
Semua temanku Rosa,Sisy, Maulida, Susi dan Santi teman kos baru mengajakku untuk berjalan-jalan keluar rumah. Mereka bilang ingin membantuku menyegarkan otak dan pikiran. Tempat pertama yang ingin kami tuju adalah taman kota. Tempat baru yang dibangun Pemerintah Kabupaten beberapa bulan lalu. Tempat paling indah dan paling sejuk di kota ini. alasan pertama karena taman kota dekat dengan tempat kami tinggal. Hanya perlu berjalan satu kilometer dari kos, dan bagi kami itu sudah cukup untuk melemaskan kaki.
Tidak ada percakapan diantara kami. Kutebak saja mungkin mereka canggung untuk mengajakku bicara. Selain karena aku sibuk dengan pikiran sendiri, memang sejak awal akulah yang paling pendiam. Ditambah masalah yang baru terjadi antara aku, Rosa dan Sisy. Masalah yang ikut mereka campuri hingga mendiamkanku lebih dari satu bulan lalu.
Sampai di taman kota, kulihat banyak sekali manusia. Hampir semua menggerakkan badan dan berolah raga. Keempat temanku pun meminta diri untuk meninggalkanku demi mendapatkan keringat pagi. Dan itu justru sebuah kesempatan bagiku untuk merenung, mencari inspirasi. Kualihkan pandangan mencari tempat duduk kosong di sekelilingku.
Kutemukan bangku panjang dekat dengan patung Jenderal Ahmad Yani. Tanpa berfikir panjang, kuarahkan langkah menuju tempat itu dan duduk sambil memandang sekeliling. Ingin kulayangkan pandangan ke arah jauh, namun segera kuurungkan karena ternyata ada Aditya di hadapanku. Dia tersenyum lembut dan dengan ramah dia meminta ijinku untuk duduk di dekatku.
Aku bingung. Inikah rencana mereka ? Atau hanya kebetulan belaka ? Seingatku kalau aku sedang sendiri dan ingin sendiri, selalu kutemukan dia.
“Ada hal yang merisaukan ya ? Dari tadi saya lihat Marissa banyak melamun ?”sapanya.
“ma . . . maafkan Risa, Pak.” Ucapku terbata.
“Tidak usah meminta maaf sudah saya maafkan. Saya tahu kamu sedang punya masalah. Karena dhik Risa yang kutemukan pertama kali berbeda dengan Dhik Risa yang kemarin di tempat yang sama.” Wow, hari ini Pak Aditya memanggilku Dik ? Entah apa yang merasukinya ha ha ha.
“O iya ? Risa yang beberapa hari lalu seperti apa menurut Bapak ?’ Kupandang wajah dosen di hadapanku mengharap jawaban.
“Cerah, penuh semangat dan cantik.”
“Dan Risa yang di Gebang Rejo kemarin jelek sekali ya ?’ tanyaku sambil tersenyum getir.
“Yang di gebang Rejo kemarin adalah gadis yang membuatku gemas, karena ditanya tidak menjawab. Andai dia tahu bahwa aku sangat merindukannya dia pasti akan tersenyum manis padaku. ” Sekali lagi kukatakan Wow, karena begitu mudah dia memuji dan mengungkapkan isi hati.
“Bohong banget. Laki-laki itu kalau ada maunya bisa saja merayu wanita.” Ucapku sambil tersenyum bahagia.
“Memang kamu paham benar sama yang namanya laki-laki ?”Goda Adit sambil tersenyum memandangku.
“Tidak juga sih. Kata orang. Saya sering mendengar kalimat itu ketika di jalan.”sahutku sekenanya.
“Jangan terlalu banyak mendengar kata orang di jalan. Ikuti kata hati, dan percayalah pada diri sendiri. “Sekali lagi aku terdiam. Kuresapi semua kata-katanya dan akhirnya kuberanikan diri untuk menatapnya.
“Ada apa ?” dia memandangku penasaran.
“Mmm . . .kalau boleh Risa tahu, mengapa Pak Adit mengirim utusan dengan menyebut nama Irawan Adityawarman ? Saya benci dengan teka-teki. Sudah dipikir setiap hari siapa dan orang mana yang nekad meminang tanpa mengenalku terlebih dulu. Setiap hari kudirikan istiharah dengan meminta pada Allah laki-laki mana yang terbaik untukku. Ternyata anda adalah orang yang sangat dekat yang sama sekali tak kukenal.” Kulihat dia tersenyum.
“Lalu ?” dia nampak tenang. Tenang setenang air. Dan mungkin benar kata orang. Inilah laki-laki, selalu mengandalkan logika bukan perasaan seperti wanita. Aku semakin menunduk. Tak tahu kalimat apa yang bisa kuucapkan meski sekedar untuk berbasa-basi sekalipun. Aku manusia bodoh yang tidak bisa berkamuflase dalam setiap situasi. Apapun perasaanku selalu tercurah saat itu.
__ADS_1
Dan Tuhan !
Hari ini aku mati kutu. Aku ingin menenangkan diriku, ternyata sekarang justru terjebak dalam lembah yang sulit sekali kulewati.
“Kau berhak menolak dan menerimaku. Ada dua pilihan kuajukan dan aku siap dengan konsekuensi apapun yang akan kuterima. ”
“Pak . . . “ Kucoba memberanikan diri untuk bicara meski kurasakan sangat berat. Aditya memandangku namun akhirnya menunduk. Ia mungkin ragu dengan kemampuan bicaraku.
