
Sudah sejak dua hari lalu, keluarga dan kerabatku sibuk. Separuh penyempurnaan Dinnku akan dilaksanakan, dan itu sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat bersama keluarga besar Aditya dua pekan lalu. Pengajuan pernikahan ke KUA sesuai dengan peraturan sudah dilaksanakan dan alhamdulillah pengajuan kami diterima.
Kami berkumpul untuk melaksanakan ijab kabul, resepsi pernikahan dan sesuai kesepakatan, kami mengingap di rumahku selama tujuh hari dan setelahnya aku harus mengikuti suami dan tinggal di rumah Aditya.
Semua kami sepakati karena kami sadar, bahwa surga seorang istri berada di bawah telapak kaki suami. Apapun perintah dan permintaan suami, selama tidak mengajak kami ke dalam kesesatan dan penyekutuan terhadap Allah, harus kulaksanakan dengan ikhlas.
Subuh sudah berlalu lima menit lalu, dan sebelum di make up, aku harus shalat dulu. O . . .iya kawan, pernikahanku digelar pukul delapan tiga puluh. Karena jarak kotaku dengan kota Aditya menghabiskan dua jam perjalanan.
Ba’da shalat, aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergegas menemui petugas rias yang sudah siap melaksanakan tugasnya. Dengan sigap mereka membersihkan wajahku dan memberi pelembab dan alas bedak serta entah apa lagi yang mereka lakukan. Aku tidak tahu alur permake up an. Aku adalah manusia lugu yang pernah ada di muka bumi ini yang tak pernah mengenal make up sama sekali.
Satu jam semua rapi.
“Penghulu sudah datang, Risa. Pak Adit dan keluarga juga.’Sisy yang tiba-tiba masuk menjerit histeris.”Subhanallah, Risa, kamu cantik sekali. Pantas saja Pak Adit dan Kak Seno mengincar dan mengejarmu terus.” Aku hanya tersenyum.
“Risa . . . benar ini kamu Risa ? “ Sinta memandangku tak percaya. Sisy juga. Mereka berdua terpaku seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa seperti itu. Yang kurasakan hari ini hanya grogi karena bedak di wajahku sangat tebal. Petugas rias tidak menuruti permintaanku untuk meriasku dengan tipis saja.
“Masa iya salah orang, Mbak. Nanti mempelai laki-lakinya marah kalau ditukar.” Mbak Rila yang menjawab.
“Subhanallah, ini karena Mbak yang merias yang pintar atau kamu memang cantik , Ris?” tanya Santi saat dia baru masuk menemui Sinta dan Sisy.
“Sudah ! Tidak usah dibahas lagi. Pak Penghulu meminta mempelai perempuan datang dan acara akan segera dilaksanakan Sy.” Syamsya menarik tangan Sisy, memberi jalan padaku dan Mbak Rila keluar.
Aku duduk di kursi dekat ayah yang berhadapan langsung dengan Aditya dan penghulu. Hari ini ayah akan menikahkanku dan itu sangat mendebarkan. Kurasakan semua mata memandang ke arahku.
Penghulu mengecek identitas kami dengan menanya kami satu persatu dan setelah itu, ijab qabul dilaksanakan. Sangat cepat dan singkat. Alhamdulillah semua lancar dan mulai detik ini, kulepas masa lajangku dan berubahlah identitasku dari perawan menjadi istri.
Setelah Aditya membaca hak dan kewajiban suami istri, semua hadirin berdiri. Mereka memberi waktu padaku menyalami suami dan orang tuaku, menyalami tamu dan satu persatu mengucapkan selamat pada kami.
Acara yang sangat sederhana. Ini adalah permintaan ayah. Beliau tidak ingin semua dimewahkan dan semua sudah terlaksana.
“Anak nakal, selamat ya, doakan Kakak segera menyusulmu ke pelaminan. O iya, semoga pernikahan kalian Barokah. “KAk Reza hendak memeluk dan menciumku, namun aku segera mundur. Kak Reza cemberut menerima penolakanku.
