadapan Syamsya dan Qomar, sehingga kuputuskan untuk menjadi pendengar yang baik.
“Maaf Mbak, saya sedang ingin memejamkan mata malam ini. Kepalaku rasanya pusing sekali dan saya tidak ingin, saat teman-teman bekerja aku malah sakit. Mbak berterima kasihlah pada Kak Qomar karena telah membelikanmu kerudung. Harapannya Mbak bisa menjadi wanita sholehah. Wanita yang bisa menjaga diri dan kesucianmu. “ ucapku pelan. Kutata jantungku agar tak berdegup lebih kencang dari sekarang sehingga Syamsya tidak bisa menduga apa yang kurasakan.
“Kamu tidak marah padaku kan Ris?” Syamsya memandangku.
“Marah ? Tentu saja tidak. Tidak ada alasan untukku marah pada Mbak Syamsya.” Dustaku.
“Alhamdulillah kalau begitu. “
Ini percakapan kami yang pertama tentang Qomar. Hari-hari berikutnya, topik kami hanya Qomar, Qomar dan Qomar. Sehingga lama-lama hatiku menjadi semakin sakit. Sampai suatu hari , Syamsya datang menemuiku.
__ADS_1
“ Kamu marah tidak kalau aku bilang, aku mulai menyayangi Qomar ? “ ucapnya renyah.
What ? menyayangi Qomar ? Secepat itukah ? Apakah aku tidak salah dengar ? Dia sudah mulai menyayangi Qomar ? Kalau begitu aku yakin akan ada hati yang terluka dan itu hatiku. Hati yang selalu kujaga rapi agar semua rasa yang pernah ada tak mudah untuk dibaca. Aku tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku pada orang lain seperti Syamsya.
“ Mbak bebas menyayangi siapapun. Itu hak setiap manusia. Tapi seperti yang sudah saya bilang kemarin, tetap harus jaga kehormatan diri. Jangan terjebak dengan pacaran. Dosa”
“ Jadi kamu merestui hubungan kami ?” tegasnya girang. Tak apalah kalau dia menganggap aku merestui. Yang paling penting bagiku dia tidak bisa menebak bagaimana rasaku saat ini.
“ Memangnya sudah sejauh mana kalian berhubungan ?”Meski hatiku sakit, namun tetap kucoba untuk mendengar dan menanggapi kalimatnya.
“ Belum terlalu jauh sih. Mas Qomar belum bilang cinta. Tapi entah mengapa, bersamanya hatiku nyaman. Siang tadi dia menasehatiku, agar bersabar dalam menghadapi musibah. Shalat yang rajin dan banyak yang lain, dan bagiku dia beda dengan laki-laki yang selama ini bersamaku. Aku tak pernah tahu bahwa di sekelilingku ada laki-laki unik seperti dia. Ah, betapa bodohnya aku. Ada logam mulia di dekatku tapi aku malah mencari tembaga.” Syamsya menggumam.
“ Lalu kalimat Mas Qomar yang mana yang membuat Mbak jatuh hati padanya ? Tahu tidak, di kampus kita dia terkenal sebagai seorang da’i yang selalu menasihati siapapun yang tampak rapuh di hadapannya. Dia tumbuhkan semangat hidup dan belum pernah sekalipun ia ungkapkan cinta untuk kliennya. Tapi denganmu ? “
“ Justru karena dia tidak langsung bilang cinta itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya.“ Syamsya tersenyum manja.
“ Hati-hati, jangan sampai Mbak terluka.” Pesanku. Kurasakan dadaku semakin sakit, namun demi dia aku akan mencoba untuk ikhlas.
“Semoga firasatku benar” Kata Syamsya sambil merebahkan tubuhnya di sebelahku.
“ Firasat ? Firasat apa ?”
“ Ya, tentang perasaannya padaku. Kalau boleh saya tahu siapa sih wanita yang sedang dekat dengannya ? atau yang sedang diincarnya ?” Syamsya menyelidik.
“ Pastinya aku tak tahu. Mbak tanya saja padanya.”jawabku sekenanya.
“ Malu dong. Masa aku harus bertanya begitu. Tapi tadi siang dia sempat menanyakanmu.”