“Bicaralah ! “ucapnya pelan.
“Waktu yang Bapak ajukan sudah terlewat sangat lama kan ?”
“Iya. Tapi bisa saja maju dan bisa juga mundur.” Sahutnya lirih.
“Kalau Risa menolak, apakah kita tetap berteman ?”
Aditya memandangku dengan pucat. Nampak sekali kecewa di wajahnya dan ini membuatku semakin bergetar tak karuan. Ada rasa kasihan terselip jauh di lubuk hatiku. Aku tahu betapa bodohnya pertanyaanku.
“Saya tidak berani bermimpi untuk dicintai oleh orang sesempurna Bapak.”
“Jadi kau menolakku ? “ tanyanya sambil menarik nafas berat. ”Tidak apa-apa. Aku ikhlas.” Ucapnya dengan suara lemas.
“Lalu ?”
Tuhan ! mengapa aku justru menanyakan hal yang sebenarnya tidak ingin kutanyakan. Pertanyaan bodoh yang hanya orang bodoh saja yang memunculkan.
“Bicaralah ! Kau tolakpun saya ikhlas.”tegasnya
“Tidak Pak. Saya . . . saya . . .” kugaruk kepalaku dengan bingung dan akhirnya aku hanya bisa tertawa. Melihatku tertawa Aditya justru marah. Dia memalingkan wajahnya dan menghela nafas dalam.
“Sudahlah, saya tahu jawabanmu. Kita bicara yang lain ya ! Kau sudah sarapan belum?”
“Pak, . . .Risa tidak ingin pacaran.”
“Saya tidak sedang mengajakmu untuk berpacaran. Kalau kau mau aku akan melamarmu pada orang tuamu dan kita menikah. Tapi tadi kau katakan kau menolakku ya sudah, tidak apa-apa. Anggap saja semua tidak pernah terjadi. Aku ikhlas.”
“Tidak Pak.”
__ADS_1
“Apa maksudnya tidak ?”
“Aku . . . tidak . . .menolak.” akhirnya aku bisa memecahkan rekorku. Menerima laki-laki dengan jujur. Ya, jujur sekali dan ini baru saja kulakukan.
Reaksinya ?
“Alhamdulillah. Akhirnya temanku ksatria. Bisa menjawab dengan tegas dan kami bangga padamu Risa.”Teman-temanku mengelilingiku. Mereka memandang kami bergantian.
“Kalau begitu, Pak Aditya, kita langsung saja ke KUA, itu ada KUA. Katanya Pak Adit tidak ingin mengajak Risa pacaran.”
“Tidak sekarang Rosa. Keluargaku harus datang dulu ke rumah Dik Marissa dan menentukan hari pernikahan kami. Insya Allah semua siap.”
“Tapi kita sarapan dulu ya, aku lapar sekali.” Maulida menarik lenganku.
“Ayo, kutraktir kalian makan.” Aditya melambaikan tangannya meminta penjual bubur ayam mendekat, memesan dan akhirnya makan.
***
Aku mendengar dari Puji sahabat SMA ku yang kutelpon kemarin. Dia bilang, untuk menentukan sebuah pilihan, setelah Istiharah, aku dianjurkan untuk mengambil sebuah tasbih dengan memejamkan mata dan menghitungnya dengan dua pilihan sampai biji tasbih habis.
Kuikuti sarannya, dengan harapan aku bisa mendapatkan kemantapan atas pilihan yang sudah kubuat. Aku sudah menerima pinangan Aditya yang dimandatkan pada dua rekannya, Muhamad Ridwan dan MAulana Akmal dulu. Dan malam ini, sekali lagi kudirikan qiyamul lail, mengharap pertolongan yang Maha Kuasa, untuk meneguhkan hatiku demi melaksanakan tugasku menyempurnakan separuh dari dinku. Malam ini aku memohon pertolonganNya, agar aku diberi kekuatan untuk melaksanakannya dan memberi kemudahan kepadaku meyakinkan kedua orang tuaku.
Masih terngiang jelas ditelingaku semua ucapan mereka malam itu.
“Mohon maaf, Mbak. Kedatangan kami untuk menyampaikan amanah. Kami bermaksud untuk melamar Mbak Risa untuk Irawan Adityawarman.”
“Maaf, Irawan Adityawarman yang mana ya ? Saya tidak mengenalnya. Mungkin anda salah orang, Kak.”
“Tidak. Dia bilang dia mengenal Mbak Risa. “
“Ta . . .tapi saya tidak ingin pacaran, Kak. Saya . . . .tidak bisa.”
“Irawan tidak mengajak pacaran. Kalau Mbak Risa mau, dia mengajak anda menikah bulan depan.”
Aku diam karena tak ada alasan yang bisa kugunakan untuk kuberikan pada mereka, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tuhan ! Tolong bimbing aku, hambaMu yang bodoh dan picik ini.Karena hanya padaMU Tuhan, hamba memohon pertolongan. Hanya padaMu hamba meminta tuntunan dan bantuan. Amien.
Hari ini kuputuskan untuk pulang. Keluarga Aditya akan datang esok dan aku harus segera menyampaikan kabar pada ayah dan ibuku secara langsung. Meski sudah sebelumnya kuberikan kabar per telepon, namun tidak etis rasanya membiarkan kedua orang tuaku menyiapkan segala sesuatunya sendiri.
__ADS_1
Kutata perlengkapanku, dan dengan diantar Sisy, aku pulang.
***