“Kaka bilang tidak akan menciumku kan ? Mengapa sekarang akan melakukannya?” Aku tersenyum melihat tingkah kakak pertamaku. Kumonyongkan bibirku dan menggodanya. Kakak pertamaku frutasi menerima perlakuanku. Kasihan melihatnya, kurentangkan kedua tanganku dan memeluk kakakku. Kupeluk kakak pertamaku erat. Kurasakan sedih menyelimutiku karena aku tahu setelah ini kami akan jarang bertemu. Kulihat Aditya tersenyum melihat tingkah kami. Kak Reza menyalami Aditya suamiku, mereka saling tersenyum. Akhirnya memeluknya dan mencium kening adik iparnya.
“Titip anak nakal ini ya! Jaga hati dan perasaannya karena ia anak nakal yang manja. KAkak percaya padamu.”
“ Adit berjanji akan senantiasa menjaga dan melindungi Risa semampu tenagaku, Kak. Terima kasih atas keikhlasan Kakak, ya. Semoga segera ada bidadari yang Kakak pinang dan mendampingi Kakak membentuk keluarga sakinah seperti kami.”
“Aamiin.” Kak Reza meninggalkan kami dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Kak Willy memelukku tanpa suara. Sekali lagi aku tidak bisa menahan air mataku. Lama kegiatan ini kulakukan. Aku dan KAk Willy selalu bertengkar, bercanda kelewatan dank arena itulah aku merasa dialah kakak terdekatku. Rasa sdih menyelimuti hati kami dan setelah bisa menguasai diri, KAk Willy melepaskan pelukannya.
“Kuacungi jempol atas keputusan yang kalian ambil. Menyegerakan pernikahan dan menghindari pacaran. Selamat ya, doakan juga Kakak keduamu, agar segera menyusul kalian.” Kak Willy lalu memeluk Aditya.
“Aamiin terima kasih Kakak. Semoga Allah juga mengirim seorang bidadari yang akan menjadi istri Kakakku tercinta dan menjadi menantu yang baik untuk menemani ibu dan ayah di sini.”
“Insya Allah. Tapi ingat, tugas menemani ibu berada di pundak kita semua. Walaupun kau akan diboyong Mas Aditya, Kalian harus tetap aktif mengunjungi kami di sini.”
__ADS_1
“Insya Allah. Bukan Mas Kak, tapi Adik. “ Aditya meluruskan.
“Iya, Dik Adit. Maaf”
“Tidak apa-apa, Kak. Insya Allah kami akan tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga.”
Kak Reza dan Kak Willy berlalu meninggalkan kami.
“Ternyata asyik ya punya saudara. Banyak ceritanya dan aku baru merasakan pelukan seorang kakak hari ini.”
Aku hanya tersenyum. Memang benar yang dikatakannya. Dan ini membuat hatiku menjadi galau. Mengingat sebentar lagi kesempatan kami untuk bersama semakin tipis. Terbayang olehku akan hari-hari tanpa mereka. Tanpa terasa air mataku mengalir.
“Kenapa ? Kok Menangis ?” Aditya memandangku dan mengulurkan sapu tangan biru untukku. “Hapus air matamu Adik, pelan saja agar bedakmu tidak luntur. Adik cantik sekali hari ini. Jangan bersedih, ini hari bahagia kita.“
“Tidak apa-apa, honey. Sedih sedikit karena mengingat perpisahan yang akan segera terjadi antara kami.”
“Coba kau ulangi sekali lagi ! “
Aku terkejut dengan permintaannya.
“Apa yang harus kuulang ?”
“Kau sebut aku dengan, Honey ?”
“Ma . . . maaf. “
“Tidak, apapun itu, semua akan terasa sangat berbeda. Kondisi kita sudah tidak seperti kondisi lalu. “
“Adik menyesal dengan pernikahan ini ?”
“Bu . . .bukan pernikahan ini yang kusesali, Kak. Insya Allah bukan. “
“Terus ? “
“Perpisahannya. Mengapa takdir manusia selalu berbeda dengan yang kita impikan.”
“Saya bekerja di KAmpus MAtahari, Dik. Adik juga masih harus menyelesaikan kuliah kan ? Apa mungkin kita akan tinggal di sini sementara tugas kita di luar kota ?” Suamiku memegang tanganku erat. Aku tahu dia sedang berusaha menenteramkanku.