Surprise. Hatiku terlonjak bahagia seolah berebut tempat dengan Syamsya kakak tingkatku.
“ Dia bertanya padaku, bagaimana perasaanku menjadi temanmu.”
“ Cuma itu ? “ tanyaku kecewa. Aku kira dia menanyakan hari-hariku, sikapku, tingkah laku dan lain-lain e . . . ternyata dugaanku keliru.
“ Tidak Risa.”
“ Terus ?”
“ Ya, aku jawab saja kalau aku menemukan suasana baru yang jauh lebih nyaman dari keluargaku dulu.” Ih Syamsya kok tidak nyambung banget. Apa ini hasil dia jatuh cinta atau karena sisa longsoran bukit kemarin ? entahlah, yang penting bagiku adalah kesehatannya sudah pulih dan dia berubah menjadi lebih positif.
“ Ris, kok diam ?”
“ Kayaknya nih, aku perlu tidur deh, Mbak, aku ngantuk.”kubalikkan tubuhku untuk membelakanginya, demi menyembunyikan rasa yang sekarang sedang gigih menyerangku.
“ Iya sih, matamu merah. Pasti mengantuk banget ya ? Kamu tidur dulu deh, aku mau ke halaman, bergabung dengan relawan lain. Sedang ada koordinasi di luar dan Mas Qomar yang memimpin.”Segera kututup tubuhku dengan selimut meski udara tidak terlalu dingin malam ini. Speninggal Syamsa, air mataku meleleh membasahi pipi. Memang bukan yang pertama aku menangisi seorang laki-laki. Dulu, saat aku masih SMA, aku pernah kehilangan perhatian seorang laki-laki yang kucintai. Dia jatuh cinta pada murid baru di sekolahku dan kejadian kali ini sama persis dengan kejadian itu.
Aku kehilangan perhatian Komandanku, persis setelah ada bunga kampus yang menarik perhatiannya.
Air mataku semakin deras mengalir. Yah, mungkin lebih deras dari aliran kali Bogowonto atau aliran air hujan yang beberapa hari ini setia menemani kami.
Kurasakan dadaku sesak. Sirkulasi udara di hidungku terganggu. Kututup wajahku dengan bantal, menyembunyikan isakku dari pendengaran orang-orang di luar ruangan. Tuhan, mengapa saat hatiku sudah menemukan laki-laki alim dambaan ayah, justru harus kandas, tergeser oleh kedatangan orang baru?
Sakit !!!
__ADS_1
Sakit hati dan sulit bagiku melupakan dia. Aku menyadari sebentar lagi ada hati yang siap terluka.
***
Pagi hari saat aku keluar untuk melaksanakan tahajjudku, aku melihat sosok Qomar sedang duduk membelakanginya. Nampaknya ia sedang menahan kantuk. Aku akhirnya melangkahkan kaki dengan cepat. Takut Qomar melihatku dan menanyaiku berbagai macam tentang Syamsa.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat wudhu. Tempat sempit berukuran dua kali empat meter ini, menjadi saksiku. Ku singsingkan lengan baju dan kerudungku, lalu mengucap doa sambil membasuk kedua tanganku. Kulanjutkan untuk membasuk mulut, hidung dan wajahku. Kurasakan air sangat segar, menggugah gairah hidupku.
Kulanjutkan dengan membasuh kedua tanganku, kanan dan kiri lalu membasuh rambutku serta telinga dan mengakhirinya dengan membasuh kedua kakiku. Doa akhir wudhu kupanjatkan dengan khusuq.
Baru setelah itu aku bergegas untuk menuju mushola kecil di samping tempat wudhu.
Kulihat beberapa lelaki sedang tidur di sana. Aku menarik nafas lega, karena mereka tahu diri, tidak tidur di tempat shalat perempuan. Kukenakan mukenaku dengan cepat, dan tak lama kemudian, aku sudah khusuk dengan doa-doa yang kupanjatkan lewat bacaan shalat.
Setengah jam kemudian, kusudahi tahajjudku dan kututup dengan tiga rakaat witir. Obat hati itu ada lima perkara. Pertama baca Quran dan maknanya, yang kedua shalat malam dirikanlah, yang ketiga dikir malam perpanjanglah. Yang keempat perbanyak puasa, yang kelima berkumpullah dengan orang shaleh.
