Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Debat Kusir


__ADS_3

Ba’da subuh, aku segera ke camp pengungsian. Suasana di pengungsian tidak banyak berubah. Penuh dengan pengungsi yang tidur di beranda balai desa, banyak juga relawan yang masih duduk berjaga barangkali ada longsor susulan seperti yang terjadi di beberapa titik tak jauh dari Kemanukan.


Setelah turun dari ojek online, kakiku melangkah menuju ruang kesehatan, tempat dimana Syamsya dirawat.


“Assalamualaikum.” Ucapku pelan. tak ada yang menjawab karena bibi dan om Syamsya masih tertidur di sebelah keponakannya. Aku segera meletakkan tasku di sudut ruangan seperti biasa. Aku segera menemui Syamsya Meski belum terlalu banyak kata, air mukanya sudah tak terlalu menunjukkan ekspresi kesedihannya. Kuulurkan tanganku ke arah Syamsya namun ia tak menghiraukan. Ia tetap memandangku dengan datar, seolah tidak mengenalku sama sekali.


“Bagaimana kabar Mbak Syamsya hari ini ?”tanyaku pelan namun tetap tak ada jawaban. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya tadi malam. Keadaan Syamsya kembali seperti saat dia belum sadar. Tanpa suara dan tanpa ekspresi. Setelah menunggu beberapa lama tidak ada respon, aku segera meninggalkan ruang itu dan melangkah menuju dapur umum. Beberapa orang ibu paruh baya sedang asik bercengkerama di sana.


“Assalamualaikum,” salam kutebarkan dan semua menjawab salamku kompak.


“Waalaikum salam. Mbak Rissa pagi sekali sudah dating ?” tanya bu Kades menyalamiku. Kucium semua tangan ibu-ibu di dapur dan mulai menggabungkan diri dengan mereka.


“Alhamdulillah hari ini tidak ada jadwal kuliah Bu. Makanya saya memutuskan untuk datang ke sini lebih awal.” Jawabku pelan.


“ Orang kuliah itu enak ya Mbak? Tidak harus berangkat setiap hari.” Kata bu Kades masih dengan mengelap piring.


“Sebenarnya tidak terlalu enak-enak banget Bu. Anak kuliah kalau tidak kreatif akan selalu ketinggalan informasi. Meskipun kita tidak setiap hari ada jadwal kuliah, kita harus update informasi. Kalau tidak ingin kurang pergaulan.”ucapku.


Ibu-ibu yang mendengar ceritaku mengangguk-angguk.


“Barut ahu kalau anak kuliahan seperti itu ribetnya. “ sahut ibu muda yang tengah mengiris bawang. Aku hanya mengangguk tanpa ingin menggurui.


“Mbak Rissa, sekarang semester berapa ? “tanya Bu Kades.


“Semester tujuh Bu. Sebentar lagi KKN. “ sahutku sambal mengangkat ceret berisi the panas.


“ KKN ? “ tanya seorang ibu terperanjat. Kolusi, Korupsi Neporisme ? Jangan, Mbak. NAnti dosa. Mbak Risa orang baik, nanti kalau ikut KKN, akan ditangkap polisi.” Sambung ibu tadi dengan polos. Aku hanya tersenyum sejenak.


“KKN itu kuliah kerja nyata Bu. Mahasiswa akan mengikuti program bakti masyarakat selama kurang lebih dua bulan. “ kataku menerangkan.


“ O, saya kira Mbak Risa mau korupsi. “ Sahut si ibu dengan malu-malu.


“Tapi terima kasih peringatannya, Bu. Semoga kita semua terhindar dari tindakan tidak terpuji yang tentunya sangat dimurkai Allah. “


“Aamiin. Semoga kita senantiasa mendapatkan hidayahNya.” Sambung Bu Kades pelan.


Suasana dapur pagi ini sangat hangat dengan pembicaraan ibu-ibu. Aku hanya mendengarkan semua informasi dari mereka para warga dengan antusias.


“Mbak Rissa.” Panggil Bu Kades.


“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu ?’ jawabku mendekati Bu kades.


“Mbak bisa membawa minuman ini ke aula. Barangkali banyak yang sudah menantikan ini disana. Mbak tuangkan ke gelas, biar mereka bisa mudah saat hendak minum.”