“Iya, Kak. Saya paham. Mohon maaf“
“Tidak apa-apa. Aku juga seharusnya paham dengan perasaanmu. Adik anak bungsu, perempuan sendiri, sudah dapat kupastikan semua memanjakanmu. Dan itu sekarang menjadi tugasku.”
“Tapi aku bukan anak manja kok. Meski bontot aku mandiri.”
“Iya . . . iya. Aku tahu. Kalau tidak mandiri mana mau aku menikah dengan Adik. Bukan hanya wajah ayu yang membuat cintaku berkembang pesat padamu. Tapi kemandirian dan kedewasaanlah yang membuat Kakak tetap bertahan menantimu, walaupun bertanya tidak dijawab aku tetap ikhlas menunggu.” Kucubit lengannya dan ia hanya tersenyum memelukku.
__ADS_1
“Duh, mesra banget. Jadi iri aku sama pengantin baru. Selamat ya, semoga pernikahan kalian barokah.”Syamsya memelukku erat. Air mata kami tak kuasa untuk kami tahan. Ada banyak kenangan yang kami ukir bersama dan hari ini harus kami pupus kebersamaan. Qomar menyalami Aditya dan berdua mereka mendekat.
“Terima kasih Mbak. Hati-hati menjaga diri ya. Mohon maaf bila selama bergaul dengan Mbak Syamsya di kampus, saya banyak salah.”
“Aku juga, Risa. Aku juga minta maaf. Aku yang paling bandel, dan saya yakin aku yang paling sering membuat kamu kecewa.”
“Tidak. Mbak Syamsya orang baik, kok. “
“Risa, selamat ya ! “ Maulida memelukku erat sekali. Aku hampir tak bisa bernafas. Semua pandangan ke arah kami. Kulihat kedua ibuku tersenyum dan kedua ayahku hanya diam tanpa kata.
“Terima kasih, Da. Mohon maaf atas semua kesalahanku ya.”Maulida hanya mengangguk.
Santi dan Susi hanya bisa menjabat tangan dan memelukku. Erat sekali.
“Terima kasih Ya San.” Santi hanya mengangguk pelan dan akhinya berjalan meninggalkanku.
“Terima kasih juga ya Sus, Mohon maaf bila banyak salah selama ini.”
Sekali lagi, Santi dan Susi mengangguk. Pelan ia lepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkanku. Aditya memegang tanganku erat menguatkanku.
“Masih cemburu pada Syamsya ? “ Godanya.
“Dari mana Kakak tahu ?” tanyaku penasaran.
“Semua orang tahu”
Aku sebel sekali mendengar kalimat itu. Aku tahu dia meledek, tapi masa iya dihadapan banyak orang.
“Sssst, “Kutempelkan telunjukku dibibirku menginsyaratkan agar ia tak lagi mengulang kalimatnya. Teman-temanku sudah pergi dan kini saatnya aku harus meninggalkan pelaminan untuk mendirikan duhurku. Hampir saja aku berjalan kalau saja Aditya suamiku tak melarangku. Seorang lelaki datang ke hadapan kami dengan wajah lesu. Dia pandang wajahku dan suamiku bergantian. Ada duka mendalam yang tak dapat kuraba.
“Barakallah, semoga pernikahan kalian barakah. “ ucapnya. Singkat namun bagiku sangat bermakna. Suamiku menyalaminya dengan erat.
“Terima kasih, Mas. “ Mereka saling berpelukan erat.
“ Kutitipkan dia padamu, Mas. Jaga dia baik-baik, dia adalah mutiara di hatiku. Sekali saja kau menyakitinya, aku yang akan menjadi orang pertama yang akan membelanya.” Tambahnya.
“ Insya Allah, Mas. “
Suseno mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Aku ikhlas dengan keputusan yang sudah Adik ambil. Jadilah istri yang sholehah, yang akan tetap membahagiakan suamimu.”
“Insya Allah, Kak. Mohon maaf atas segala khilaf yang sudah saya perbuat. Semoga Kakak segera menemukan bidadari yang akan mendampingi Kak Seno menapaki hari-hari.”
“Aamiin.”
__ADS_1
Begitu satu persatu tamuku menyalami dan akhirnya kami sibuk dengan aktivitas masing-masing.
****