Itu cara menenangkan hati kata ustadz Haris. Ustad yang sering kami undang dalam acara rohis kampus. Diadakan setiap pecan dan aku akan selalu mengingat nasihatnya. Hari ini, dalam dzikirku, Aku memohon ampunan untukku, kedua orang tuaku, guru-guruku, dan seluruh muslim di penjuru dunia. Aku memohon juga petunjuk dan perlindunganNya, untukku dan keluarga, serta semua muslim.
Doa baru saja kuselesaikan, ketika tiba-tiba Syamsa sudah berdiri di sebelahku dan mengatakan kalau Qomar sedang menungguku di posko. Aku segera membenahi mukenaku dan segera menuju posko menemui Qomar.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu ya Ris?” bentak Qomar tanpa melihat ke arahku. Aku tak tahu apa yang dia maksudkan. Mengapa dia mengatakan aku tak punya malu. Kubayangkan apa yang kulakukan beberapa hari ini sehingga membuat Qomar mengatakan aku tak tahu malu. Setelah bebrapa menit, aku merasa taka da masalah yang membuatku merasa malu. Seingatku, aku sudah melakukan semua yang seharusnya aku lakukan tanpa melanggar norma sama sekali.
“Aku tak tahu mengapa Kakak mengatakan aku tak tahu malu. Seingatku, . . . .”
“Kamu bahkan tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan ?” bentaknya sekali lagi memotong kalimatku.
“Tolong Kakak jelaskan apa yang sudah aku lakukan sehingga Kakak mengatakan aku tak tahu malu. Please ! “ ucapku menghiba.
“Kemana kamu semalam ?”
Deg. Jantungku seakan meloncat. Tak bergerk di tempatnya.
“Tadi malam ?” tegasku sambil mengerutkan keningku tak mengerti dengan semua kata-kata komandanku. “Aku tidur di ruangan perangkat desa.” Sambungku.
“Itu yang kukatakan kamu tak punya malu.”
“Aku ? Tak tahu malu? Bagian mana yang menjadi dasar aku tak tahu malu ?Apakah salah kalau aku tidur di ruang perangkat desa? Semua temanku tidur di sana”
“Tapi mereka tidur jam dua belas. Dan kau . . . jam berapa kau tidur ?” bentaknya sekali lagi.
“Aku tidur jam delapan, Kak. “
“Kau tahu apa yang kami lakukan semalam ?”
Aku hanya menggeleng pelan. “Sungguh aku tak tahu apa yang kalian lakukan sampai larut malam,” sambungku.
“Kau seorang sekretaris. Seharusnya kau tahu agenda. Kau tahu apa yang harus kau lakukan ketika kita melakukan koordinasi. Tapi sudahlah. Aku tahu kamu mungkin sudah bosan menjadi sekretaris.”
“Kak . . . aku sungguh tidak tahu kalau tadi malam ada koordinasi. Maafkan aku.” Aku hanya mampu menunduk. Aku tahu itu kebodohanku. Tapi mengapa dia tidak bertanya padaku tentang bagaimana kondisiku semalam ?
Ah. Betapa bodohnya aku. umpatku. Mengapa aku mengharapkan pertanyaan darinya? Mengapa aku menginginkan dia menanyakan kondisiku semalam? Apakah karena aku mencintainya? Tidak. ucapku tegas, menolak mentah-mentah perasaanku yang sudah mulai jatuh cinta pada Qomar.
Tidak.
__ADS_1
Andai dia tahu betapa sakit hatinya aku, tentu dia tidak akan memarahiku seperti itu. Tapi sudahlah. Apapun yang aku katakan dia tidak akan pernah mau tahu karena dia benar-benar sudah sangat membenciku.
“Kau boleh pergi!” kata Qomar sambil mengayunkan langkah meninggalkanku yang masih tertunduk menahan malu. Tanpa menunggu perintah kedua kali, aku segera berlalu dari posko ke mushola karena adzan subuh sudah berkumandang. Usai subuhku, aku tak langsung meninggalkan musholla. Bukan karena aku tak ingin membantu di dapur umum, tapi lebih karena hatiku benar-benar terluka karena perkataan dan ketidakpedulian Qomar padaku.