“Baik, Bu.” Kuraih ceret air dan hendak membawanya ke aula seperti yang diinstruksikan Bu Kades padaku. Langkahku baru beberapa, meninggalkan dapur, saat kudengar suara petir menggelegar seolah hendak menyambar siapapun. Berkali-kali kuucapkan subhanallah, walhamdulillah wa laailahaillallahu allahu akbar. Langkah kupercepat ketika hujan tiba-tiba turun.


***


Di aula, kulihat beberapa relawan membaur bersama warga. Kulihat dokter Wildan sedang asik ngobrol dengan kepala desa. Tak tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Aku hanya melakukan seperti apa yang diperintahkan Bu kepala desa. Menuangkan teh ke beberapa gelas dan kutata di nampan lalu kupersilahkan semuanya untuk minum.


Kuambil dua gelas dan kuambil nampan lalu kuberikan kepada kepala desa dan dokter Wildan.


“Silahkan tehnya, Pak kades dan dokter. “ ucapku sambal meletakkan kedua gelas di hadapan mereka.


“Wah, terima kasih Rissa, kau rajin sekali pagi-pagi begini sudah menghidangkan the.” Puji dokter Wildan padaku.


“saya mah baru datang, Dok. Ibu-ibu yang di dapur yang luar biasa.” Sahutku tanpa bermaksud untuk mengelak.


“Tetap saja Mbak memang rajin. Buktinya, masih sangat pagi sudah sampai di sini lagi dan sudah sibuk dengan aktifitas di dapur.” Puji kepala desa sambal mengulurkan tangannya mengambil gelas. “Alhamdulillah, segar sekali minum teh pagi hari dan yang membuatkan seorang gadis cantik lagi, Dokter.” Sambung pak kades. Dokter Wildan juga akhirnya mengikuti kepala desa.


“Mohon maaf saya harus ke dapur lagi, Pak. “ Pamitku.

__ADS_1


“Silahkan !” mereka berdua kembali mengobrol sambal menikmati tehnya.


Sampai di dapur kembali, bu kades langsung menyuruhku untuk mengantar camilan ke aula lagi. Aku segera melaksanakan perintah bu kades dan meninggalkan aula setelah menata semuanya dengan rapi.


“Betapa beruntungnya suami kamu besok, Ris. Kamu masih gadis saja sudah serajin ini apa lagi besok kalau sudah menikah. “ puji dokter Wildan.


“Sudah pasti, Dok. “ sahut pak kades bersemangat.


“Semoga seperti itu, Dok. “sahutku.


“Ris, kau tak ingin melihat kondisi Syamsya ?” Tanya dokter Wildan.


“Tadi saya sudah ke ruangannya, Dok. Tapi dia tidak respon sama saya, makanya saya langsung ke dapur.” Jawabku.


“Dia shok berat. Makanya dia tidak respon. Kesadarannya memng sudah pulih tapi ingatannya masih harus dipulihkan. Kamu kan calon psikolog, mengapa menyerah ketika pasienmu tidak respon?” tanya dokter Wildan penuh selidik.


“ Itulah kelemahan saya, Dok. Saya merasa gagal menghadapinya. Mungkin karena latar belakangku dan dia berbeda. “ jawabku pelan. Sedih sekali rasanya mendengar penilaian dokter muda di hadapanku. Dia tahu betapa lemahnya aku.


“Jangan-jangan karena kau cemburu padanya?” tanya dokter Wildan penuh selidik. “Kudengar kemarin komandanmu mau mengambilnya sebagai alat taruhan kalau dia berhasil membuatnya bicara.” Goda sang dokter.


“Kau boleh menerangkan yang sebenarnya, Ris.” Pinta dokter Wildan.


“Maaf, Pak kades. Kemarin hanya bercanda. Kak Qomar hanya ingin menunjukkan kalau dia punya keahlian khusus mengobati pasien depresi.” Sahutku sekenanya.


“Dan nyatanya dia berhasil bukan ?”


Aku mengangguk.


“Dan kau merasa tak berguna hari ini? Sehingga kau tak menemuinya sekarang ?” sambung dokter Wildan. Aku benci kalimatnya. Ingin sekali kutinggalkan tempat ini kalau saja aku tidak malu pada pak Kades.


“Aku yakin Qomar akan berhasil mengambil hatinya, Ris. Waspadalah !” ancam dokter Wildan sambal tersenyum.


“Tidak usah bohong. Aku tahu ada binary di matamu saat kau memandang Qomar. “dokter Wildan menggodaku.


“Mohon maaf, Pak Kades, saya harus ke dapur lagi. Assalamualaikum”


Ha ha ha ha


Mereka berdua tertawa melihat tingkahku yang mungkin sangat lucu. Tanpa menghiraukan semuanya, aku langsung menuju dapur.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Setelah puas mengobrol dengan kepala desa dan dokter Wildan, saya langsung menuju kamar Syamsya sambil membawakan teh hangat sebanyak empat gelas. Bukan tanpa alasan. Aku ingin penilaian dokter Wildan padaku salah. Aku ingin menunjukkan bahwa tak ada kata cemburu di hatiku pada Qomar karena dia sudah mau mengambil haknya memacari Syamsya setelah ia berhasil mengajaknya bicara.


“Assalamualaikum”


“Waalaikum salam, “ Bibi Syamsya menyambutku dengan senyuman.


“Mbak datang sendiri ?” tanya Bibi Syamsya sambal memandang sekeliling.


“Saya datang sendiri, Bu. Tadi sudah sampai sini sekitar jam lima, tapi Ibu dan Bapak masih tidur makanya saya ke dapur. O iya, maaf silahkan minum tehnya Bu.” Kataku sambal meletakkan nampan berisi gelas dan camilan di meja.


“Terima kasih, Nak. Kamu rajin sekali,” Puji Bibi Syamsya sambal memeluk dan mencium pipi kanan kiriku.


“Kalau aku punya anak laki-laki, aku pasti sudah menjodohkan kamu dengan anakku. “ Sambung bibi Syamsya penuh semangat.


“ Terima kasih, Bu. “


“ Bagaimana perkembangan Syamsya hari ini, Bu? “


“ Belum banyak perubahan. Dia masih banyak diam.”

__ADS_1


Aku hanya menghela nafas dalam lalu duduk di kursi yang kosong di sebelah bibi Syamsya. Hari ini Qomar datang. Hari kedua kedatangan Qomar, Syamsya sudah menampakkan perkembangan pesat. Dia tatap Qomar layaknya seorang musuh yang siap ia ajak berdebat.


“ Apa kabar, Sya ?” tanyanya penuh semangat.


Syamsya tetap diam. Hanya matanya saja yang masih menatapnya kesal. Qomar memandangku bingung. Aku hanya mengangkat bahu, tak tahu apa yang sedang dan akan terjadi.


“ Eh, kau apakan dia ? “tanya Qomar penasaran. Tangannya mengepal hendak menjitak kepalaku dan aku hanya bisa pasrah. Tante dan Omnya Syamsya tersenyum memandang ulahnya.


“Dari semalam ia tidur tenang, Mas. Jadi tatapannya mungkin sebuah semangat baru untuk memulai hidup baru. “ Ucap sang bibi tenang. Tampak sekali di wajahnya kalau senang melihat tingkah kami.


“ Aku tidak berbuat apa-apa, mungkin dia sedang menunggu Kak Qomar untuk melanjutkan debat yang kemarin sempat terputus. “sahutku sekenanya.


“ Benar yang Risa katakan Sya?”


Aku terlonjak mendengar pertanyaan Qomar pada Syamsya. Dan lebih terlonjak lagi ketika Syamsya mengiyakan.


“ Tidak salah. Aku masih geram dengan ucapanmu yang mengatakan Tuhan sayang orang-orang yang baik, tapi kenyataannya Dia ambil orang tua dan saudaraku.”


“ Mungkin Dia juga sangat menyayangimu. Kamu masih diberiNya kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki diri dari perbuatan-perbuatan keji yang selama ini kamu lakukan. Kalau Dia mengambil nyawamu serta, itu tandanya sudah tidak ada lagi kesempatan bagimu bertaubat dan kamu tahu apa artinya ? “Dia menggeleng lemah. Nada suara Qomar kaku, tidak seperti hari-hari lalu yang lembut dan bersahaja.


“ Bisa jadi kamu terpisah dengan mereka di akherat. Mereka hidup di surga dan kamu, tinggal di neraka. “Kali ini Syamsya tersungkur sujud dalam tangisnya yang membuat semua yang ada di ruangan terhenyak. Aku hampir saja terpancing, untuk menyalahkan sikap Qomar yang menurutku sangat keterlaluan.


“ Kenapa Ris ?”


“ Kak Qomar kenapa geram begitu ? walaupun Kakak tahu kalau dia melakukan perbuatan keji selama ini tapi menurutku tak ada hak untuk kita menghakimi orang lain. Hanya Allah yang tahu semua rahasia untuk setiap makhlukNya”


“ Aku sebel pada sikap kolokannya. Dia telah melakukan sesuatu yang sangat merugikan orang lain, tanpa dirinya sendiri menyadari atau bahkan pura-pura tak sadar. “ tandasnya.


“ Dia benar, Dik. Aku memang kejam .”tegas Syamsya padaku. Tampak sekali dari wajahnya kalau ia menyadari kesalahannya.


“ Mbak Syamsya ?” kutatap wajah ayunya kagum. Kutemukan ekspresinya sudah seratus persen pulih.


“ Aku memang sangat kejam, banyak lelaki yang mengutukku. Bahkan orang seperti dia, yang tak pernah kusakiti layak untuk mengolokku. Itu memang pantas aku terima.”Syamsya mengusap air matanya pelan. Pandangannya jauh menerawang keluar seolah membayangkan tingkah lakunya yang sudah berlalu begitu jauh. Saat ia masih jaya, dengan kemolekan tubuhnya yang selalu ia banggakan di hadapan kaum Adam, kesempurnaan paras dan harta yang dimilikinya, membuatnya terlena, tanpa sadar bahwa banyak orang tergores hatinya.


“ Mbak Syamsya istirahat dulu ya ? Atau sarapan dulu, setelah ini, kita bisa pulang.” Sengaja kualihkan pembicaraan agar ia tak berlarut memikirkan kondisinya.


“ Pulang ? Ke mana ? Aku sudah tak punya rumah, Dik. “ tegas Syamsya sedih.


“ Kalau mau ke kosku atau kau bisa kembali ke balai desa bersama pengungsi-pengungsi lain ?” Syamsya merenung. Sebelum akhirnya mengangguk pelan.


“ Kita ke tempat pengungsian saja, Dik. Aku malu pada teman-teman kosmu.” Lanjutnya.


“Kenapa malu ? Saya pastikan teman-teman tidak berkeberatan Mbak tinggal di rumah kos kami.”


“ Iya, Ris. Terima kasih.” Dia menarik nafas pelan, lalu melanjutkan bicara “ Ris, Maafkan aku ya barangkali saat bersama dulu banyak kesalahan yang kuperbuat pada kalian semua. Aku memang pantas mendapatkan apa yang sudah kulakukan kemarin”


“Ssst, sudahlah. Tanpa Mbak meminta maaf, saya sudah memaafkan. Mereka teman-teman sekampus saya yakin juga. ”


“ Qomar ? “


“Kak Qomar saya yakin juga sudah memaafkan. Mbak Syamsya tidak pernah menyakiti hatinya kan ? “Lina yang menjawab “ Kami semua berharap semoga dengan peristiwa ini, Mbak Syamsya akan berubah menjadi lebih baik lagi.” Lanjutnya.


“ Dik, mungkin benar yang dikatakan Qomar, aku harus berterima kasih padamu. Sudah menolongku dan menjagaku.”


“ Ya, sudahlah. Itu kewajiban kami sebagai sahabat. Mbak Syamsya sarapan dulu ya “ pintaku sambal berjalan menuju dapur. Sesaat kemudian aku datang sambal membawa sepiring nasike hadapan Syamsya.


“ Rasanya rasa lapar sudah hilang dalam hidupku.” Syamsya membaringkan tubuhnya di dipan dengan lesu.


“ Tidak boleh begitu. Mbak Syamsya tahu berapa hari Mbak tidak makan ? Empat hari, Mbak. Empat hari perut Mbak tidak terisi. Kasihan ! Ayo sarapan dulu ya, aku suapi?” Segera kuambil sendok dan bersiap menyuapkannya pada Syamsya kakak tingkatku.


“ Aku bisa makan sendiri, Ris.” Ucapnya seraya meraih piringnya dan bergegas menyendokkan nasi satu suap demi satu suap hingga semuanya habis tak bersisa. Setelah semua selesai, piring bekas makan Syamsya kubawa ke dapur umum lalu aku kembali ke ruang kesehatan melanjutkan obrolan Syamsya dan Qomar. Aku tak berani berharap apapun pada semua orang di sekeliling ku. Apalagi saat kulihat dari jauh dokter Wildan mengawasi ku sambil tersenyum penuh makna.

__ADS_1


__ADS_2